
Hari beranjak malam, aku menghela nafas pelan sembari menatap kegelapan dalam diam dari atas balkon, seperti biasa kota Jakarta masih selalu di sibukkan dengan segala aktifitas padatnya selalu penuh dengan hiruk pikuk kegiatan manusia sebagai mahluk yang menetap di planet ini,
Tampa terasa waktu berjalan begitu saja, berjalan terus Tampa memikirkan ataupun menjemput ketertinggalan yang telah di lakukan, banyak yang mengatakan jika biarlah yang lalu berlalu kehidupan masih panjang dan harus membuka lembar baru,
Nyatanya tak semudah itu, melupakan kenagan dan kehidupan di masa lalu tak semudah membalikan telapak tangan, tak semudah menangkap sebutir air saat hujan turun, aku menghela nafas pelan, udara cukup dingin, angin bertiup cukup kencang menandakan takĀ lama lagi hujan akan turun, sedangkan aku?,
Masih berada di tempat yang sama, merawat orang yang fobia obat benar benar merepotkan, bayangkan saja, ia terus mengeluh ke sakitnya namun?, Bahkan ia tak mengizinkan obat untuk mendekatinya
"Huh, sampe kapan lah gue gini?, Masak ia harus ngurus orang beginian setiap hari, kayak baby sister aja gue" Ucapku menghela nafas pelan, aku melangkah kembali ke dalam dan menutup jendela, aku bergerak pelan menuju dapur,
Si big bos tak memiliki pembantu, lalu?, Bagai mana ia bisa makan, dan bagai mana bisa sembuh, huh benar benar merepotkan, aku hanya bisa mengeluh dan terus mengeluh, namun tangan ku tentu saja masih terus bekerja bertolak belakang dengan mulut dan hati ku
"Pak, waktunya makan" Ucapku pelan, saat ini aku baru saja menyelesaikan acara masak ku, aku melangkah pelan mendekati si pria yang masih terlihat pucat di ranjang sana
"Bagai mana dengan kegiatan saya besok"
"Entah sampai di sini atau bertahan sampai besok, saya sedikit ragu" Ucap ku pelan sembari meletakan bubur yang ku masak di atas nakas
"Apa maksud anda?, Dengan hal yang yang tak bisa saya pertahankan"
__ADS_1
"Nyawa anda pak, jika anda masih berkeras tak mau minum obat dan makan maka saya sedikit meragukan apakah nyawa anda akan bertahan sampai besok ataukah tidak" Ucap ku pelan, setelahnya beranjak meninggalkan kamar, biarkan pria putus asa itu memahaminya, bagai mana pun aku memiliki kehidupan ku sendiri,
Sejak menjadi seorang asisten pribadi kehidupan ku bahkan tak pernah merasa tenang, awalnya aku berfikir jika bekerja maka aku akan melupakan segala sakit ku di masa lalu, tapi?, Kenyataanya tidak, bahkan aku tak bisa melupakan semuanya 7 tahun bersama dan berakhir dengan sebuah pengkhianatan, ini jelas bukan hal mudah bagiku,
Aku menghela nafas pelan sembari menepis air mata ku pelan, bohong jika aku sudah baik baik saja, bohong jika aku tak sakit, semua hanya sebuah kebohongan, bahkan aku menipu diriku sendiri, lihatlah yang terjadi aku menjadi semakin kesakitan karenanya, nasib ku benar benar malang
"Cika, Lo harus kuat, Lo bukan wanita lemah, Lo kuat, masalah kecil ini pasti bukan apa apa bagi Lo, ia kan Cika?, Lo itu kuat, jadi Lo harus tetap bertahan" Ucap ku menyemangati diriku sendiri
"Cika" Teriakan dari dalam membuat ku menepis air mataku dengan kasar, dan setelahnya segera kembali ke kamar milik si big bos
"Anda menangis?, Apakah saya menyulitkan Anda?" Ucap si big bos pelan, aku hanya menunjukan senyum kecil sembari menggeleng pelan
"Bukankah ini juga tertulis dalam kontrak, seorang asisten pribadi juga harus memenuhi kebutuhan dan memastikan jika sang atasan merasa nyaman?"
