
ELENA POV
Minggu pagi beberapa orang sudah sibuk mendadaniku dan menyiapkan beberapa dekorasi untuk persiapan nanti malam karena akan ada pesta ulang tahun di rumah mewah ini. Ya, rumah mewah milik suamiku dan hari ini kami akan take foto after wedding.
“Tuan memilih gaun ini untuk foto hari ini, bagaimana Nona Elena? Apakah Anda suka?” tanya Brian, seseorang yang mengatur wardrobe-ku dan Max hari ini.
Semalam Max mengatakan bahwa sebelum menikah kemarin harusnya kami punya foto pra-wedding, tapi karena keadaanku yang tidak memungkinkan, Max tidak ingin menyita waktu istirahatku. Dia sangat khawatir dengan keadaanku setelah apa yang terjadi sebelum kami menikah kemarin. Jadi, sesi foto ini berubah menjadi setelah pernikahan.
Sebenarnya aku cukup terharu karena Max seperti menyiapkan pernikahan kami dengan sungguh-sungguh. Tidak ada sandiwara atau paksaan sama sekali. Seolah aku memang pantas mendapatkan kebahagiaan sekali seumur hidup ini.
“Sugar, bagaimana?” suara Max tiba-tiba membuatku tersadar kalau aku sepertinya terlalu lama melamun.
“Oh itu… kenapa tidak dengan gaun yang satu lagi?” tanyaku melihat gaun yang Brian pegang di tangan kirinya. Aku sangat suka detailnya, tapi…
“Apa kau sengaja ingin membuatku marah, Sugar?” tanya Max dengan matanya yang memicing.
Sementara aku menatap Brian seakan meminta sebuah jawaban pada pria setengah perempuan itu. Brian pun menaruh gaun yang kusebut tadi di bangku dan malah memaksaku mencoba gaun yang Max pilih. Namun, sebelum aku menghilang di balik pintu kamar mandi. Brian membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Sepertinya suamimu sangat posesif. Dia tidak mau istrinya terlihat seksi di mata orang lain. Baju tadi cukup terbuka, kau tahu?” katanya lalu pintu kamar mandi dia tutup dengan rapat dan aku tiba-tiba memegang pipiku sendiri.
Max, apakah dia memang pria yang posesif? Ah sudah! Lupakan! Aku harus cepat ganti baju, foto bersama Max dan istirahat sejenak untuk menghadapi acara nanti malam. Tentunya, aku harus menyiapkan mental karena sebagian besar yang datang pastinya dari kalangan artis dan teman bisnis Max. Kalaupun ada temanku, itu karena aku mengundang mereka secara personal lewat pesan sosial mediaku. Ya, akhirnya Max membelikanku HP baru, tapi sayang, Max hanya memperbolehkanku menyimpan nomornya, Kak Irene, Jon, Rain, Bi Tina, Aaron dan Andrew. Selain itu, dia bilang aku harus izin dulu padanya. Benar-benar menyebalkan, tapi lebih baik daripada tidak punya HP sama sekali.
Tok, tok, tok,
“Sugar! Apa kau baik-baik saja?! Kau perlu bantuan?” suara Max mengetuk pintu kamar mandi.
Aku pun langsung keluar dan membalikkan tubuhku. “Aku tidak bisa menutupnya, bisakah kau membantuku?” tanyaku padanya.
Sejenak aku tidak mendapatkan respon apapun dari Max. Aku hampir membalikkan tubuhku sebelum akhirnya, aku merasakan ciuman lembut di punggungku yang terbuka. Jari-jari Max pun pindah ke arah pinggangku. Tubuhku seperti tersengat oleh listrik dan tidak tahu harus menolak atau justru sebaliknya.
__ADS_1
“Kau tahu kenapa aku tidak suka kopi manis, aku hanya suka kopi pahit seperti americano.”
Aku tidak paham apa yang Max katakan, tapi aku bisa merasakan deruan napasnya yang menerpa punggungku kemudian berpindah pada tengkukku. “A-aku tidak tahu,” ucapku entah kenapa harus keluar dengan terbata-bata. Sungguh memalukan!
“Itu karena kau sangat manis. Aku tidak perlu minum-minuman yang manis, karena kau canduku,” ucapnya tepat di telingaku membuatku merinding.
Aku pun memejamkan mataku, tidak tahu apa yang Max lakukan padaku karena aku seperti ikut pada buaiannya.
“Sayang, kita belum bisa melakukannya sekarang. Aku tidak bisa memaksamu kan, Sugar? Aku masih menunggu hingga hari itu datang. Hari di mana kau siap dan datang dengan sendirinya,” ucapnya seraya menarik resleting bajuku.
Bodohnya kenapa aku harus memejamkan mata! Aku sungguh malu dibuatnya! Aku pun membalikkan tubuhku dan mendorong tubuhnya agar tidak menghalangiku jalanku. Sebelum aku benar-benarmeninggalkannya, aku mendengar Max tertawa. Dia pasti puas sudah membuatku seperti tadi! Max kurang ajar!
***
“Ya bagus! Posisi pria bisa sedikit miring dan perempuan menatap matanya,” ucap sang fotografer membuatku sangat muak untuk menahannya lebih lama.
