
ELENA POV
“Hahaha ya begitulah. Max memang sangat manis. Dia selalu mengabulkan semua permintaanku. Selain itu, dia juga cerdas, tampan, sangat karismatik dan tidak lupa kedipan matanya sungguh tidak bisa dihindari jika sedang menggodaku,” ucapku membuat semua wartawan semakin nampak tertarik membahas mengenai kehidupan kami.
Setelah ini aku yakin program after married kami akan masuk rating tertinggi di sejarah per TV-an abad ini. Tak hanya itu, tentu saja aku akan mendapatkan bagianku lebih besar lagi. Mungkin satu episodenya bahkan bisa diberi harga seratus juta. Sama seperti pemain utama drama korea The World of The Married yang Allya-pelayanku tonton.
“Lalu bagaimana dengan rencana anak? Kemarin saat di acara pernikahan, kalian bilang akan segera memilikinya dalam waktu dekat. Bukankah memang itu hadiah pernikahan kalian?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan itu. Anak? Aku bahkan tidak ingin memikirkannya dalam waktu dekat ini. Setiap aku mengingatnya entah kenapa perasaanku sedih. Aku? Aku akan harus mengandung seorang anak dalam waktu dekat? Anak yang kami tukar sebagai perjanjian. Itulah letak kesedihannya. Aku seperti ibu yang jahat menukar anaknya dengan kebahagiaan lain, tapi… ah sudahlah aku sudah memberikan acting yang bagus beberapa jam yang lalu. Aku hanya perlu bepura-pura. Toh, hidupku ini memang hanya pura-pura.
“Oh anak hahaha. Kami sudah merencanakannya dan masih dalam tahap konsultasi dengan dokter karena kami ingin punya anak kembar.”
“Wah! Menyenangkan sekali,” suara mereka semakin antusias.
Lalu tak lama suara para wartawan yang semakin ribut pun mengubah suasana. Aku lihat beberapa orang berbaju hitam memberikan jalan untk seseorang yang aku tahu siapa. Si brengsek itu bisa-bisanya datang setelah aku menjelaskan pada wartawan bahwa dia sedang keluar kota karena ada urusan yang mendadak.
“Max Winston datang!” suara seseorang dan terus bergantian suara riuh pertanyaan-pertanyaan random yang keluar dari bibir mereka.
“Maaf,” bisik Max begitu menghampiriku dan mendaratkan ciumannya di keningku.
Cahaya dari kamera para wartawan pun membuatku sedikit silau. Mereka asyik mengambil foto Max yang mencium keningku lama. Lalu berpindah menarik tanganku; menciumnya dengan bersimpuh di depanku.
“Seperti biasanya, kamu selalu terlihat sangat cantik, Sugar,” ucapnya sama sekali tidak membuat hatiku senang karena apa yang dia lakukan beberapa jam tadi sudah mengubah kembali pandanganku mengenainya.
Dia hanya pria yang tidak konsisten atas kata-katanya. Dia bilang, dia tidak menyukai Natt, tapi buktinya apa? Dia pergi berlari meninggalkanku tanpa mengatakan apapun untuk melihat gadis itu.
Max kembali bangun dari simpuhannya dan membalikkan tubuhnya ke arah para wartawan. Dia melambaikan tangannya dan membungkukkan tubuhnya. “Maaf saya terlambat, karena ada beberapa hal yang perlu saya urus,” ucpanya beruntung tak jauh berbeda dengan apa yang sudah aku katakana sebelumnya pada para wartawan.
Max pun mengambil posisi duduknya di sampingku. Tangannya dia taruh di belakang punggungku dan kembali mencium kepalaku dari samping. Aku sedikit mencubitnya hingga dia meresponnya dengan sebuah bisikan di telingaku.
__ADS_1
“Kau boleh marah setelah semuanya selesai. Kita harus menyelesaikan ini bukan?” katanya dan aku hanya bisa menghela napasku kesal.
Baru saja aku menikmati wawancara ini, tapi akhirnya mood-ku berubah karena Max datang. Max menarik tanganku dan menggenggamnya erat. Dia menepuknya perlahan dan mengelusnya dengan lembut.
“Rain bilang, kau terlihat baik-baik saja. Aku sempat berpikir kau tidak punya hati karena sama sekali tidak mempedulikan perasaanku, tapi setelah melihatmu di sini, sepertinya aku tahu isi hatimu. Kau marah padaku karena aku meninggalkanmu tanpa mengatakan apapun. Itu cukup membuatku lega.”
Apa dia bilang? Tidak peduli perasaannya? Bukankah aku yang justru harus mengatakan itu padanya? Aku pun menghela napas perlahan, berusaha tersenyum karena mereka semua memperhatikan kami.
“Tidak! Sama sekali tidak! Untuk apa aku marah!” ucapku dengan gigi yang datar dan kubuat tersenyum supaya para wartawan tidak mendengar pembicaraan kami.
“Yap, kau marah, Sugar. Kau tidak bisa bohong padaku. Aku bisa merasakannya hanya dengan menggenggam tanganmu, tapi setidaknya aku tidak akan membiarkanmu sendiri malam ini. Yang lalu biarkan berlalu. Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi,” ucapnya membuatku semakin merasa ada yang aneh dengan perasaanku.
Dia berjanji, tapi terus mengulanginya. Dia berjanji akan menjagaku, tapi dia tidak pulang semalaman dan tinggal di kantornya. Dia berjanji akan segera menyelesaikan semuanya dengan Natt tapi lagi-lagi dia melakukan hal yang sama; membuatku terluka dan kenapa aku kecewa? Bukankah seharusnya ini wajar? Aku hanyalah orang yang harus membayar hutang padanya. Seharusnya aku tidak menggunakan perasaanku untuk ini!
