
Keesokan harinya,
So Jung sedang menyiapkan beberapa gaun untuk di antar Su Ran.
Lalu Yun Hi mendekati So Jung.
Yun Hi, "Kak So Jung, sepertinya gaun ini ada beberapa konsep yang salah. "
So Jung menoleh ke Yun Hi , "Benarkah? coba aku lihat. "
Hae Joo juga ada di sampingnya sedang menyiapkan beberapa gaun lain.
So Jung melihat gaun yang dibawa Yun Hi, dan benar.
So Jung menghela napas," Kau benar Yun Hi. Untung saja kau melihatnya. "
So Jung menoleh pada Su Ran, "Kita harus mengantar pesanan gaun ini untuk kapan?"
Su Ran, "Masih besok siang. Aku rasa masih sempat memperbaikinya. "
So Jung mengangguk, "Kau benar."
Hae Joo berpikir, tidak biasanya So Jung salah konsep.
Ia orang yang paling teliti.
So Jung lalu berkata pada Yun Hi, "Yun Hi, kau bantu aku untuk mengantar pesanan gaun yang harus aku antar ini. kau sempat bukan? "
Yun Hi mengangguk, "Masih sempat kak. tenang saja, biar aku yang antar."
So Jung, "Baiklah, terima kasih. dan terima kasih lagi, kau sudah memberitahuku. "
Yun Hi tersenyum dan mengangguk.
Siang itu So Jung memperbaiki gaun itu.
Lalu Hae Joo datang sambil membawakan makan siang dan minuman.
Ia meletakkannya di meja So Jung.
Hae Joo, "Makanlah dulu. "
So Jung mengangguk, "Baiklah, terima kasih. "
So Jung masih melanjutkan pekerjaannya.
Hae Joo duduk di sampingnya dan berkata," Bukankah sudah aku bilang, makanlah dulu. ayo kita makan bersama. "
So Jung menoleh pada Hae Joo.
Ia tersenyum lalu ia mendekati Hae Joo dan mereka makan bersama.
Sambil makan, So Jung berkata," Tidak biasanya kau menyuruhku untuk makan dulu. kau perhatian sekali padaku Hae Joo. "
Hae Joo, "kalau kau sudah makan, kau bisa lebih bertenaga mengerjakan pekerjaanmu. "
So Jung tertawa, "kau selalu begitu. Aku pikir kau tulus memperhatikanku, ternyata selalu saja pekerjaan yang kau pikirkan. Hae Joo, umurmu juga sudah mulai tua. Lebih baik kau jangan selalu memikirkan pekerjaan. Mulai pikirkan untuk menikah. "
__ADS_1
Hae Joo, "kau seperti penasehat saja. lebih baik kau buka praktik psikolog. "
So Jung tertawa dan berkata lagi, "aku ini memperhatikanmu dengan tulus, Hae Joo. "
Sore itu, setelah memperbaiki gaunnya. Ia lalu pulang.
Mobilnya berhenti di depan boutiq bibinya.
Ia turun dari mobilnya.
Dan masuk ke boutiq bibinya.
Karyawan boutiq itu menyambutnya.
Lalu ia berkata, "Nyonya Song ada? "
Karyawan itu akhirnya memanggilkan Nyonya Song.
Saat Nyonya Song keluar dari ruang kerjanya dan melihat siapa yang datang mencarinya.
Ia melihat So Jung sedang berdiri sambil melihat lihat baju.
Lalu Nyonya song mendekatinya dan berkata, "So Jung. Kau kemari? "
So Jung menoleh, sambil tersenyum ia berkata, "bibi. "
Mereka minum teh bersama di sebuah cafe.
Nyonya Song, "tidak biasanya kau datang ke boutiq. "
Nyonya Song tersenyum," kau ini, masih saja ingat untuk mengajak bibi minum teh. "
So Jung , "tentu saja. "
Sambil menikmati teh,
Nyonya Song berkata, "bibi sudah melihat, kalian berhasil karena pameran yang diadakan. Selamat ya. Bibi ikut senang."
So Jung tersenyum, "terima kasih bi. Tapi, masih saja lebih hebat bibi. "
Nyonya Song tertawa.
So Jung menatap bibinya yang sedang minum teh.
So Jung berkata dalam hati, "bibi..."
Nyonya Song lalu berkata," kau pernah dengar cerita tentang 2 cangkir teh? "
So Jung menatap Nyonya Song.
