Naughty Sugar

Naughty Sugar
[14] Aku Mencintai Orang Lain


__ADS_3

ELENA POV


Setelah aku menyetujui program acara dengan David. Max membawaku untuk makan malam bersama. Mereka nampak sibuk berbincang sementara aku hanya bisa sesekali tersenyum serta menyahut pembicaraan mereka yang membosankan.


“Tidak terasa ya pertemuan kita hari ini sangat lama. Biasanya kau sangat sulit ditemui Max,” ucap David akhirnya menyudahi.


“Hahaha bisa saja! Kau juga David!” Max menyalami David seraya menepuk bahunya.


Lalu David berpindah padaku, aku pun langsung bersemangat menyambut uluran tangan David. “Senang juga bertemu denganmu El. Kita akan bertemu lagi senin depan,” katanya aku mengembangkan senyumanku dengan tulus.


“Senang juga bertemu denganmu David. Aku tidak sabar untuk itu!” kataku.


“Baiklah, aku tidak mau terlalu lama mengganggu pengantin baru. Max terima kasih makanannya. Sampai jumpa lagi!” David mengangkat tasnya lalu pergi meninggalkan kami di antara beberapa mata yang menatap.


Max lalu menggenggam tanganku, membawaku untuk kembali ke kamar hotel. “Kau suka makanannya?” tanya Max ketika kami berjalan menuju lift.


Mataku sedikit melihat-lihat hotel mewah ini. Jelas sekali hanya orang tertentu yang bisa memesan kamar. Pakaian mereka pun bisa ku nilai kalau itu mahal sekali. HP yang mereka pegang pun iPhone keluaran terbaru. Aku hanya bisa terkekeh di dalam hati karena aku terlihat seperti tidak ada apa-apanya. Bahkan HP-ku disita oleh Max sejak hari pertama kami bertemu. Aku sudah meminta HP-ku dikembalikan, tapi hingga saat ini dia tidak juga mengembalikannya.


Aku menarik tanganku dari genggamannya dan mengangguk. “Tidak buruk!” kataku mengangkat bahu. Max pun memencet tombol lift dan kami harus menunggu sebentar.


“Bagaimana kabar Irene?” tanya Max tiba-tiba membuatku terkejut.


Apakah dia peduli dengan kakakku? Apa dia peduli dengan perasaanku? Tapi… kemarin dia sudah mengizinkanku tinggal di rumah meski hanya sebentar. Sepertinya dia tidak seburuk yang aku pikirkan.


”Kak Irene baik. Kandungannya juga baik,” jawabku.


“Bagaimana dengan kekasihnya?”


Tepat saat itu lift terbuka. Lalu Max menarikku untuk segera masuk. Kami hanya berdua di dalam dan Max berdiri di depanku. Tangannya di sandarkan di dinding lift seolah aku sedang dia intimidasi, tapi anehnya aku merasa nyaman.


“Mereka tidak pacaran. Semuanya terjadi dengan tidak sengaja. Aku sudah memintanya untuk segera menemui pria bernama Damar itu. Mungkin dekat-dekat ini dia akan segera menemuinya.”

__ADS_1


“Aku doakan yang terbaik untuknya. Aku mengenal Irene dengan baik. Dia keras kepala dan juga ambisius,” katanya membuatku mendongak ke atas melihat wajah Max dengan jelas.


Aku tahu Max mantan Kak Irene. Dia mendekati Kak Irene dengan niat buruknya hingga membuat keluarga kami jatuh seperti ini. Namun kadang aku bertanya-tanya. Apakah pernah sekali saja dia mencintai kakakku? Apakah dia pernah punya perasaan dengan kakakku?


“Max, saat itu… apakah kau pernah mencintai kakakku?” tanyaku.


Max terdiam sejenak, dia menatapku lalu perlahan tangannya mendarat di pipiku. Dia menyentuh dan mengelus pipiku dengan lembut. Tak lupa dengan senyuman playboy-nya yang menurutku sangat khas. Apakah dia selalu tersenyum dan menggoda semua perempuan seperti ini? Menyebalkan sekali!


“Tidak, aku mencintai orang lain saat itu.”


“Brengsek!”


Jelas aku naik pitam. Aku pun menginjak kakinya dengan keras membuat Max teriak kesakitan. Aku langsung keluar dari lift dan berjalan menuju kamar kami. Max jalan sedikit lebih lambat dengan kaki pincangnya. Begitu kami masuk ke kamar Max mendaratkan bokongnya di atas sofa.


“Kekuatanmu semakin besar, Sugar! Kau tahu ini sangat sakit!” keluhnya tidak aku hiraukan.


