Naughty Sugar

Naughty Sugar
[4] Sekamar Dengannya


__ADS_3

ELENA POV


Mataku mengerjap pelan. Mencium aroma wangi yang tiba-tiba menusuk hidungku. Aku pun melebarkan pandanganku; menemukan lampu-lampu mewah menggantung di atas langit-langit ruangan yang tidak pernah aku tahu sebelumnya.


“Nona, Anda sudah bangun?” seorang wanita paruh baya yang aku yakin sebagai kepala pelayan di rumah mewah ini.


Beberapa orang lainnya yang berdiri di belakangnya menundukkan kepala seolah menyapaku dengan membawa sebuah makanan di sebuah nampan bewarna emas elegan di tangan mereka.


“Aku… di mana?” tanyaku melihat ke arah sekitar nampak asing dengan ruangan ini.


Namun interior ini sungguh bukan tipikalku. Aku lebih suka rumah Sara dibandingkan rumah ini. Dinding dengan warna abu-abu ini sungguh membuatku merasa tinggal di ruangan penuh kesedihan, tapi ruangan ini sangat besar untuk dijadikan kamar. Aku mungkin tidak akan nyaman tidur sendiri di ruangan besar seperti ini. Aku benci sendiri di ruangan besar.


“Nona, Anda saat ini di kediaman Tuan Winston,” ucap pelayan itu. Aku mulai paham. CEO seperti Max tentunya lebih suka rumah bergaya modern dibanding mansion tua seperti rumahku. Sungguh, selera kami berbeda. “Saya Tina, kepala pelayan di rumah ini. Sudah waktunya Nona dan Tuan makan malam, tapi sepertinya kalian lelah. Jadi kami membawa makanan ini ke kamar untuk kalian,” ucapnya lalu aku melihat para pelayan di belakangnya berjalan menuju meja besar berada di ujung kamar.


Mereka menata makanan dengan rapi dan aku menyadari sudah begitu lama tidak pernah merasaka hal ini. Aku bukan lagi seorang putri yang dilahirkan dari keluarga kaya raya seperti saat orang tuaku masih hidup. Tidak ada makanan di bawa ke dalam kamar karena aku dan Kak Irene selalu sibuk dengan dunia kami masing-masing. Kami hanya memiliki pembantu yang selalu menyiapkan makanan, tapi itu pun selalu sudah dingin dan kembali harus dihangatkan jika memang aku benar-benar lapar. Jika tidak, terpaksa pembantuku juga yang akan menghabiskannya dan Kak Irene tidak keberatan dengan itu; pun aku.


“Ini baju ganti Anda, Nona.” Tina memberikan baju kepadaku, berbahan satin bewarna putih. “Anda bisa memanggil saya jika memerlukan sesuatu. Kami permisi dulu,” ucapnya keluar dari kamar tapi aku segera turun dari ranjang menahan pintu yang akan dia tutup.


“Ohh Tina, maaf aku…” aku mencegah kepergiannya. Dia kembali masuk ke dalam kamar tanpa pelayan yang sudah dia suruh pergi.


“Iya Nona, ada memerlukan sesuatu yang lain?”


“Hemm ini, aku tidak nyaman kamar sebesar ini. Aku tidak terbiasa tidur sendiri di ruangan besar. Sebenarnya… aku sedikit takut dengan ruangan besar. Apakah tidak ada ruangan lain-“


“Tidak ada!”


Belum aku menuntaskan kalimatku tiba-tiba seseorang menyelaku. “Nona, saya permisi.” Tina kembali menutup pintu kamar dan aku ingin mencegahnya lagi, tapi seseorang menarikku hingga keningku menabrak sesuatu yang membuatku ternganga lebar.


Euoh, dada bidang ini! Sudah lama aku tidak pernah melihat dada bidang seorang pria. Mungkin karena aku bergaul dengan teman-teman desainku di sekolah. Mereka laki-laki setengah wanita, hi hi hi. Tubuh mereka bahkan lebih cantik dariku dan kali ini aku bisa melihat pahatan indah di dada seseorang. Teman perempuanku mengatakannya roti sobek dengan potongan kotak-kotak yang indah maha karya Tuhan. Uh! Mesumnya aku! Aku segera memukul kepalaku sendiri.

__ADS_1


“Kau menyukainya, hem?” tanyanya membuatku mendongak ke atas dan menemukan pria brengsek yang sangat kubenci.


Aku langsung mendorongnya hingga dia terhuyung dan oh God! Mataku kotor! Handuk yang melilit tubuhnya tiba-tiba jatuh ke atas lantai membuatku refleks berteriak dan membalikkan tubuhku.


“Kau kurang ajar! Kenapa kau di kamarku! Kau sengaja ingin melecehkanku, hah!” teriakku tak terkendali.


Dia sungguh pria brengsek, playboy, arogan, dan tak tahu etika! Bisa-bisanya dia hanya memakai handuk di kamar seorang gadis sepertiku. Eh, tapi ini kan memang rumahnya. Aku juga baru lihat dia muncul. Apakah kamar ini miliknya?


“Di mana kamarku?!” sergahku membalikkan tubuh dan mengintip sejenak apakaha dia sudah menutupnya kembali.


Namun ternyata, aku mendengar kekehan dari bibirnya dan kini dia berjalan menuju sofa, mengambil baju piyamanya yang tentu warnanya senada dengan baju yang tadi Tina berikan padaku.  Aku masih mengintip dari sela-sela jariku dan melihatnya memakai piyama itu dengan rapi. Aku pun segera menyingkirkan tanganku dan berjalan ke arahnya dengan bertolak pinggang.


“Di mana kamarku?! Kau ini tuli ya!” kataku lagi dengan penekanan yang ada.


