Naughty Sugar

Naughty Sugar
[39] Belum Waktunya


__ADS_3

MAX POV


3 tahun kemudian.


Aku lihat Elena tengah terdiam di balkon kamar kami. Sesekali dia menyeruput tehnya dan menghela napasnya sendiri.


“Sugar,” panggilku dan dia membalikkan tubuhnya ke arahku.


“Kau sudah pulang?” tanyanya seraya meletakkan cangkir tehnya dan membantuku melepas jas.


Dia mencuri ciuman di bibirku dengan senyum yang terpaksa. Aku tahu apa yang dia pikirkan akhir-akhir ini dan itu ikut membuatku sedih karena hampir dua tahun kami berusaha, tapi tidak sekalipun Tuhan memberikan izin untukku menjadi seorang ayah.


“Max,” Elena memberikan sebuah surat padaku yang aku tahu apa isinya karena tanpa membacanya pun aku bisa lihat dari raut wajah Elena.


“Apakah ini karmaku,” ucap Elena tiba-tiba duduk di ujung ranjang membuatku enggan membuka surat ini.


“Hiks, hiks, aku minta maaf padamu karena sesekali aku pernah berdo’a untuk tidak memiliki anak lebih dulu. A-aku terlalu egois dengan ambisiku yang ingin memiliki bisnis. Bahkan aku terlalu sibuk dan tidak bisa menjaga kesehatanku. Ini semua salahku,” ucapnya membuatku ikut sedih mendengar apa yang dia katakan.


Perlahan aku pun duduk di sisinya lalu memeluk Elena sangat erat. Menenangkannya seperti yang sudah-sudah.


“Kau masih muda, Sugar. Kakakmu saja menikah dan memiliki anak di umurnya yang ke 30. Kita masih punya waktu untuk terus berusaha,” ucapku dan Elena semakin menyusupkan wajahnya ke dadaku.


“Bagaimana denganmu? Umurmu semakin tua, Max!”


Aku pun terkekeh mendengarnya. “Kau benar-benar masih bisa mengejek suamimu ini tua, Sugar!” kekehku karena mendengar kata-katanya. “Lagipula aku tidak setua itu. Ibu bilang, anak itu anugerah dari Tuhan. Jika kita belum bisa mempunyai anak, mungkin memang belum sekarang. Mungkin Tuhan memang belum mempercayai kita.”


“Max,” Elena melepas pelukannya dan menatapku dalam-dalam.

__ADS_1


“Seandainya kita tidak punya anak, apakah kau akan membenciku?” Mendengar itu hatiku sangat terluka. Bagaimana mungkin bisa aku membencinya?


“Kamu tahu? Cinta tulus itu tidak mungkin cepat berhenti, tidak secepat saat aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta padamu. Bagiku, anak memang penting, tapi kau jauh lebih penting. Kita, kita lebih penting, Sugar!”


Elena pun kembali menangis. Air matanya terus menetes membuatku tak kuasa menahan tangisku juga.


“Dengarkan aku! Aku sangat yakin kalau Tuhan menyaingi kita. Meski hanya satu anak, setidaknya itu yang akan kita jaga selamanya. Apapun keputusan dari Tuhan, itulah takdir kita, Sugar. Tidak ada kebetulan di dalam takdir, mengerti?!”


Elena menganggukkan kepalanya dan aku mengecupnya bibirnya lama.


***


“Permisi, Pak!” suara Rain tiba-tiba yang baru masuk ke dalam ruanganku membuatku terkejut karena baju Elena sudah hampir aku angkat kalau saja bukan karenanya.


“Ah, maaf, Pak. Saya kira-“


“Sayang, aku akan kembali ke sekolah. Kau tidak lupa kan nanti malam di rumah Kak Irene,” ingat Elena mengenai undangan makan malam dari Irene.


Akhirnya perusahaan Gilbert bisa kembali diakuisi dan aku dengar Damar sedang mati-matian disiksa oleh Irene karena wanita itu nampak sudah tidak begitu tertarik untuk menjadi pemimpin lagi. Akhirnya Damar harus banyak mempelajari tentang bisnis istrinya.


