
MAX POV
Aku memperhatikan mobilku hilang dari penglihatanku. Awalnya sangat berat membiarkan Elena pergi meski hanya untuk melihat Irene, tapi aku tidak mau membuatnya semakin tidak nyaman. Jika terlalu dibatasi, aku takut dia semakin menjauhiku dan tidak ada jalan untukku untuk memasuki hatinya.
“Rasanya seperti kau benar-benar mencintainya Max,” suara seseorang membuatku membalikkan tubuhku.
Aku melihat Natt dengan gaun putih sebatas lututnya. Beruntung sekali dia tidak membuat ulah di acara pernikahanku dan aku tidak menyangka kalau dia mengikutiku ke sini. Padahal aku sudah meminta Rain untuk memperhatikannya, tapi sepertinya Rain tidak berhasil. Hingga Natt bisa membuntuti hingga ke hotel.
“Tentu saja, aku harus mendalami peranku bukan? Terlalu dini untuk membuatnya tahu bahwa aku ingin balas dendam dengannya,” ucapku dengan tenang, aku tidak mau Natt justru tahu bahwa aku membohonginya.
Natt pun mengangkat bahunya, kami berjalan pelan masuk ke dalam hotel dan disambut oleh beberapa pelayan dengan sangat mewah. Sayang, di sisiku bukan Elena melainkan Natt. Seharusnya Elena yang merasakan kebahagiaan ini, tapi jangankan untuk merasa bahagia. Melihat wajahku pun dia sudah enggan. Otakku bahkan akhir-akhir ini tidak bisa berpikir dengan jernih. Selalu saja, aku bingung harus melakukan apa agar El merasa baik. Sebaliknya aku malah membuat sesuatu menjadi lebih buruk untuknya.
“Kalau hari ini kita yang menikah. Aku pasti akan merasa ini sangat istimewa, Max, tapi sepertinya bukan sekarang aku bisa merasakannya. Aku akan menunggu hingga waktu itu tiba,” katanya di telingaku dengan yang dia maksud bahwa kami bisa menggelar upacara pernikahan yang lebih mewah setelah aku selesai membalas dendam pada Elena.
“Sebenarnya aku masih bertanya-tanya tentang apa yang kau katakan waktu itu,” ucap Elena terus mengikuti langkahku. Kami mengikuti beberapa pelayan yang memandu kedataganku. Pelayan itu menekan nomor 20 dan berdiri di depan lift.
“Tentang?” tanyaku mengangkat alisku.
“Kau bilang ayah Elena yang membunuh ibumu. Kau sudah menyelidikinya?”
Aku pun hanya mampu terkekeh mendengarnya. Aku sungguh tidak menyukai Natt. Sejak dulu aku tidak pernah menyukainya, tapi Ronald dan Alfred bersahabat baik sehingga aku secara tidak langsung harus terlibat dan bertunangan dengan wanita yang bahkan aku tidak mencintainya.
“Sudah dan memang benar Gilbert yang membunuh ibuku. Kenapa kau bertanya tentang itu? Apakah kau meragukan ayahku? Maksudmu ayahku berbohong tentang kematian ibuku?” tanyaku pada Natt yang kini terlihat kesal.
__ADS_1
Aku tahu dia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku menikah dengan Elena. Dia begitu pencemburu dan aku sungguh mengenalnya sejak lama. Siapa pun yang mendekatiku, bisa dia tarik rambutnya dan tampar sepuasnya. Ini pernah terjadi 3 tahun yang lalu. Saat itu ada artis baru yang akan debut mendekatiku. Natalie tidak hanya menarik rambutnya, tapi juga membuatnya takut tidak mau debut dan melakukan perjanjian kerja sama dengan agensiku. Aku tidak tahu jelas bagaimana ceritanya, tapi Rain melihat langsung dan menyampaikannya padaku.
“Bukan itu maksudku Max, tapi ini rasanya tidak benar karena kau harus berbuat sangat jauh sampai menikahinya. Ayahmu bilang, kau memutuskan hal ini sendiri tanpa berdiskusi dengannya. Bukankah…”
“Natt!”
Tepata sekali lift terbuka, aku menghentikan kalimatnya. “Aku bisa memutuskan apapun tanpa berdiskusi lagi dengan ayahku,” kataku lalu masuk ke dalam lift, tapi sebelumnya aku kembali membalikkan tubuhku ke arahnya.
