Naughty Sugar

Naughty Sugar
[19] Aku Suka Pelukanmu


__ADS_3

MAX POV


“Kenapa mendadak berubah?” rengek istriku karena episode awal program kami mendadak berubah.


“Aku tidak suka pesta,” ucapnya lagi seraya menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang kami dan menutu wajahnya dengan naskah yang dia pegang.


“Ini ulang tahunmu, Sugar. Akan aneh jika kita tidak merayakannya,” kataku membuat Elena menyingkirkan naskahnya lalu berguling mendekat ke arahku yang tak jauh darinya.


“Justru itu! Kenapa kau mengatakannya pada mereka? Aku tidak suka pesta dan aku sudah terbiasa tidak merayakannya setiap tahun. Kau hanya akan menghabiskan uangmu saja, tahu!”


Jelas aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Aku tangkup wajahnya dan menyentil keningnya hingga mengaduh kesakitan. Bukan Elena namanya jika dia tidak melayangkan pukulannya ke arahku. Dia memukul punggungku dengan naskah yang dia pegang dan aku menariknya hingga dia terjatuh di atas dadaku. Sejenak suasana terasa canggung, tapi Elena mengalihkan suasana kembali normal.


“Kenapa kau tertawa? Memangnya lucu?!Kalau kau begitu kaya hingga bisa mengadakan acara pesta ulang tahunku. Kenapa kau tidak biarkan saja aku lolos darimu. Uang pesta itu bisa untuk bayar hutangku!”


Selalu saja berakhir pada hutang piutang. Aku sungguh benci membahas ini dan Elena sepertinya tidak bisa melupakan hal itu meski hanya sehari.


“Aku tidak tertarik membicarakan hutangmu,” kataku segera turun dari ranjang mengambil iPadku yang beberapa saat tadi menjadi temanku sebelum El menyelesaikan mandinya dan kembali membicarakan hutangnya.


“Kau mau kemana?” tanya Elena menahan tanganku. Aku pun menatap tangannya yang menggenggamku erat. “Ini sudah malam, sudah waktunya tidur bukan?”


Sejenak aku menatapnya lembut. Mana bisa aku marah padanya, tapi aku tidak bohong kalau aku benci pembicaraan hutang terus menerus. Seolah-olah dia memang tidak pernah menginginkanku walau hanya sedetik.


“Masih ada pekerjaan yang belum selesai,” ucapku melepas genggamannya perlahan. “Dan jika kau tidak lupa. Beberapa hari yang lalu, kau berjanji akan memberiku keturunan. Itu tidak akan mengubah kembali perjanjian kita, kau mengerti?! Cukup sekali kau mengubahnya dan tidak ada kesempatan lain untuk membayar hutangmu selain anak yang kuinginkan dan kau janjikan.”


Seandainya kau tahu perasaanku El. Aku hanya ingin hidupmu, aku tidak ingin uangmu, tapi kenapa kau selalu menatapku dan menganggapku seperti monster yang menghisap kebahagiaanmu? Aku ingin membuatmu bahagia, Sayang!


“Iya aku tahu! Jika aku sudah siap melakukannya, aku pasti akan memberitahumu. Beri aku waktu sebentar saja karena…”


El menggigit bibirnya sendiri dan menatapku dengan air mata yang berkaca-kaca. Bukan pertama kalinya dia menangis dan kami membahas hal ini, tapi entah kenapa selalu membuatku merasa bersalah.

__ADS_1


“Pikiranku cukup kalut, Max. Aku masih memikirkan keadaan Kak Irene. Pernikahan ini juga terlalu mendadak. Semuanya… semua yang terjadi padaku sungguh di luar perkiraanku. Aku belum siap menikah di umur terbilang sangat muda di mana teman-temanku masih sibuk dengan cita-citanya. Aku-“


Air mata Elena luruh juga. Kenapa dia terus mengkhawatirkan hal ini dan aku sungguh keterlaluan karena selalu menekannya untuk mengingat janjinya. Aku pun kembali ke atas ranjang menaruh iPad yang tadi kupegang ke atas nakas. “Dasar nakal! Sudah kukatakan kan padamu. Aku akan menunggumu sampai kau siap. Aku suamimu, Sugar! Aku bukan monster!” ucapku kembali berbaring di atas ranjang, membiarkan tangaku menjadi bantalan kepalanya. Tak lupa aku mengusap air matanya dan menepuk bokongnya seperti bayi. “Anak nakal!” kekehku mengacak rambutnya.


