My Sad

My Sad
35


__ADS_3

Rembulan malam masih setia di atas sana, aku pun masih duduk diam di depan jendela rumah ku, menatap kegelapan dalam keheningan,


Sebuah pesan baru saja masuk ke ponsel ku, pesan itu mengatakan jika Amel Tampa sengaja melihat postingan mama ku bersama seorang bayi kecil, dan aku yakin jika itu adalah anaknya bersama Angga


Waktu berjalan begitu cepat, sudah Setahun berlalu dan aku bahkan berada dalam pelarian, pelarian dari Angga, aku tak akan membiarkan Angga meninggalkan mamaku dan membuat mama ku kembali menderita,


Aku tentu saja senang saat mendengar kabar ini, Angga menjaga mama ku dengan baik, tapi kebahagiaan ku pun di dampingi dengan perasaan sedih,


Bahkan kabar itu berhasil mengorek luka lama yang selalu ku sembunyikan rapat rapat, yang selalu ku kubur dalam dalam, namun?, yah, aku tak bisa,


Tak bisa mengabaikan begitu saja, saat ini mama sedang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan adik dan anak dari angga, hati ku kembali perih saat mengingat kenyataan itu, kenyataan yang ku telan paksa tampa sebuah perlawanan


"Mel" ucap ku pelan


"Gue cuma ngak mau lo kahwatir, bagai manapun dia tetap mama lo, lo keluar dari rumah tampa meninggalkan jejak apapun dan wajar jika mereka ngak bisa ngabarin lo"


Amel berucap pelan, sedari beberapa waktu lalu Amel selalu menemani ku dan mendukung ku, aku sangat bersyukur memilikinya di dalam kehidupan ku nan malang ini


"Menurut lo gue harus gimana?" Ucap ku menghela nafas pelan


"Lo ikutin aja kata hati lo, gue ngak punya maksud lain ngabarin ini ke lo, gue cuma mau Lo berdamai dengan masa lalu, Lo bisa aja punya mantan suami, tapi ngak dengan mama Lo, sampai kapan pun dia tetap mama Lo, orang yang ngerawat, ngejaga dan sayang banget sama Lo sedari kecil" Ucap Amel pelan,


"Hm yaudah gue bakalan usaha buat berdamai dengan diri gue sendiri, tapi gue butuh waktu"


"Yah, gue tau itu berat, tapi cepat atau lambat Lo pasti akan berada dama stuasi ini, Lo ngak bisa kabur kaburan terus dari Angga, Lo ngak bisa sembunyi terus seumur hidup Lo"

__ADS_1


"Iya, gue tau, gue tutup dulu, makasih udah selalu ada buat gue, makasih karena udah nemanin gue selama ini, tuhan baik banget karena udah ngasih sahabat sebaik Lo di samping gue" Ucap ku dengan nada pelan dan setelahnya memutuskan sambungan telpon, aku menghela nafas pelan, berdiri dari duduk ku sembari menatap jam yang berada tak jauh dari ku, belum terlalu larut,


Pikiran ku menjadi kacau dalam sekejap, aku menghela nafas pelan dan beranjak meninggalkan kamar, kepala ku sangat pusing memikirkan itu, aku butuh pelampiasan, aku butuh udara segar, aku butuh mengenakan diri ku dengan semua beban hidup ku ini.


Aku menghela nafas pelan sembari menengadah menatap langit malam, saat ini aku sedang berada di taman umum yang ada  tak jauh dari komplek ku, aku butuh udara segar untuk menghilangkan stres ku bagai mana pun semua terjadi dan itu sangat menyakitkan, aku tak mungkin melupakannya dengan mudah


"Tuhan aku tau pilihan mu adalah yang terbaik, maafkan aku yang belum bisa memaafkan dan menerima takdir yang telah kau gariskan, maafkan aku yang belum bisa menerima kenyataan ini, maafkan aku yang selalu mengeluh, aku benar benar tak sanggup, aku lelah, aku lelah hidup dalam bayang bayangan pengkhianatan, aku lelah Tuhan, apakah tak bisa kau cabut saja nyawa ku?, aku terlalu lelah dengan drama hidup yang menyedihkan ini, aku ingin berhenti, berhenti dari semua ini aku lelah" Batin ku berteriak, yah begini lah aku, sosok putus asa yang sangat suka mengeluh segala hal buruk yang terjadi dalam hidup ku


