Naughty Sugar

Naughty Sugar
[31] Canduku


__ADS_3

MAX POV


Elena meneguk champange yang aku tuang entah yang ke berapa kalinya. Lalu dia tersenyum cerah ke arahku. “Sudah lama sekali aku tidak minum alkohol,” akunya lalu dia menggerakkan tangannya untuk mengambil french fries yang sangat dia suka. “Sangat sempurna,” katanya begitu pada kunyahan pertama.


Entah kenapa hanya memandang wajahnya saja membuatku yakin bahwa apa yang pernah aku katakan tentang takdir tidak sepenuhnya benar. Aku pernah mengatakan, jika saja takdir Tuhan tidak bisa membawa kami menjadi pasangan di dunia. Maka aku akan melawan takdir itu dengan segala kekuasaanku, tapi nyatanya Tuhan sangat baik. Tidak ada takdir yang bisa aku lawan. Termasuk kebersamaan kami yang sangat indah ini. Semakin hari, aku semakin mencintainya. Tidak peduli harus menunggunya bertahun-tahun, hatiku tidak akan bisa berpaling meski aku ingin.


“Max, ini apa?” suara Elena yang selalu membuatku candu. Wajahnya yang selalu membuatku tidak bisa berhenti memikirkannya. Tak pernah sekalipun ada cacat di dalam dirinya. Aku sungguh menyukainya.


“Kejutan lain untukmu, Sugar,” ucapku membuat mata Elena berbinar.


Wanitaku langsung bersemangat membukanya dan tiba-tiba saja wajahnya berubah menjadi sangat terkejut. Aku tidak tahan untuk tertawa melihat ekspresinya. El kembali menutup kotak dengan pita merah di atasnya. Lalu dia memukul lenganku keras seraya mencemberutkan bibirnya.


“Kau mesum! Aku tidak mau menggunakannya! Itu tipis sekali dan terlalu-“


Cup! Aku mengecup bibirnya membuatnya kembali membulatkan matanya lebar.


“Tidak ada penolakan. Ambillah! Aku akan menunggumu sampai kau siap menggunakannya,” kataku dan wajah Elena merah padam.


Sudah kukatakan. Tidak peduli harus menunggunya bertahun-tahun. Jika itu untuknya, apapun akan kulakukan.


“Tapi Max itu terlalu tipis. Jika aku menggunakannya, aku ingin kau matikan lampunya,” ucapnya dengan malu-malu, tapi itu membuatku semakin gemas terhadapnya.


Aku pun mengusap pipinya pelan. Wajah merah padam itu menoleh kepadaku. Bola matanya berbinar seolah mengatakan bahwa dia pun bisa merasakan debaran jantungku saat ini.


“Kalau aku tidak mau bagaimana?” tanyaku padanya.


Elena mencemberutkan bibirnya lalu menjauhkan wajahnya dari tanganku. Dia kembali meneguk champange hingga habis dan aku bisa melihat wajah Elena yang semakin memerah. Sudah bisa kutebak, dia tidak jago minum karena satu gelas saja sudah membuatnya mabuk.


“Aku memberikanmu sweater supaya kau merasa hangat, tapi kenapa kau memberiku pakain yang tipis?” tanyanya. “Ah itu tidak pantas dikatakan pakaian! Kau memang mesum Max!” racaunya.


“Kau ingin tahu kenapa aku memberikannya padamu?”

__ADS_1


Elena mengangguk pelan, kembali mengambil french fries dan berakhir di dalam mulutnya. Dia mengunyahnya sangat pelan hingga aku bisa lihat tangannya tidak berhasil bergerak menuju mulutnya, melainkan pipinya. Dia benar-benar tidak bisa minum alkohol. Payah sekali! Tapi aku suka!


“Kenapa kau memberikannya padaku?” tanya Elena mengulang kataku.


Aku pun mendakat ke arah telinganya dan membisikkan sesuatu. “Karena hanya aku yang bisa menghangatkanmu, Sugar. Hanya aku!” ucapku dengan penuh penekanan dan Elena hampir saja terjatuh ke samping jika saja aku tidak menangkapnya.


“Hahaha kau ini!” kekehku lalu mengangkat Elena ke dalam menuju ranjang kami.


Baru saja aku menurunkannya ke atas ranjang Elena kembali meracau. “Dasar kau mesum! Tapi kau suamiku yang tampan, hehehe,” ucapnya membuatku tersenyum lebar seraya menggelengkan kepala.


Dasar kelinci kecil! Kau membuatku ingin menerkammu sekarang juga, tapi aku tidak bisa! Aku pun menarik selimut sebatas dadanya lalu mengecup keningnya lama. Ketika aku ingin beranjak dari ranjang, El tiba-tiba menarikku lalu menarik kerah sweaterku hingga bibir kami bertemu. Matanya yang terpejam dan mataku yang bulat membuat dada kami bergemuruh bersamaan.


Lalu genggamannya mengendur di kerahku dan aku mulai mendengar Elena menangis. “Aku membencimu! Kau meninggalkanku saat sesi foto. Kau datang untuk melihat Natt tanpa mempedulikan perasaanku. Aku benci wanita itu! Dia merebut milikku!” racaunya, tapi kali dengan air mata yang turun dan juga wajahnya yang merajuk seperti anak kecil.


