
MAX POV
“Apa kau tidak mau mengantarkanku ke depan?” tanyaku pada Elena yang kembali melanjutkan rajutannya di pinggir jendela kamar kami.
Wanitaku hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak ingin banyak berjalan hari ini,” katanya membuatku mengerti apa yang dia maksud. “Aku akan melihatmu dari balkon saja,” ucapnya lagi.
Aku menarik kepalanya untuk mengecup keningnya lama dan mencubit pipinya gemas. “Jangan lupa! Sweater ini untukku!” kataku dan dia tersenyum.
“Kalau gitu kau juga harus memberikan kado musim dingin untukku,” ucap Elena tidak mau pemberian kado itu hanya dia yang melakukan.
Aku pun berpikir sejenak. Kira-kira apa yang bisa aku berikan pada Elena setelah kalung. “Bagaimana?” tanya Elena.
“Iya, iya aku pasti akan memberikanmu kado juga, tapi aku harus memikirkannya.”
“Janga lama-lama! Sweater ini sebentar lagi selesai dan kau harus memberiku kado juga!” tuntutnya seolah aku tidak akan memberikan apapun padanya.
Well, aku harus bertanya pada Rain. Kira-kira apa yang bisa aku berikan padanya, tapi melihat wajah Elena yang sangat menggoda, kenapa tiba-tiba aku memikirkan sesuatu yang sepertinya akan sangat menarik.
“Kenapa tidak jawab!” kata Elena menggoyangkan lenganku.
“Aku hanya sedang memikirkan apa yang harus aku berikan padamu, tapi sepertinya aku sudah tahu,” ucapku seraya berdiri dan memakai jas tebalku karena di luar sudah mulai turun salju.
“Benarkah?” tanya Elena dengan mata berbinar.
Aku pun mengangguk lalu mendaratkan ciumanku pada bibirnya. “Aku pergi, Sugar. Tadi aku sudah meminta Tina untuk menyalakan kayu bakar dan kau bisa menyulam di depan perapian. Jangan lupa gunakan pakaian hangat supaya kau tidak flu.”
Elena mengangguk seperti kelinci kecil yang menurut pada tuannya. Matanya mengedip berkali-kali dan bibir ranumnya sungguh membuatku tidak ingin pergi bekerja, tapi Rain bilang pekerjaanku sudah sangat menumpuk. Jadi aku tidak bisa menundanya lebih lama.
__ADS_1
“Ah aku tidak ingin bekerja,” kataku padanya dan Elena tertawa pelan. Dia berdiri dari duduknya lalu mendorong tubuhku keluar dari kamar.
“Sudah sana! Cepat bekerja!” katanya dan aku hanya bisa melambaikan tanganku seraya mencemberutkan bibir ke arahnya.
“Jangan pulang terlalu larut. Aku menunggumu,” ucapnya juga dengan lambaian tangan mungilnya.
Mau tidak mau aku harus meninggalkannya lagi, tapi sepertinya hari ini aku memang tidak boleh pulang terlalu larut karena aku dengar berita pagi ini akan ada badai nanti malam. Pastinya akan ada penutupan jalan di beberapa tempat. Mungkin membawa pekerjaan ke rumah tidak buruk.
“Tuan sudah mau berangkat?” tanya Jon di anak tangga paling bawah dengan tubuh sedikit dia bungkukkan.
“Iya, tolong jaga Elena,” pintaku. Hanya itu yang selalu aku katakan pada Jon karena Elena satu-satunya kelemahanku saat ini. Aku tidak bisa bayangkan jika sesuatu terjadi padanya.
“Tuan, sepertinya sudah waktunya menambah beberapa orang untuk menjaga Nona Elena. Semalam ada orang yang sengaja merusak CCTV dan saya sepertinya mengenali wajah itu,” ucap Jon membuatku sangat terkejut.
“Siapa?”
“Saya tidak bisa mengatakannya sekarang karena cahaya malam cukup membuat saya mengira-ngira itu bisa jadi salah. Saya akan mengirimkan video terakhir sebelum orang itu merusak CCTV pada Anda.”
“Sementara ini kau yang harus super siaga menjaga Elena dan aku akan menambahkan beberapa orang untuk kau arahkan selanjutnya.”
”Baik Tuan! Satu lagi, Anda pernah bertanya pada saya tentang siapa yang menyalamatkan Ryan ketika saya membutuhkan uang untuk operasi.”
