
ELENA POV
“Bu pesanan dari Donna sudah sampai dan dia menyampaikan terima kasih karena sangat suka dengan desainnya,” ucap Finn manajerku.
Ya, akhirnya kini aku mempunyai butik sendiri. Tentu semua karena kerja kerasku dan Max selama ini. Aku sungguh terharu dengan apa yang aku punya saat ini. Baru beberapa minggu kami membuka butik ini dan banyak wartawan yang berdatangan untuk mewawancaraiku. Tanpa mereka mungkin butikku pun tidak ada apa-apanya. Berita tentang istri Max yang kini ikut merambah ke dunia bisnis pastinya menjadi sorotan semua orang. Tentu aku sangat senang dengan apa yang aku miliki sekarang.
“Nona!” suara Jon tiba-tiba mengintrupsiku. Aku lihat napas Jon tersenggal-senggal dan memberikan HP-nya padaku.
Aku pun menatapnya sekilas dan segera meraihnya. “Halo?”
“Nona, sejak tadi saya sudah mencoba menghubungi nomor Nona, tapi tidak kunjung diangkat.”
Aku pun merogoh sakuku dan ada beberapa panggilan nomor rumah yang Tina gunakan untuk menghubungiku.
“Oh maaf aku terlalu fokus bekerja dan nanti sore akan ada kelas. Jadi pikiranku cukup tidak fokus pada apapun,” kataku di dalam sambungan.
“Nona, Tuan sakit. Seharian ini Tuan muntah-muntah,” ucap Tina membuatku terkejut.
“Max? Saki tapa?” aku langsung memberikan kunci butik pada Finn lalu berjalan keluar diikuti Jondi belakangku.
Lalu begitu sampai di depan mobil sport merah pemberian Max, Jon membuka pintu kursi belakang. Pertama kalinya aku dengar suamiku muntah-muntah. Padahal tadi pagi Max baik-baik saja, tapi kenapa sekarang dia sakit?
“Sa-saya pun kurang tahu Non, baru kali ini Tuan seperti ini. Tuan juga terus meminta Nona untuk segera pulang dan Dokter Martin baru saja datang untuk memeriksanya.”
“Baiklah, aku dan Jon sudah di jalan. Aku akan segera pulang,” kataku lalu menutup sambungan dan memberikan HP Jon kembali.
Aku segera memeriksa HP-ku dan melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari Max dan tentunya sebuah pesan singkat yang membuatku tertawa. Bisa-bisanya orang sakit ini membuatku merasa bersalah.
Suamiku: El, kau sungguh tega! Suamimu sakit tapi kau masih berangkat kerja! Aku ingin memelukmu sekarang Kembalilah!
Suamiku: El!!! Elena!!!
Suamiku: El! Apa sekarang kau mulai tidak suka pelukanku?! Tadi pagi kau menendang bokongku dan rasanya masih sangat sakit, hiks, hiks,
Aku hanya mampu menggelengkan kepalaku. Jarang sekali Max seperti ini. Kenapa dia seperti anak kecil? Memang tadi pagi dia memelukku sangat erat hingga rasanya aku tidak bisa bernapas. Bahkan dia melarangku berangkat kerja dan bolos bersamanya. Aku piker Max hanya bercanda tidak akan berangkat kerja. Ternyata dia benar-benar tidak kemana-mana dan hanya di rumah.
__ADS_1
***
Tibanya di rumah aku lihat Ibu sedang belajar jalan dengan Allya.
“Kau pulang?” tanya Ibu padaku dan aku menganggukkan kepalaku.
“Ada bayi yang merengek ingin aku pulang, Bu,” ucapku seraya terkekeh dan Ibu ikut tersenyum.
“Sejak tadi pagi dia sangat rewel, bahkan minta Ibu elus kepalanya untuk tidur karena semalaman tidak bisa tidur.”
“Oh ya? Apa aku terlalu nyenyak dengan tidurku. Aku bahkan tidak tahu,” ucapku seraya menggaruk kepalaku.
“Sudah sana lihat bayi besar Ibu. Aneh sekali, Max belum pernah seperti itu,” kata Ibu sesuai dengan pemikiranku. Aku pun segera berjalan menuju tangga dan memikirkan hal yang ibu katakana tadi. Benarkah Max tidak bisa tidur semalam? Aku benar-benar tidak tahu karena dia juga tidak mengatakan apapun.
“El, dia baru saja tidur,” ucap Dokter Martin yang baru saja keluar dari kamar.
“Susah sekali membujuknya untuk minum obat. Dia memang tidak suka obat,” ucapnya dan aku sangat tahu tentang itu.
“Jadi suamiku sakit apa?” tanyaku dan aku lihat Bi Tina yang baru keluar dari kamar. Wanita paruh baya itu mendekat ke arahku dengan wajah semringahnya.