Aku pun menenangkannya. Mencoba bergabung bersamanya di dalam selimut yang menghangatkan kami. “Aku hanya milikmu, Sugar. Kau jangan khawatir! Siapapun tidak ada yang bisa merebutku darimu. Aku hanya mencintaimu.”


“Hiks, hiks, kau bohong! Aku membencimu!” ucapnya lagi membuatku merasa bersalah. Ternyata kejadian kemarin cukup membekas untuknya.


Aku bangun dari tidurku dan tidak menemukan Elena di sampingku. Aku pun cepat turun dari ranjang lalu keluar dari kamar. Berlari di sepanjang tangga rumah, ke sana ke mari tidak menemukan Elena.


“Max ada apa?” suara seseorang membuatku membalikkan tubuh dan menemukan Elena sedang memegang jas berwarna gading milikku. Aku pun langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat.


“Aku sungguh khawatir! Beberapa hari ini cukup tidak aman untukmu. Aku takut kau terluka,” kataku sungguh merasa lega karena melihat Elena. El pun mengelus pelan punggungku dan menepuknya.


“Aku hanya ingin menyiapkan baju kerjamu, Max. Sesekali aku ingin menjadi istrimu yang baik,” katanya membuatku mengacak rambutnya.


“Jangan lakukan itu lagi. Kau tidak boleh ke manapun sebelum aku bangun, mengerti?!”


El pun menganggukkan kepalanya lalu dia memeluk lenganku yang kanan, menarikku menuju tangga. “Aku pilihkan jas, kemeja dan dasi untukmu. Kau harus melihatnya,” ucap Elena.


“El, di mana para pelayan? Kenapa sejak tadi aku tidak menemukan siapapun?”

__ADS_1


“Oh itu, aku menyuruh mereka belanja bersama. Hitung-hitung mereka bisa berjalan-jalan bersama. Aku juga menyuruh Tina mengantar cucunya bersama Vivi dan Jon.”


“Kau?! Sangat bahaya jika rumah ini sepi! Jangan lakukan itu!” kataku lagi mengulanginya dan Elena nampak terkejut.


Aku pun menghela napasku kasar. Lalu menariknya masuk ke dalam kamar. Aku menekan bahunya agar duduk di sisi ranjang. Sementara aku bersimpuh di depannya dan menggenggam tangannya.


“El, kita dalam keadaan yang tidak biasa. Sangat bahaya untukmu melakukan itu! Aku sangat khawatir padamu, Sugar. Meskipun kau merasa hari ini sama saja seperti hari sebelumnya, kau tetap harus waspada.”


Elena pun menggigit bibirnya. Lalu dia menarik tangannya dan menangkup tanganku. “Aku tahu kau khawatir. Maafkan aku. Aku hanya… ingin menjadi istrimu seutuhnya. Aku ingin bisa menyiapkan sarapan pagi, bajumu bahkan air hangat untuk kau mandi. Aku hanya ingin mencobanya sekali.”


Aku pun menggelengkan kepalaku. “Kau bisa melakukannya, tapi tidak sekarang. Kita tidak tahu kapan Ronald mengirimkan orangnya untuk melukaimu. Situasi ini sungguh membuatku tidak bisa tenang.”


Kini tangan Elena berpindah pada pipiku. Lalu dia mencium bibirku lembut dan tersenyum. “Iyah, aku salah. Kalau begitu aku tidak akan melakukannya lagi. Sekarang kau siap-siap untuk bekerja. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita dan akan menyiapkan air hangat untukmu mandi.”


“Huft, baiklah,” kataku dan Elena beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.


Aku kembali mengikutinya dan memeluknya dari belakang. “Nanti malam akan ada pesta ulang tahun MX Entertainment, kau tidak lupa kan?”


“Iyah aku ingat.”


“Aku akan menjemputmu nanti sore. Kau sudah harus bersiap-siap dan seharian ini jangan pernah keluar dari rumah. Aku sudah menyuruh Jon dan anak buahnya untuk menjaga seluruh tempat di rumah ini.”


El tertawa di akhir kalimatku lalu dia membalikkan tubuhnya seraya bertolak pinggang. “Kau tahu? Rumah ini terlalu besar untuk kita. Bahkan meskipun rumah ini sangat besar, aku hanya bisa menikmatinya sesekali sendiri. Seperti berenang sendiri, pergi ke taman menikmati teh sendiri dan kita selalu berakhir di kamar ini. Entah itu makan ataupun ngobrol.”


Elena benar, mungkin aku yang terlalu sibuk hingga melupakan sesuatu. Aku tidak bisa membuatnya merasa lebih nyaman dengan rumah ini.


“Kalau begitu, ayo kita lakukan di hari sabtu dan minggu. Kita berkemah di taman bersama Ryan dan para pelayan,” kataku dan Elena mengangguk senang. “Lalu kita jadwalkan renang berdua di hari kamis? Aku akan pulang cepat setiap hari kamis.” El kembali menganggukkan kepalanya senang dan ciuman ringan untuknya di pagi hari membuatnya malu-malu menatapku.


“Kau! Sudah cepat mandi!” katanya langsung saja lari seperti anak remaja yang baru saja mendapatkan ciuman pertamanya.


 

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya^^


__ADS_2