
ELENA POV
Hampir berjalan 6 hari Max tidak pulang. Terakhir kali kami tatap wajah di rumah, aku membahas mengenai Arnold dan memintanya untuk minta maaf. Namun Max sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang dia lakukan tempo hari. Setelah itu dia pergi tanpa mengabariku sebelumnya. Aku dengar dari Jon, Max harus pergi ke Eropa karena ada urusan mendadak. Aku tidak suka kata mendadak di dalam hidupku. Seperti halnya aku menikah dalam keadaan yang serba mendadak, aku semakin membenci kata itu karena Max berulang kali melakukannya.
Dia menghubungiku beberapa kali tapi tidak aku angkat. Dia juga mengirimiku pesan, tapi tidak sama sekali aku balas. Hingga akhirnya, dua hari ini aku tidak lagi menerima pesan atau telepon darinya. Anehnya aku merasa selalu ada yang kosong saat dia pergi. Aku merasa sepi dan semakin sedih. Memikirkannya tidak cukup membuatku tenang dan menjawab bahwa saat ini aku baik-baik saja tanpa Max. Aku… ingin Max. Aku ingin Max pulang.
“Bu Elena, Pak David bilang untuk take hari ini sudah cukup. Anda bisa istirahat,” kata Rain membuatku meleburkan lamunanku di tengah-tengah syuting after married.
Ya, meski Max tidak ada. Kami tetap harus syuting apa adanya. Karena seminggu hanya diambil dua kali. David sebagai sutradara mengambil angle di mana aku sebagai istri CEO tetap mempunyai aktifitas di rumah. Salah satunya aku mulai berbaur dengan pelayan dan membantu mereka memasak. Aku juga mengajar Ryan belajar seperti biasanya. Beberapa kegiatan lainnya seperti membaca buku bahkan house tour yang menampilkan kemewahan isi rumah CEO terkenal di negara ini. Aku sudah melakukannya dengan baik dan David bilang acara ini akan tayang di akhir pekan. Jadi, pastinya banyak masyarakat yang menantikan acara ini segera tayang.
“Oh kalau gitu, aku akan kembali ke kamarku,” kataku berdiri dari dudukku, dan Rain sedikit membungkuk ke arahku tanda penghormatan.
Namun aku kembali membalikkan tubuhku dan memanggil Rain yang hampir pergi. “Rain tunggu!”
Refleks wanita itu menghentikan langkahnya. “Iya Bu?”
Aku pun menggigit bibirku. Ragu entah harus bertanya atau tidak, tapi jika tidak… aku akan terus memikirkannya.
“Mmm M-Max, ini sudah 6 hari. Kenapa dia masih belum kembali?”
“Oh itu… Bapak tidak memberitahu Ibu?” tanyanya kembali padaku. Sedangkan aku hanya diam saja tidak menjawab. “Sebenarnya saya juga tidak tahu, Bu. Sepertinya ini di luar pekerjaan. Hanya Bapak dan Aaron yang tahu karena Aaron ikut pergi bersama Bapak.”
Aku pun menghela napasku. Setelah malu bertanya, aku akhirnya tetap tidak mendapatkan jawaban apapun. Apa sebaiknya aku menghubunginya saja? Aku mulai khawatir dengan keadaannya. Sebenarnya apa yang dia lakukan?
“Baiklah, terima kasih. Kau boleh pulang dan selamat istirahat,” kataku pada Rain dan wanita itu kembali membungkukkan tubuhnya sebelum akhirnya kami berpisah ke arah yang berbeda. Aku pergi ke kamar dan Rain pergi ke luar rumah.
__ADS_1
Setelah sampai kamar aku mendengar HP-ku berdering. Aku segera berlari menuju meja riasku di mana aku menaruh HP-ku. Wajahku nyaris tersenyum lebar sampai akhirnya yang aku temukan bukan nama Max yang memanggilku. Senyumanku pudar berganti dengan rasa yang bersalah.
Arnold memanggil…
Aku tahu Max akan membenciku jika dia tahu aku menyimpan nomor Arnold. Dia pernah bilang aku tidak boleh menyimpan nomor sembarang orang. Bahkan dia ingin aku meminta izin dulu padanya. Kalau dia tahu apa yang aku lakukan saat ini. Mungkin dia… ah Max! Kau begitu sulit aku mengerti. Apa jangan-jangan dia pergi karena menghindariku? Tapi bukankah Jon bilang ada urusan mendadak? Toh, aku menyimpan nomor Arnold karena dia teman baikku. Meski aku tidak menyimpan nomornya, aku tetap bisa menghubunginya lewat social media.
“Halo Arnold?”
