
MAX POV
“Jon kita langsung ke rumah,” perintahku membawa Elena ke dalam mobil. Lalu Jon menutup pintu mobil dan aku lihat dia memberikan perintah pada anak buahnya.
“M-max aku takut,” suara Elena dalam pelukanku. Bisa aku rasakan tubuhnya yang bergetar hebat.
Aku pun menguatkan pelukanku dan merogoh sakuku. Menghubungi Martin agar segera bertemu denganku di rumah.
“Tuan sepertinya kita diikuti,” intrupsi Jon seraya melihat ke arah spion luar.
Aku pun menghela napasku kasar. “Jon dengarkan aku! Sekalipun aku harus mati hari ini. Tolong jaga Elena, kau harus membawa Elena ke tempat yang aman.”
“Tuan, sebenarnya… sebelum Eliz tertembak tadi. Dia memberikan pesan padaku. Semua kenangan Anda di masa lalu, Ronald menyimpannya. Semua ada di kamarnya, di bawah ranjang kamar Ronald,” ucap Jon membuatku menatapnya tidak percaya.
Kalau begitu bukankah hal itu tidak bisa aku sia-siakan? Aku tidak bisa mati hari ini. Aku harus tahu apa yang terjadi pada hidupku. Ah, bukan! Apa yang terjadi dengan orang tuaku. Kenapa Eliz menyimpan rahasia hidupku yang masih hidup dan siapa ayah kandungku. Jika selama ini dia tahu kenapa dia menyembunyikan semuanya? Kenapa?
“Jadi saya akan membawa Anda ke kediaman Winston, tapi saya tidak yakin Tuan Ronald tidak ada di sana.”
“Bawa saja aku ke sana! Sekarang juga! Aku akan menghubungi semua koneksiku untuk mencegah semua orang yang mengikuti kita,” kataku lalu sibuk dengan HP-ku.
“M-max hiks, hiks, hiks.” Aku mendengar Elena menangis dalam pelukanku. Sungguh rasanya perih sekali mendengarnya menangis dan harus terlibat dengan urusanku.
“Maafkan aku, El! Aku janji akan terus menjagamu meski aku harus mati.”
Elena semakin terisak. “Kau tidak boleh meninggalkanku. Aku tidak mau kau tinggalkan!” Elena meremas bajuku dan semakin menggenggamnya erat.
Aku pun mengecup bibirnya sejenak lalu mata serta keningnya cukup lama. Setelah itu kembali fokus pada apa yang harus aku lakukan. Setelah aku menghubungi koneksiku, tak lama aku mendengar suara sirene mobil polisi. Mereka menahan perjalanan mobil-mobil di belakangku termasuk para anak buah Jon. Tentu itu bukan polisi sungguhan, tapi cukup membantu.
Lalu aku mendapatkan sebuah pesan dari Teddy. Dia menemukan bukti bahwa yang melakukan penembakan adalah Aaron. Ah baiklah, nampaknya dia mulai berani menampakkan kebusukannya. Setelah beberapa hari yang lalu dia menaruh penyadap di ruanganku, ternyata dia juga sudah berani mencoba membunuh Elena. Kalau begitu, ayo kita mainkan permainan catur ini dengan baik. Kau makan kudaku, maka aku juga akan makan kudamu. Kau hancurkan bentengku, aku pun akan menghancurkan bentengmu, sampai aku bisa mendapatkan rajamu yang hanya bisa bersembunyi.
__ADS_1
***
Gerbang hitam tinggi itu terbuka perlahan. Warna putih lampu di taman kediaman Winston menyala dengan sangat redup. Apakah mereka tahu bahwa sesuatu tengah terjadi di keluarga ini? Tidak biasanya lampu-lampu taman terlihat sangat usang.
“Tuan, Anda akan masuk? Saya akan menjaga Nona Elena di sini,” ucap Jon memberikan pistolnya padaku.
“Tidak! Aku tidak mau! Aku ingin ikut Max,” suara Elena yang aku kira dia tertidur. Apakah dia melihat Jon memberikan pistol padaku?
Namun Elena semakin lengket memeluk tubuhku dan memintaku untuk membiarkannya ikut masuk ke dalam.
“El di dalam sangat berbahaya,” ucapku memberi pengertian.
“Lalu bagaimana dengan di sini? Di sini pun sama saja Max. Aku hanya bersama dengan Jon.”
Kutatap mata Elena dalam-dalam, lalu mengusap pipinya yang basah karena air matanya. “Padahal baru kemarin kita bisa merasakan kebahagiaan perasaan ini. Kenapa sekarang…, hiks, hiks, hiks, aku tidak mau kehilanganmu,” ucapnya membuatku tak kuasa menahan air mataku.
