Naughty Sugar

Naughty Sugar
[8] Tumbang


__ADS_3

AUTHOR POV


Max tahu Ronald tidak suka kebohongan itu, tapi pria itu pasti tidak akan mengatakan hal-hal yang tentunya hanya akan membuat reputasinya rusak di mata semua orang yang hadir di makan malam ini. Termasuk Rain dan Aaron yang tak pernah ada dipihak Ronald.


“Oh ya, Sugar. Kenalkan dulu, ini Ayah dan Ibuku,” ucap Max memperkenalkan Ronald dan juga Eliz yang berada tepat di seberang meja Max. Kemudian Max menatap pria tampan di samping Eliz dengan senyuman yang dia kembangkan. “Ini Darrel adik bungsuku, lahir setelah Sara.”


“Halo, El! Aku yakin umur kita tidak jauh!” kata Darrel sama seperti apa yang Sara katakan ketika awal mereka bertemu. “Kau terlihat sangat cantik malam ini. Pantas kakak tergila-gila dengannmu.”


Max terkekeh seraya menggelengkan kepalanya sementara Elena hanya mengangkat senyuman tipisnya. “Terima kasih atas pujiannya.”


“Aunty El memang cantik. Aunty El pacal Ijel tahu!” kata anak laki-laki Sara yang kini berusaha naik ke pangkuan Elena. Mereka semua nampak terkekeh mendengar kata-kata Tiger, begitu juga Max.


“Lalu itu Petter suami Sara,” di ujung sana ada Aaron general manajer di kantorku, ada Rain dan Natt… hai aku tidak tahu kau datang. Kau terlihat semakin cantik,” puji Max yang seketika membuat Elena kini tahu seperti apa wujud wanita bernama Natt itu.


Natt sepertinya sengaja mengambil posisi benar-benar di samping Elena. Ternyata Freda benar. Dia wanita berambut pirang dengan bibir merah menyala. Matanya sipit serta tajam, membuat siapa saja yang menatapnya bisa saja mati karena tatapannya yang membunuh. “Aku tunangan Max,” ucap Natt tiba-tiba membuat Max hampir saja tak terkendali ingin marah, tapi dia masih bisa mengendalikannya.


“Ya, Natt benar. Tapi itu dulu, Sugar. Kami sudah tidak punya hubungan apapun selain dalam pekerjaan. Dia salah satu artis yang akhir-akhir ini sedang aku fokuskan untuk ikut bergabung ke film hollywood. Sekarang aku hanya milikmu,” ucap Max jelas buat Natt sangat marah.


Dia ingin berdiri dan memuntahkan semua amarahnya, tapi Rain di sampingnya menahan tangan wanita itu. “Natt, ini bukan waktunya,” ucapnya pelan dan Natalie mengurunkan niatnya.


Elena berusaha mengembangkan senyumnya ke arah Max sambil tenang memangku Tiger yang sudah tidak sabar dengan hidangan malam ini. Natt, wanita itu memang nampak tak asing karena dia adalah seorang artis, tapi Elena pun bukan orang yang sering menonton TV atau bahkan bioskop sekali pun. Dia tidak peduli dengan dunia hiburan apalagi dengan artis seperti wanita ini. Elena sibuk dengan sekolah desainnya dan lebih memilih membaca novel ketika sedang luang.


“Seperti yang kalian tahu. Aku akan menikahi El dalam waktu dekat ini. Besok, undangan pernikahan kami sudah siap untuk disebarkan. Kami juga dua hari ini sudah sangat sibuk dengan persiapan nikah, mulai dari gaun, dekorasi, gedung dan lain-lain. Meski sangat cepat, aku yakin bisa mengandalkan semua orang yang ku kenal. El, dia wanita yang cantik dan penuh perhatian. Sebentar lagi, dia akan menjadi Nona Winston.”


Tidak ada suara apapun setelah Max mengatakannya, tapi Aaron di ujung sana disusul Darrel bertepuk tangan pelan. “Akhirnya kakakku menikah. Aku ikut senang atas kebahagiaan kalian,” ucap Darrel nampak tulus.


“Aku juga senang, akhirnya Tiger dan baby akan punya teman,” kata Sara mengelus pelan perutnya karena dia belum tahu anak dia yang ke dua wanita atau pria. Petter ikut mengelus pelan perut istrinya dengan senang dan Tiger tidak peduli dengan itu karena sibuk dengan ayam goreng yang kini sudah ada di tangannya.


“Oke ini sudah waktunya makan malam. Aku tidak mau membuat cucuku meneteskan air liurnya di atas makanan Nona Gilbert,” ucap Ronald memulai makan malam mereka membuat Elena sedikit mengambil lirikan matanya ke arah pria tua itu.


Nona Gilbert? Bagus sekali, dia bisa menyebut nama itu dengan sangat sempurna tanpa ragu. Elena mulai merasa muak dengan makan malam ini.


“Mella!” panggil Ronald pada kepala pelayan rumahnya. “Angkat Tiger dari Nona Gilbert, biarkan Nona Gilbert menyantap makanannya dengan tenang,” perintahnya tapi Tiger langsung memeluk Elena hingga gaun Elena kotor karena ayam yang Tiger pegang.


“Ijel enggak mau! Ijel mau sama Aunty. Aunty suapin Ijel ya!” pintanya dengan mata berbinar.


“Ijel! Tidak boleh seperti itu!” Petter bersuara tegas, tapi Elena tersenyum.


Elena mendekatkan keningnya pada kening Tiger. Lalu menggerakkannya pelan seperti sangat gemas. “Iyah Aunty suapin ya,” ucapnya membuat Max sangat bahagia melihat momen ini.


