Naughty Sugar

Naughty Sugar
[12] Hari Pernikahan


__ADS_3

ELENA POV


Sebuah dentingan sendok beradu dengan piring-piring mahal di dalam ruangan yang sangat besar ini. Aku mulai sangat lelah karena harus menyalami banyak orang dan juga tentunya wawancara tidak ada habisnya. Meski Max bilang Aaron dan Rain sudah membatasinya, tapi tetap saja sangat banyak. Apalagi aku harus berpura-pura bahagia di pernikahan ini. Mengatakan pada mereka bahwa aku dan Max saling mencintai.


“Sugar, ada apa?” Max membisikkan sesuatu di telingaku.


Tangannya tidak lepas dari pinggangku seolah dia menjagaku untuk tidak kabur dari pernikahan yang dia gelar dengan harga tidak murah ini. Gaun, souvenir, undangan bahkan menyewa tempat yang katanya fenomenal dengan harga fantastisnya bisa dia lakukan dengan mudah. Tanpa perlu memikirkan bagaimana hari esok dan juga efek dari perjanjian suci ini untuk seumur hidup.


“Aku kan sudah bilang untuk selalu minum vitamin. Apakah kau lelah?” suaranya terdengar tidak suka dan aku hanya mampu menghela napas.


“Jika aku lelah, apa kau akan menghentikan resepsi ini? Kau tetap akan menggelarnya sampai malam kan?!” bisikku bergantian dan aku bisa merasakan tangan Max yang mengendur.


Lalu dia tiba-tiba mengangkat tubuhku ala bridal membuat semua wartawan berlari menghampiri kami dan mengambil beberapa foto yang pastinya menarik untuk disebarkan ke media.


Aku hanya mampu menyembunyikan wajahku di dadanya dan ketika para wartawan bertanya, aku sedikit melirik ke arah Max yang tersenyum lebar. “Sepertinya tidak bisa terlalu lama, karena kondisi istriku kebetulan sedang tidak fit. Kami terpaksa tidak bisa sampai malam tapi acara ini tentunya akan tetap berjalan karena ada penyanyi seperti Valley, Hana, Frans, dan beberapa lainnya yang saya undang untuk acara hari ini. Kalian juga bisa menikmati makanan yang sudah kami sediakan. Hari ini kami sangat senang bisa berbagi kebahagiaan, sampai jumpa!”


Kata-kata itu menutup penjelasan Max dan beberapa bodyguard memberikan pertahanan untuk kami dari para wartawan yang masih ingin bertanya. Diam-diam aku menghela napas dan mulai sedikit kembali merasa kesedihan.


“Kita akan ke hotel,” jelas Max begitu kami masuk ke dalam mobil. “Untukmu, Sugar,” ucap Max memberikan sebuah buket mawar besar kepadaku seraya menutup pintu mobil di sisinya.

__ADS_1


Aku memandang keluar kaca mobil, Andrew lantas melajukan mobilnya cepat dan aku baru menyadari ada beberapa orang yang nampak baru datang, termasuk teman-teman yang aku kenal baik. Sayang sekali, tidak seperti yang Max katakan di depan media. Aku justru tidak bisa membagikan rasa bahagiaku karena memang aku tidak bahagia dengan pernikahan ini. Aku semakin merasa tertekan dengan kehidupan yang kata orang seharusnya menjadi hidup baru. Aku tidak merasa terlahir kembali, melainkan merasa dikutuk karena harus tinggal dengan pria yang tidak aku cintai.


“El,” tiba-tiba aku merasakan tangan Max yang menggenggam tanganku. “Tidak bisakah hari ini saja kau memandangku lebih lama? Kita seharian ini bersama, tapi sekalipun kau tidak pernah benar-benar memandangku. Kau terus membuang tatapanmu ke tempat lain dan memaksakan diri untuk terus tersenyum.”


“Bukankah memang itu yang kau inginkan?”


“Inginkan? Apa maksudmu?”


“Iyah berpura-pura tersenyum, berpura-pura dan terus ikuti permainannya,” jelasku dan Max hanya menghela napas panjangnya. Mengecup punggung tanganku sekali, dan tidak sama sekali melepasnya sepanjang perjalanan.


Hening. Aku memikirkan bagaimana keadaan Kak Irene sekarang. Apakah dia dan bayinya baik-baik saja? Apakah Kak Irene sudah menemui pria itu?


