
MAX POV
“Kakak?!” teriak Elena begitu dia melihat kakak satu-satunya itu datang. Dia berlari dan menabrak tubuh Irene; memeluknya erat.
“Hei, ada apa? Kau seperti habis menangis,” tanya wanita itu berusaha melepas pelukan Elena lalu menangkup wajah adiknya.
Elena terlihat mencemberutkan bibirnya. “Aku hanya rindu denganmu, Kak!”
“Jangan bohong! Katakan padaku! Apa yang dia lakukan padamu?!” kata Irene melirik ke arahku dengan tatapan tajam dan sebelum Elena menjawabnya, wanita itu berjalan ke arahku yang hanya beberapa langkah lalu…
PRAK!
“Kakak!” teriak Elena berlari ke arahku lalu berdiri di depanku menjadi tameng di antara aku serta Irene yang selalu tak pernah absen membenciku di dalam hidupnya.
Meskipun aku sudah berusaha membantu mengembalikan perusahaannya, tapi sepertinya aku memang belum bisa sepenuhnya mendapatkan restu darinya. Pernikahanku dengan Elena masih menjadi hal yang paling dia benci karena aku tahu dia memang begitu dendam padaku.
Aku pun menarik Elena ke sampingku lalu menghadapi Irene yang menatapku marah. Aku lihat beberapa orang memperhatikan kami. Termasuk ibuku, Tiger bahkan Petter yang mungkin tak pernah melihat kakak iparnya ditampar di depan keluarga.
“Halo Kakak Iparku, bagaimana kabarmu?” tanyaku pada Irene.
“Kakak Ipar? Kau masih bisa mengatakan itu padaku? Hahaha kau benar-benar tidak tahu malu!” ucapnya dengan nada datar.
“Irene!” teriak seseorang yang aku lihat suami Irene datang bersama anaknya yang sangat lucu dengan baju putih dan dasi kupu-kupu di kerahnya. Aku pun tersenyum ke arahnya, sedikit membungkuk sebagai sapaan. Dia pun melakukan apa yang aku lakukan.
__ADS_1
“Sayang, ada keluarga Winston. Kau tidak seharusnya seperti ini. Sepertinya kau salah paham,” bisik Damar masih bisa kudengar.
“Iya Kak, Kakak hanya salah paham. Aku menangis karena Max memberikan hadiah padaku. Padahal seharusnya aku yang memberikan hadiah padanya. Aku menangis karena bahagia, Kak. Bukan karena hal lain,” ucap Elena mencoba membelaku. Bahkan dia memelukku dari samping.
Irene pun menghela napasnya pelan. “Baiklah anggap saja begitu, tapi jika itu sebaliknya. Aku tidak akan segan-segan membakar rumahmu!”
“Kakak! Kalau rumah ini dibakar aku tinggal di mana?!” protes Elena dengan bibir yang dia cemberutkan.
“Tentu saja ke mansion kita! Kau bisa kembali kapan saja!” kata Irene membuat Elena terkekeh.
“Aku tahu kau sangat membenciku. Aku pantas mendapatkan tamparanmu, tapi aku sungguh mencintai adikmu. Aku janji tidak akan mengecewekannya dan maaf karena belum bisa bertemu denganmu setelah masalah keluargaku selesai. Seharusnya aku meminta maaf padamu langsung,” ucapku pada Irene membuat wanita itu terdiam lalu menatap Elena.
Dia pun berdehem sejenak. “El sudah menceritakan semuanya padaku, tapi bukan berarti aku bisa langsung memaafkanmu,” ucap Irene dan aku mengangguk pelan lalu berjalan menuju anaknya.
“Jangan sampai istriku mendengarnya. Dia bisa sangat marah!” ucapnya sangat pelan dan aku menoleh sedikit ke belakang, menyadari Irene yang sudah hilang bersama Elena untuk bergabung bersama keluarga.
“Aku harap El juga cepat hamil,” kataku masih mengelus pelan pipi Louis.
“Dia pasti akan hamil segera! Jangan lupa jaga kesehatan kalian dan jangan stress. Aku rasa dengan pekerjaanmu itu harus mulai kau kurangi. Fokus pada anak untuk beberapa bulan tidak ada salahnya kan? Kau juga butuh penerus kelak nanti,” nasihat Damar seraya menepuk punggungku ketika Irene berteriak memanggilnya.