“Iyah, kau harus ke rumah sakit. Sepertinya kau hamil, El!”
Aku yang mendengarnya langsung terkejut bukan main. Tanganku bahkan bergetar, tapi tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Pantas saja aku mengalami perubahan ukuran di dada dan juga perutku. Aku kira karena aku terlalu banyak makan, tapi ternyata ada sesuatu yang hidup di perutku.
“Max sudah tahu?” tanyaku pada Martin.
“Hahaha sudah, aku memberitahunya kalau dia mengalami morning sickness. Itu sudah menjadi hal yang normal untuk seorang ayah mengalaminya juga.”
“Tuan sangat senang, Nona. Dia bahkan tidak mau istirahat dan ingin menunggu Nona, tapi Dokter Martin memberinya obat tidur karena Tuan terlihat sangat butuh istirahat.”
Aku pun mengangguk mengerti. “Baiklah, aku akan periksa nanti saja bersama Max. Terima kasih Dokter Martin,” ucapku padanya, sekali lagi dia tersenyum padaku lalu Tina membawanya pergi bersama.
“Max!” batinku. “Akhirnya do’a kita Tuhan kabulkan!” ucapku dalam hati segera masuk ke dalam kamar dan menemukan Max yang tertidur.
Aku ingin memeluknya, tapi rasanya memeriksa kehamilanku adalah yang lebih penting. Aku segera berjalan menuju laci riasku dan mengambil testpack yang selalu aku sediakan. Seketika aku lihat catatan datang bulananku dan baru menyadari kalau ini sudah telat beberapa minggu. Mungkin karena terlalu sibuk aku tidak ingat apapun lagi.
__ADS_1
***
Matahari tenggelam dan berganti gelapnya malam kamis. Aku sesekali tertawa dan menyereput tehku di balkon. Namun tiba-tiba aku merasakan seseorang memberikanku sebuah jaket dan memelukku dari belakang.
“Max?” Aku ingin membalikkan tubuhku, tapi Max menahannya dan menyelipkan wajahnya di leherku.
“Apa benar yang Martin katakan?” tanya Max membuatku tersenyum.
“Menurutmu?”
“Aku tidak tahu, tapi aku harap itu benar. Seandainya benar, aku akan puasa di trimestermu. Aku janji tidak akan menyerangmu.”
Sungguh! Max benar-benar membuatku ingin tertawa mendengar kata-katanya. “Tentu saja! Kau terus saja menyerangku supaya aku cepat hamil. Bahkan di hari terlelahku kau masih menghukumku.”
Max terkekeh pelan. “Aku terdengar seperti orang jahat. Bukankah itu tidak adil?” suara Max di bahuku terus memelukku erat.
“Maaf membuatmu menjadi orang jahat, tapi kau akan bertanggung jawab kan?” tanyaku, lucunya kami sama-sama tertawa karena akhirnya yang kami tunggu datang.
Max membalikkan tubuhku dan mengangkatku hingga aku duduk di atas meja yang tersedia di halaman balkon kamar kami.
“Kau pikir aku akan membiarkan orang lain bertanggung jawab? Aku yang buat, tentu aku yang bertanggung jawab. Kau dan anak kita adalah milikku,” ucapnya dengan tatapan yang terlihat berkaca-kaca.
Perlahan tanganku pun bergerak menyentuh wajahnya. Wajah yang selalu aku dambakan setiap aku bangun dan beranjak tidur. Tak pernah sekalipun aku berpikir Max meninggalkanku. Dia bilang, dia sangat mencintaiku. Meski lama harus menunggu, baginya selama bersamaku hidupnya tak akan pernah berhenti. Aku rasa, aku setuju dengan apa yang Max katakan karena aku… aku juga sangat mencintainya.
“Aku hamil,” ucapku memberikan testpack yang ada di kantungku padanya.
Max pun meraihnya lalu menatapku dengan air mata yang berjatuhan. “Akhirnya!” Max menarikku ke dalam pelukannya. Tak lupa dengan kecupan ringan di keningku, lama. “Terima kasih! Terima kasih karena kau sudah berjuang bersamaku,” ucapnya dan aku mengangguk pelan, ikut memeluknya erat.
“Kita akan menjaganya bersama bukan?” tanyaku pada Max.
“Tentu saja! Kau, aku dan anak kita!”
Aku rasa perubahan emosi ini ada pada Max. Priaku semakin menangis, dan terus menangis. Bahkan sebelum aku tidur dia terus bermanja padaku.
__ADS_1
Tinggal epilog dan extra part. Komennya di bawah dong^^ Sejauh ini menurut kalian cerita ini bagaimana? dan apa yang kalian suka dari cerita ini~ Jangan lupa likenya juga ya^^