
MAX POV
Sebenarnya aku tidak mau mengakuinya. Mengingat aku masih tidak mau melibatkan Elena tentang apa yang terjadi, tapi aku sudah dibatas kesabaranku. Ternyata Arnold benar-benar membuatku harus mengakui perasaanku. Aku hanya khawatir kesalahpahaman ini terus berlanjut membuat hubunganku dan Elena semakin buruk. Lalu Elena mulai semakin membenciku dan pergi bersama Arnold. Membayangkannya saja sudah sangat membuat hatiku hancur.
“K-kau yang mengirimiku bunga di loker sekolahku?”
Aku mengangguk pelan dan Elena terlihat masih sangat terkejut. “Semuanya terjadi begitu saja, Sugar. Aku berusaha mendekati kakakmu karena Ronald ingin mengakuisisi perusahaan keluargamu. Dia menggunakanku sebagai boneka untuk mendekati Irene, menaruh orang-orang kepercayaan dan meminjamkan Irene uang hingga akhirnya bangkrut. Ronald mengarang cerita bahwa ibuku mati karena ulah ayahmu, tapi di hari itu… hari pertama aku bertemu dengan Irene, kau datang dengan wajah ceriamu. Aku menyadari suatul hal yang aneh, hatiku tergerak dan percaya bahwa ayahmu bukan pembunuh hanya dengan melihat kebahagiaan kalian,” jelasku dan Elena masih setia mendengar ceritaku.
“Hingga suatu saat Jon menyekapku, aku mendengar pembicaraan Ronald dengan seseorang. Dia menyesal tidak mengulur waktu lebih lama untuk menolongku. Dia berharap aku mati saja dan aku mulai sadar kalau aku bukan anak kandungnya. Aku… bahkan tidak tahu hingga hari ini siapa ayahku sebenarnya, tapi ibuku masih hidup, El! Dia di Eropa dan kemarin aku ke sana berusaha menjemputnya. Sayang, tak semudah yang aku pikirkan. Bahkan aku sekarang malah melibatkanmu. Padahal aku berharap kau aman di sisiku setelah aku menikahimu.”
El nampak semakin terkejut. Kakinya tiba-tiba seperti tak bisa menopang tubuhnya. Aku pun segera mengangkatnya dan membawanya ke atas pangkuanku. “Kau baik-baik saja, Sugar?”
Dia menggelengkan kepalanya lalu memelukku erat. Aku sangat terkejut dengan apa yang dia lakukan, tapi aku berusaha menenangkannya. “Maafkan aku telah melibatkanmu. Seharusnya aku tidak membuat keluarga Gilbert ikut terlibat. Semua ini karena Ronald!”
Elena melepaskan pelukannya. Dia menggelengkan kepalanya lalu menyentuh wajahku. “Sekarang aku baru mengerti. Maaf karena selama ini aku terlalu egois untuk menangkap sinyal-sinyal perasaanmu.”
Aku menggelengkan kepalaku. “Aku yang salah. Aku tidak mau membuatmu terlibat, El! Aku tidak mau kau melihatku dengan tatapan kasihan. Aku juga tidak mau membuatmu ikut khawatir dan memikirkan apa yang sedang terjadi pada keluargaku. Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku sungguh mencintaimu. Aku menikahimu bukan karena hutang perusahaan keluargamu. Aku sudah membayar semuanya pada Ronald mengenai itu dan menikahimu karena hutang hanyalah sebuah alasan agar kau mau terikat denganku.”
El tertawa pelan. Lalu dia memukul dadaku. “Jadi aku tidak punya hutang padamu?”
“Kau istriku, Sugar! Tidak ada yang namanya hutang di dalam sebuah cinta. Aku hanya ingin cintamu dan kau tetap aman berada di sisiku. Ronald tahu bahwa aku mencintaimu. Aku takut dia melukaimu karena itu aku menikahimu supaya kau mudah dipantau denganku.”
“Terima kasih karena kau sangat peduli padaku, tapi aku khawatir dengan Kak Irene,” ucapnya memanja di atas pangkuanku dan menempelkan kepalanya di pinggir pundakku.”
“Dari jauh ada orang yang memantaunya, Sayang. Aku mengirimkan orang yang selalu menjaga Irene. Aku juga sudah dengar kalau Damar sudah menikahinya.”
Elena mengangguk pelan. “Kau benar. Kak Irene sudah menikah dengan pria itu. Bisakah kita datang ke sana bersama?”
__ADS_1
“Nanti akan ada waktunya. Tidak sekarang.”
Elena pun mengangguk mengerti. “Jadi yang kau katakan kemarin itu benar?”
“Tentang apa?”
“Kau membangun agensi ini karena aku. Akulah wanita hebat di belakangmu.”
“Hahaha kau benar. Setelah aku tahu Ronald bukan ayahku. Aku memutuskan untuk membuat perusahaan sendiri. Aku tahu, aku pasti butuh mengalahkannya suatu saat nanti. Jadi, aku tidak mungkin hanya berdiri dan terus ikut membangun perusahannya itu, tapi…”
El mengangkat kepalanya dan melirik ke arahku. “Tapi?”