Nyonya song tersenyum dan berkata, "di cafe ini, ada 2 cangkir teh yang konon adalah milik 2 kakak adik bersaudara. Mereka sangat suka minum teh bersama menggunakan 2 cangkir teh itu. mereka bilang, mereka tidak akan terpisahkan seperti 2 cangkir teh itu. sampai akhirnya, saat terjadi perang, ayah mereka meninggal saat perang itu. dan ibu mereka membawa mereka lari untuk mencari tempat yang aman. Tapi karena suatu hal, ibu mereka terluka dan meninggal. dan mereka pun terpisahkan, sang kakak di bawa beberapa orang regu penyelamat ke kota yang lain. Dan sang adik masih di kota itu menunggu kakaknya kembali. berpuluh puluh tahun kemudian , mereka sudah tua.
Saat anak dari sang kakak pergi berkunjung ke kota dimana ibunya di lahirkan ia melihat sebuah kedai teh. Dan disanalah, ia bertemu dengan adik dari ibunya. Ia pernah mendengar cerita dari ibunya mengenai adiknya dan cangkir teh. Akhirnya, ia pun membantu ibunya untuk bertemu dengan adiknya."
So Jung menatap Nyonya Song sambil mendengarkan cerita itu.
Lalu Nyonya Song berkata lagi," bisa dibilang, cangkir teh itu yang mempertemukan kakak beradik ini kembali. ceritanya pun menyebar. Dan hingga sekarang, cangkir teh itu masih ada. Keturunan dari kakak beradik itu, membuka kedai teh hingga sekarang. Dan inilah cangkir teh itu. "
__ADS_1
So Jung memang pernah mendengar cerita itu, dan ia tahu di cafe inilah cangkir teh itu ada.
Tapi, ia belum pernah mendengar hingga sedetail itu ceritanya.
Ia juga pernah sekali menggunakan 2 cangkir teh itu bersama kakaknya di cafe itu.
Nyonya Song menghela napas," dulu, aku dan adikku sering minum teh bersama kemari. Kami sangat suka menggunakan 2 cangkir teh ini. "
So Jung menatap bibinya.
Nyonya Song berkata lagi, "pernah sekali, aku memohon pada kedai teh ini untuk menjual cangkir ini kepadaku. Adikku ingin sekali memilikinya. Tapi kedai teh ini tidak mau menjualnya. Aku pun juga bisa mengerti. "
So Jung," adik bibi menginginkan cangkir teh ini? "
Nyonya Song mengangguk, "benar. Sebelum ia meninggal, ia memintaku untuk mengantarnya kemari dan minum teh bersamaku. Ia ingin, ke dua putrinya juga bisa merasakan minum teh di sini dengan menggunakan 2 cangkir teh ini. "
So Jung terdiam.
Ia berpikir untuk memberitahu bibinya siapa dia sebenarnya.
Lalu ia berkata dengan ragu, "bibi...sebenarnya aku ingin memberitahu sesuatu pada bibi. "
Nyonya Song menatap So Jung," katakan saja, ada apa?"
So Jung terdiam sambil menatap bibinya,
lalu ia mulai memberanikan diri untuk berkata, "sebenarnya aku baru tahu, bahwa aku..."
Tiba tiba handpone Nyonya Song bunyi.
Kata kata So Jung terhenti.
Nyonya Song hendak mengangkat handponenya dan ia berkata pada So Jung, "maaf, tunggu sebentar ya. "
Lalu Nyonya Song mengangkat handponenya.
Hye Kyung yang meneleponnya.
Setelah menutup handponenya, Nyonya Song pun menatap So Jung kembali dan berkata, "maaf. kau hendak bicara apa tadi? "
So Jung mengurungkan niatnya dan berkata, "aku baru saja menemukan keluargaku. "
Nyonya Song," benarkah?! kau sudah menemukan keluargamu?"
So Jung mengangguk.
Nyonya Song, "syukurlah. Bibi ikut senang. Lain kali, kau harus mengenalkan keluargamu pada bibi. Bibi ingin tahu, orang tua mana yang beruntung memiliki putri sepertimu. "
So Jung tersenyum mendengarnya, "baiklah bi. "
Dalam hati ia begitu sedih.
Ia belum bisa mengatakannya.
Ia takut bibinya tidak mempercayainya. Dan bahkan ia tidak ingin semuanya tahu tentang penyakitnya.
...----------------...
__ADS_1