
MAX POV
Aku melihat keadaan Natt yang tidak sadarkan diri. Alfred bilang, dia menemukan Natt di kamar mandi dengan melukai tangannya. Beruntung dia tidak melukainya terlalu dalam dan Dokter meminta Natt untuk istirahat selama dua minggu hingga keadaannya pulih.
“Jadi apa yang terjadi? Ada apa dengan kalian? Kau tahu, dia tidak mungkin melakukan ini hanya karena pekerjaannya. Aku sangat yakin ini semua bermula darimu! Ah bukan! Dari wanita brengsek itu!”
Aku pun menatap mata Alfred dengan sangat marah, ingin sekali menamparnya, tapi aku harus menahannya.
“Biarkan semua ini saya dan Natt selesaikan. Kami bukan anak kecil lagi dan orang tua tidak selalu tahu apa yang terjadi atas apa yang anaknya lalui. Natt, dia pasti punya alasan melakukan itu.”
“Iyah kau benar! Natt melakukan itu karena ada alasannya dan alasan itu adalah kau!”
“Tuan Alfred, Anda harus menangkan diri Anda,” suara Erick mencoba menenangkan Tuannya. Pria itu menahan tubuh Alfred agar tidak terlalu mendekat padaku dan kini pria tua itu menghela napasnya kasar.
“Aku tidak menyangka semua ini terjadi. Sudahlah! Malam ini kau harus bertanggung jawab menjaganya! Aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tolong jaga Natt.”
Alfred meninggalkanku tanpa salam menyenangkan yang biasa dia lakukan. Sementara aku hanya mampu menghela napas dan memperhatikan Natt dari luar ruangan.
“Kak?! Bagaimana keadaan Natt?” suara Darrel dengan napas tak beraturan serta rasa khawatirnya yang begitu kentara membuatku lega.
Aku pun menepuk bahunya dan membawanya untuk duduk di bangku tunggu. Darrel terlihat tengah mengatur napasnya serta menatapku dengan harap. “Tenang, dia baik-baik saja. Dokter bilang, beruntung dia tidak melukainya terllau dalam. Dokter memintanya untuk istirahat dua minggu atau mungkin lebih lama,” jelasku dan Darrel segera menyandarkan punggungnya.
“Aku benar-benar khawatir! Syukurlah! Terima kasih sudah menghubungiku,” ucap Darrel dan aku menganggukkan kepalaku.
Aku tahu Darrel menyukai Natt sejak lama dan Darrel tahu bahwa pertunangan kami hanya Natt yang menginginkannya. Karena itu, aku menghubungi Darrel. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa menjaga Natt dengan baik. Natt berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan menurutku Darrel adalah orang yang tepat. Melihat Darrel yang seperti ini, aku seperti sedang berkaca pada diriku sendiri. Wajah Darrel terlihat sangat khawatir dan sedih. Sama seperti ketika aku hampir kehilangan Elena beberapa minggu yang lalu.
“Apakah aku boleh masuk?” tanya Darrel dan aku mengangguk.
Darrel membuka pintu ruangan dan aku mengikutinya dari belakang. Wajah Natt terlihat cukup pucat, tapi tidak sama sekali mengubah statusnya sebagai artis yang terkenal. Besok mungkin akan ada berita yang keluar di media. Karena itu aku meminta Rain untuk mengurusnya. Seperti biasa membungkam pers cukup sulit, tapi beruntung beberapa dari mereka sudah sangat kami kenal dan bisa diajak kerja sama.
__ADS_1
Tring! Tring! Hp-ku berdering dan aku mengeluarkannya dari saku celanaku. Melihat nama Rain yang tampil di depan layar.
“Halo? Bagaimana Rain?”
“Tanpa harus mengeluarkan uang sepertinya mereka belum mendengar berita mengenai Natt, Pak.”
Aku menggaruk kepalaku sendiri. Aneh. Biasanya mereka tidak pernah melewatkan Natt sedikitpun.
“Tapi Pak, sepertinya Bapak harus segera ke sini setelah Darrel sampai.”
“Oh ya… Darrel sudah ada bersamaku. Tapi kenapa? Bukankah aku sudah memintamu untuk membatalkan acara nanti malam? El, bagaimana kabarnya? Maaf, aku tadi meninggalkannya begitu saja.”
“Itulah masalahnya, Pak. Sepertinya Bu Elena cukup marah pada Bapak.”