Aku pun membuang tatapanku dari Elena dan menengadahkan kepalaku ke atas supaya air mataku tidak jatuh. Tidak! Ini bukan waktunya untuk membicarakan ini. Emosiku bisa menjadi sangat buruk jika itu tentang Elena. Aku bisa tidak fokus dengan apa yang harus aku lakukan.
El nampak semakin terisak. Sekali lagi aku hanya bisa mengusap pipinya dan segera keluar dari mobil. El nampak berteriak tapi Jon menahannya. Aku tidak boleh seperti ini! Aku harus segera masuk! Tapi sebelumnya aku menghubungi Teddy agar segera datang. Lalu kembali berjalan memasuki rumah besar yang sejak kecil aku tempati.
Aku bahkan tidak bisa ingat bagaimana rupa ibu dan ayahku. Sejak kecil aku sudah kehilangan mereka, tapi aku punya satu foto ketika kami foto keluarga bersama. Hanya yang tidak kusangka bahwa Ronald mengedit hasil foto itu. Dia mengubah foto ayahku dengan wajahnya dan hidupku berakhir seperti neraka, tapi malam ini aku akan menyelesaikan semuanya.
“Wahhh siapakah ini? Kenapa malam-malam kau datang, Nak? Bukankah di luar sangat dingin?” suara Ronald begitu aku akan naik menuju kamar atas. Pria itu baru saja keluar dari kamarnya dan menunjukkan senyuman yang dia buat-buat ke arahku.
Sejak lama kamar Ronald dan Eliz berpisah. Tanpa mereka jeleskan aku tahu apa alasan mereka pisah ranjang. Tentu karena pria tua itu bermain-main dengan banyak wanita di luar sana. Eliz pun tidak sudi untuk satu ranjang dengannya dan satu lagi… dia menyimpan semua kebusukannya di dalam kamarnya sendiri. Pantas saja hanya pelayan tertentu saja yang boleh merapikan kamarnya.
“Tidak perlu berpura-pura, kau kan yang mengutus Aaron untuk menembak istriku!”
“Ohh! Kau melukai perasaan pria tua ini, Nak!” suaranya lalu tertawa dengan nadanya yang konyol.
__ADS_1
“Cih! Kau memang menjijikkan!” ucapku lalu tiba-tiba dia menodongkan pistol ke arahku.
DOR! DOR!
Dia menembakkannya dua kali ke arah vas bunga di belakangku membuatku refleks langsung menghindar. Well, dia mau bermain-main denganku. Aku pun mengeluarkan pistolku dari sakuku lalu melesat ke belakang tubuhnya, menarik tangannya ke belakang hingga pistol yang dia pegang jatuh.
“Kau kira, kau siapa?!” bisikku, tapi tak lama aku dikepung oleh beberapa orang berjas hitam.
Sial!
“Hahaha apakah sekarang aku yang harus mengatakan ‘kau kira, kau siapa?’ Kau hanya anak kurang ajar yang tidak tahu diuntung. Seandainya waktu itu aku juga menghabisimu! Aku sangat menyesal mengabulkan permintaan Eliz, wanita sialan itu. Sekarang aku lega karena dia sudah mati! Kau tidak akan menemukan apapun dariku! Sekalipun itu ibumu, kau sudah tidak menyelamatkannya, bodoh!”
Aku semakin mencengkram tangannya di belakang tubuh gempalnya membuatnya meringis. “Kau terlalu banyak omong!” bisikku dan dia tertawa lagi mendengar perkataanku.
Semua orang suruhannya yang mengepungku pun semakin mendekat. Tubuhku perlahan ikut berputar seiring berjaga-jaga dan bersembunyi di belakang Ronald. Kalau begini aku tidak bisa selamat! Teddy! Dia benar-benar sangat lamban!
Tak lama, aku mendengar suara tepukan tangan dari arah tangga. Wajah yang aku kenali muncul dengan kaca mata hitamnya. Aaron? Ah! Itu dia si pengkhianat!
“Pengkhianat! Kau tidak beda jauh dengannya pria tua ini! Kau menjijikkan! Bisa-bisanya kau bermain kotor denganku!” makiku padanya.
Namun Aaron hanya tersenyum. Lalu menggerakkan tangannya ke orang sekelilingku untuk menerunkan pistol mereka. “Apakah itu sambutan yang bagus untukku?” tanya Aaron seraya melepas kaca matanya.
“Kau! Kau sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri, tapi apa yang kau lakukan?! Kau bahkan menusukku dari belakang!”
Aaron kembali tertawa. “Sudah puas memakiku?” tanya Aaron. Lalu dia mengeluarkan HP-nya dan menunjukkan wajah ibuku yang dia sekap.
“Kau gila! Apa yang kau lakukan pada ibuku?!”
“Kau pikir untuk apa?!”
__ADS_1
Aku sungguh geram ingin melawannya!
Cerita ini hanya sampai 40 bab ya, dan akan aku tambahkan 2 extra part~