“Oke! Tahan! Bagus!” ucapnya dan pantulan cahaya semakin lama membuatku sedikit tidak nyaman.
“Sebentar lagi, kita kan belum sampai pada foto yang lebih mesra,” jawabnya dengan kedipan matanya membuatku tak sadar terkekeh.
Aku seperti sudah biasa menghadapinya seperti ini. Sehari tidak menggodaku akan terasa aneh dan perlahan entah kenapa aku menyukai semua yang dia lakukan padaku. Inilah yang aku takutkan. Bagaimana jika aku jatuh cinta padanya? Sementara dia hanya menggunakanku sebagai alat menuju yang dia mau.
Cup!
Max mencium bibirku dan fotografer nampak mengambil foto beberapa kali. Kini berpindah pada pipiku dan juga hidung yang dia tempelkan pada hidungku.
“Ah kenapa tidak dari tadi?! Ternyata lebih bagus seperti ini,” ucap fotografer pada kami.
Aku pun sedikit mendorong bahu Max karena pipiku terasa merah. Namun Max tiba menarikku hingga kami jatuh di atas bangku. Kini aku berada di pangkuannya dengan menatap matanya. Gerakan-gerakan spontan yang kami ciptakan nampaknya menjadi objek menarik bagi fotografer.
__ADS_1
“Baru kali ini saya mengambil foto Romeo dan Juliet versi abad 20. Kalian benar-benar cocok! Tanpa harus dibuat-buat pun ekspresi kalian sudah memancarkan penuh cinta!” ucap sang fotografer membuatku langsung berdiri dari pangkuan Max.
“Kau terlalu berlebihan!” Max mengibaskan tangannya pada Ryn. Dia juga berdiri dari duduknya seraya memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celananya. “Bagaimana hasilnya?” tanya Max.
“Oke! Sudah cukup! Kau bisa melihatnya.”
Ryn memberikan beberapa preview foto kami di komputer dan Max nampak tersenyum seperti sangat puas dengan hasilnya. Aku pun yang sangat ingin tahu segera menyusul mereka. Max menarikku dan memelukku dari belakang.
“Bukankah semuanya bagus?” tanya Max padaku dan aku mengangguk ikut tersenyum karena hasilnya memang sangat bagus. Aku suka semuanya.
“Ryn, malam ini akan ada pesta ulang tahu Elena. Apakah bisa dicetak yang paling besar hari ini? Aku akan memasang di ruang tamu kami dan juga di kamar pribadi.
“Ahh sayang sekali, aku tidak bisa menjaminnya, Max. Mungkin kalau hanya satu aku bisa mengusahakannya, bagaimana?”
“Baiklah, tidak apa-apa. Aku ingin yang ini,” Max menunjuk posisi di mana dia menekan pipiku hingga memanyun dan dia menciumnya dengan gemas.
Well, aku semakin bisa merasakan jiwanya yang pemaksa dan posesif, tapi entah kenapa hatiku mulai berdebar saat dia melakukan hal-hal manis seperti ini. Max, apakah dia merasakan apa yang juga aku rasakan saat ini? Berdebar, bahagia, tidak ingin jauh dan ingin selalu dipeluk olehnya. Kali pertama aku bisa merasakan hal seperti ini di dalam hidupku; bercampur dengan rasa khawatir yang tidak bisa aku jelaskan itu apa.
Brak! Aku dengar suara pintu terbuka dan menghantam dinding di belakangnya.
“Tuan! Gawat! Tuan Alfred menghubungi saya dan mengatakan bahwa Nona Natt…”
Kami semua terdiam memperhatikan Tina yang memasang wajah paniknya. “N-nona Nattalie mencoba bunuh diri!”
Max yang mendengarnya langsung lari begitu saja meninggalkanku. Sementara aku… kakiku seperti jelly yang tidak tahu bisa berdiri kembali dengan tegak atau tidak. Baru saja aku merasakan bahagia, tapi sekarang aku mengerti bahwa perasaan itu jelas hanya sesaat. Hanya saat aku bersamanya, merasakan hal manis yang dia berikan padaku, tapi sebenarnya itu semua bukan milikku. Itu semua milik orang lain.
“Nona! Apakah Anda baik-baik saja?!” suara Tina mencoba menenangkan dan memeriksa kondisiku.
Aku pun menggelengkan kepalaku. “Tina, tolong antarkan aku ke kamar. Nanti malam, acaraku tetap harus berjalan! Apapun yang terjadi! Aku ingin acaraku berjalan seperti yang sudah direncanakan,” ucapku pelan dan Tina mengangguk.
__ADS_1
Masa bodoh! Aku harus membuktikan pada Max bahwa aku bukan wanita yang lemah! Aku bisa melakukan apapun tanpanya dan karena acara after married ini bukan hanya melibatkannya. Aku tetap ingin melakuannya secara profesional. Aku harus! Aku harus mendapatkan uang bagianku untuk menabung setelah semuanya selesai.
Selamat lebaran! Selamat hari raya idul fitri bagi yang menjalankan^^ mohon maaf lahir batin ya dan terima kasih sudah baca karyaku^^