
ELENA POV
Tina bilang, Max tidak bisa pulang cepat malam ini. Dia menyuruhku untuk tidur duluan dan tidak perlu menunggunya. Mendengar itu jelas aku terkekeh. Dia pikir, dia siapa? Kenapa aku harus menunggunya? Dan kenapa dia berpikir aku akan menunggunya? Aku selalu tidur duluan bahkan saat dia bisa pulang cepat.
Mengingat Max, aku jadi ingat kejadian tadi pagi. Dia benar-benar menjijikkan dan bodohnya aku baru sadar kalau ruangan kami memiliki dua kamar mandi. Mungkin karena kondisiku yang baru bangun tidur, aku jadi tidak bisa berpikir dengan baik, dan keadaan memaksakan karena aku sungguh tidak bisa menahannya lebih lama. Baiklah, lupakan saja! Tinggal bersama serigala pastinya tidak akan tenang, tapi mungkin lama kelamaan aku terbiasa.
Aku lihat jam dinding di kamar dan pukul menunjukkan jam 9 malam. Seandainya aku punya HP. Aku pasti sedang menghubungi Kak Irene. Aku masih mengkhawatirkannya dan memikirkan bagaimana keadaannya sekarang. Di sini aku hidup dengan mewah, sementara Kak Irene di rumah tidak baik-baik saja. Terkadang, aku takut dia melakukan hal yang menyeramkan, tapi aku percaya Kak Irene bukanlah orang yang seperti itu.
Tok, tok, tok
Asyik melamun dan menyisir rambutku yang panjang di ujung ranjang. Seseorang mengetuk kamar membuatku tersadar dan menggelengkan kepala. Apa yang sedang aku pikirkan! Sepertinya karena terlalu tidak ada banyak kegiatan aku jadi banyak berpikir hal yang tidak perlu.
“Masuk!” ucapku mempersilakan dan Vivi muncul dari balik pintu kamar. “Vivi, ada apa?” tanyaku seraya berdiri dari sisi ranjang. Menaruh sisir yang baru saja aku gunakan di atas nakas.
“Nona, saya ingin berterima kasih karena kebaikan Anda dan Tuan untuk kami,” ucap istri Jon sangat lucu bagiku. Kebaikan apa yang dia maksud?
“Kebaikan apa?” tanyaku padanya yang kini berjalan masuk ke dalam kamar dan aku baru menyadari Vivi membawa sebuah wadah besar di tangannya berisikan air serta handuk kecil di dalamnya.
“Nona sudah membantu Ryan belajar. Saya hanya wanita yang tidak berpendidikan sehingga tidak bisa membantu anak saya belajar dengan baik. Sementara Tuan sudah membiayai Ryan untuk sekolah karena sebelumnya kami kesulitan mencari uang untuk pendidikan Ryan,” katanya langsung bersimpuh di depanku.
“Nona, tolong duduk sebentar. Saya akan memijat kaki Nona.”
Aku langsung melambaikan tanganku karena tidak terbiasa dengan ini. Sejak kecil, ayah tidak pernah mengajariku memperlakukan pelayan seperti ini. Bagi kami, pelayan juga manusia dan cukup sekedar mengerjakan pekerjaan rumah. Kalaupun aku ingin minta pijat, keluargaku memanggil orang khusus untuk pijat akupuntur.
“Tidak usah! Aku tidak lelah dan-“
“Nona, saya melakukan karena keinginan sendiri. Anggap saja ini balasan dari saya sebagai seorang ibu. Ryan pernah mengalami hal yang menyeramkan saat bayi. Melihatnya tumbuh dengan baik. Saya benar-benar sangat bersyukur.”
Perlahan aku pun kembali duduk di pinggir ranjang dan membiarkan Vivi mengangkat kakiku ke dalam wadah yang dia bawa.
“Kau bilang Ryan pernah mengalami hal menyeramkan. Apakah aku boleh tahu?”
__ADS_1
Vivi mengangguk dan di sinilah aku menghabiskan malamku bersama Vivi. Aku baru tahu bahwa Max juga pernah mengalami hal yang menyeramkan. Satu hal yang aku tidak menyangka dari pria itu bahwa ternyata Max adalah orang yang baik. Dia memaafkan kesalahan Jon dan membawa serta keluarga Jon ke sini untuk bekerja. Tidak hanya itu, Max juga membiayai Ryan sekolah serta hidup yang layak di sini.
Max, apa kau sungguh pria yang baik? Apakah aku harus percaya dengan rencanamu yang bahkan bisa membahayakan hidupku? Aku tidak tahu kenapa aku terlibat dengannya. Aku hanya tahu, keluargaku mempunyai hutang dengannya. Bukan hanya itu, dia juga sudah menjebak Kak Irene sehingga perusahaan kami bangkrut. Aku sungguh tidak mengerti apa yang terjadi.
***
Malam ini aku tidak bisa tidur dengan baik. Aku pun memutuskan untuk membaca sebuah novel setelah Vivi memijat kakiku. Pijatan Vivi ternyata tidak buruk dan aku senang setelah Tina, Allya, dan kini ada Vivi yang bisa aku ajak bicara di rumah.
“Sugar, kau belum tidur?” suara Max membuatku melepas kaca mata bacaku dan memperhatikan kedatangannya yang terlihat acak-acakan.