“Dulu aku membangun perusahaan pun dibantu dengan Alfred. Alfred itu ayah Natalie, dia sangat berharap banyak padaku tentang anaknya. Ronald juga tidak ingin aku merusak persahabatannya karena aku mencampakkan perasaan Natalie. Karena itu kami bertunangan dan aku harus berpura-pura di depannya. Kau mendengar pembicaraan kami waktu itu kan? Aku terpaksa berbohong padanya karena aku tahu dia pasti akan melukaimu.”
“Jadi dia yang memberikan racun itu? Jika kau tidak lupa aku hampir mati saat itu dan apa kau tahu betapa hancurnya aku mendengar pembicaraanmu dengan wanita itu! Kau-”
“Tapi aku bersyukur karena di sini bukan aku yang dicampakkan dan bukan aku yang dibohongi. Terima kasih telah mencintaiku karena aku juga… aku mencintaimu, Max. Aku baru sadar perasaanku beberapa hari ini tidak bisa aku bohongi. Aku menyukaimu, aku suka pelukanmu, caramu memanjankanku, mengatakan hal manis dan memanggilku sugar di depan semua orang. Aku suka semua hal yang ada padamu,” ucapnya dengan wajah yang dia sembunyikan di leherku.
Dia benar-benar menggemaskan!
“Jadi?”
“Jadi kita jadian,” kata Elena membuatku tertawa keras.
“Baiklah anggap saja begitu. Padahal kita sudah menikah. Kalau begitu mulai hari ini kita pacaran?”
El mengangguk masih dengan posisinya malu-malu di leherku. “Kau priaku,” bisiknya membuat darahku berdesir. Ingin segera membawanya ke atas ranjang. Bukankah itu cara menyenangkan pacaran setelah menikah? Tidak perlu khawatir jika nantinya Elena hamil. Toh, aku sudah siap menyambut kebahagiaan selanjutnya.
__ADS_1
“Kau juga wanitaku, milikku seorang,” bisikku lalu membawanya yang berada di pangkuanku menuju kamar kami.
Setelah melakukan ini aku harus mengatakan pada Martin bahwa apa yang aku minta kemarin harus dibatalkan. Tidak ada lagi pil kontrasepsi.
***
El nampak menikmatinya. Tidak ada paksaan dan juga air mata yang keluar. Bibirnya memangut dan menerima perlakuan ciuman lembutku. Namun dia meringis kesakitan meski aku melakukannya pelan karena ya terpaksa aku harus sedikit melukainya. Wajar bukan? Karena aku adalah pria pertama yang mengambil mahkotanya dan tentu tidak ada penggoda mana pun yang mampu membuatku ingin mencoba nikmatnya surga dunia kecuali Elena; ini pertama kalinya juga untukku.
“Apa aku melukaimu?” tanyaku dan dia menggelengkan kepalanya pelan. Padahal ada sedikit tanda merah yang memiliki arti bahwa miliknya terluka.
“Tidak apa, aku bukan anak kecil Max! Aku sudah cukup umur!” sergahnya karena aku memasang wajah khawatir.
“Katakan saja jika kau tidak ingin melanjutkannya,” kataku dan dia kembali menggelengkan kepalanya di antara temaram lampu yang menemani dinginnya malam.
Elena melingkarkan tangannya pada leherku. Setelah itu, kami menikmati malam yang cukup dingin ini tanpa benang sehelai pun. Entah berapa lama kami habiskan bersama dan aku menarik selimut sebatas dadanya seraya memeluknya erat. Mencium keningnya lama serta mengucapkan terima kasih.
Akhirnya, apa yang aku inginkan selama aku di Eropa kemarin terkabulkan. Elena pun menjatuhkan kepalanya di atas dadaku. Dia memainkan jarinya lembut dan bernyanyi pelan. Kami larut dalam sepi yang menyenangkan. Tanpa kata-kata manis lagi, aku tahu Elena bisa merasakan perasaanku yang besar untuknya. Pun, aku bisa merasakan bahwa dia membalas cintaku dengan segenap hatinya.
“Max aku mulai ngantuk,” ucapnya. “Peluk aku!” Elena dengan pelan-pelan mengubah posisi tidurnya dengan sedikit ringisan karena merasakan sakit di daerah bawah ketika harus mengubah posisi. Lalu tangannya menarik tanganku agar memeluknya erat dari belakang.
“Aku suka pelukanmu, aku suka harum tubuhmu!” racaunya sebelum tidur.
Aku pun mendekatkan tubuhku hingga tubuh kami melekat satu sama lain; menghabisi malam indah bersama dalam mimpi.
“Aku juga suka wangimu, Sugar!”
Aku sudah tidak tahan dengan manisnya pasangan ini :( Jangan lupa like dan komennya kalau mau cerita ini terus berlanjut :( Menurut kalian bagaimana dengan bab ini?
__ADS_1