
AUTHOR POV
Usai menentukan apa yang Elena inginkan untuk dekorasi pernikahannya nanti. Di perjalanan menuju kantor Max, Rain memberikan laporan bahwa Eliz sudah tiba di rumah beberapa jam yang lalu setelah dua minggu berlibur ke Eropa. Ibu tirinya itu mengundang Max datang bersama Elena untuk makan malam, sekaligus memperkenalkannya lebih resmi pada ke dua orang tuanya.
Tentu Max awalnya cukup keberatan. Dia tertawa di dalam hatinya karena merasa lucu ketika menyebut Ronald dan Eliz adalah ke dua orang tuanya. Bahkan anak kandung mereka tidak akan sudi menyebut mereka Ayah dan Ibu jika tahu kebusukan mereka. Sara dan Darrel pasti merasa malu mengakui mereka berdua orang tua.
“Pak, Aaron juga baru saja memberitahu saya, bahwa dia diundang untuk datang ke rumah orang tua Bapak. Sepertinya ini bukan makan malam biasa. Haruskah kita mencari gaun untuk Bu Elena?” tanya Rain dan Max hanya mengangguk sebagai jawaban singkat.
Elena melihat tingkah Max yang tiba-tiba nampak dingin. Dia merasa aneh dengan sikap Max yang seperti ini. Apa mungkin hubungan Max dengan orang tuanya tidak baik? Namun Elena menggelengkan kepalanya. Dia dengar dari Irene bahwa Max membantu ayahnya untuk menarik saham-saham yang ada di perusahaan keluarga Gilbert dengan memasukkan beberapa orang kepercayaan mereka ketika Irene dan Max masih menjadi sepasang kekasih. Lalu apa yang membuatnya nampak tidak suka?
“Rain, tolong bantu atur semuanya untuk Elena. Aku akan kembali ke kantor bertemu Aaron. Ada beberapa hal yang masih harus kuurus bukan?” tanya Max dan Rain mengangguk pelan di bangku samping kemudi.
“Andrew, kita berhenti di Mal Nade Capital. Biarkan Rain menemani Elena mencari gaun yang cocok,” ucap Max tanpa ekspresi apapun.
Elena masih bertanya-tanya tentang apa yang Max pikirkan mengenai undangan makan malam ini. Tak hanya itu, Elena juga berpikir apa yang harus dia lakukan nanti malam? Bertemu dengan orang yang sudah merebut kebahagiaannya adalah hal yang tidak bisa dia bayangkan. Apakah El harus berpura-pura senang atau El harus pasang wajah tebal; mengabaikan apa yang terjadi?
Andrew menghentikan mobilnya di salah satu mal terbesar di kota. Mal yang tentunya hanya kalangan orang-orang seperti Max yang bisa membelinya. Bahkan El tidak pernah mencoba masuk ke mal ini. Meski dia mampu, dia tidak akan pernah membuang uangnya untuk membeli barang yang bahkan di luaran sana bisa dia dapatkan lebih banyak.
Elena dan Rain pun turun dari mobil Max. Pria itu nampak memperhatikan Elena yang turun dari mobil. Dia merasa khawatir akan malam ini, tapi entah hanya perasaannya saja, Elena terlihat sangat tenang, atau itu memang sudah menjadi kepribadian gadisnya? Ya, Max hanya tidak tahu apa yang sedang Elena pikirkan saat ini.
“Andrew tunggu!” Max menghentikan laju mobil pribadinya. Pria itu segera turun dari mobilnya dan mengejar Elena.
__ADS_1
“El,” Max menarik tangan kelinci kecilnya lalu memeluknya erat, mencium aroma kuat tubuh El yang baginya terasa alami.
Sementara Elena nampak sangat terkejut dengan pelukan Max yang sangat tiba-tiba. Elena pun melirik ke arah Rain yang kini membelakangi mereka. Elena mencoba memberontak tapi Max tetap memeluknya erat dan berpindah menghirup tengkuk Elena sedalam mungkin.