“Baiklah hati-hati di jalan,” kataku mengedipkan mataku padanya. Elena pun tertawa, dia memukul punggungku dengan tasnya sehingga Rain pun ikut tertawa.


“Bosmu memang sangat genit,” ucap Elena pada Rain. “Sampai ketemu nanti malam,” Elena menepuk bokongku dan kini bergantian dia yang mengedipkan matanya padaku. Sungguh tidak tahan dengan apa yang dia lakukan. Bisa-bisanya dia menggodaku di jam kerja.


Kalau saja tadi Rain tidak masuk, pasti dia sudah berakhir di kamar ruangan ini.


“Oke jadi apa yang ingin kau laporkan?” tanyaku pada Rain.

__ADS_1


“Ini kontrak kerja baru bersama Sign TV, Pak. Kemudian mereka bilang ingin membayar tayangan after married milik Bapak dan Bu Elena 1 tahun yang lalu. Di negara X, mereka sangat menyukai Ibu Elena dan sepertinya antusias mereka akan semakin meningkat jika tayangan after married ditayangkan di negara X.”


Aku pun membaca kontrak yang baru saja Rain bawa, isinya memang sangat menguntungkan dan tak perlu butuh waktu lama aku pun menandatanganinya karena pembicaraan kontrak ini sudah berulang kali kami tinjau.


“Oke! Lalu apa lagi?”


“Mmm i-itu, Pak.” Rain nampak terlihat aneh di mataku untuk pertama kalinya. Wanita yang sudah bekerja lama denganku itu pun mengeluarkan sebuah surat ke arahku. Ah, lebih tepatnya surat undangan menikah.


“Sa-saya akan menikah. Saya harap, Bapak akan datang ke pernikahan kami.”


Kami? Aku pun menarik surat undangan itu cepat dan melihat nama siapa yang tertera di sana. Tak lama kemudian aku pun tertawa di depan Rain membuat wanita itu menataku aneh.


“Ah maaf-maaf, saya hanya tidak menyangka kalau Aaron bisa menyatakan perasaannya. Saya kira dia hanya bisa diam mematung saja memperhatikanmu dari jauh dan senyum-senyum sendiri.”


Rain pun tersenyum malu-malu. Dia menyembunyikan rambutnya ke belakang telinganya seperti orang yang sedang kasmaran. Ya kenyataannya memang begitu.


“Sudah berapa lama kalian pacarana? Kenapa saya tidak tahu?”


Rain pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Su-sudah jalan setahun, Pak. Saya hanya tidak ingin pekerjaan saya terganggu. Jadi kami tetap professional saat bekerja,” ucap Rain sungguh menjawab pertanyaanku dengan memuaskan.


“Baiklah, saya pasti akan datang. Selamat untuk kalian,” ucapku dan Rain mengangguk serta membungkukkan tubuhnya ke arahku.


“Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi.”


Aku mengangguk membiarkannya pergi. Lalu kembai bekerja dengan tumpukan berkas yang harus aku periksa, tapi sebelumnya mataku tak sengaja menangkap senyuman wanita yang aku cintai. Aku pun mengangkat bingkai itu dari atas mejaku. Di sana ada foto pernikahan kami. Mungkin lebih tepatnya foto setelah menikah karena kami tidak sempat melakukan pemotretan pranikah.


El, aku tahu banyak sekali hal yang mengganggu pikirannya belakangan ini. Bahkan aku tahu kenapa dia datang ke sini hari ini. Aku tahu hari ini dia datang bulan dan gagal hamil, tapi bagiku senyuman Elena adalah segalanya. Kami sudah berobat dan melakukan apa yang dokter katakan, kami juga sudah berobat bahkan mengurangi pekerjaan, kami sudah tidur teratur dan makan-makanan sehat tapi masih belum dikarunia anak.

__ADS_1


Hanya saja, aku percaya, mungkin memang belum saatnya.


__ADS_2