
MAX POV
“Penjagaannya sangat ketat. Saya juga tidak bisa menghindari CCTV karena banyak sekali CCTV di sana. Ini sudah hari ke 6 dan kita belum mendapatkan apa-apa,” Aaron melaporkan kegiatannya hari ini pada Teddy.
Aku pun melihat Teddy di layar sambungan kami dengan tenang. Tidak ada yang bisa melewati meja resepsionis beserta bodyguard-nya. Aku dan Aaron sudah menunggu mereka lengah tapi masih tidak ada yang bisa kami lakukan. Tidak ada data informasi yang juga bisa kami tanya. Semuanya privasi dan seperti mempunya identitas sendiri setiap siapa yang masuk ke dalam rumah sakit itu.
“Sebentar, apa aku perlu menyekap Eliz supaya dia menelepon pihak rumah sakit dan membiarkan kalian masuk?” kata detektif bar-bar itu.
Namun aku tidak bisa melakukan hal senekat itu karena jika Eliz kami lukai. Ronald pun bisa melukai Elena lebih dari yang kami lakukan.
“Jangan gegabah! Ada orang lain yang juga aku lindungi. Ada banyak orang yang terlibat di sini,” kataku menjelaskan tiba-tiba mengingat perasaan Darrel dan juga Sara jika ibu kandung mereka dalam bahaya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya Aaron padaku membuatku duduk perlahan di sofa Panjang apartemen yang kami tinggali selama 6 hari ini. Tempatnya sangat dekat dengan rumah sakit. Memudahkan kami untuk berjalan beberapa menit menuju tempat yang kami tuju sejak awal.
“Aku tahu semuanya pasti akan seperti ini. Mungkin karena kemarin terburu-buru. Kita tidak menyeledikinya lebih dalam lagi sebelum datang ke sini,” kataku pada mereka.
“Bagaimana dengan menunggu Eliz kembali ke sana?” tanya Teddy. “Yang aku tahu, dia suka membawa ibumu dengan kursi rodanya memutari taman. Itu lebih mudah untuk kita menemukan ibumu.”
“Kapan Eliz kembali?”
“Empat hari lagi, aku sudah memeriksanya. Dia memesan tiket penerbangan untuk empat hari lagi.”
Aku pun menghela napasku pelan. “Menyebalkan, pada akhirnya kita memang harus menunggunya kembali. Jika tahu seperti ini aku sudah ke sini sejak kemarin. Kau harus menyelidiki semuanya lebih detail, Teddy!” dengusku dan Teddy tertawa pelan.
“Maaf, sepertinya akhir-akhir aku mulai bosan dengan pekerjaan ini. Bukankah kita sudah terlalu lama menyelidikinya? Dan aneh sekali kenapa Eliz baru-baru ini sibuk datang menemui ibumu. Tahun-tahun sebelumnya bukankah dia bahkan tak pernah datang? Baru kali ini aku menyelidiki Eliz sering ke Eropa.”
Aku mengangkat bahuku. Aku juga tidak yakin kenapa Eliz melakukan itu. Aneh juga, jika dia memang tahu keberadaan ibuku dan dia memang menyembunyikannya. Kenapa akhir-akhir ini dia harus repot bolak-balik menjenguk ibuku? Bahkan membawa ibuku memutari taman.
“Baiklah, cukup! Aku ingin istirahat. Aaron, kau bisa belikan keperluan kita untuk beberapa hari ke depan,” kataku memberikan kartuku padanya dan Aaron menerimanya dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
Aku mematikan sambungan telepon kami dengan Teddy lalu memeriksa HP-ku untuk melihat perkembangan bisnisku dan juga istriku tentunya.
From: Jon
Nona hampir bertemu dengan pria yang beberapa hari lalu di pesta bicara dengan Anda, tapi saya yang menemuinya untuk mengambil beberapa barang yang ingin Nona ambil.
Tanganku mengepal kesal. Elena! Bisa-bisanya dia melakukan itu padaku dan berani-beraninya pria itu menemui istriku. Tak membuang waktu aku pun menghubungi Elena. Bunyi sambungan telepon terus membuatku tidak sabar hingga akhirnya suara yang membuatku rindu itu cukup meredakan amarahku. Aku tidak boleh marah bukan? 6 hari dia mengabaikanku dan kini dia mengangkat teleponku.
“El, bagaimana kabarmu?” tanyaku.
__ADS_1
“Mmm, baik, kau?”
Hatiku berdegup keras dan tiba-tiba tersenyum sendiri. Ternyata dia juga peduli padaku. Dia menanyakan kabarku.
“Aku baik, Sugar. Aku merindukanmu,” ucapku dan cukup lama El tidak mengatakan apapun. Dia tidak menjawab ataupun membalas kata rinduku.
“El? Kau masih di sana?”
“Eouh iya, aku… aku ingin ubah sambungannya jadi video. Apa boleh?” tanyanya jelas buat aku ingin terjun bebas dari atas apartemen karena itu kata lain bahwa dia juga rindu padaku.
Aku pun duduk di piggir jendela. Lalu mengubah telepon kami menjadi video. Terlihat istriku sudah memakai baju satin tidurnya, tapi nampaknya aku tidak pernah melihat baju tipis satu ini. Talinya begitu terlihat mudah aku tarik jika aku berada di sana. Aku lihat El menggigit bibirnya dan dengan kaku melambaikan tangannya.
“H-hai, kau berapa lama lagi di sana. Kenapa tidak mengatakan apapun sebelum pergi,” katanya.