“Lepaskan!” bisik Elena di telinga Max, dia tidak mau Rain mendengarnya.
“Apa kau tidak suka aku peluk?” bisik Max kini bergantian di telinga Elena. Dia menekan tengkuk Elena hingga semakin dalam pelukannya. “Kau begitu pelit, Sugar!” bisiknya lagi sungguh membuat Elena kesal.
Baru saja Elena ingin menginjak kaki pria itu, tiba-tiba Max melepaskan pelukannya dan mencium kening Elena; hal yang sangat mendadak, tapi entah kenapa sialnya terasa sangat hangat.
“Rain, jangan lupa bawa dia ke salon. Rambutnya sangat bau dan wajahnya sangat jelek. Aku tidak mau keluargaku tahu calon istriku seperti orang hutan,” ucap Max sungguh merusak suasana yang baru saja Elena rasakan.
“Baik Pak. Saya akan melakukan yang terbaik,” ucap Rain menundukkan kepalanya.
Max menepuk bahu Rain dan sebelum benar-benar pergi mengacak rambut Elena, juga tak lupa kerlingan di matanya.
“Dasar serigala genit!” teriak Elena yang tak lagi tahan dengan kerlingan menjijikkan itu.
Sudah dua kali pria itu melakukan hal itu hari ini. Sungguh membuatnya mual, tapi beda dengan Rain yang menahan tawanya setengah mati. Dia tidak pernah melihat bosnya seperti ini sebelumnya terhadap wanita. Rain yakin, Elena pasti sudah membuatnya jatuh cinta jauh sebelum pernikahan mendadak ini.
***
__ADS_1
Max lebih dulu sampai dan beberapa menit kemudian Elena turun dari mobil bersama Rain karena mereka tidak datang bersama. Seperti dugaan Max, wanita itu akan terlihat sangat cantik meski hanya dengan riasan yang tipis. Bajunya tidak begitu terbuka sesuai keinginan Max; pria posesif yang sudah sangat Rain hafal sepanjang dia bekerja dengan Max. Jika pada Natt, dia tidak begitu peduli, maka dengan Elena adalah hal yang paling harus diperhatikan.
“Apa aku sudah tidak terlihat seperti orang hutan?” tanya Elena dan Max hanya terkekeh mendengarnya.
Max menarik tangan gadisnya untuk berada di lengannya. Menjadi ratunya malam ini dan ber-acting dengan bagus. Para pelayan menyambut mereka dan mengantar pasangan ini menuju meja makan nan megah milik keluarga Winston.
“Autny!” teriak Tiger sangat nyaring membuat Sara tidak bisa mencegah anak laki-laki yang penuh aktif itu berlari menuju Elena.
Beberapa mata pun tertuju pada kedatangan mereka. Max langsung mengambil tempat duduk bersama Elena di sebelahnya yang sudah pelayan sediakan. Max Winston adalah anak tertua, posisisnya tentu di sebelah Ronald Winston yang berada di kepala meja makan.
Kemudian di depan Max ada Eliz, Darrel, Sara serta Petter; suaminya. Di samping Elena persis ada Natt, Rain dan Aaron yang sudah mereka anggap sebagai keluarga beda keturunan.
“Nampaknya Tiger begitu akrab denganmu, Sayang,” sapaan pertama dari Eliz yang begitu manis, tapi bagi Max itu membahayakan.
“Sara bilang, kemarin kalian berkunjung ke rumahnya. Kenapa rumah Sara yang menjadi kunjungan utama kalian?” tanya Ronald sebagai kepala keluarga.
Entah perasaan apa ini, tapi Elena merasa tidak enak berada di antara keluarga wajah-wajah yang menyambutnya ini. Terutama, wanita berambut pirang di sisinya seperti tengah menatapnya penuh kebencian.
“Hahaha, Ayah kan tahu Ibu sedang berada di Eropa. Mana bisa aku memperkenalkan El jika semuanya belum kumpul lengkap seperti ini.”
***
__ADS_1