"Kamu nangis?" suara itu membuat ku menepis air mataku cepat, aku berbalik melihat siapakah gerangan yang menunggu acara meratap ku


"Pak Arya, selamat malam"


"Kamu ngapain di tempat seperti ini"


"Hanya sedikit merenung," Aku menjawab dengan nada pelan


Aku sempat menjergit saat ia memilih duduk, tapi tak masalah, aku bukan orang kasar yang bisa mengatakan hal buruk tanpa berfikir, aku adalah seorang yang berpendidikan dan aku tak mungkin merusak citra itu


"Saya adalah orang yang sangat profesional dalam sebuah pekerjaan pak, bapak tak perlu cemas" Ucap ku pelan, aku tak akan membuat perusahaannya bangkrut


aku hanya memikirkan masalah ku bukan mencampur adukan urusan pekerjaan dan pribadi, lagi pula aku hanya mengingat masa lalu yang menyakitkan,


meskipun aku tak ingin ingat namun nyatanya bayangan itu muncul, bayangan di mana saat, yah kalian pasti tau aku tak perlu menjelaskannya kembali


"Kalo kamu punya masalah kamu bisa cerita ke saya, sebagai bos saya berkewajiban mendengarkan keluhan bawahan"

__ADS_1


"Terimakasih atas kebaikan pak, hanya saja saya rasa hal itu tidak di perlukan, ah ia baik lah pak sepertinya sudah sangat larut saya harus kembali" Ucap ku dengan nada sopan, aku perlahan berdiri dan berjalan menuju jalanan,


"Tidak baik seorang wanita jalan sendiri di malam selamat ini, penjahat ada di mana mana" Ucapnya yang membuat langkah ku terhenti, ia ikut berdiri dan melangkah mendekati ku,


"Rumah saya tak jauh dari sini, saya tak ingin merepotkan bapak"


"Sebagai seorang bos saya tak ingin masalah pribadi merusak kinerja" Ucapnya bersikeras aku hanya menatapnya dengan tanya, gak menyangka mahluk dingin ini memiliki sedikit hati, dan simpati pada orang lain


"Jika begitu mohon maaf karena merepotkan bapak"


Aku berucap dengan nada pelan, aku terlalu malas untuk berdebat, jika ia mengatakan itu maka aku hanya perlu menyetujuinya


"Jalan" Aku dan si big bos berjalan beriringan, tak ada suara yang keluar dari mulut kami,


Perjalanan berlalu hanya dalam keheningan, aku tak berminat untuk membuka suara dan si big bos?, ia bukan orang yang ramah dari itu tak perlu berharap dalam si kulkas berjalan ini,


"Sudah sampai pak, dan terimakasih sudah mengantarkan saya" Ucap ku saat sampai di depan rumah, dengan malas aku menunjukan senyum dan berjalan menuju rumah


"Huh, kerjaan kerjaan, selalu aja nambah nambah terus" keluh ku yang duduk di depan laptop, beberapa hal belum sempat ku selesaikan dan aku harus segera menyelesaikan ini,


Aku meraih cangkir yang berada di samping ku, segelas coklat panas untuk menemani ku di acara lembur ku,


Meski lelah bahkan tubuhku tak mengizinkan ku untuk beristirahat dari itu dari pada waktu terbuang sia sia maka akan lebih baik aku menghabiskan waktu dengan bekerja, semangat,


Hidup tidak mudah, cari uang itu sulit, jangan menyerah, kamu pasti bisa, aku mengucapkan kata kata itu untuk menyemangati ku sendiri,

__ADS_1


menyadarkan ku bahwa aku tak sendirian di dunia ini, acara bekerja aku terpaksa terhenti saat seseorang dengan tak tau malunya mengangkat telpon di hadapan seorang


__ADS_2