“Mungkin 4-5 hari lagi. Maaf aku tidak mengatakannya padamu, tapi aku benar-benar harus pergi, Sugar.”
El mengangguk pelan. Dia sedikit menyingkirkan rambutnya ke belakang telinga membuatku tak sadar memegang layar HP-ku sendiri ingin bisa menyentuhnya segera.
“El, tidak ada yang ingin kau katakan padaku?”
“Tentang apa?”
“Apapun.”
“Kau menyebalkan! Apanya yang lucu!” sergah Elena padaku.
“Wajahmu merah, Sugar. Kenapa harus mengatakannya dengan malu-malu. Aku suamimu, kau bisa mengatakannya berkali-kali dan aku akan senang mendengarnya. Aku juga merindukanmu.”
El pun tersenyum kembali dengan semu merahnya di pipi. Dia menutup wajahnya lalu memegangnya dengan sangat lucu.
“Jangan lama-lama di sana. Kau tahu aku benci-“
“Kau benci tidur sendiri di ruangan besar dan kau suka pelukanku ketika tidur,” kataku memotong kalimatnya dan Elena mencemberutkan bibirnya.
“Kau tahu, tapi kau melakukannya! Kau meninggalkanku, lagi!”
“Maaf, tapi aku akan segera pulang. Ketika aku pulang kau harus menjadi milikku seutuhnya.”
“Mi-milikmu? Maksudmu?”
__ADS_1
“Aku akan menagih malam pertamaku karena kau sangat membuatku ingin menerkammu dari sini. Aku tidak pernah melihat baju tidurmu yang sekarang kau pakai, kenapa kau baru memakainya?”
El menutup bibirnya terkejut lalu tertawa. “Dasar mesum!”
“Yes, i am!”
“Aku baru mendapatkan ini kemarin sebagai kado ulang tahunku,” katanya seperti sedang menaruh HP-nya di suatu tempat. Lalu aku lihat Elena berdiri di depan HP dan mulai menunjukkan baju yang dia pakai sebatas lutut. Tentu, dia seksi di mataku.
“Sepertinya ini dari kenalan artismu. Bahannya sangat bagus dan elegan. Jelas sekali kalau ini mahal,” katanya dan aku hanya bisa menelan salivaku sendiri karena sebenarnya baju itu cukup menerawang.
“Apa kau sengaja menggodaku, Sugar?” tanyaku dengan nada kesal, tapi El tertawa.
“Yasudah kalau kau memang menginginkannya, kau harus cepat pulang. Jika tidak aku tidak akan pernah memberikannya!”
“Kau jahat El!”
Tut tut tut. Ah sial, El mematikan sambungannya, tapi aku senang dengan pembicaraan singkat kami. Aku rasa, kami memang seperti anjing dan kucing. Jika berdekatan, ada saja hal yang membuat kami bertengkar dan membuat Elena berpikir buruk tentangku. Tapi jika jauh… dia selalu merindukanku, seperti aku yang tak berhenti merindukannya.
Aku pun memeriksa pesan HP-ku yang lainnya. Tak menyangka di antaranya ada pesan dari Eliz. Pesan singkat yang tentu membuatku termenung.
From: Eliz
Percayalah padaku, ibumu aman. Jika kau ke sana tanpa rencana. Kau hanya membuat semua orang celaka. Ronald bukan orang yang mudah kau lawan. Jika kau mencubitnya, dia bisa membalasmu 10 kali lipat dari apa yang kau berikan dan kau harus berhati-hati dengan Aaron. Jika kau ingin tahu, dia bukan orangmu. Dia hanya akan membuat perjalananmu lebih sulit. Cepatlah kembali sebelum Ronald merenggut kelemahanmu.
Tanganku bergetar. Apa yang dimaksud Eliz? Dia tahu aku ke Eropa dan kenapa dia membicarakan tentang Aaron? Apa benar Aaron…
“Pak, maaf. Di luar sedang badai salju. Dihimbau untuk tidak keluar sampai badai reda. Ini kartu Anda,” ucap Aaron membuatku perlahan menghela napasku.
Nyatanya ini yang pernah Irene rasakan ketika aku menaruh beberapa orang kepercayaan Ronald di perusahaannya. Semua orang yang selama ini bekerja dengan Irene tidak ada yang bisa dipercaya tanpa dia sadari dan sekarang ini terjadi padaku. Tak disangka, Aaron, orang yang selama ini sudah kuanggap sebagai saudra dan temanku sendiri, bukanlah orang yang bisa kupercaya.
Memang tak baik langsung mempercayai apa perkataan Eliz, tapi aku jelas tetap harus berhati-hati. Apalagi Eliz bilang aku harus segera kembali karena ada Elena;kelemahanku yang pasti Ronald incar jika aku melakukan hal gegabah lainnya di sini.
“Aaron, tolong pesankan tiket untuk kembali. Aku sangat menghkhawatirkan Elena karena Tina baru saja menghubungiku kalau Elena sakit,” ucapku dengan wajah khawatir yang kubuat.
“Tapi Pak, bukankah kita-“
“Aku ingin kembali!” bentakku. “Istriku membutuhkanku!”
"Baik, Pak! Tapi tidak mungkin hari ini kita kembali karena badai cukup besar," katanya dan aku hanya bisa menghela napas.
__ADS_1
El maafkan keegoisanku karena membuatmu terlibat lebih jauh.
Lagian Elena ditinggal-tinggal mulu. Kalau ada apa-apa aja nyesel deh Max wkwkwk. Jangan lupa like dan komennya geys!!