
ELENA POV
“Maaf membuat sedikit keributan, tapi aku memang suami yang pencemburu. Aku tidak suka istriku bersama orang lain meski mereka hanya teman sekolah dan satu lagi… berita yang telah beredar di pagi ini tidak benar. Aku mencintai istriku sejak lama, bahkan sebelum aku membangun agensiku. Aku akan segera berbagi cerita pada kalian semua di program after married,” ucap Max lalu dia membawaku melewati red carpet dan masuk ke dalam gedung kantornya.
Begitu sampai di dalam gedung pun Max menurunkanku. “M-max m-maaf,” ucapku tidak tahu harus bagaimana. Dia pasti sangat marah padaku.
“Bisa-bisanya kau melakukan itu padaku!” ucap Max tiba-tiba mengeluarkan air matanya membuatku terkejut. “Kau tidak tahu apa yang aku rasakan ketika melihatmu bersamanya?!”
Aku semakin merasa bersalah karena Max nampak sangat terluka. “A-aku-“
Max tidak membiarkanku bicara. Dia mencumbuku, menahan tengkukku dan membiarkanku memahami apa yang dia rasakan saat ini. “Kau tahu? Kehilanganmu sama saja seperti aku kehilangan separuh jiwaku. Aku tidak akan mungkin bisa hidup normal tanpamu. Jadi berhentilah menyakiti perasaanku, El!”
Aku semakin merasa bersalah padanya. Padahal aku hanya ingin menunjukkan pada Nattalie dan semua orang bahwa Max adalah milikku dengan rasa cemburunya. Aku hanya tidak tahu kalau amarah Max bisa separah itu. Apalagi ini terjadi di acara penting perusahaannya sendiri. Meski semua yang aku inginkan sudah terwujud, tapi…
“Aku kesal dengan berita pagi ini. Itu juga menyakitiku tahu!” aku malah mencoba membela diriku sendiri.
Max pun terkekeh, lalu mengusap air matanya sekaligus menyentuh ujung bibirnya yang terluka.
“Biar aku obati! Kita ke ruanganmu dulu,” pintaku dan Max menahan tanganku. Dia mengeluarkan sapu tangannya, menyeka darah yang keluar sebisanya dan menggenggam tanganku.
“Acaranya hampir dimulai, Sugar,” ucapnya. “Dan kau akan mendapatkan hukuman secepatnya karena telah melakukan sesuatu dengan seenaknya tanpa memikirkan perasaanku.”
Aku pun mencemberutkan bibirku, selalu saja berakhir dengan hukuman. Ah, tapi aku juga harus meminta maaf pada Arnold. Aku memang seharusnya tidak melakukan itu.
“Kita bisa menyelesaikan semuanya bersama, Sugar. Jangan lakukan hal seperti itu lagi, mengerti?!”
__ADS_1
Aku pun menganggukkan kepalaku lalu menunduk karena sangat merasa bersalah.
“Dan setelah ini, aku rasa Ronald akan semakin memburumu. Media pasti akan menyebarkan pengakuanku tadi. Natt pun akhirnya akan tahu bahwa aku menikahimu dengan serius. Dia akan semakin membencimu dan berusaha melukaimu. Malam ini jangan pernah pergi jauh dariku, mengerti?!”
Aku menganggukkan kepalaku.
***
Pesta yang sangat meriah dan aku menemukan banyak sekali hidangan manis disusun dengan cantik.
“Max, kau kenapa?!” suara seseorang yang tidak pernah aku lupakan. Nattalie, meski kami hanya bertemu sekali ketika makan malam, tapi aku sangat hafal suaranya.
“Kau terluka,” ucapnya lagi hampir menyentuh bibir Max, tapi Max langsung menahan tangan Nattalie dan melepasnya dengan kasar.
“Apa kau tidak lihat ada istriku di sini? Dia bisa salah paham dengan perasaanku, dan satu hal yang perlu kau ketahui! Hubunganku dan Elena tidak sebercanda itu,” kata-kata Max membuatku sangat terpukau sekaligus merasa benar-benar dia lindungi.