Aku mengangguk pelan. Aku mengingat pertanyaan itu karena Jon belum memberikan jawabannya. Aku ingin tahu siapa yang akhirnya memberikan dana itu pada Jon.
“Orang itu adalah Nyonya Eliz. Dia memberikanku uang dan bahkan membebaskanku dari penjara, memintaku untuk pergi jauh dari Ronald dan tidak lagi terikat dengannya.”
Eliz? Dia membebaskan dan memberikan uang pada Jon? Jika itu masalah tentang uang mungkin aku tidak begitu kaget, tapi aku baru tahu kalau Jon memang tidak dipenjara sesuai kurun waktu yang ditentukan. Tina pun tidak pernah menceritakannya.
__ADS_1
“Nyonya Eliz juga yang memohon pada saya untuk menuruti permintaan Anda untuk datang ke sini. Jika bukan karena Nyonya Eliz, saya tidak akan pernah bekerja di sini.”
***
Aku memikirkan apa yang Jon katakan tadi di rumah. Apakah benar Eliz berada dipihakku? Tapi kenapa? Dan siapa Eliz sebenarnya? Bertahun-tahun kami serumah, tapi aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku sungguh pusing memikirkannya. Segelas americano sebelum memulai pekerjaan sepertinya mampu meredakan sakit kepalaku.
“B-bapak?!” teriak seseorang ketika aku membuka pintu ruangan kerjaku dan menemukan Aaron serta Rain tengah bercumbu.
Aku pun membalikkan tubuhku dan menutup pintu ruangan dengan refleks. Sial! Kenapa mereka melakukan pagi-pagi di ruanganku?! Mereka kira ruanganku itu tempat untuk bermalam!
“E-ouh, Pak Anda datang lebih pagi,” suara Rain membungkukkan tubuhnya membuatku merengut di dalam hati.
Dia bilang aku datang lebih pagi? Apa dia tidak tahu jam kerja? Apa mungkin dia sering melakukannya di ruanganku, benar-benar tidak sopan!
“Rain, kau-“
“Pak saya yang akan menjelaskannya,” ucap Aaron yang muncul di belakang tubuh Rain.
Aku pun menghela napasku pelan menggelengkan kepalaku. “Kalian benar-benar!” bentakku. “Apa yang kalian lakukan di dalam ruanganku?!”
“I-itu, Pak. Saya tidak sengaja meninggalkan pulpen saya di ruangan Anda,” ucap Rain. “Lalu Aaron datang dan tiba-tiba menciumku,” ucap Rain entah benar atau tidak, tapi aku tahu Rain memang sepolos itu. Aku juga tahu hubungan mereka memang hanya sebatas partner kerja. Jadi jelas aku terkejut saat mereka melakukan itu bersama. Dari mata Rain pun aku bisa melihat jelas bahwa dia tidak tertarik pada Aaron.
“Saya hanya tidak sengaja, Pak! Mungkin karena semalam terlalu banyak meminum alkohol. Jadi pagi ini saya belu benar-benar tersadar,” alasan Aaron dan aku hanya bisa menghela napasku dengan kasar.
Aku pun langsung berjalan, kembali masuk ke dalam ruanganku; mendorong mereka berdua agar menyingkir dan bisa kudengar suara Rain yang berteriak pada Aaron.
“Kau gila! Apa yang kau lakukan! Pekerjaanku hampir melayang karenamu! Kenapa kau tiba-tiba menciumku!” teriak Rain, tapi aku tidak mendengar suara Aaron yang menjawabnya.
__ADS_1
Entah kenapa aku jadi sedikit curiga dengan apa yang dia lakukan di dalam ruanganku. Bisa saja dia memang sengaja ingin melakukan sesuatu di ruanganku dan kebetulan ada Rain di dalam sini sehingga dia menciumnya supaya tidak dicurigai.
Oke, aku rasa memang seperti itu. Tidak salah lagi! Aku pun langsung mengirim pesan pada Teddy untuk segera datang ke kantorku hari ini juga. Aku takut jika Aaron menaruh penyadap di ruanganku. Aku harus semakin berhati-hati padanya karena Aaron sudah semakin menunjukkan hal-hal yang mencurigakan. Lalu aku menghubungi kepala ruang monitoring untuk memeriksa CCTV ruanganku pagi ini.