
Elena mencoba meloloskan diri dari pelukan suaminya yang masih tertidur. Berulang kali dia mencobanya, Max selalu saja kembali menariknya untuk tetap di dalam pelukannya.
“Sekali lagi kau mencoba kabur. Aku akan melarangmu pergi selama seminggu,” bisik Max yang terus memeluk istrinya ketat.
Selama Elena hamil, tentu saja Max sangat posesif. Tak hanya itu, Max juga benar-benar sensitif setiap kali Elena pergi jauh darinya. Hampir 8 bulan ini mereka pun tak pernah bangun pagi karena Max selalu berhasil mengancam Elena untuk tetap stay bersamanya di atas ranjang sesuai jam yang Max inginkan. Padahal mereka tak melakukan apapun, tapi Max tetap ingin memeluk Elena lama. Benar-benar menyebalkan karena seharusnya Elena yang merasakan perubahan hormon itu, tapi kenapa Max yang mengalaminya lebih banyak.
“Max, ini sudah jam 9. Aku ada pertemuan dengan Joana,” protes Elena seraya membalikkan tubuhnya ke arah suaminya yang memejamkan matanya.
“Kau juga kan harus berangkat kerja,” kata Elena lagi menyentuh pipi suaminya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar.
Ya, Elena mengidam untuk melihat suaminya mempunyai kumis dan juga janggut di dagunya. Sesekali pun Elena sering menempelkan pipinya ke wajah Max dan dia tertawa sangat senang.
“Sebentar lagi,” ucap Max kembali memeluk Elena dan menghirup khas bau tubuh istrinya.
“Kau ini kenapa sih, terus seperti ini!”
“Aku juga tidak tahu, tapi aku sangat suka,” jawab Max.
“Baiklah, sebentar saja ya,” ucap Elena dengan nada mengancam dan Max tersenyum diam-diam.
“Kau mengidam sesuatu lagi?” tanya Max.
Elena pun terdiam sejenak. Sejak kemarin dia ingin sesuatu yang manis. Mungkin macaron sangat tepat untuk memenuhi keinginannya.
“Aku ingin macaron,” jawab Elena.
“Baiklah, nanti akan aku belikan. Sekarang biar aku bantu kau mandi,” kata Max seraya turun dari ranjang dan membantu Elena bangun karena perutnya terlihat sudah sangat besar.
“Janji tidak akan melakukan apapun kan?!” Lagi-lagi Max tertawa mendengar pertanyaan Elena. Dia merasa Elena sangat mudah mengancam hal-hal yang justru dia inginkan.
“Iya, iya, janji,” kata Max seraya mendorong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi. “Tapi berendam sebentar ya. Aku sangat lelah semalaman lembur,” lanjut Max dan tentu Elena menyetujuinya karena dia juga merasa tubuhnya sangat pegal karena Max terus memeluknya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama Max menyiapkan semuanya dan bergabung dengan Elena yang sudah menikmati aroma lavender di pagi hari. Max pun mengusap perut istrinya yang sangat besar. Dia benar-benar tidak sabar menunggu anak mereka segera lahir. Pasti akan sangat lucu dan rumah mereka semakin ramai.
“Aku sudah menemukan nama yang bagus,” ucap Max.
“Oh ya? Jadi siapa?”
“Stefano Winston dan Stefani Winston. Bagaimana menurutmu?”
Elena terkekeh sejenak, tapi dia mengangguk pelan. “Tidak buruk, aku suka.”
“Benarkah?”
Elena mengangguk lagi dan Max pun mencium punggung belakang istrinya yang bersandar di dadanya.
“Aku tidak menyangka bisa memiliki dua sekaligus, kau sangat hebat, Sugar!”
Elena mengusap pelan lengan suaminya yang berada di perutnya. Lalu memperhatikan cincin pernikahan mereka yang masih mereka gunakan saat ini. Rasanya jelas seperti mimpi mempunyai suami seperti Max. Elena tidak pernah menyangka akan menikah di umurnya yang masih terbilang muda. Hari-hari yang terasa sulit pun telah dia lalui bersama Max. Akhirnya mereka bisa merasa lega karena tak perlu menjawab pertanyaan kapan hamil atau punya anak lagi. Semua yang Elena dan Max inginkan sudah terjawab.