“El, sebenarnya ada salah satu TV swasta yang mengajak kita untuk membuat program kegiatan after married selama 5 bulan. Aku tidak yakin kau mau. Jadi aku menolaknya meski keuntungannya sangat besar untuk kita.”


“Diperkirakan sekitar 4 milyar atu bisa lebih.” (anggap ini hitungan di luar negeri geys, bukan Indonesia)


“Apa?” aku menolehkan kepalaku ke arahnya.


Beberapa hari yang lalu, aku ingat dia hanya ingin anak laki-laki sebagai penerusnya. Aku menyetujui itu dengan syarat aku tetap bisa bertemu dan sesekali merawat anakku. Akhirnya perjanjian diawal yang harusnya aku menikah selama 8 tahun pun berubah. Aku sudah mengira-ngira, jika aku tidak bisa mendapatkan anak laki-laki di tahun pertama pernikahan kami, maka bisa di lain kesempatan dengan syarat aku tidak ingin selalu tinggal di rumah dengannya. Aku tidak peduli jika nanti dia kembali dengan Natt ataupun wanita lain. Yang jelas aku menikah dengannya sejak awal memang hanya ingin melunasi hutang.

__ADS_1


Kini mendengar uang 4 milyar rasanya semangatku membara. Setelah aku menyelesaikan perjanjian ini, aku memang punya rencana ingin punya butik sendiri. Aku juga ingin sekali membantu kak Irene dalam membangun bisnisnya lagi, tapi sebelumnya aku tidak tahu harus mencari uang ke mana, tapi mendengar apa yang Max tawarkan rasanya sangat menggiurkan.


Namun Max mengangkat bahu dan tangannya secara bersamaan. “Kenapa? Bukankah kau membenciku? Kau tidak mau menikah denganku dan kau tidak suka melakukan hal bersamaku. Kau tahu kegiatan after married itu akan menunjukkan hal-hal romantis setelah menikah. Kau bahkan tidak bisa marah padaku karena pastinya akan ada feedback jelek yang kamu terima.”


Mendengar itu jelas aku sangat emosi. Apa dia bilang? Feedback jelek yang aku terima? Lalu bagaimana dengan dia? Apakah hal jelek itu hanya aku yang terima? Rasanya sangat tidak adil bukan?


“Kau pasti akan diejek karena tidak bersyukur mempunyai suami yang tampan, kaya raya dan baik hati sepertiku. Apalagi kalau kau membahas tentang perceraian, kau kira apa yang orang lain pikirkan tentangmu?”


Aku terdiam sejenak. Memang menyebalkan jika bicara dengannya. Tidak ada hal yang menyenangkan karena pada akhirnya dia hanya akan melukaiku. Apakah dia kira, menikah dengan pria tampan dan kaya itu cukup? Baik hati itu hanya dari kaca matanya saja, sementara di mataku, dia tidak jauh dari iblis yang menghisap darah manusia.


“Aku akan acting dengan bagus. Kau harus kembali menghubungi stasiun TV yang menawarkan program itu. Oh ya, dan satu lagi, hari ini aku ingin bertemu dengan Kak Irene. Kau bilang, kau tidak mengundangnya karena takut dia menghancurkan acara kita bukan? Kalau gitu sekarang aku ingin pulang. Tidak masalah meski hanya sebentar. Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku.”


“Andrew, kau bisa turunkan di lobby. Kau dan Jon antarkan Elena ke rumahnya. Aku ingin dia kembali dengan selamat,” perintahnya ada Andrew dan aku melirik sekilas padanya.


“Jon?” tanyaku baru pertama kali mendengar nama itu.


“Dia yang akan menjagamu kemana pun kamu pergi. Jon adalah anak Tina dan kakak Andrew. Mereka satu keluarga,” jelas Max membuatku mengangguk pelan.


Aku merasa kalau Max lebih perhatian padaku. Kali ini dia mengetatkan penjagaannya padaku. Mungkin karena beberapa hari belakang aku tidak bisa menyembunyikan rasa traumaku karena racun waktu itu. Bahkan ketika tadi aku bertemu dengan keluarga Max kembali. Tanganku bergetar hebat. Aku tidak tahu siapa pelaku sebenarnya yang ingin membunuhku kemarin, tapi Max seperti menenangkanku.

__ADS_1


 ***


Apakah... apakah... apakah... wkwkwkwwk. Ditunggu kelanjutannya!! Jangan lupa like dan komennya huhuhuhu


__ADS_2