Naughty Sugar

Naughty Sugar
[17] Mimpi yang Nyata


__ADS_3

MAX POV


Sesuai permintaanku, Rain membelikan HP keluaran baru untuk Elena. Aku pun menyimpan nomorku dan aku jadikan panggilan utama di HP-nya. Lalu aku mengirim pesan ke nomorku dan aku simpan juga nomor barunya di HP-ku.


Tok, tok, tok.


“Masuk!” ucapku menaruh HP Elena ke dalam laci mejaku dan Aaron muncul dari balik pintu.


“Apakah saya mengganggu Anda, Pak?” tanyanya membawa sebuah file di tangannya.


Aku menggelengkan kepalaku dan melihat wajah Aaron tak biasanya pucat. Kantung matanya begitu nyata dan juga matanya memerah. Aku berdiri dari bangku kebesaranku dan mengajaknya untuk duduk lebih santai.


“Ada apa?” tanyaku seperti puya firasat buruk dengan ekspresi yang Aaron tunjukkan padaku.


Sementara Aaron menghela napasnya pelan sebelum menyerahkan file yang dia pegang padaku. Aku pun menatapnya sejenak. Meyakinkan bahwa apa yang ada di dalam sana merupakan perkembangan yang bagus mengenai apa yang aku cari selama ini.


“Ini kejutan,” katanya memberikan file di genggamannya padaku.


Aku pun menerimanya perlahan tanpa melepas pandanganku pada Aaron. Seseorang yang selama ini terus menemaniku dan menjadi orang kepercayaanku satu-satunya dalam bidang apapun. Aaron memang sesorang manajer di agensiku, tapi sebenarnya dia lebih dari itu.


“Teddy tidak menyangka kalau ini benar-benar nyata,” ucapnya membuatku semakin penasaran apa yang detektif itu temukan.


Cepat aku membuka file yang aku pegang. Di dalamnya, aku menemukan sebuah foto Eliz bersama…


Tuk!


File yang kupegang luruh semua ke atas lantai. Tanganku bergetar dan mataku memerah seperti keadaan Aaron saat ini. Air mataku perlahan berkaca-kaca tak tahu apa yang sedang terjadi padaku. Tak hanya itu, kepalaku terasa lebih pening. Tubuhku seperti kehilangan tenaga, bahkan hanya untuk bertanya. Apakah aku bermimpi?


“Pak? Anda baik-baik saja?” suara Aaron menggelengar di telingaku.


Aku menggelengkan kepalaku dan menepuk lengan Aaron yang kini memegang lenganku.


“Tolong panggilkan Martin dan hubungi Jon untuk membawa Elena pulang. Mereka sedang di dalam perjalanan, tapi aku tidak bisa bertemu dengannya. Aku butuh sendiri.”


“Baik, Pak!” Aaron segera keluar dari ruanganku melakukan apa yang aku perintahkan padanya.

__ADS_1


Tak lama Rain datang, tak kalah khawatirnya seperti apa yang Aaron lakukan padaku tadi. “Pak, Anda baik-baik saja?! Saya bantu berbaring ke kamar ya! Dokter Martin sedang Aaron hubungi!” katanya dan aku hanya mampu mengangguk begitu Rain perlahan menyangga tubuhku menuju kamar sederhana yang ada di dalam kantorku.


Tuhan! Benarkan ibuku masih hidup? Tapi kenapa Eliz ada bersamanya? Apakah wanita itu selama ini tahu apa yang terjadi? Aku kira, dia tidak sama sekali terlibat, tapi ternyata dia yang menyembunyikan ibuku! Pantas saja akhir-akhir ini dia sering pergi ke luar negeri mendadak. Ternyata ada sesuatu yang dia sembunyikan.


Rain membantuku berbaring dan membenarkan bantal di kepalaku.


“Rain, tolong ambilkan file di meja tadi dan jangan katakan apapun pada El. Aku tidak mau dia tahu keadaanku sekarang,” kataku dan Rain mengangguk mengerti.


“Kalau begitu, casting hari ini biar saya yang urus, Pak. Bapak tidak usah khawatir!” ucap Rain sungguh sekretaris yang sangat kompeten.


Aku pun tersenyum sejenak lalu membelakangi keberadaan Rain; menatap jendela dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam ruangan. Aku butuh sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini. Bertahun-tahun Ronald membohongiku tentang kematian ibu. Aku tidak menyangka bahwa ibuku masih hidup meski berada di atas kursi roda dengan tatapan mata yang kosong.


“Bu! Apa yang terjadi?!”


Aku hanya mampu berteriak di dalam hatiku dengan kepalan tangan yang semakin keras. Aku benci Ronald! Lihat saja! Aku akan menguaknya sedikit demi sedikit! Aku akan membuatnya membusuk di penjara!


***


Aku terbangun dari tidurku, merasakan keadaanku yang tidak begitu baik dan Martin bilang anemiaku kambuh, tapi beruntung tidak parah. Sebelumnya dia memarahiku dengan begitu bawel membuatku ingin memukul kepalanya dengan keras, tapi aku tahu itu adalah bentuk perhatiannya padaku.


“Mau kemana?” suara seseorang yang begitu aku kenal membuatku perlahan membalikkan tubuh ke belakang.


El? Kenapa dia di sini? Aku sampai tidak sadar dia memelukku dari belakang.


“Sugar? Bukankah aku sudah bilang untuk kembali ke rumah?”


“Kau mengatakan itu ketika aku sudah sampai di lobi. Kau kira, aku ini robot yang hanya bisa menuruti kemauan pemiliknya?” keluhnya dengan bibir yang dia manyunkan.


