
ELENA POV
Aku keluar dari kamar mandi dengan malu. Max yang berada di atas ranjang sibuk dengan HP-nya pun menoleh ke arahku. HP yang dia pegang pun melorot begitu saja dari tangannya begitu melihatku yang masih berdiri di depan kamar mandi.
“M-max a-aku malu,” ucapku padanya memakain baju tipis yang dia berikan padaku waktu itu di musim dingin.
Max pun beranjak dari ranjangnya dan bisa kulihat dari wajahnya bahwa pikiran mesumnya sudah memenuhi otaknya, tapi Max masih diam saja menatapku. Matanya tiada henti menatapku dari bawah ke atas membuatku sangat malu. Aku pun memukul lengannya untuk menyadarkannya.
“Max! Jangan tatap aku seperti itu!” sergahku padanya.
Max pun terkekeh. Lalu dia mengangkat tubuhku ala bridal. Dia menjatuhkanku ke atas ranjang dan mengunciku di bawahnya.
“M-max a-aku s-sudah bilang kan untuk mematikan lampunya jika aku memakai ini. A-ku sangat malu!” kataku membuang tatapanku ke samping. Mungkin wajahku sudah bersemu merah karena aku merasa seperti tidak bisa keluar dari jeratannya.
“Waktu itu kau mabuk, ternyata kau masih mengingat apa yang kau katakan, tapi sayang aku tidak pernah menyetujuinya,” ucap Max membuatku kesal.
Namun sedetik kemudian dia merendahkan wajahnya ke arahku. “Inikah hadiah darimu untukku?” tanyanya di telingaku.
Aku pun mengangguk pelan. “Karena ini yang kau inginkan. Aku berikan sesuai yang kau minta,” kataku membuatnya tertawa dan Max mendaratkan wajahnya di leherku.
Aku bisa merasakan embusan napasnya yang menerpa leherku. Rasanya tenang sekali bisa melalui hari ulang tahunnya bersama. Aku merasa senang bisa berada di sisinya saat ini.
“Kau tidak ada kata berhenti untuk mala mini,” ucap Max sungguh perintah yang aku tahu tidak akan bisa aku bantah.
“Baiklah, kau bisa melakukannya semaumu,” kataku dan Max mulai melakukan hal yang memang sangat dia inginkan.
Malam Panjang tiada henti untukku dan suamiku. Kami menyukainya.
***
Napasku mulai keluar dengan beraturan. Aku tertawa mengejek Max yang katakanya tidak aka nada kata berhenti, tapi buktinya tidak sekuat itu.
“Kenapa kau tertawa, heuh?” tanya Max yang juga masih mengatur napasnya. Dia mencubit pipiku dan menciumnya.
__ADS_1
“Apa aku mengejekku? Aku hanya terlalu lelah hari ini karena acara tadi,” bohong Max yang justru membuatku semakin tertawa mengejeknya.
Max pun menggelitik tubuhku membuatku menggeliat. Lalu kabur turun dari ranjang mengambil piyama tidurku menuju kamar mandi. Aku lihat di depan cermin ada banyak tanda darinya. Diam-diam aku tersenyum dan menyentuhnya. Tidak kusangka aku punya seseorang yang aku cintai. Sebelumnya aku terlalu sibuk belajar dan terkadang hanya termenung memperhatikan foto ayah dan ibuku. Lama aku selalu menghabiskan waktu mengingat mereka, tapi kini aku sudah bahagia. Seandainya orang tuaku masih ada. Mereka pasti senang bisa melihat cucu mereka.
“Sugar!! Cepat keluar atau aku hukum!” Max menggedor pintu kamar mandi membuatku tersenyum.
“Iya, iya sebentar. Aku hanya buang air sebentar sebentar dan kembali,” kataku cepat menuntuskan apa yang akan aku lakukan lalu kembali ke atas ranjang bersama Max yang sudah tersenyum menyeringai.
“Apa yang kau lakukan di dalam, heuh? Kenapa begitu lama?” tanyanya dan aku pun masuk ke dalam selimut bersamanya. Menyandarkan kepalaku di dadanya.
“Kau terlalu bawel! Selalu saja protes,” kataku mencubit perutnya membuat Max meringis.
“Ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” ucap Max seraya mengusa bekas cubitanku.
“Apa?”
“Aku tidak tahu kalau Eliz mempunyai panti asuhan di ibu kota. Dia ingin sesekali aku ke sana denganmu, tapi sepertinya jadwalku sangat sibuk. Bisakah kau ke sana dengan ibu? Sudah lama juga ibu tidak pernah keluar semenjak ada di sini. Kau mau kan membawa ibu jalan-jalan?”
