
ELENA POV
Aku minta pada Tina untuk dibelikan kucing anggora yang cantik supaya tidak bosan. Tentunya Tina memilih Almero; nama kucing kami karena Ryan ribut ingin kucing jantan. Tina merasa bersalah karena tidak bisa belikan kucing betina untukku tapi justru menurutku Martin sangat cantik. Tidak peduli jenis kelaminnya, tapi Martin sangat cantik.
“Nona, ini baju yang Tuan pilihkan untuk nanti malam,” suara Vivi yang muncul dengan gaun berwarna gading senada dengan apa yang Max pakai hari ini.
“Wahh,” aku sampai tidak bisa menyembunyikan rasa kagumku pada gaun ini. Sungguh! Sangat indah dan aku jelas ingin segera memakainya.
Aku pun mengambi alih gaun itu dari Vivi lalu berlari menuju kamar hingga Vivi mengikutiku dari belakang dan berteriak,” Nona! Anda bisa jatuh! Jangan lari, Nona!” seperti anak kecil Vivi terus meneriakiku.
Begitu sampai kamar, aku segera menuju ruang ganti dan memakainya dengan sangat senang. Berputar kanan-kiri seperti layaknya cinderella modern. Aku sangat cantik, pujiku pada diriku sendiri dan tidak sabar apa yang akan Max katakana nanti.
“Jon bilang Tuan akan menjemput Nona jam 3 sore nanti. Jadi Anda akan bersiap-siap 1 jam sebelum berangkat. Saya sudah memanggil Janet dan memintanya untuk datang lebih awal, sebentar lagi dia akan sampai,” jelas Vivi dan aku hanya mengangguk masih mengagumi gaun yang kugunakan saat ini.
Aku pastikan Max tidak akan bisa berhenti memandangiku malam ini. Sungguh aku tidak sabar untuk segera ke pesta.
“Nona HP Anda berbunyi,” ucap Vivi seraya memberikan HP-ku dan aku lihat nama Kak Irene di layar HP-ku. Baru saja aku akan mengangkatnya tiba-tiba panggilan itu berakhir. Lalu tak lama disusul dengan sebuah pesan singkat dari Kak Irene.
From: Kak Irene
https://emmdntimer.com/hypeabis/entertainment/Maxwinston/Nattalieanderson/international. Kau lihat ini! Dia memang berengsek! Demi Tuhan, aku tidak rela kau bersamanya, El! Jangan sampai kau jatuh cinta padanya. Setelah semuanya selesai, kau harus pergi darinya! Dia hanya pura-pura mencintaimu!
__ADS_1
Aku pun langsung membuka link yang Kak Irene kirimkan padaku. Aku lihat Nattalie tengah memeluk lengan suamiku dengan sangat manja. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tersenyum dan yang membuatku sangat marah adalah headline berita yang sungguh mampu memperovokasi siapa saja.
Max Winston memiliki hubungan rahasia dengan artis Nattalie? Lalu aku membaca tentang pertunangan mereka yang gagal sehingga menyeret namaku di dalam sana. Nattalie juga yang katanya sempat diwawancarai mengakui bahwa aku adalah orang ke tiga dalam hubungan mereka. Aku hanya bisa terkekeh membacanya. Well, malam ini akan aku buktikan bahwa dia yang mencuri milikku! Seluruh dunia harus tahu bahwa Max Winston hanya milikku seorang. Lihat saja! Dia bahkan tidak pantas dikatakan seonggok sampah.
“Vivi, aku akan mandi sekarang. Katakan pada Janet untuk menungguku hingga selesai,” ucapku pada Vivi. Wanita itu pun mengangguk seraya membungkukkan tubuhnya, meninggalkanku di kamar.
Begitu aku siap akan mandi, aku kembali mendengar HP-ku berdering. Nama Arnold terpampang di sana.
***
Aku sudah menunggu Max hingga satu jam lebih dari yang dia janjikan dan tiba-tiba Max menghubungiku, meminta maaf karena dia tidak bisa menjemputku. Benar-benar menyebalkan! Tahu begitu aku lebih baik menerima tawaran Arnold untuk berangkat bersamanya. Ah benar juga, tidak adil bukan kalau hanya aku yang cemburu dan tentunya pertunjukkan kali ini pastinya akan lebih menarik daripada sebelumnya.