Dia tidak salah pilih calon istri. Gadisnya sangat mengagumkan.


“Mella, tidak apa!” kata Max meminta pelayan itu untuk tidak mengangkat Tiger dari Elena.

__ADS_1


***


Usai makan malam yang tidak menyenangkan. El dibawa ke ruang keluarga dengan makanan penutup yaitu rainbow cake. Namun dia kehilangan jejak Max; calon suaminya. Entah hanya perasaannya saja, Max tidak ada di ruangan keluarga bersamaan dengan menghilangnya Natt di ruang ini.


“Elena, jadi kamu sedang sekolah desain?” tanya Darrel. Pria ini nampak sangat friendly. Wajahnya juga begitu imut dan tentunya sangat beda jauh dengan Max yang menyebalkan.


“Iya, sudah masuk tahun ke 4. Sebenarnya tahun ini aku bisa lulus, tapi… entahlah,” ucap Elena mengangkat bahunya seraya menghabiskan kue yang dia sukai ini.


Sebelum dia memutuskan untuk ikut dengan Max, dia sudah berpikir kalau sekolahnya mungkin tidak bisa lagi diteruskan. Memang sayang sekali, tapi kalau Max tidak mengizinkannya. Dia tidak bisa apa-apa.


“Sayang sekali. Padahal aku punya kenalan yang bagus dan dia teman kakak juga,” kata Darrel dan Elena sepertinya sudah bisa menebak siapa itu. Pasti Jesslyn, wanita bergincu merah itu. Kenapa Elena harus hidup di tengah-tengah wanita berlipstik merah nyala.


“Apakah itu-“ ucapan Elena terpotong ketika dia merasakan hal yang aneh pada dirinya. Entah kenapa mendadak perut Elena sangat sakit. Dia merasa sangat melilit dan ingin muntah.


“Darrel, di mana kamar mandi? Aku… aku sakit perut,” ucap Elena.


“Ohh kau hanya perlu lurus dan belok ke kanan. Nanti kau bisa lihat ada kamar mandi di sana.”


Elena tidak menjawab apapun selain langsung melesat  pergi. Dia berjalan sesuai dengan yang Darrel arahkan tapi dia tidak menemukannya. Akhirnya Elena berjalan ke atas tangga besar menuju lantai dua. Mungkin dia bisa menemukannya di atas dan benar saja. Elena langsung masuk ke kamar mandi dan mengeluarkan semua makanannya. Dia merasa perutnya sangat sakit, mual dan sangat pusing.


“Ada apa denganku?!” pikirnya.


Elena pun mencuci mulutnya dan berjalan pelan-pelan keluar dari kamar mandi. Sepertinya dia harus segera memberitahu Max kalau dia tidak enak badan. Dia ingin segera pulang sekarang juga.


“Aku sudah mengatakannya, aku tidak percaya! Kenapa kau memutuskannya sendiri! Bahkan aku tahu dari media!”


“Natt, aku harus menikahinya. Ini sangat penting untukku!”


“Penting? Kau bilang penting? Sepenting apa?”


“Ayahnya sudah membunuh Ibuku!” bentak Max kali ini bukan hanya membuat Natt terkejut, tapi Elena pun merasakan hal yang sama. Bahkan lebih menyeramkan karena tangannya bergetar hebat dan kakinya nampak seperti jeli; meluruh begitu saja di atas lantai.


“Aku perlu balas dendam pada ayahnya, tapi seperti yang kau tahu kalau dia sudah meninggal! Hanya Elena satu-satunya alat untukku membalas dendam!”


“Ta-tapi ini enggak lucu Max! Kita sudah bertunangan sejak lama!”


“Natt!” Max menarik tangan Natalie.


Dia menggenggamnya erat dan menciumnya pelan. Elena dengan jelas melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Perlahan air mata Elena berjatuhan. Perasaan macam apa ini? Kenapa rasanya sakit?! Mereka baru beberapa hari bersama tapi kenapa rasanya perih?! Dan sejak kapan ayahnya menjadi seorang pembunuh? El tahu betul siapa ayahnya. Ayahnya tidak mungkin melakukan itu.


“Selama 8 bulan aku pastikan dia menderita dan saat itu juga kau harus janji sudah Go Internasional. Kau berjanji padaku bukan untuk jadi artis Hollywood?”


Natalie menganggukkan kepalanya. “Oke, aku pegang janjimu,” ucap Natalie dan Max pun menariknya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


“Kau seperti biasanya! Sangat penurut dan cantik!” puji Max.


Elena cepat-cepat berusaha turun dari tangga. Perasaan sakit di sekujur tubuhnya dan juga sakit hatinya malam ini sungguh lengkap membuatnya menderita. Apakah ini awal mula penderitaan yang Max berikan?


“El! Elena! Kau kenapa?!” tiba-tiba Elena mendengar suara Sara.


Sara berlari pelan menuju Elena begitu melihat calon adik iparnya ini berjalan tidak keruan turun dari tangga seraya memegang perutnya.


“Sara, perutku sakit, aku…”


Elena lemas dan terjatuh di anak tangga paling terakhir. Sara pun berteriak minta tolong dan terakhir kali Elena dengar, Max sudah berada di sisinya; memanggilnya serta menepuk pipinya beberapa kali. Setelah itu Elena tak sadarkan diri.


 


Ini visual Darrel, Sara, Petter dan Tiger





Natalie



 


 


Hayo!! Jangan lupa like dan komennya^^


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2