Naughty Sugar

Naughty Sugar
EXTRA PART DUA


__ADS_3

MAX POV


“Bagaimana dengan Joana, apa ada masalah lain?” tanya Elena sibuk dengan teleponnya. Sementara aku sibuk dengan kemudiku.


“Oke itu bagus, kau harus pertahankan ya!” katanya lagi tentu membicarakan bisnisnya yang semakin berkembang.


“Papa, Pano bandel Papa!” kudengar suara Fani yang tengah memakan kue kesukaannya di jok belakang.


Saat ini kami sedang di dalam perjalanan menuju rumah Irene. Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan anniversary Irene dan Damar yang entah ke berapa. Tentu, Elena nampak sangat senang ingin menghadirinya. Bagi Elena, Irene adalah segalanya. Aku sangat mengerti itu karena sepanjang hidupnya, Irene adalah satu-satunya saudara kandungnya yang tersisa. Seperti halnya dia sangat mencintaiku, cintanya pada Irene pun tak akan pudar.


Elena pernah bilang padaku bahwa selain menjadi saudara kandung, Irene adalah orang yang sangat dia kagumi. Wanita itu kuat, dan juga penyayang tentunya. Meski aku tahu Elena pun memiliki karakter yang sama, tapi ke duanya tentu beda. Mereka melengkapi satu sama lain sejak dini.


“Fano! Papa bilang apa?! Kalau Fano bandel, nanti Papa enggak akan belikan mobil-mobilan,” ucapku sedikit menengok ke arah jok belakang. Lalu melihat ekspresi Fano yang kesal dari kaca spion di atas.


“Wle, lasain kamu!” kata Fani kembali sibuk dengan makanannya. Aku pun hanya bisa menggelengkan kepala.


Fano dan Fani saat ini sudah memasuki umur 5 tahun. Aku sangat senang karena mereka tumbuh dengan baik. Tentunya semua hasil kerja keras semua orang di sekeliling kami. Meski aku dan Elena terkadang sibuk, kami pun selalu punya waktu untuk bercanda dengan mereka. Bahkan hari libur pun selalu kami sempatkan untuk bisa jalan-jalan keluar bersama.


“Kenapa Pa?” tanya Elena melirik ke arahku sejenak, memasukkan HP-nya ke dalam saku.


“Fano usil,” kataku dan Elena memperhatikan anak kami yang ada di jok belakang dengan bangku pengamannya.


“Fano enggak boleh, Sayang,” peringat Elena dengan lembut.


“Habis Pani juga ambil-ambil mainan Ano, Ma!” kata Fano hampir saja menarik rambut adiknya, tapi Elena merubah posisi duduknya dan menarik tangan anak laki-laki kami.


“No, no! Sudah ayo berbaikan! Fani juga enggak boleh usil dong, Sayang!”


“Pano duluan Ma! Pano usilin teman-teman Pani pas lagi main,” kata Fani membela dirinya membuatku terkekeh.


Well, aku kira Fano akan menjadi pria yang dingin, tapi ternyata kebalikannya atau mungkin ini wajar untuk anak-anak. Entahlah, itu masih menjadi misteri bagaimana Fano besar nanti.


“Mereka yang ajak Pano, main. Mereka enggak mau main sama Pani, mereka lebih suka sama Pano,” kata Fano lagi-lagi membuatku tertawa.

__ADS_1


“Anakmu playboy, Sugar,” bisikku di telinga Elena dan tentu aku dapat tonjokkan maut darinya.


“Semua karena kau! Kau juga playboy!” sergahnya membuatku langsung mencemberutkan bibir ke arah Elena.


“Sudah, sudah ayo berbaikan dulu,” kata Elena lagi menggapai ke dua tangan anak kami dengan susah payah dari jok depan, lalu aku lihat mereka saling bersalaman tapi tak benar-benar mau memaafkan.


“Habis ini enggak boleh marahan lagi! Kalian kan bersaudara, saudara itu tidak boleh marahan,” ucap Elena dan mereka berdua mengangguk dengan lucu.


Seandainya saja Elena bisa hamil lagi, aku pasti akan senang sekali, meski harus semalaman terjaga untuk bergantian mengurus baby.


“Kenapa kau tersenyum? Kau, jangan bilang?!” Elena langsung menyerangku yang tengah sibuk dengan kemudiku. Dia merogoh saku celanaku dan mengeluarkan HP milikku.


“El, kau mulai lagi!” kataku. Dia memeriksa HP-ku seperti beberapa minggu yang lalu. Dia bilang, tidak biasanya aku tersenyum-senyum sendiri. Dia bahkan curiga aku selingkuh yang dengan logika pun itu tidak masuk akal.