Aku pun langsung meminta Jon untuk segera berangkat karena Max tidak akan menjemputku. Jon pun memastikannya dengan menghubungi Max membuatku mendengus pelan karena pria ini nampak tidak percaya dengan perkataanku. “Nona akan bertemu dengan Tuan di sana,” ucap Jon setelah mendapatkan jawaban yang dia mau.
Di perjalanan aku mengirimi pesan pada Arnold. Memintanya untuk bertemu di red carpet dan datang bersama dengan alasan aku dan Max mendadak bertengkar hanya karena hal sepele. Mungkin aku sedikit jahat menggunakan Arnold sebagai senjataku membalas perlakuan Natt, tapi ini adalah hal yang terbaik untuk membungkam semua orang. Aku ingin menunjukkan pada mereka bahwa bukan aku yang merebut Max dan tentu Max sangat mencintaiku.
***
Cahaya kamera menyambut kedatanganku. Sebuah tangan terulur membuatku lebih mudah turun dari mobil.
“Akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, El,” bisik Arnold sangat dekat denganku.
__ADS_1
Aku pun hanya bisa mengembangkan senyumku. Lalu memeluk lengannya mesra membuat semua orang heboh. “Kau terlihat sangat cantik dengan gaun koleksi Xavier,” bisiknya lagi di telingaku membuatku sedikit tidak nyaman, tapi aku tidak bisa menghindar darinya saat ini. Karena peran Arnold saat ini sangat penting untukku.
“Lambaikan tanganmu, Arnold!” bisikku seraya tersenyum berjalan di red carpet bersama Arnold.
Tentu diiringi dengan suara riuh para wartawan yang mulai meneriakkan pertanyaan-pertanyaan tidak jelas dari mana asal usulnya hingga ada beberapa yang bertanya aku akan cerai dengan Max. Kurang ajar!
“Nona Elena, apakah benar gosip tentang Anda adalah orang ke tiga di antara hubungan Max dan artis Nattalie?”
Pertanyaan itu membuatku kesal hanya dengan mendengarnya. Aku pun hanya bisa tersenyum dan melambaikan tanganku sebelum akhirnya kami berdua berhenti di tengah-tengah red carpet. Mereka mengambil foto kami berdua dan tiada hentinya bertanya mengenai pernikahanku.
BRUG! Namun tak lama sebuah pukulan mentah mendarat di pipi Arnold. Aku terkejut melihat Max sudah berada di antara kami. Aku lihat Max nampak sangat marah. Tidak kusangka akan secepat ini. Aku kira Max masih bisa mengendalikan emosinya tapi bahkan Max tidak peduli kalau situasi ini bisa saja merusak acara perusahaannya. "Apa yang kau lakukan?!” teriak Max padaku. Tubuhku pun bergetar hebat. Aku kira, dia hanya akan marah dan mengatakan sesuatu ke media, tapi nyatanya…
“Kau juga! Dia istriku! Apa tidak cukup sekali aku mengatakannya padamu?!”
BRUG! Arnold tidak hanya diam saja. Dia membalas pukulan Max sehingga ujung bibir suamiku mengeluarkan darah. Max semakin tersulut emosinya dan aku segera menahannya.
“Max!!” teriakku. Max kembali ingin memukul Arnold, tapi aku tahan. “Max hentikan! Jangan lakukan itu! Aku mencintaimu! Demi Tuhan aku sangat mencintaimu! Kau salah paham!” ucapku memeluknya dari belakang.
Napas Max pun yang tadi terlihat memburu perlahan mulai teratur. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan memelukku erat. Dia menciumi ujung kepalaku, lalu kembali memelukku erat.
“Aku sudah pernah katakan padamu. Aku pencemburu, aku tidak suka melihatmu dengan pria lain!”
__ADS_1
“Maaf, aku hanya-“
Max melepaskan pelukanku lalu dia mengangkat tubuhku ala bridal. “Max,” batinku menatap wajahnya. Dia terlihat sepeti bad boy malam ini, tapi entah kenapa, dia selalu berhasil membuatku semakin jatuh cinta padanya.