Sementara aku terkekeh dan mengacak rambutnya; membiarkannya semakin kesal padaku.


“Siang tadi aku tetap ikut melihat casting di teater bersama Rain. Setelah selesai, aku langsung ke sini untuk melihatmu. Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya dengan menggigit bibirnya sendiri.


Dari wajahnya aku tahu dia mengkhawatirkanku dan aku tidak bisa berkata-kata karena tatapan matanya seolah mengatakan dia benar-benar istri yang mencintai suaminya. Aku pun mendaratkan ciumanku ke keningnya dan menariknya ke dalam pelukanku.


“Apa aku boleh melewati batas?” tanyaku padanya, tak menjawab pertanyaan yang dia ajukan.

__ADS_1


“Apa aku boleh menganggap kekhawatiranmu itu tanda kau peduli padaku?”


Spontan Elena mendorong dadaku. Dia bangun dari baringannya dan bertolak pinggang padaku.


“Apakah pertanyaan itu membuatmu berpikir aku menyukaimu?” tanyanya tak tahu kalau hatiku hari ini sudah terluka dan kini dia membuat luka baru untukku.


“Maaf Max, mungkin aku yang keterlaluan. Tidak seharusnya aku bertanya keadaanmu. Kau bisa saja salah paham dengan perasaanku padamu. Aku hanya bertanya tentang keadaanmu, bukan berarti aku peduli padamu dan aku bukan wanita bodoh seperti apa yang kau pikirkan! Aku tidak akan terjerat dengan kebohonganmu lagi Max! Cukup kakakku yang menjadi korban perasaan busukmu!” ucapnya padaku yang aku tahu dia pasti semakin membenciku.


Setelah ini, mungkin hubungan kami akan sedikit canggung dan aku sadar bahwa aku pantas mendapatkan umpatannya. Aku tahu, apa yang dia lalui saat ini sulit. Sesulit, aku meyakinkan perasaanku padanya. Seandainya El tahu apa yang juga aku lalui selama ini. Mungkin dia hanya akan menatapku dengan tatapannya yang sedih. Karena itu, aku tidak mau memberitahunya hingga nanti semuanya benar-benar selesai. Aku tidak ingin El semakin terlibat.


Tok, tok, tok.


“Pak! Ibu izin pulang dan hari ini sudah keluar jadwal syuting after married. Saya sudah memberikan naskahnya pada Bu Elena untuk dibaca,” kata Rain dan aku mengangguk pelan.


“Dia pasti memahaminya. Itu hanya naskah kasar yang menjelaskan beberapa setting tempat yang akan kita gunakan nanti. Selebihnya, sutradara ingin kita melakukan semuanya dengan natural.”


Rain mengangguk seraya membawakan sesuatu di tangannya. “Bu Elena terlihat tidak baik-baik saja ketika keluar tadi. Apakah hubungan Bapak…” Rain menggantungkan kalimatnya membuatku mengernyitkan alis ke arahnya.


“Apa?” tanyaku langsung mengambil apa yang Rain bawa. Sebuah bubur dari restoran favoritku. Tak membuang waktu, aku langsung melahapnya karena aku pun sudah sangat lapar.


“Oh itu… maaf jika saya mencampuri urusan Bapak, tapi Bapak tahu kan project ini mengeluarkan biaya yang tidak biasa. Bagaimana jika nanti ada gosip mengenai hubungan Bapak dan Bu Elena yang kurang baik? Maksud saya, jika project ini berjala sukses. Siapa pun pasti berusaha menjatuhkan Bapak. Salah satunya mengungkapkan pernikahan Bapak dan Bu Elena yang terjadi karena hutang.”


Aku menatap Rain tak percaya. Perlahan aku mengembuskan napasku perlahan dari bibir. “Aku menikahinya memang karena hutang yang harus dia bayar, tapi tujuan utamaku menikahinya karena aku mencintainya.”


Rain perlahan tersenyum, tapi tak lama berubah jadi tawa. “Pertama kalinya saya mendengar pengakuan itu, tapi saya senang ketika Bapak memutuskan hal yang tepat untuk menikahi Bu Elena. Setidaknya bukan Natt yang Bapak nikahi di acara kemarin. Itu sudah membuat saya lega karena tidak perlu bertemu dengannya setiap hari sebagai orang yang saya hormati; istri dari bos saya sendiri. Kalau begitu, saya permisi Pak. Mungkin ini hanya kekhawatiran saya saja.”


Aku mengangguk. “Jika pekerjaanmu sudah selesai, kau bisa pulang. Hari ini saya akan tidur di sini. Rasanya cukup canggung untuk pulang menemui El dan satu lagi…saya tidak mau El tahu kalau acara ini memang saya yang mensponsori. Saya mengatakan padanya kalau TV SLS yang memang menawarkan kerja sama ini pada agensi kita.


Sekali lagi Rain mengangguk lalu meninggalkanku yang kembali menatap file tentang perkembangan ibuku. Aku harus makan lebih dulu dan kembali bertanya pada Aaron apa yang terjadi.


***



Geys! Jangan lupa baca karyaku yang lain loh! Ada 4 karya yang udah selesai jadi jangan takut digantungin heehehe.  Nyesel deh kalau enggak baca wkwkw. Jangan lupa like, komen, share dan juga follow aku ya!

__ADS_1


Btw, kalau kalian bingung caranya gimana sih caranya bisa baca karyaku yang lain? Kalian bisa search aja dengan judul di atas atau kalian bisa klik foto profilku nanti pilih karya dan akan muncul karya2ku^^


__ADS_2