“Hemm sakit Max!” katanya mengelus bokongnya sendiri membuatku kembali tersenyum ke arahnya.


“Kau juga memukul bokongku kemarin!” aku mencoba membela. “Tapi aku suka,” bisikku di telinganya.


“Kenapa kau suka aku pukul?” tanya El dengan mata menatapku dan menunggu jawabanku.


“Karena itu kamu. You are my naughty sugar,” jawabku.


Sejenak kami terdiam. El menatapku dalam, tapi kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menarik tanganku untuk memeluk tubuhnya dari belakang.


“Kemarin kenapa kau tidak pulang dan tidak mengatakan apapun pada Tina?” tanyanya mengelus tanganku lembut sungguh aneh.


“Kemarin sudah sangat malam dan aku lupa memberitahu Tina. Aku ingin menghubunginya, tapi takut mengganggu tidurnya. Jadi aku menghubungi Jon dan memintanya menjagamu selama aku tidak ada.”


“Hemm Max, bagaimana jika aku tidak mau Jon menjagaku setiap malam? Sejujurnya… aku cukup takut dengannya setelah Vivi menceritakan tentangmu dengan Jon.”


“Apa?” aku terkejut mendengarnya.


El kembali membalikkan tubuhnya ke arahku. “Vivi menceritakan semuanya padaku, Max. Terkadang aku sedikit takut dengan Jon. Bagaimana jika-“


“Sutt! Sepertinya pemikiranmu terlalu berlebihan, Sugar. Jon bukan orang yang jahat. Aku juga sudah memaafkan dan melupakan kejadian itu. Aku tidak mau membahasnya lagi, mengerti?”


El mengangguk pelan. “Tapi Max, aku tetap takut jika kau tidak pulang ke rumah saat malam. Aku tidak suka tidur di ruangan besar seperti ini sendiri. Kau tahu kan?”


Aku tahu Elena tidak suka ruangan besar, tapi aku rasa kehadiranku di malam hari membuatnya nyaman. Diam-diam aku tersenyum. Aku tahu dia ingin mengatakan itu, tapi dia malu mengatakannya hingga mencari alasan-alasan lain untuk menutupinya.

__ADS_1


“Jika aku tidak bisa pulang aku harus bagaimana?”


“Maka aku akan ke kantormu.”


“Apa?” aku mengernyitkan alisku heran. Sepertinya El salah makan. Kenapa malam ini dia begitu aneh?


“Iyah, aku akan ke kantormu. Aku akan tidur di sana bersamamu.”


Deg! Deg! Deg!


Apakah Elena bisa mendengar debaran jantungku? Bisa-bisanya anak kecil ini menggoda pria tua sepertiku dan menarik ulur perasaanku. Lihat! Dia sekarang pintar menggodaku.


“Max! Kenapa diam saja! Cepat jawab!” dia memukul dadaku dan meleburkan lamunanku.


“Bukankah kemarin kau terlihat sangat marah padaku dan memintaku untuk tidak melewati batas?” tanyaku padanya meminta tanggung jawab atas perasaan yang dia buat menjadi harapan-harapan palsu.


“Memang benar. Kau harus tahu batasmu dan aku tidak suka kau melakukan hal semaumu. Aku akan melakukan apa yang aku ingin tanpa kau minta.”


Aku mendengus pelan seraya menggelengkan kepalaku. Jadi sekarang dia sedang mengendalikan perasaanku? Sepertinya istriku mulai pintar memberontak. Heuh, apakah air matanya tadi hanya air mata buaya? “Kau benar-benar licik, Sugar!”


“Yea, I am,” katanya kembali membalikkan tubuhnya dan menarik tanganku melingkar di pinggangnya.


Meski begitu, aku senang. Aku bisa memeluknya setiap malam tanpa khawatir. El benar, tidak seharusnya Jon menjaganya di malam hari. Aku sebagai suami sudah sepantasnya bertanggung jawab melindunginya setelah menikah.


“Baiklah kalau begitu, aku akan menjagamu setiap malam dan memelukmu seperti ini,” kataku memeluknya semakin erat.


“Iya seperti ini. Aku suka,” lirihnya sangat pelan, tapi aku bisa mendengarnya dengan baik.


Apakah setelah ini hubungan kami akan baik-baik saja? Aku sungguh ingin semuanya cepat selesai. Semua masalahku. Semua kesedihan El. Semua yang mengganggu kami hingga kami bisa bahagia.

__ADS_1


__ADS_2