“Kak Irene bilang, laki-laki itu punya masa puber kedua. Bisa saja kau selingkuh di belakangku,” katanya dengan tatapan yang tajam. “Kau tahu? Jika kau melakukan itu, aku akan membawa Fano dan Fani keluar dari rumah dan tidak bisa bertemu lagi denganmu!”


Elena, ck, ck, ck. Aku rasa dia sudah terlalu banyak menonton drama. Dia kira aku tertarik dengan wanita lain selain dirinya. Setelah 7 tahun lamanya aku menunggunya dan bisa menikahinya dengan segala cobaan yang ada, mana mungkin aku melewatkan hidup ini tanpanya.


“Kau benar-benar El! Keterlaluan!” kataku kesal.


“El! Itu HP-ku satu-satunya!”


“Tidak mungkin! Pasti ada yang lain!” katanya membuatku hanya mampu menggelengkan kepalaku.


“Kalaupun ada, isinya pun akan sama. Hanya fotomu dan anak-anak. Kau ini kenapa sih?!”


Elena akhirnya menghela napasnya panjang. Lalu dia menaruh HP-ku di dashboard. “Kau selalu terlihat mencurigakan beberapa malam ini. Kau selalu pulang malam dan terkadang tersenyum sendiri. Kau kira aku tidak tahu?!”


Aku lihat di depan sana sudah ada beberapa mobil terpakir. Akhirnya kami masuk ke dalam kawasan mansion keluarga Gilbert.


“Aku pulang malam karena memang banyak sekali pekerjaan, Sugar. Aku tertawa karena melihat tidurmu yang nyenyak. Bahkan terkadang bajumu sudah tersingkap entah kemana. Rasanya seperti mimpi bisa bersamamu dan memiliki anak kembar.”


“Bohong!” kata Elena dengan mencemberutkan bibirnya.

__ADS_1


“Kalau aku bohong, kau bisa menghukumku. Aku bersumpah!”


Elena lagi-lagi terdiam. Dia menatapku dari tempat duduknya dan begitu kami mendapatkan tempat parkir yang tepat Elena mencium pipiku.


“Kau bohong! Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan,” kata Elena lagi bertepatan dengan aku mematikan mesin mobil.


Aku pun melepas seat belt dan memegang ke dua bahu Elena. “Sebenarnya, aku kembali mengingat masa-masa kau hamil lagi, Sugar. Setiap kali aku melihat perutmu, aku ingin melihatnya membesar lagi, tapi aku tahu itu mustahil.”


“Kenapa mustahil?”


Aku mengangkat ke dua bahuku, aku juga tidak tahu kenapa, hanya menurutku rasanya tidak mungkin kalau kami punya anak lagi. Mendapatkan Fano dan Fani saja sudah cukup sulit, apalagi dengan anak ke-3.


“Aku hamil anak kita,” ucap Elena tiba-tiba membuatku terkejut.


“Ha-hamil?”


Elena mengangguk pelan. “Aku hamil, dan setiap malam aku sengaja menyingkap bajuku. Supaya kau peka!" katanya lagi sungguh membuatku tidak bisa mengatakan apapun lagi.


“Kenapa kau tidak mengatakannya?”


Wanita itu hanya tersenyum lalu menarik tanganku ke perutnya. “Karena aku kira kau selingkuh di belakangku. Aku akan membawa kabur anak-anak kita,” kata Elena dan aku mengerti dari mana kekhawatiran itu datang.


Elena yang tenang dan selalu percaya padaku. Tiba-tiba menuduhku selingkuh itu cukup membuatku terkejut. Ternyata prasangka buruk itu karena memang datang dari hormonnya yang sedang tidak stabil.


“Jangan berpikir hal itu lagi! Kau bisa dapat hukuman dariku!”


“Papa lagi ngapain sih! Ayo dong turun! Ano mau ketemu Louis!” rengek Fano memecahkan pembicaraan kami.


“Kau yang aku hukum!” balas Elena berbisik lalu turun dari mobil membuatku gemas padanya.


Lihat saja nanti malam siapa yang bisa menghukum duluan! Welcome my baby~


Akhirnya!!! Selesai juga^^ Enggak ada hutang ya wkwkwkw. Pokokya jangan lupa like dan komen. Baca karyaku juga yang lain karena semua karyaku sudah selesai semua~ Aku mau hiatus dulu enggak masukin karya dulu mungkin. So bye!!! Thank u for ur like, comment nd support^^

__ADS_1



__ADS_2