Naughty Sugar

Naughty Sugar
[10] Tidak Ingin Menikah


__ADS_3

ELENA POV


Aku masih tidak memahami apa yang terjadi dalam hidupku. Aku hanya tahu bahwa dalam hitungan hari, aku akan menikah dengan pria yang menuduh ayahku pembunuh. Aku terjebak dalam sangkar emas; rumah mewah yang bahkan dalam mimpiku, aku tidak pernah mau memasukinya lagi.


“Nona, sudah waktunya makan malam. Tuan belum pulang dan dia berpesan untuk Nona makan lebih dulu.”


Aku membalikkan tubuhku dan Tina memegang lengan kiriku seolah aku ini orang sakit. Aku memang sangat trauma dengan kejadian satu bulan lalu. Rasanya seperti tidak percaya bahwa ada orang yang dengan sengaja ingin membunuhku. Setiap waktu aku terus memikirkan apakah dulu aku terlahir sebagai orang jahat? Apakah di kehidupan kali ini, aku sedang mendapatkan karmanya?


“Nona Elena kau terlihat sangat tidak sehat. Kau terlihat kehilangan banyak berat badan. Tuan sangat mengkhawatirkanmu,” ucap Allya, wanita yang umurnya sepantaran denganku. Selain Tina, Allya yang dipercayakan oleh Max untuk melayaniku.


Aku seperti ratu di rumah ini, tapi ratu yang tidak memiliki nyawa.


“Nona, silakan makan yang banyak. Beberapa hari lagi Anda akan menikah dengan Tuan Max,” ucap Allya menyiapkan banyak lauk di dalam piringku, tapi aku seperti tidak berselera. Aku takut jika makanan ini mengandung racun. Aku ingin pulang.


Sejenak keheningan mengisi ruang waktu kami. Entah aku yang sibuk dengan pikiranku sendiri atau mereka yang tidak mau bersuara dengan sikapku yang aneh. Namun Allya seolah kembali menarik diriku yang sudah tidak bisa berpikir fokus pada keadaan sekitar.


“Nona, apakah Anda baik-baik saja?” tanya Allya memegang tanganku dan tiba-tiba entah kenapa perasaanku ingin menangis karena mengingat kehangatan tangan Allya sama seperti dengan Kak Irene. Aku rindu rumahku. Aku ingin pulang.


“Bi! Non Elena sepertinya sedang tidak sehat, bagaimana ini?” suara Allya panik begitu aku menarik tubuhnya ke dalam pelukan.


Aku sungguh ingin pulang!


“Ada apa ini ribut-ribut?” sekilas aku mendengar suara berat yang sangat aku kenal.


Max, Bi Tina bilang pria itu tidak pulang cepat, tapi kenapa sekarang dia ada di sini? Padahal aku sangat membenci suaranya. Aku benci pelukannya di malam hari. Aku benci melihat wajahnya. Aku benci sentuhannya. Aku benci semua perlakuan lembutnya yang aku sendiri tidak tahu apakah ada maksud tersembunyi dari balik semua ini.

__ADS_1


“Tuan! Anda pulang? Saya kira Anda benar-benar akan pulang larut malam,” aku dengar suara Tina dengan baik dan tak lama tubuhku diangkat ala bridal dengan seseorang.


Aroma Max menguar di hidungku, tidak ada yang berubah dengan wangi ini. Tentunya parfum Max dibuat sesuai dengan pribadinya. Menegaskan bahwa pria ini adalah yang berkuasa. Tidak peduli orang lain tidak menyukainya. Dia akan selalu melakukan apapun yang dia inginkan bagaimanapun caranya.


“Tina, antarkan bubur dan vitamin ke kamar,” ucapnya dan aku merasakan tubuhku yang dia bawa dengan mudahnya.


Perlahan, aku menghentikan tangisanku. Begitu Max menurunkan di atas ranjang. Dia langsung ikut berbaring di sampingku. Menarik selimut sebatas dada kami.


“Kenapa menangis?” tanyanya dengan jarak yang sangat dekat.


Wajah kami berhadap-hadapan dan Max menyingkirkan rambutku ke belakang telinga. Dia mengusap lembut air mataku; semakin menghapus jarak kami.