SELAGI tak melanggar undang undang dan hak manusia seorang bawahan harus selalu menuruti apa yang di perintahkan oleh sang atasan, asisten pribadi bahkan bukan hanya harus mengurus urusan kantor, ia harus mengurus segala hal yang bersangkutan dengan sang atasan, dak jujur saja itu mempersulit ku,
Sejak awal aku terlahir dan tumbuh sebagai seorang putri yang selalu di sayang dan di sanjung, namun kali ini?, Kenyataan menghempas ku ke dasar bumi yang paling dalam, nyatanya aku bukan terlahir sebagai seorang putri, aku hanya anak dari selingkuhan papa ku,
Papa William yang merupakan suami dari mama ku Dinda, dan singkatnya semua yang ku lalui selama hampir tiga puluh tahun ini hanya sebuah ilusi, hanya kebohongan yang di bungkus dengan rapi dengan kebohongan lainya, hanya rasa sakit satu yang di bungkus oleh rasa bahagia dan penuh tipu daya, Ya begitulah kehidupan ku, kenyataan benar benar menampar ku
__ADS_1
"Sejak awal saya merasa jika para dokter itu tak akan membantu, apakah kamu tau?, Saya tak akan pernah merasakan kehilangan jika mereka tak ada, dulu.."
Big bos menatap udara dengan tatapan kosong, aku masih diam sembari menatapnya, wajahnya yang awalnya sudah sedikit membaik kembali memucat dan ia mulai mengatakan omong kosong
"Tidak, jauhkan itu dari ku, jangan lakukan itu, jangan jangan bunuh ibu ku, jangan" teriknya histeris, melihat ini aku bahkan hanya bisa menghela nafas pelan, memang tak bisa di paksakan,
Big bos yang terhormat mengalami gangguan psikologi, benar benar tak terduga bukan?, Selama ini ia terlihat begitu hebat dan angkuh, namun siapa yang menyangka jika ia hanyalah mahluk lemah yang di baluti dengan berbagai tipu daya
"Tenang lah, tidak ada yang akan menyakiti mu, tenanglah" Ucap ku meraih tangannya
"Saya di sini, tak ada yang akan mengusik bapak, jangan panik, tenangkan diri anda, tenang ya" Aku berbisik dengan pelan, saat ini ia hanya memerlukan sebuah kata penenang, menghadapi seseorang yang memiliki sebuah trauma bukan hal yang mudah
"Ibu, jangan, jangan pergi, jangan tinggalkan aku, jangan pergi, Arya takut sendirian, bu" Ucapnya lirih dan mempererat peluknya, seolah aku akan menghilang jika di lepaskan, dan jujur saja pelukan ini menyulitkan ku, aku bahkan hampir kehabisan nafas di buatnya
"Tidak akan ada yang akan pergi, bapak tenaga aja, saya di sini" Ucap ku pelan,
"Benarkah?, Kau tidak sedang berbohong bukan?, Kalian semua berjanji untuk tidak pergi tapi kenyataanya?, Kalian meninggalkan ku sendirian, papa, mama, Keyla" Ucapnya lirih
"Mereka sudah berbahagia di sana, anda harus merelakan mereka, jangan takut masih banyak orang yang sayang dan perduli dengan nada, jangan seperti ini," Ucap ku pelan, awalnya aku sangat membencinya, namun hari ini?,
__ADS_1
Bahkan aku melihat segala kelemahannya, ia terlihat begitu keras di luar, namun siapa yang menyangka jika ia hanya seorang pria kesepian dan begitu rapuh,
Terbesit rasa iba di hati ku hingga aku bahkan sempat berfikir jika aku harus membantunya, membantunya untuk melewati ini, membantunya untuk lepas dari semua kenangan masa lalu yang begitu menyakitkan