“Ya, kau boleh membawa Allya dan Martin bersamamu. Aku juga sudah meminta Martin untuk semakin rutin memeriksa kondisi ibu.”
“Bukankah Dokter Martin sangat sibuk? Kau kenapa begitu tega dengannya! Dia pernah mengeluh padaku tentang sikapmu ini tahu!”
Max hanya tertawa mendengarnya. Lalu dia menarikku untuk tidur di atas lengannya. Tangannya tak hanya diam, dia mulai mengelus pipiku dan menatapku dalam-dalam.
“Martin sudah lama kerja denganku. Apapun perintahku, itu adalah prioritasnya. Toh, rumah sakitnya bisa aku beli dan jika kau tidak tahu, Martin sangat naksir dengan Allya.”
Aku terkejut mendengarnya membuatku langsung menutup bibirku sendiri. “Ya ampun aku tidak tahu! Pantas saja kemarin sangat canggung, tapi aku bisa lihat wajah Allya yang bersemu merah di depan Dokter Martin. Ternyata mereka…” Max mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Itu sudah sangat lama, tapi setiap kali Martin menyatakannya, Allya selalu menolaknya.”
“Kenapa? Aku rasa Allya menyukainya.”
“Hahaha itulah hidup. Mungkin dia merasa seperti Cinderella modern,” ucap Max membuatku mengangguk.
__ADS_1
“Jangan terlalu mengurusi urusan mereka. Kau hanya perlu fokus pada ibu, oke?”
Aku pun mengangguk pelan seraya memeluk Max erat.
“Bagaimana dengan pembicaraanmu dengan Arnold?” tanyaku pada Max mengingat apa yang Max katakan tentang tadi pagi padaku.
“Oh ya, dia bilang masih mempunyai beberapa project yang harus diselesaikan.”
“Ahh project bersama Xavier dan Gandhi. Ada juga project dari sekolah desainnya langsung untuk festival tahun depan. Aku rasa Arnold memang sangat sibuk,” kataku pada Max. Aku tahu Arnold memang bukan orang yang mudah meluangkan waktunya apalagi dia benar-benar baru menyelesaikan sekolahnya. Pasti semua orang mengincarnya untuk kerja sama. Sejak dini Arnold memang selalu bersinar.
“Iyah kau sudah mendengarnya langsung kan dari Arnold?”
Aku mengangguk dan menggigit bibirku sendiri. Apakah akhirnya aku tetap tidak bisa punya bisnis sendiri? Itu cita-citaku, tapi sepertinya Max masih tidak mempercayaiku. Rasanya wajar karena sekolahku saja tidak selesai. Bahkan aku tidak lebih bersinar dari Arnold.
“Bagaimana jika kita fokus memiliki anak lebih dulu?” tanya Max membuatku terkejut.
Aku pun menoleh ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. Max pun menghela napasnya dan menarik keningku untuk dia kecup. Aku rasakan pelukannya yang memberikan arti bahwa dia merasa bersalah mengatakan itu, tapi… apa yang Max katakan memang benar. Kak Irene pernah bercerita tentang Louis. Tugas seorang wanita menikah adalah salah satunya memberikan keturunan. Perasaan ketika tidak mempunyai anak adalah hal yang paling menyakitkan. Semasih aku bisa melakukan yang terbaik, sebaiknya aku memang tidak menunda.
“Baiklah,” kataku pada Max.
“Aku tidak akan memaksamu, jika kau tidak mau, Sugar,” ucap Max sangat lembut mengusap pelan rambutku.
“Aku tidak merasa terpaksa. Kau benar, sebaiknya kita punya anak lebih dulu, tapi apa aku boleh kembali sekolah?”
Max pun menangkup wajahku lalu mencium bibirku sekilas. Dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
“Itu ide bagus. Aku akan mencarikan sekolah desain yang baru dan bagus untukmu,” ucapnya membuatku tersenyum.
Aku percaya padanya. Aku percaya dia mencintaiku. Aku percaya dia selalu melakukan yang terbaik untukku. Max pernah mengatakan bahwa bukan hanya laki-laki yang berhak mempunyai cita-cita, tapi aku… sebagai seorang wanita pun berhak mempunyai cita-cita. Tak peduli berapa umurku. Aku beruntung mempunyai Max yang peduli tentangku.
“Aku tidak berbohong tentang bisnis itu. Aku memang ingin mempunyai bisnis di bidang fashion, tapi kau masih perlu banyak berlatih, Sugar,” ucap Max dipelukannya.
“Ya, aku tahu itu dan terima kasih karena kau selalu mendukungku!”
__ADS_1