Max yang mendengarnya tersenyum, dia menarik wajah istrinya dan menciumnya lembut. “Bagiku kau selalu sempurna. Aku tidak pernah mencintaimu setengah-setengah. Aku selalu mencintaimu sebagai wanita seutuhnya.”
Elena terkekeh mendengarnya dan memukul dada suaminya pelan. “Kau terlalu gombal! Tak pernah berubah!” sergah Elena.
Max mengacak rambut Elena dan kembali mencuri ciuman di bibir istrinya. “Aku tidak pernah berbohong. Aku mencintaimu seutuhnya. Bagaimana dengan kau?”
“Aku?” Elena mengangkat alisnya.
“Iya kau? Memangnya siapa lagi yang ada di sini?”
“Bayi kembar kita,” jawab Elena memegang perutnya membuat Max tertawa.
“Baiklah, mereka jelas akan menjawab sangat mencintai ayahnya.”
__ADS_1
“Huh! Jelas lebih mencintai ibunya dong!”
“Yasudah aku mengalah!” Max kembali mengacak rambut Elena. “Tapi kau belum menjawab pertanyaanku.”
Elena tersenyum lalu berusaha mengubah posisinya sebisa mungkin. Sejenak dia menatap wajah suaminya membuat Max salah tingkah. Wanita itu menyentuh pipi suaminya lembut dan mengecupnya pelan.
“Tentu aku sangat mencintaimu. Aku pernah berpikir kau pria yang sangat jahat dan licik. Kau pria yang berbahaya dan sangat arogan, tapi setelah aku tahu segalanya tentangmu. Aku tahu, rasanya lebih buruk jika tidak ada kau di dalam hidupku. Saat kau pergi ke luar negeri dan aku di sini sendiri. Aku sadar bahwa rasanya aneh tanpamu. Aku terus memikirkanmu dan merasa aku tidak lebih baik tanpamu.”
Max tertawa pelan. Dia merasa sedang mendapatkan gombalan yang manis dari istrinya. Pertama kalinya Elena mengatakan perasaannya pada Max. Ternyata tetap masih membuatnya berdebar dan semakin mencintai wanita ini. Bisa-bisanya Elena mencampur aduk perasaannya. Seandainya… ah ya seandainya dia diizinkan melakukan hal yang lebih dari sebuah ciuman. Max pasti sudah menyeretnya ke atas ranjang dan melarangnya pergi bekerja hari ini.
“Sudah kuduga, kau benar-benar licik!” teriak Elena tiba-tiba membuat Max terkekeh.
“Aku sudah selesai! Aku keluar duluan!” kata Elena meninggalkan Max yang tersenyum melihat kepergian istrinya yang berjalan menuju shower.
Well, puasa satu bulan lagi tidak buruk.
“El! Tunggu aku!” suara Max memanja.
“Tidak! Aku duluan! Kau nanti sendiri!” ancam Elena tidak mau suaminya melakukan hal yang lebih tentunya.
“Kau pelit!”
“Bodo! Aku tidak mau! Aku harus bertemu dengan Joana siang ini! Dan kau berjanji tidak melakukannya!”
Max sungguh ingin tertawa melihat istrinya yang terlihat sangat waspada dengannya. Dia benar-benar sedang tidak menyukai Max yang berganti ke mode serigala genit.
“El ayolah!” ledek Max lagi.
“Tidak!” Elena cepat-cepat menyelesaikan kegiatannya dan menarik handuk. “Kau selesaikan sendiri!” sergah Elena kabur dari kamar mandi.
Hayo!! Yang belum like dan komen!! Jangan lupa tinggal jejak. Minimal like lah :( jika blm like scrol lagi ke atas yuk untuk like^^
__ADS_1