Aku malah sibuk ke sana kemari mencari baju ganti karena mulai merasa tidak nyaman. Setelah menemukan yang aku mau. Aku langsung masuk kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhku.


***


“Biar aku bantu,” katanya mendadak berdiri dari bangkunya dan mengambil alih handuk yang aku pegang untuk mengeringkan rambutku.


Dia dengan sangat lembut mengusap rambutku dan sesekali memijatnya pelan. Aku tidak bisa bohong kalau Max sangat lembut padaku. Meski aku sangat membencinya, tapi dia cukup memperlakukanku dengan baik. Beberapa kali mungkin aku punya kesan buruk padanya. Apalagi jika mengingat apa yang dia katakan pada Natt. Hal itu terkadang sungguh membebaniku. Apakah dia sedang membohongiku? Atau dia sedang membohongi Natt? Aku tidak tahu mana yang benar karena tentunya hanya Max yang tahu.


Max menutup kepalaku dengan handuk yang dia ikat ujung di bawah daguku. Lalu dia tertawa ketika handuk itu hanya menyisakan wajahku saja yang cemberut ke arahnya. “Apa yang kau lakukan?!” kataku ingin menarik handuk di kepalaku tapi dia menangkup wajahku yang dibaluti handuk dengan ke dua tangannya. Aku merasa seperti Masha; anak kecil dengan penutup kepalanya berwarna pink.


“Kau lucu sekali seperti kelinci kecil,” katanya terkekeh.


Aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku tersipu malu. Kupukul dada Max, tapi dia berhasil menghindar. Kali ini aku tidak bisa menjelaskan perasaanku saat melihat Max tersenyum. Rasanya itu tidak dibuat-buat dan natural.


“Kau Masha kecilku,” dia kembali mendekat dan mencubit ke dua pipiku.

__ADS_1


“Sakit Max!” marahku membuatnya mengalah, membuka handuk yang tadi dia ikat di kepalaku lalu kembali mengeringkan rambutku.


“Besok aku harus kembali bekerja. Kau tetap akan tinggal di sini semalam lagi atau pulang?” tanyanya.


“Pulang?” batinku. Aku ingin pulang ke rumah, tapi tentu itu tidak mungkin.


“Terserah kau saja,” kataku menatap kuku tanganku yang terlihat sedikit pucat dan juga kulitku yang sedikit keriput karena terlalu lama berendam.


Max menyelesaikan gerakannya dan menaruh handuk itu di ranjang kotor. Lalu memberikan teh hangat yang aku tidak tahu kapan dia menyediakannya. Max mengambil posisi duduknya di sebelahku dan menyereput teh miliknya pelan. Aku pun melakukan hal yang sama dengan sedikit melirik ke arahnya.


“Aku tidak mungkin meracunimu, Sugar!” kata Max seolah membaca pikiranku.


“Tapi orang-orang terdekatmu ingin meracuniku,” sergahku membuat suasana yang tadi menyenangkan kembali menegang.


“Jadi kapan aku bisa melakukannya?” tanya Max mengalihkan pembahasan kami sebelumnya.


“Melakukan apa?” tanyaku mengernyitkan alis.


“Malam pertama kita untuk segera mendapatkan seorang putra. Itu kan yang kamu mau supaya bisa cepat lepas dariku.”


Aku terdiam memeras tanganku satu sama lain. Bahkan tak sadar, aku menggigit bibirku karena aku masih belum siap. Setiap kali aku memikirkannya, aku ketakutan dan merasa sedih. Dulu aku bermimpi menikah di umur 30 tahun. Ada banyak keinginan yang belum aku gapai dan tentunya aku butuh kesiapan yang matang untuk menjadi seorang istri serta ibu.


“Max, aku…”


Belum aku menyelesaikan kalimatku. Max tiba-tiba mengangkat tubuhku dan mendaratkan di atas ranjang. Dia berbaring di sampingku lalu memeluk tubuhku dari samping.


“Apakah aku terlihat seperti monster, Sugar?” tanyanya menyusupkan wajahnya di leherku. Aku bisa merasakan hembusan napasnya menerpa leherku.


“Jika kamu belum siap malam ini, aku akan menunggunya,” ucapnya lirih persis seperti orang yang putus asa.


Aku tidak menjawab apapun selain memejamkan mataku. Merasakan lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hidupku. Sebelum kami tertidur dan meninggalkan teh yang baru sekali kami teguk. Dia mencuri ciuman di bibirku. Membenarkan posisi tidur kami serta menarik selimut sebatas dada.

__ADS_1


“Aku bukan monster. Aku suamimu.”


Duh, pengen punya cowok kaya Max wkwkwk, tapi beban berat haha


__ADS_2