“Oh ya, aku tidak suka wanita yang terlalu banyak mengatur,” kataku yang tentunya menimbulkan kerutan marah di wajah dan juga rahangnya. “Aku juga tidak suka kau mencampuri urusanku. Masalahku, biar aku yang menyelesaikan!”
Natalie tentu sangat kesal, tapi sayang aku tidak bisa menyaksikan kemarahannya lebih lama karena lift tertutup dan membawaku ke surga sebenarnya. Siapapun tidak bisa mencegah kebahagiaanku bersama Elena. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau untuk mendapatkan wanitaku.
***
“Pak David sudah di lift dan Bu Elen masih di jalan,” kata Rain dan aku mengangguk pelan seraya menyuruput americano.
“Menurutmu apakah acara ini akan sangat bagus ratingnya?”
“Yah seperti yang Pak David perkirakan. Ini pastinya akan sangat disukai oleh para penonton. Lagi pula ini acara kita, Pak. Pertama kalinya kita mengajukan kerja sama ini pada Pak David dan langsung disetujui. Bukankah ini memang ide bagus?”
Rain benar. Acara ini sebenarnya aku yang merancang. Aku berbohong pada Elena bahwa stasiun TV lebih dulu yang menawarkan. Awalnya ide itu hanya sebagai bumbu perekat antara aku dan Elena saja. Aku juga tidak berpikir kalau Elena akan menyetujuinya mengingat dia sangat benci padaku, tapi ternyata Elena tidak menolak. Ini kesempatanku untuk melakukan hal yang aku inginkan bersamanya.
“Pak David sudah datang,” ucap Rain dan aku segera berdiri menyambut kedatangan pria berkumis dengan ciri khas senyumannya.
__ADS_1
Dia terlihat cepat menua, tapi aku yakin ini karena pekerjaannya yang sangat banyak. Mungkin beberapa tahun lagi aku pun akan terlihat sepertinya jika tidak menjaga pola hidupku.
“Wah, baru saja kemarin bertemu dan kita hampir membatalkan acara ini, tapi sepertinya istrimu menyetujuinya,” ucap David dengan yang dia maksud adalah kemarin dia hadir di acara pernikahanku.
Aku pun hanya terkekeh menanggapinya lalu mempersilakannya duduk. Kami berbincang sebentar hingga akhirnya Elena datang bersama Jon dan juga Andrew. El sudah berganti pakaian dengan gaun floral khas dirinya. Rambutnya dikepang satu ke belakang terlihat seperti wanita zaman dulu dengan kecantikannya yang sangat alami. Aku menyukainya.
“Maaf aku terlambat,” kata El dan aku langsung menyambut kedatangannya. Tak lupa menunjukkan kemesraanku di depan David.
“Hahaha, tidak apa-apa. Kalian terlihat sangat mesra sekali, sepertinya semalam berhasil,” David mengedipkan sebelah matanya sungguh kode yang bagus.
Aku langsung menepuk punggung El untuk mengambil bagian actingnya dan tentu dia adalah El yang payah seperti yang aku kenal.
“O-oh itu, semalam aku dan Max cukup lelah. Iya kan, Sayang?” kata El benar-benar polos dan keterlaluan karena David terlihat menahan tawanya seolah mengejekku karena aku tidak berhasil membuatnya tidak jadi gadis lagi.
Bahkan aku juga bisa melihat Rain, Jon dan Andrew yang kini ikut menahan tawanya. El benar-benar menyebalkan! Sepertinya istriku masih harus banyak belajar.
“Tapi malam ini aku akan memakanmu, Sayang,” kataku membunuh rasa maluku dengan mencium punggung tangannya.
El pun menepuk punggungku cukup keras, tapi tanpa bersalahnya dia melebarkan senyuman ke arahku dan mencubit pipiku hingga sakit. “Kau tidak sabaran Max!” kekehnya menarik pipiku ke kanan dan kiri seolah mengatakan dia tidak mau aku makan.
“Hahaha aku rasa ini benar-benar akan menyenangkan. Kalian benar-benar pasangan yang serasi,” kata David yang aku tahu Elena pasti akan mencibir di dalam hatinya.
***
__ADS_1
Apakah yang akan terjadi nanti malam jeng jeng jeng wkwkwkw. Ada yang bisa menebak?