***
Tidak ada pers ataupun keriuhan di ulang tahunku hari ini. Masing-masing dari mereka membawakan hadiah untukku dan aku sangat senang karena ulang tahun kali ini rasanya hidupku semakin lengkap. Aku memperhatikan ibuku yang semakin terlihat membaik. Sesekali dia tersenyum, memperhatikan beberapa orang berbicara dan Eliz membantu ibuku makan layaknya seorang adik yang sangat menyayangi kakaknya. Lalu Tiger berlari ke sana kemari bersama Ryan yang tentunya tak luput dari pantauan Tina.
__ADS_1
Sara sibuk menyusui anak ke duanya yang mulai rewel karena haus. Sementara Elena nampak akrab dengan Arnold dan membicarakan desain miliknya. Lalu Louis menjadi sesuatu yang sangat Rain sukai karena pipinya yang gembul. Aaron, dia tersenyum diam-diam saat melihat Rain tertawa, semakin jelas kalau dia menyukai sekretarisku. Dan semua orang yang benar-benar meluangkan waktunya untuk datang di ulang tahunku hari ini. Aku bahagia, sangat bahagia.
“Kak,” suara Sara membuatku menghentikan gerakan tanganku yang akan meminum wine.
“Ah iya, kenapa?” tanyaku melihat wajah Sara yang tiba-tiba memasang raut wajah tidak enak.
“Darrel baru saja memberitahu Petter bahwa dia tidak bisa datang. Aku rasa dia masih butuh waktu untuk bertemu denganmu karena sejujurnya aku pun sangat malu untuk bergabung di sini,” ucap Sara membuatku menaruh gelasku ke atas meja lebar yang sudah pelayan dekorasi secantik mungkin.
Taman di rumahku sangat luas. Meski ini siang hari, menurutku apa yang Elena katakan tentang cuaca hari ini tidaklah begitu buruk. Justru sejak tadi aku terus merasakan angin yang sejuk dan juga cahaya yang terang dari matahari. Mungkin karena di taman ini juga banyak pepohonan yang dirawat dengan baik oleh para pelayan. Jadi, keadaan taman belakang rumahku pun sangat enak untuk dijadikan tempat berkumpul seperti ini.
“Kau bicara apa sih, hahaha,” tawaku seraya menusuk-nusuk pelan pipi Hanna, bayi perempuan Sara yang masih sibuk menghabiskan susunya.
“Aku tahu perbuatan Ayah memang tidak bisa dimaafkan. Aku pun sebagai anak sangat malu mengatakan ini, tapi aku benar-benar minta maaf,” ucap Sara membuatku mendadak ingin menangis.
Ah, ini pasti pengaruh alkohol juga. Entah sudah berapa banyak aku meneguk alkohol, hingga mendengar permintaan maaf Sara pun membuatku terharu. “Kita dibesarkan bersama, Sara. Itu bukan salahmu ataupun Darrel. Aku justru berterima kasih karena kalian sudah menganggapku seperti kakak kandung kalian,” ucapku dan Sara pun membuang tatapannya dariku.
Lalu tiba-tiba Petter yang ada di sebelahnya menarik Sara ke dalam pelukannya. Aku mendengar isak tangisnya dan mengelus pelan punggungnya. “Jika semua orang di dunia ini baik, maka tidak akan ada namanya hukuman dan ketika seseorang melakukan kesalahan, hukuman yang setimpal sudah seharusnya dia dapatkan,” ucapku menenangkannya.
“Aku tahu kau sangat sedih kehilangan Ayahmu. Aku juga minta maaf untuk itu, tapi kau dan Darrel tidak ada sangkut pautnya dengan kejahatan itu. Tetaplah beraktifitas seperti biasanya, cukup yang lalu kita jadikan pelajaran,” ucapku dan Sara mengangguk lalu beralih memelukku.
“Terima kasih karena kau sudah menjadi kakak yang baik untukku dan Darrel,” ucapnya dan aku melirik kea rah Eliz.
Eliz mengangguk pelan seraya tersenyum. Sementara aku menepuk punggung Sara sebagai jawaban. Dulu, aku pernah berpikir anak Ronald dan Eliz sungguh tidak memiliki sifat baik dari orang tuanya, tapi kini setelah aku tahu Eliz adalah kepala dari semua rencana hidupku. Aku tarik semua perkataan dan pikiran burukku. Darrel dan Sara memang sangat mirip dengan ibunya
__ADS_1
Guys aku kepikiran mau buat chat story, menurut kalian gimana? karena habis naughty sugar selesai aku pengen lebih santai karena aku juga kerja, jadi setiap hari pastinya capek. Untuk bagi waktu nulis beberapa bulan ini extra takes time, tapi pengen tetap berkarya, jadi mau coba chat story yg memang lebih simple dan enggak begitu ambil waktu. Menurut kalian gimana? mau baca karyaku kah?