“Jangan berjanji jika kau tidak bisa menepatinya,” kataku melepas genggaman tangannya dan berusaha memberikan salam pada wartawan seperti apa yang Max lakukan.
“Kalian akan dapat souvenir setelah acara ini selesai. Semoga kalian menikmatinya! Terima kasih!” kataku lalu memeluk lengan Max dan menariknya ke dalam rumah.
“Apa yang kau lakukan?” bisik Max terdengar sangat kesal.
Aku hanya diam memberikan salam pada beberapa tamu yang tidak aku kenal, tapi beberapa lainnya teman-temanku yang sudah menyempatkan untuk datang ke pesta ulang tahunku. Aku bersyukur karena setidaknya aku bisa temu kangen pada mereka.
***
Aku memperhatikan lantai dasar dipenuhi artis-artis terkenal yang tertawa ringan dengan minuman di tangannya. Beberapa menit yang lalu aku dan Max melalukan dansa di tengah-tengah lantai dasar membuat semuanya terpana dan berbisik-bisik bahwa kami adalah pasangan yang sempurna. Tak lupa, cameraman mengambil angle-angle yang bagus untuk acara live malam ini. Awalnya aku tidak menyangka, tapi sutradara bilang ini adalah opsi B tim mereka. Jika para wartawan berdatangan dan tertarik mengambil berita kami, itu tandanya acara malam ini pun akan menarik massa lebih banyak lagi. Ke depannya program after married pasti akan semakin diminati. Karena itu aku memutuskan untuk setuju melakukan yang terbaik.
“Elena?”
Aku mendengar suara seseorang yang tidak begitu asing. Seorang pria dengan bola mata coklatnya membuatku berpikir keras mengenai sapaannya. Senyumnya yang khas seperti mengingatkanku pada seorang pria yang pernah menyatakan perasaannya padaku.
__ADS_1
“A-arnold?” aku mengernyitkan alisku dan pria itu mengangguk pelan.
Tak sadar aku menghambur ke pelukannya dengan sangat cepat karena sudah hampir 3 tahun setelah kelulusannya di sekolah desain, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku dengar, dia sekolah di luar negeri dan sudah mulai merancang beberapa baju untuk brand yang dia bangun sendiri.
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku. “Kau terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Aku sampai tidak mengenalimu,” kataku dan Arnold seperti biasa, dia adalah pria yang hangat. Dia mencium pipiku lembut dan mengacak rambutku.
“Tiga tahun berlalu bukankah cukup untukmu untuk tidak membully-ku, El?” ucapnya dan aku terkekeh karena dia berlagak seperti aku memang sering membully-nya.
Padahal aku selalu menjadi teman setianya ketika dia butuh ditemani memilih bahan. Bahkan kami punya tempat favorit untuk mencari bahan dan menghabiskan waktu bersama. Sayang, ketika dia menyatakan perasaannya padaku, aku hanya menganggapnya sebagai kakak kelas yang sangat berjasa untukku. Aku hanya bisa menganggapnya sebagai sahabat dan juga orang yang membimbingku dengan baik selama aku sekolah desain.
“Hahaha tapi aku bersumpah! Kau terlihat sangat modis dan ya… tampan,” ucapku mengangguk pelan, memperhatikannya dari bawah hingga ke atas. “Aku tebak, sepertinya kau sudah sangat sukses,” kataku dan Arnold tentu tertawa dan mengacak rambutku; seperti apa yang dia selalu lakukan padaku.
“Aku desainer, El! Tidak mungkin pakaianku tidak modis! Kau juga sangat cantik dan hmm aku tidak yakin cita-citamu tercapai setelah melihat berita di internet siang ini,” ucap Arnold membuatku begitu sedih karena tebakannya memang benar.
Aku pun berjalan menuju balkon rumah mewah milik Max. Arnold mengikutiku dari belakang dan kami berhadapan satu sama lain. “Semuanya memang tidak berjalan sesuai keinginanku, tapi aku kan punya kamu. Kau mau kan kembali membantuku?” tanyaku padanya. Dia tidak pernah absen membantuku selama aku sekolah desain. Mungkin aku sedikit merasa bersalah karena tidak bisa membalas kebaikannya, bahkan hanya dengan perasaanku karena bagiku cinta memang tidak bisa dipaksakan.
Pria itu tersenyum lembut seraya menganggukkan kepalanya. “As you wish, El! Kau tidak pernah tergantikan oleh wanita manapun jika kau ingin tahu,” ucapnya tiba-tiba membuatku tercengang.
Aku menatap lamanya, hingga aku sadar apa yang aku lakukan salah! Aku menggelengkan kepalaku dan meminum soda yang aku pegang sejak tadi.
“Hahaha jadi bagaimana dengan sekolahmu di luar? Bukankah menyenangkan?” tanyaku.
Arnold meminum sodanya sejenak seraya mengangguk. Dia memperhatikan taman yang cantik jika dilihat ketika malam karena lampu-lampu berganti warna. “For sure, yea. Tapi akhir-akhir ini cukup membosankan. Jadi, aku bertekad untuk cepat menyelesaikannya dan kembali ke sini,” katanya.
“Kalau begitu-”
“El!” suara berat mengintrupsiku. Aku membalikkan tubuhku menemukan Max dengan tangannya di dalam kantung celana.
Jeng jeng!! Serigala datang :) Poor elena :( Jangan lupa like dan komennya geys^^
__ADS_1