“El? Aku di depan rumahmu sekarang. Apa kita bisa bertemu sebentar? Aku punya beberapa sketsa gambar yang bisa kau lihat dan pelajari. Aku juga punya beberapa catatan bagus untukmu,” kata Arnold membuatku bersemangat segera keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan setengah berlari.
“Nona! Hati-hati!” teriak Tina ketika aku bertemu dengannya di anak tangga. Aku pun tersenyum padanya yang membawa sebuah nampan makanan tentunya untukku.
“Tunggu sebentar. Aku keluar,” kataku pada Arnold di sambunganku lalu memutuskannya.
Namun begitu aku baru saja ingin membuka pintu utama rumah ini, Jon menahanku. “Nona, Anda mau ke mana? Ini sudah sangat sore,” ucapnya begitu terdengar posesif seperti Max.
“Jon! Aku hanya ke depan sebentar!”
“Tidak boleh Nona. Tuan meminta saya menjaga Nona dan selama Tuan tidak ada, Nona harus aman di dalam rumah.”
Aku menghela napasku sejenak. “Kalau begitu kau ikut aku saja ke depan. Aku hanya ingin bertemu temanku sebentar,” kataku lagi dan Arnold pun mempersilakan jalanku.
Lalu dia mengikutiku dari belakang dan memintaku masuk ke dalam mobil bersama Andrew. Ah sial, rumah ini memang sangat besar. Aku memang tidak mungkin berjalan kaki hanya untuk menuju gerbang utama. Sama halnya mansion milik keluargaku, tidak ada kamusnya gerbang utama sangat dekat dengan pintu rumah. Aku sudah terbiasa dengan hal ini, tapi masih selalu melupakannya.
“Nona, Anda tahu kan Tuan Max tidak suka dibantah. Jika Tuan Max tahu Anda bertemu dengan pria di pesta itu. Dia bisa sangat marah,” ucap Andrew dengan kemudinya sementara Jon melirikku di jok belakang dari kaca.
__ADS_1
“Benar yang dikatakan Andrew Nona. Anda bisa berpikir dulu sebelum menemuinya,” ucap Jon membuatku merengut kesal.
Ingin pergi ke gerbang utama saja harus dikawal denga dua pria bersaudara ini. Bahkan tanpa aku kasih tahu, mereka juga sudah tahu aku akan bertemu dengan siapa. CCTV di rumah ini pasti benar-benar dipasang di mana-mana.
“Aku hanya ingin mengambil bukuku. Aku tidak akan keluar dari mobil. Kau, Jon bisakah ambilkan buku yang ingin Arnold berikan padaku?”
Jon sedikit memiringkan tubuhnya padaku dan membungkuk pelan. “Baik, Nona,” ucapnya lalu tak lama kami sampai di gerbang utama dengan otomatis terbuka.
Wajah yang nampak tampan itu tersenyum lebar dan melambaikan tangannya sebatas dada karena wajahku terlihat dari kaca depan. Lalu Jon turun dari mobil mengatakan bahwa dia yang akan mengambil barang itu. Aku pun mengangguk memberikan isyarat pada Arnold, dan dengan wajah tak bersahabat Arnold merelakan apa yang dia bawa tanpa bertemu denganku. Jon kembali masuk ke dalam mobil dan mobil kami pun ikut kembali masuk.
“Ini Nona,” ucap Jon dan aku mendapatkan apa yang Arnold sebutkan tadi.
HP-ku berdering kembali menunjukkan nama Arnold di sana. Namun kali ini dia hanya mengirimiku pesan singkat.
From: Arnold
Kau terlihat tidak bahagia. Kau tidak bisa pergi ke mana pun. Bahkan hanya ke depan rumah dikawal oleh pesuruh suamimu. Kau bisa datang padaku kapan saja. Aku selalu menunggumu.
Setelah membacanya aku hanya mampu menghela napasku pelan. Benarkah aku tidak bahagia? Akhir-akhir ini aku mulai memikirkan lagi hal itu karena ditinggal Max dalam beberapa hari ini lebih terasa membuatku tidak bahagia. Aku kembali memeriksa HP-ku dan membaca pesan terakhir dari Max. Namun sebelumnya aku tersenyum karena Max yang memberikan namanya sendiri di kontakku.
***From: Serigala Tampan ***
Sugar, jika kau ada waktu, hubungi aku kembali. Maafkan aku tidak bisa memelukmu tidur beberapa hari ini. Aku merindukanmu. Sangat!
Hatiku berdesir keras setiap kali membacanya, tapi aku cukup gengsi untuk membalasnya. Aku juga merindukannya dan tiba-tiba aku ingin menangis. Aku merindukan Max.
__ADS_1
***Ku tak kuasa bikin scene manis mereka wkwkwkw. Jangan lupa like dan komennya^^ ***