Aku pun menghela napasku dari mulut. Wajar jika El marah. Hubungan kami baru saja membaik, tapi karena Natt aku malah meningalkannya di rumah setelah sesi pemotretan. Dia pasti cukup marah akan hal ini.
“Lalu?”
“A-apa? Live? Kenapa bisa mendadak? Mana bisa hanya disiapkan dalam waktu sekejap.”
“Tapi kenyataannya pihak TV yang kita ajak kerja sama memang sudah menyiapkannya. Para wartawan berdatangan karena pemotretan kalian hari ini cukup menarik semua perhatian. Bapak bisa searching, kalian menjadi pencarian nomor satu hari ini,” ucap Rain dan aku segera membuka web dan menemukan beberapa keyword yang bisa kupilih mengenai isu kami berdua.
Salah satunya berita mengenai program after married, hal manis yang CEO lakukan untuk istrinya, foto after wedding dan pencarian lainnya yang tidak aku tahu kenapa bisa muncul mendadak seperti bom.
“Ini memang cukup mendadak, Pak, tapi saya rasa ini lebih baik daripada mereka harus memberitakan tentang percobaan bunuh diri artis Natalie hari ini.”
Aku mengangguk perlahan setuju. Memang lebih baik, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana Elena harus menghadapi semua tamu undangan dan juga wartaan sekaligus.
“Pak, bagaimana? Anda harus segera kembali!”
__ADS_1
“Baiklah, aku akan segera kembali. Pastikan El baik-baik saja.”
“Oh kalau itu, Bapak tidak usah khawatir. Bu Elena memang baik-baik saja. Sekarang dia sedang buka sesi pertanyaan dengan wartawan mengenai program after married dan acara ulang tahunnya.
Entah aku harus merasa lega, bangga atau mungkin kecewa pada Elena. Pasalnya, beberapa jam yang lalu aku baru saja meninggalkannya untuk datang memeriksa keadaan Natt. Normalnya, wanita itu seharusnya marah padaku, tapi kenapa dia biasa saja? Apakah beberapa hari ini dia hanya berpura-pura sedang membuka hatinya padaku?
“Baiklah, aku mengerti, tapi aku ingin dia tetap aman. Minta Jon untuk tetap mengawasinya hingga aku sampai!”
“Baik Pak! Hati-hati di jalan,” ucap Rain dan aku segera matikan sambungan teleponku.
“Ada apa?” tanya Darrel segera tanpa basa-basi.
“Aku harus kembali. Aku titip Natt padamu. Aku percaya, kau pasti menjaganya,” ucapku menepuk bahunya dan Darrel menganggukkan kepalanya.
Aku hampir saja meninggalkannya, tapi sebuah tangan menahanku membuat aku maupun Darrel terkejut.
“Please! No! Jangan tinggalin aku Max!” ucap Natt sungguh di luar tebakanku dia akan begini. Apakah dia sedang main dokter-dokteran?
“Natt! Jangan paksakan dirimu untuk bangun! Dokter bilang kau harus istirahat!” Darrel bodohnya masih tidak tahu kalau Natt berpura-pura.
Wanita itu pun mendorong Darrel hingga tubuhnya menabrak nakas di sampingnya dan tiang infus Natt yang Darrel jadikan pegangan tertarik; melepaskan selang yang sama sekali tidak menancapkan suntikan infus pada kulitnya.
“Natt?” Darrel nampak terkejut sedangkan aku tertawa pelan.
Beruntung wartawan memang tidak mengambil berita mengenai ini. Akan lebih hancur lagi kalau mereka tahu artis Nattalie bepura-pura bunuh diri untuk mengambil perhatian CEO agensi yang menaunginya karena tidak ada satu pun yang mengetahui hubungan kami sebagai tunangan. Kecuali keluargaku dan juga orang-orang kepercayaanku.
“Baiklah, kalau begini aku semakin tahu bahwa kau benar-benar menjijikkan!” ucapku menarik tanganku dan segera keluar dari ruangan.
Natt mencoba meneriakiku, tapi aku yakin sekali Darrel menahannya. Kerja yang bagus! Kalau begitu aku tidak perlu membentaknya di rumah sakit ini. Sungguh memalukan! Ternyata semua ini hanya skenarionya? Dia memang pantas menjadi artis go international! Antara palsu dan sungguhan sudah tidak bisa dibedakan.
__ADS_1
Kasihan Natt! Bukan jodoh mah mau dipaksa kaya gimana pun juga emang gak bisa jodoh :(