“Aku harus kasih penyambutan, Sugar. Kau akan duduk paling depan,” ucap Max dan dia menarik tanganku.
Sekilas aku lihat wajah Nattalie yang menatapku dengan benci. Tentu saja, dia pasti sangat membenciku karena tunangannya saat ini sudah menjadi suamiku. Max lebih mencintaiku dari apapun.
Begitu sudah di depan, Max mencium keningku dan membiarkanku duduk di samping Eliz, ibu angkat Max. “Jangan pergi ke mana pun sampai aku selesai,” bisik Max dan aku menganggukkan kepala.
Melihat Max naik ke atas panggung dan melambaikan tangannya. Aku dengar beberapa orang di belakangku berbisik mengenai luka yang Max dapat di ujung bibirnya. Sementara aku hanya bisa menggenggam tanganku satu sama lain. Aku memang bodoh!
“Kau, apa kau tidak mau menyapaku?” suara Eliz membuatku lupa menyapanya.
__ADS_1
Aku pun membungkukkan tubuhku sedikit ke arahnya lalu mencoba tersenyum. “Maaf, Bu. Aku sampai lupa menyapamu karena terlalu fokus pada suamiku. Dia mendapatkan luka karenaku,” ucapku padanya dan Eliz terkekeh sejenak.
“Rasanya seperti dejavu,” ucap Eliz tiba-tiba membuatku tak mengerti.
“Maksud Ibu?” tanyaku.
“Iya, kau dan Max, cinta kalian… aku sudah pernah menyaksikannya,” jawabnya lagi semakin membuatku penasaran. “Tapi aku harap, hal yang pernah terjadi di masa lalu, tidak akan pernah terjadi lagi,” katanya lalu tiba-tiba Eliz menarikku ke dalam pelukannya.
DOR! Aku terkejut bukan main. Tubuhku bergetar ketika tubuh yang memelukku seperti hampir luruh, tapi aku berusaha menahannya.
“I-ibu a-apa yang terjadi?” bisikku dan beberapa orang mulai rebut.
“Ka-katakan pada Max, maafkan a-aku ti-dak bisa menjaganya de-dengan baik. Ayahnya bukan Ronald. Semua rahasia ada di bawah ranjang kamar Ronald. Kalian harus bahagia,” ucapnya dan tiba-tiba tubuh itu tak lagi bergerak.
Aku rasakan tubuh Eliz yang diangkat dari pelukanku dan Max nampak menyentuh wajahku. “Kau baik-baik saja?!” tanyanya tapi air mata yang menggenang di pelupuk bola mataku membuat tatapanku kabar.
“M-max,” tangaku bergetar ingin menggapainya, tapi Max nampak sibuk mengangkat Eliz dan berteriak untuk menghubungi nomor darurat.
“Andrew, kau urus Eliz. Lalu hubungi Teddy untuk segera ke sini melacak semuanya. Aku dan Jon akan membawa El,” suara Max nampak begitu jelas di telingaku. Lalu aku tidak tahu apa lagi yang terjadi saat tubuhku terasa melayang.
Eliz… apakah dia mati? Apakah dia mati karena melindungiku?
“Sugar, kau baik-baik saja?” suara Max lagi.
Max lalu menurunkanku dan melepas jaket tebalnya untuk menutupi seluruh tubuhku yang kini semakin dingin meski sudah dibaluti jaket bulu pasangan gaunku. Kejadian tadi sungguh membuatku ketakutan.
__ADS_1
“M-max aku takut,” ucapku dan Max kembali mengangkatku. Lalu aku rasakan Max yang berlari keluar dari gedung. Suara-suara keriuhan yang membuatku semakin dihantui terus berputar di kepalaku. Aku sungguh takut mengingat hari ini.
Bagaimana bisa aku membuat Eliz mati karenaku?