
ELENA POV
Perusahaan Winston pindah ke tangan Darrel. Anak bungsu Ronald dan Eliz itu nampak masih sedikit kalut mengenai keputusan hakim beberapa minggu yang lalu. Ya, Ronald dihukum mati dan bagi beberapa orang itu cukup memuaskan. Meski nama keluarga Winston tercoreng karena Ronald, tapi sepertinya suamiku sangat pintar menarik hati para pemilik saham untuk percaya pada Darrel
Kini keluarga kami terlihat semakin bahagia dan hari ini adalah perayaan ulang tahun Max. Berbeda dengan ulang tahunku, kali ini Max malah mengundang keluarganya. Tidak ada artis ataupun media yang boleh mengganggu moment hari ini.
“Max, kau bagaimana sih?! Kenapa masih tidur! Ibu sudah bangun dari pagi untuk menyaksikan anaknya ulang tahun hari ini, tapi kau masih sibuk dengan mimpimu!” kataku memukul bokongnya keras.
Max pun mengusapnya pelan seraya mencemberutkan bibirnya serta merengut layaknya anak kecil yang sulit menghadapi hari senin setelah libur.
“Cepat bangun! Jika tidak aku siram supaya kau beranjak dari ranjang!” marahku dan Max pun dengan malas-malasan mengubah baringannya menjadi duduk. Lalu tangannya mengarah padaku.
“Aku ingin kau mengangkatku dan membantuku mandi, Sugar. Mataku masih sangat berat,” ucapnya masih memejamkan mata.
Aku pun memukul punggungnya. “Kau ini! Cepat bangun!” Aku menarik tangannya dan Max pun terjatuh ke atas lantai. Dia meringis lalu membuka matanya.
“El, kau sangat kejam! Ini sakit!” katanya mengusap-usap bokongnya seraya berdiri. Rambut berantakan dan tubuhnya yang atletis itu nampak begitu menggoda di pagi hari, dan rasanya sangat senang menerima kenyataan bahwa hidup kami saat ini terasa damai, tidak seperti sebelumnya.
“Sudah cepat mandi!” kataku mendorongnya menuju kamar mandi, tapi Max membalikkan tubuhnya.
“Ngomong-ngomong, bukankah gaun itu terlalu terbuka?” tanya Max begitu dia sadar bahwa aku sudah siap dengan hari ini.
“Ibu yang memilihkan untukku,” jawabku tak mau melihatnya marah karena memang Rose (ibu kandung Max) sendiri yang memilihkan baju untukku.
Saat ini keadaannya memang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebelumnya Rose tidak mengenal anaknya dengan baik karena Eliz bilang Rose pernah mencoba bunuh diri, tapi akhirnya bisa diselamatkan. Setelah kejadian itu dia tidak ingat apapun, dia tidak ingat punya suami bahkan anak. Dia juga tidak tahu di mana tempat tinggalnya atau siapa dia, tapi aku rasa sekarang Rose semakin membaik. Meski masih sulit untuk berbincang seperti orang tua pada umumnya, tapi Rose bisa tertawa dan meminta apapun yang dia inginkan. Oh ya, dia juga masih di atas kursi roda dan Max melakukan terbaik untuk pengobatan ibunya.
“Ganti sekarang!” perintah Max mulai menjadi suami yang posesif.
Well, dia tidak pernah berubah. Pencemberu, posesif dan sangat buas jika itu mengenai diriku.
__ADS_1
“Max, ini sangat bagus,” kataku dengan memanja di lengannya. Lalu memasang wajah memohonku padanya. Aku mulai berubah menjadi wanita yang lembut lagi setelah memarahinya habis-habisan karena tidak bangun dari ranjang.
“Aku bilang ganti, maka ganti!” kata Max tidak bisa aku bantah.
“Yasudah! Aku menunggumu selesai saja. Kau yang pilih gaunku! Kau puas?!” kataku dan Max mengangguk singkat lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Huh! Aku mengangkat tanganku ingin sekali memukulnya, tapi Max tiba-tiba membuka pintu kamar mandi membuatku langsung pura-pura menggaruh kepalaku.
“Jangan lupa ingatkan ibu untuk minum obatnya,” ucap Max lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Aku pun keluar dari kamar seraya membawa HP-ku yang sudah penuh di cas. Aku lihat ada pesan dari Kak Irene yang katanya sudah di jalan. Akhirnya, setelah apa yang terjadi aku bisa bertemu dengan kakak, keponakan bahkan iparku, tapi Max dia belum sempat menemui Kak Irene. Karena itu, dia memintaku mengundang Kak Irene datang. Max memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Setelah dia mengajukan gugatan ke pengadilan. Dia juga masih membantu Nattalie untuk mengurus surat-surat perpindahannya. Nattalie akhirnya memutuskan untuk pindah dan berkarir di luar negeri. Meski Namanya sempat terseret karena ulah ayahnya, tapi Max sungguh melakukan yang terbaik. Tuhan, tolong beri kesehatan untuk suamiku. Tolong beri kebahagiaan untuk kami. Aku percaya hukum tabur-tuai itu ada.
