
ELENA POV
“Tante Nona, bagaimana dengan ini?” tanya Ryan dengan sangat lucu. Dia menujukkan buku pelajaran matematikanya.
Dia memanggilku tante, tapi baik Jon dan juga Vivi memintanya untuk memanggilku nona. Akhirnya Ryan memutuskan untuk memanggilku Tante Nona, rasanya lucu sekali, tapi aku suka.
“Coba tante baca dulu ya, Sayang,” kataku mengambil alih buku yang dia pegang karena kami baru saja menyelesaikan PR dari pelajaran Bahasa inggri dan kini giliran matematika.
“Nah ini seperti yang kemarin tante ajarkan. Bagaimana caranya menghitung tambah-tambahan?”
“Emm Iyan lupa tante,” katanya seraya menyengir kuda.
“Yasudah kalau gitu kita hitung buahnya dulu ya. Iyan tulis dibuku nomor satu,” pintaku dan dia mulai menulisnya dengan sangat pelan.
Sementara cameraman terlihat memperdekat jaraknya untuk lebih mengetahui kegiatan Ryan menulis, tapi sedang asyik dengan syuting kali ini. Aku mendengar Tina datang dan mengatakan sesuatu padaku.
“Nona, Tuan sudah pulang,” kata Tina membuatku terkejut.
Bukankah dia bilang akan pulang 4-5 hari lagi? Ini bahkan baru dua hari setelah kami video call. Semalam pun dia sempat mengirimiku pesan, tapi dia tidak mengatakan apapun tentang kepulangannya.
“Sugar,” suara Max tiba-tiba membuatku menoleh. Priaku berada di ambang pintu ruang perpustakaan di rumah ini.
Entah perasaan apa yang sekarang aku rasakan, tapi aku segera bangun dari dudukku dan berlari menghampirinya. “Max!” lirihku dengan mata berkaca. Tubuhku menubruknya dan Max mengangkat tubuhku hingga kami berputar bersama.
Hanya sekali putaran dan dia menurunkan tubuhku. Dia mencium bibirku membuatku ikut gerakan apa yang dia lakukan. Emosi ini, di mana aku bisa menuangkan rasa rinduku padanya. Aku benar-benar sangat senang Max pulang cepat.
Namun kemudian aku sadar bahwa di sini banyak orang yang memperhatikan kami. Aku pun mendorong tubuh Max dan memukul dadanyanya pelan. “Max, ada Ryan,” keluhku. Sebenarnya aku juga malu karena para pelayan memperhatikan kami.
Suasana di rumah selalu ramai ketika tim kru datang karena hiburan para pelayan adalah salah satunya melihat aku ber-acting.
“Hahaha, neneknya menjaga dengan baik, Sayang,” jawabnya setelah memastikan tatapan Ryan dihalangi oleh Tina. Lalu Max mengusap bibirku dengan ibu jarinya, dia kembali mengecup bibirku dan mengelus pelan pipiku.
“Sepertinya kau sangat merindukanku,” ucapnya lagi, tapi pelan dia mendekatkan wajahnya ke telingaku. “Ini bukan acting kan?” tanyanya sungguh membuat mood-ku rusak.
__ADS_1
Aku pun menginjak kakinya hingga dia mengaduh kesakitan. Aku langsung mendorong tubuhnya dan berjalan meninggalkannya menuju kamar.
“Uh sakit sekali! Sugar! Tunggu!” teriaknya dan aku mendengar suara langkah kaki beberapa orang seperti cameraman berlari menyusulku. Lalu salah satu dari mereka berjalan di depanku untuk mengambil adegan ini. Well, aku tidak bisa menolaknya.
“Ish suami baru pulang kok ngambek,” Max menarik tanganku.
“Kau menyebalkan!” kataku mencemberutkan bibirku. Max pun terkekeh dia mencubit pipiku lalu menggenggam tanganku.
“Aku hanya bercanda, Sugar! Oh ya, aku punya sesuatu untukmu,” ucapnya seraya menolehkan kepalanya ke belakang. “Aaron, di mana kotaknya?”
Aku melihat seorang pria yang bernama Aaron itu memberikan sebuah kotak hitam dengan pita kecil cantik di atasnya. Lalu di pinggir kota itu ada warna silver yang mengelilinginya berserta lable toko ternama di Eropa. Aku tahu karena Kak Irene pernah membelikannya juga untukku, tapi waktu itu dia memberikan cincin untukku. Sayang, aku harus mengembalikannya pada Kak Irene. Aku tahu sekarang dia sangat membutuhkan biaya untuk persiapan persalinannya.
Max pun menerimanya dan membuka kotak tersebut di depanku. “Aku membawakan sesuatu untukmu. Kalung yang cantik untuk istriku yang sangat cantik,” gombalnya entah justru kali ini dia yang ber-acting atau tidak, tapi aku tidak bisa bohong kalau aku menyukai kalung yang dia bawa.
“Aku pakaikan ya?” tanyanya dan aku mengangguk tersenyum.
Max pun mengambil kalung itu dari tempatnya. Sedangkan aku membalikkan tubuhku memudahkannya untuk memakaikan kalung yang dia beli.
Setelah itu Max menarik rambutku melewati kalung yang sudah bertengger di leherku dengan sangat cantik. Aku memperhatikannya dan memegangnya pelan. Bentuknya infinite dan ada tanda love kecil diujungnya. Aku suka.
“Benar kan seperti dugaanku. Ini sangat cantik.” Max membalikkan tubuhku menghadapnya dan aku mendaratkan ciumanku di pipinya.
“Terima kasih, aku sangat suka,” kataku terus memegangi kalungku.