Dia pasti sangat lelah dengan pekerjaannya. Belum lagi dia harus menahan gosip-gosip artis yang melihatnya datang ke kantor setelah dua hari acara pernikahan kami diselenggarakan. Setelah menikah, orang bilang bagus untuk mengambil cuti dan pergi honeymoon untuk sepasang suami-istri, tapi itu sepertinya hanya berlaku untuk yang mempunyai uang, mempunyai waktu luang dan juga mempunyai cinta satu sama lain. Sementara aku dan Max, tidak memiliki hal ke dua dan ke tiga. Max sibuk dengan pekerjaannya dan kami tidak mencintai satu sama lain.
“Hmm aku sedang baca buku,” kataku mengangkat buku yang aku pegang.
Max pun menghampiriku, duduk di sisi ranjang dan mencium keningku. Sehari saja dia tidak pernah absen melakukan hal ini. Sementara aku terbiasa menerimanya tanpa perasaan apapun. Aku anggap itu hanya bentuk kebaikannya untuk membuatku merasa nyaman sebagai tahanannya.
“Maaf aku tidak bisa pulang cepat hari ini. Hari ini banyak hal yang aku urus,” ucapnya mengelus pelan pipiku dan menyingkirkan rambutku ke belakang telinga.
Aku mengernyitkan alisku ke atas. “Aku besok ingin mengantar Ryan sekolah dengan Jon dan Vivi,” ucapku padanya.
“Kalau begitu Jon bisa langsung mengantarmu ke kantor. Acara di mulai jam sepuluh. Kau tidak akan telat, Sugar.” Dia mencubit pipi serta mengacak rambutku seraya bangun dari duduknya.
“Sudah malam, waktunya istirahat.” Kini beralih menarik bukuku dan menaruhnya di atas nakas. “Aku ingin mandi dulu dan akan menyusulmu.”
Anehnya, aku mengangguk pelan tidak membantah perintahnya. Perlahan aku menyusupkan tubuhku ke dalam selimut dan menariknya sebatas dada. Aku terus memperhatikan pintu kamar mandi, berharap Max cepat kembali bergabung denganku. Entah perasaan apa itu, tapi aku sungguh ingin menanyakan sesuatu padanya. Meski aku juga tidak yakin dia akan menjawabnya atau tidak, tapi aku ingin tahu hal-hal yang mencuat di kepalaku saat ini. Aku ingin dia menjawabnya tanpa berbohong.
***
Semalam aku tertidur ketika menunggu Max. Akhirnya pertanyaan itu tidak jadi aku tanyakan dan mungkin lain kali, aku akan menanyakan hal itu dengan serius. Pagi ini karena aku sudah berjanji pada Ryan akan mengantarnya sekolah, akhirnya aku bangun lebih pagi dari Max.
“Nona, Anda terlihat sangat cantik,” puji Allya yang tengah mengikat rambutku.
__ADS_1
Aku pun menutup buku novel yang aku baca dan tersenyum padanya dari pantulan kaca. “Benarkah?”tanyaku.
“Iya, Nona. Anda sangat cantik dengan rambut kepang hari ini. Baju Anda juga senada dengan rambut hitam Anda.”
“Terima kasih,” ucapku memegang ikatan rambut yang Allya selesaikan dengan baik dan aku pun berdiri di depan cermin seraya tersenyum.
Entah kenapa hari ini aku merasa hidup. Aku sungguh suka hari cerah ini. Rasanya seperti akulah yang sedang menghadapi kenyataan bahwa anakku tumbuh besar dan akan pergi sekolah bersama ibunya.
“Nona, saya izin ke bawah. Saya harus membantu beberapa pelayan untuk menyiapkan makan pagi. Tina sebentar lagi akan datang untuk menyiapkan baju Tuan.”
Aku pun mengangguk dan membiarkan Allya pergi meninggalkanku yang belum menggunakan lipstik. Olesan terakhir dari apa yang aku pakai untuk hari ini. Mengingat siang nanti aku harus ke kantor Max. Sepertinya aku perlu membawa parfum.
“Sugar!” aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara.
Max tengah menarik tubuhnya untuk bangun dan bersandar pada kepala ranjang. Dia mengucek matanya dan menyipitkan matanya.
“Kau sangat cantik,” kekehnya menggaruh rambutnya sendiri. “Aku seperti bermimpi melihat bidadari,” gombalnya sungguh membuatku ingin memukul kepalanya.
“Tidak lucu Max!” kataku menaruh lipstikku ke dalam tas dan juga kembali sibuk dengan kegiatanku.
“Aku akan sarapan duluan karena Ryan akan berangkat sekolah. Sampai ketemu nanti!” kataku menarik tasku dari atas meja rias.
“Tunggu!” teriak Max terburu-buru turun dari ranjang tidur dan menarikku ke dalam pelukannya. Dia mencium keningku dan aku memukul bokongnya dengan tas.
Aww!
“Kau bau! Mandi sana!” sergahku.
“Ya Tuhan istriku semakin hari, semakin galak!” keluhnya dan aku hanya mencibir kesal seraya keluar dari kamar.
Dia tidak tahu aku sudah dandan lama untuk menikmati pagi ini! Max sungguh menyebalkan!
__ADS_1
Duh Max gak gitu juga kali! Kamyu kan bau jigong hahaha