***
Max benar-benar menyebalkan. Dia memilihkan gaun yang benar-benar tertutup dari pergelangan tangan hingga ke atas mata kakiku. Padahal ini musim panas, tapi dia menghukumku dengan baju yang sangat tidak nyaman ini.
“Max, acaranya kan di taman! Ini sangat panas!” bisikku padanya.
“A-arnold? Kau mengundangnya?” tanyaku tak percaya kalau suamiku akan mengundang pria yang sangat dia tidak suka itu.
“Iya! Karena itu kau harus pakai baju itu! Tidak ada bantahan lagi! Kau mengerti?!”
“Tapi kenapa? Kau tumben sekali mau mengundangnya?”
Max pun yang sedang merapikan dasinya bersama pelayan menoleh ke arahku. Lalu setelah pelayan selesai merapikan jas serta dasinya, Max mendekatiku. Dia menarik tanganku, lalu menarikku ke atas pangkuannya begitu dia duduk di atas sofa ruang wardrobe ini.
“Kejadiaannya mungkin sudah beberapa bulan yang lalu, tapi aku ingin meminta maaf padanya secara langsung,” ucap Max seraya menyingkirkan sisa anak rambutku yang tidak bisa ikut terikat.
Aku pun melingkarkan tanganku pada lehernya. Lalu menyandarkan kepalaku di pundahknya. “Aku tahu kau orang yang baik. Aku tahu kau tidak bermaksud begitu. Itu memang salahku dan aku sempat minta maaf pada Arnold secara langsung. Aku juga mengatakan padanya bahwa aku sempat melibatkannya,” kataku dan Max menepuk bokongku.
__ADS_1
“Oh jadi begitu! Kamu sudah mulai berani menemuinya lagi tanpa seizinku!” marah Max, tapi aku hanya bisa tertawa. Kukecup pipinya lalu berdiri dari pangkuannya.
“Aku bertemu dengannya hanya sebentar. Aku hanya ingin mengembalikan buku miliknya sekaligus minta maaf. Kau jangan berlebihan!” kataku memukul bahunya dan Max pun ikut berdiri dari duduknya.
Dia kembali merapikan jasnya di depan cermin lalu menarik tanganku untuk menempel pada lengannya.
“Ya, kau tahu kalau aku memang selalu berlebihan jika itu tentangmu,” ucapnya seraya membawaku keluar dari ruang pakaian. Kami sudah siap untuk bertemu dan bergabung dengan yang lainnya. “Ngomong-ngomong, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku bicarakan pada Arnold,” kata Max padaku, tatapan matanya mengikuti langkahku yang tengah menuruni anak tangga. Dia sungguh menjagaku agar tidak jatuh, bahkan dengan tidak sabarnya dia menggendongku ala bridal.
“Hal lain? Apa?” tanyaku ingin tahu.
“Karena perusahaanku semakin besar dan terkenal. Bahkan sudah bisa mencapai kerja sama dengan negara lain. Aku juga ingin punya bisnis di bidang fashion,” kata Max membuatku terkejut.
“La-lalu kenapa Arnold? Kenapa tidak aku?”
Sebenarnya aku begitu sedih mendengar ucapan Max. Nyatanya Max tidak pernah menganggap bahwa aku punya kemampuan dalam bidang fashion. Padahal jelas-jelas dia tahu aku ini pernah sekolah desain. Aku juga ingin sekali punya butik sendiri, tapi dia malah memilih Arnold.
Max tertawa pelan seraya menurunkanku. Lalu mengacak rambutku seperti anak kecil. “Bisnis ini memang untukmu. Kau yang akan jadi pemimpinnya, tapi kau tidak mungkin melakukannya sendiri kan? Aku dengar Arnold sudah menyelesaikan studinya di luar negeri lebih cepat. Karena itu, aku ingin kau bekerja sama dengannya. Aku yang akan mendanai semua kebutuhan kalian.”
Aku pun menatap Max haru. Padahal hari ini dia yang ulang tahun, tapi kenapa aku yang dia berikan kejutan? Aku pun memeluknya erat, mungkin karena saking terharunya, aku tidak sengaja membuat jas mahal Max jadi basah.
“Hahaha apa kau terlalu menyukaiku? Jasku basah karenamu, Sugar!”
Aku pun memukul dadanya masih di dalam pelukannya. “A-aku hanya sangat senang karena akhirnya kau mengabulkan permintaanku. Bahkan kau sedang berusaha bicara dengan Darrel untuk mengembalikan perusahaan Kak Irene. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu.”
Max melepas pelukanku. Dia mengusap pipiku yang basah karena menangis lalu membisikkan sesuatu padaku.
“Aku hanya ingin hadiahku hari ini. Aku ingin kau memakai hadiah yang pernah kuberikan malam itu.”
Tiba-tiba aku bersemu merah. Sudah lama aku tidak mengingat benda itu. Bahkan Max tidak pernah memaksaku memakainya, tapi ternyata dia masih mengingatnya. Apa mungkin selama ini dia menunggu? Hanya, dia tidak mungkin mengatakannya dengan terang-terangan karena tidak mau membuatku terpaksa atau malu.
__ADS_1
“Tidak akan!” kataku lalu berlari menuju taman belakang.
Tinggal beberapa part lagi nih!!! Jangan lupa like dan komennya^^