“Sama-sama, Sugar.” Dia mengacak rambutku lalu tiba-tiba menarik tanganku. “Oh ya aku bawa oleh-oleh. Ayo semuanya turun ke bawah dulu. Kita makan dulu di bawah,” kata Max terus menggenggam tanganku hingga kami turun ke bawah.
Melihat betapa banyaknya barang bawaan Max. Beberapa kru TV pun ikut menikmati oleh-oleh yang Max bawa. Shooting hari ini sungguh menyenangkan karena semua bisa berkumpul bersama. Max sungguh baik, aku tahu apa yang Vivi katakan tentang Max benar. Max, dia memang sangat baik.
***
Malam tiba, aku sibuk membaca catatan dan juga gambar-gambar desain milik Arnold dengan secangkir teh chamomile. Melihat ini aku jadi sangat sedih, sekolahku tidak mungkin bisa diteruskan. Aku banyak ketinggalan dan mimpiku untuk menjadi desainer entah tetap bisa tercapai atau tidak. Kalaupun bisa aku harus banyak mengejar ketinggalan sekolahku. Sedangkan aku tidak lagi punya keinginan untuk sekolah karena aku malu. Semua pasti membicarakan tentang aku yang lebih memilih menikah daripada meneruskan sekolahku. Padahal semua orang tahu ambisiku.
“Sugar, kau sedang apa?” suara Max masuk ke dalam ruangan membawa dessert untukku dan untuknya. Priaku mulai mengambil posisi duduk di sampingku.
__ADS_1
Ah, priaku. Rasanya sangat menyenangkan mengatakan itu. Bolehkah aku berpikir kalau Max juga menyukai panggilan itu? Dan sedikit merasa lebih percaya diri kalau Max memang mencintaiku. Baiklah, anggap saja seperti itu. Kalau tidak untuk apa dia menciumku tadi siang? Untuk apa dia mengatakan kalau dia cemburu pada Arnold dan lebih parahnya, dia menghancurkan semua barang di kamar setelah pertengkaran kami kemarin.
“Oh tidak ada,” ucapku segera merapikan barang-barangku, tapi Max menahan tanganku.
Aku lihat matanya nampak menatapku marah. Dia menarik barang-barang yang aku pegang lalu memeriksa buku sketsa yang jelas terpampang nama Arnold di sampul paling depan.
“Oh jadi ini, kau menemui Arnold karena ini?!”
“Max… aku-“
“Aku sudah mengatakannya kan kalau aku pencemburu. Aku mencintaimu El! Apa kau tidak mengerti! Kau istriku!” teriaknya membuatku terkejut. Bukan karena kata-katanya tapi karena dia membentakku.
Aku pun melepaskan genggamannya dan menarik barang-barangku kembali.
“Aku tidak mengerti maksudmu Max. Kenapa kau harus membentakku ketika kau menyatakan cintamu! Apa kau berhak melakukan itu meski aku ini istrimu?! Jika kau mencintaiku kau tidak akan melukaiku! Kau juga tidak akan membentakku!” ucapku perlahan dengan lelehan air mata yang turun.
“Kau tidak mengerti perasaanku, Sugar. Aku mencintaimu sejak lama. Untuk sampai titik ini rasanya tidak mudah. Maaf jika aku terlalu marah padamu, tapi aku sungguh tidak suka melihatmu dengan pria lain. Demi Tuhan! Aku tidak bohong tentang perasaanku,” ucapnya kali ini dengan lembut. Dia menarik tanganku yang tidak memegang sketsa lalu menciumnya perlahan.
“Di sini, di hatiku!” dia menarik tanganku ke atas dadanya. “Dan di sini, di otakku!” dia kembali menaruh tanganku di sisi kepalanya. “Di dalam semua ini hanya ada kamu, Sugar! Apa kau ingat, pernah bertanya padaku, apakah aku pernah mencintai kakakmu meski hanya sekali?” tanyanya dan aku megangguk pelan di antara senyapnya ruangan. Hanya ada kami berdua yang terbawa emosi satu sama lain.
“Aku jawab, aku mencintai orang lain saat itu dan apa kau tahu siapa wanita itu?”
Terdiam. Aku hanya mampu terdiam. Dadaku bergemuruh merasakan detak jantungku yang tak keruan.
“Itu kamu, Sugar. Aku mencintaimu, bahkan sejak pertama kali kita bertemu. Aku tahu, aku salah, tapi aku sangat mencintaimu. Aku terus memperhatikan kegiatanmu selama 7 tahun ke belakang hingga akhirnya kita di sini.”
Aku pun tak tahu harus menjawab apa karena pengakuan Max sangat membuatku terkejut. 7 tahun? Dia bilang 7 tahun?! Dia memperhatikanku dan aku tidak tahu kalau selama ini ternyata ada yang mempedulikanku. Anehnya, aku mulai kembali mengingat hari-hari yang pernah kulewati. Aku merasa beberapa kali ada seseorang yang membantuku, terkadang ada orang yang membayar makanan ataupun barang lainnya yang kubeli tanpa kutahu.
Padahal aku punya uang dan bisa membayarnya sendiri, tapi orang yang tidak aku kenal membayarkannya untukku. Bahkan ada orang yang sering mengirimiku bunga di loker sekolahku. Aku tahu itu bukan Arnold karena pria itu lebih sering memberikan padaku secara langsung dan ternyata... aku baru tahu siapa pelaku yang sering mengirimiku bunga setiap hari. Sekarang dia sudah menjadi suamiku.
“Aku pengagum rahasiamu, Sugar.”
Unchhhh wew akhh, dibawa mimpi aja dulu deh punya cowok kaya Max :( Jangan lupa like dan komennya^^
__ADS_1