“Tubuhmu semakin ringan dan kau menangis seperti bayi. Sudah berapa lama kau mengabaikanku, Sugar. Aku sangat khawatir padamu,” ucapnya entah terdengar seperti sebuah curahan hatinya yang paling dalam atau dia hanya berpura-pura peduli padaku.


“Kenapa kau khawatir padaku? Bukankah aku hanya bonekamu? Aku hanya sebagai alat permainan kebohonganmu saja?” tanyaku padanya.


“Apakah kau menyukai seseorang? Pria tampan berkuda atau pangeran dengan pengawalnya?”


Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, tapi sepertinya dia mencoba menebak kenapa aku tidak merespon ciumannya. Mungkin dia mengira aku sudah memiliki seseorang di dalam hatiku. Jika begitu, aku akan membuat Max menganggapnya seperti itu. Siapa tahu hal ini bisa menolongku di kemudian hari.


“Pria tampan berkuda,” jawabku asal dan tentunya aku menangkap sesuatu yang tak pernah aku lihat sebelumnya dari seorang Max.


Matanya berkaca-kaca dan rahangnya mengeras. Wajahnya yang tadi terlihat tenang, kini memerah seolah menunjukkan amarahnya.


“Ternyata tipemu rendahan,” kekehnya. “Tapi aku akan menjadi pria tampan berkudamu,” ucapnya yang aku tahu itu adalah sebuah peringatan bahwa aku tidak bisa bermain api dengannya.

__ADS_1


“Max, aku ingin mengubah perjanjian kita,” kataku entah keberanian dari mana, tapi aku sungguh ingin mengubah perjanjianku dengannya. Aku tidak mau terjebak dalam hidupnya. Aku tidak suka! Aku ingin pulang! Aku muak dengannya! Aku ingin hidup dengan pria yang aku cintai!


“Maksudmu?” tanyanya.


“Aku sudah memikirkan tentang pernikahan kita yang tidak akan mungkin bahagia, tapi aku sadar bahwa hutangku padamu sangat besar. Tapi aku punya satu permintaan!”


Dia mengangkat alisnya sebagai tanda tanya.


“Aku ingin kau buatkan sebuah butik untukku. Aku akan membayar hutangmu secepatnya. Jadi kita tidak perlu menikah karena kamu bisa kembali pada kehidupanmu sendiri dan aku tidak perlu menjadi bonekamu. Aku pasti akan membayar semua hutangku, termasuk biaya membuat butik,” ucapku dengan serius, sementara Max hanya menatapku tanpa mengatakan apa-apa.


Sejenak aku jadi ketakutan. Wajahnya nampak tak bersahabat dan kali ini bukan hanya wajahnya yang memerah. Matanya pun menyiratkan bahwa dia tidak suka diatur. Jelas dia tidak suka dengan permintaanku.


“Kau kira, di sini kau yang punya kendali?” suaranya sangat pelan.


Lalu dia bangun dari baringannya, berdiri di sisi ranjang dengan bertolak pinggang.


“Aku ingin anak laki-laki sebagai penerusku. Setelah mendapatkan apa yang aku mau, kita bercerai!”


Deg! 


“Max! Tidak bisa! Kita tidak bisa bersama! Aku tidak mau menikah denganmu! Mereka akan semakin menyakitiku. Aku takut! Aku tidak mau mati! Aku mau pulang! Aku mohon!”


Max nampak tidak peduli. Dia meninggalkanku dan menutup kamar dengan sangat rapat. Aku berlari menuju pintu dan menggerakkan engsel pintu yang ternyata Max kunci dari luar! Aku mengetuknya sekeras mungkin supaya Max buka, tapi tetap saja nihil. Entah sampai kapan, aku harus tinggal dengan pria brengsek itu. Setiap hari hidupku tidak akan tenang memikirkan  besok, mungkin bukan dengan racun lagi, tapi dengan sesuatu yang lebih menyakitkan.


***

__ADS_1


Poor Elena :( Jangan lupa like dan komennya :( Ada yang bisa tebak cerita ini akan ada berapa part?


__ADS_2