Max menghapus jarak kami. Dia mendekatiku dan meraih pinggangku. Aku cukup terkejut karena semakin lama, aku makin mengerti kalau dia sering kali melakukan hal ini jika aku membantaknya seperti tadi.


“Ini kamarmu, Sugar. Apakah kau tidak suka?” bisiknya di telingaku lalu tiba-tiba aku merasakan embusan napasnya di tengkukku.


“Mandilah! Atau kau mau aku bantu mandi? Aku tidak keberatan,” dia menaikturunkan alisnya dengan senyuman khasnya merendahkan seorang wanita.


Namun dengan senyuman itu, aku rasa dia sudah melakukan hal ini berulang kali dengan wanita di luar sana. Apalagi, aku dengar dunia entertainment itu terkenal dengan hal-hal nyeleneh. Dia ini bos dari salah satu agensi terkenal di negara ini. Dia juga pasti sudah puas menggoda semua artisnya dari yang papan atas sampai yang masih menjadi traine. Dasar pria hidung belang! Aku langsung menginjak kakinya hingga dia mengaduh kesakitan. Aku tertawa puas seraya berjalan mengambil bajuku yang tadi aku tinggal di atas ranjang.


“Setelah ini, aku akan mencari kamar kosong! Aku tidak mau sekamar dengan pria sepertimu! Kita belum menikah!” kataku sangat lugas dan aku yakin dia mendengarnya dengan baik karena dia tidak tuli.


***


Usai mandi, aku tidak menemukan pria brengsek itu di kamar, tapi aku lihat sebuah piring kosong bekas seseorang menggunakannya untuk makan. Akhirnya setelah mandi aku memutuskan untuk menghabisi semua makanan dan mencari Tina.


“Nona, Anda mencari saya?” tanyanya berada di bawah anak tangga, sementara jarakku tidak jauh dengannya seraya melirik kanan-kiri mencari keberadaan pria itu.

__ADS_1


Aku harap dia tidak mendengarku meminta Tina untuk mencarikan ruangan lain. “Kau lihat koperku?” tanyaku padanya.


“Oh itu, ada di wardrobe Tuan. Rumah ini memiliki ruangan-ruangan khusus seperti baju, sepatu, tas, dan koleksi Tuan Winston seperti dasi dan juga jam tangannya. Nona bisa ikuti saya,” katanya langsung menaiki tangga besar yang kini aku pijaki tanpa sandal.


Aku rasa, rumah ini tidak cocok denganku. Apakah aku bisa tinggal di sini dengan nyaman? Apalagi pria itu terus menindasku. Dia mengatur kamarku untuk sekamar dengannya. Apa dia gila! Kami bahkan belum menikah, tapi dia sudah mau tidur denganku. Apa dia mempunyai maksud lain di tengah malam nanti ketika aku tidur? Bagaimana jika dia melepaskan bajuku dan…


Ahh ini gila!


“Nona, silakan masuk,” ucap Tina membuka ruangan yang tak kalah besarnya dengan kamar tadi.


Tidak! Ini bahkan tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya! Aku rasa, Max benar-benar kaya raya. Aku tidak berpikir dia mempunyai ruangan ini sebelumnya. Dia sungguh fashionable dan tentunya maniak belanja. Bagaimanapun juga, dia memang menyesuaikan pekerjaannya di dunia entertaiment.


“Nona, baju Anda sudah kami rapikan,” Tina mendorong pintu kaca yang sangat besar hingga menampilkan baju-baju kesayanganku yang kini terlihat lusuh dibanding dengan baju-baju Max yang tadi aku lihat.


“Tuan juga sudah menyiapkan beberapa baju baru untuk Anda,” ucap Tina lagi kini mendorong lemari kaca di sebelahnya menampilkan baju terbuka yang membuatku langsung mendengus gusar.


Aku tidak lupa kalau dia juga maniak wanita berbaju seksi!


“Aku tidak akan menggunakannya. Dia kira, aku ini wanita apa?” rengutku, tapi Tina kembali mendorong lemari-lemari lainnya yang membuatku terpana.


“Anda bisa memilih manapun yang Anda mau, Nona. Ini semua Tuan yang memilihkannya untuk Anda.”


Aku segera menyentuh beberapa baju floral yang aku suka. Dia benar-benar tahu tipeku. Aku kira, dia hanya membelikan baju dengan belahan terbuka saja, tapi ternyata… dia tidak seburuk yang aku bayangkan.


“Tuan benar-benar peduli dengan Anda, Nona. Sebelumnya, tidak ada wanita yang dia perhatikan sedetail ini,” ucap Lala di belakangku yang sedang berkaca mencoba dress floral bewarna tosca.


Aku pun tersenyum diam-diam. Benarkah? Pria brengsek itu?


“Sebaiknya, Anda menuruti kemauan Tuan. Tuan tidak akan mengizikan Anda pindah dari kamarnya,” kata Tina mendadak mengingatkanku tujuan utamaku tadi. Aku tidak mengira, Tina menebak apa yang aku pikirkan.

__ADS_1


“Jika tidak ada lagi sesuatu yang Anda perlukan, saya akan pergi menyiapkan dessert untuk Anda dan Tuan. Saat ini Tuan sedang di ruang baca. Anda bisa menyusulnya jika mencarinya,” ucapnya seraya merendahkan kepalanya ke arahku dan pergi meninggalkanku yang masih menatap tak percaya ruangan ini.


Dia menyiapkannya untukku? Jika dia memang orang jahat apakah harus benar-benar serius mendalami pernikahan ini? Ah sudahlah, selain seorang CEO, dia memang aktor terhebat di agensinya. Aku dengar sebelum dia menjadi CEO, dia juga merintisnya dari bawah; menjadi artis pertama di agensinya sendiri.


__ADS_2