
MAX POV
Aku berlari di lorong rumah sakit. Air mataku masih bisa kutahan, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah melihat bayi kami lahir. Akhirnya, Elena melahirkan buah hati kami, tapi rasa menyesal di dalam diri ini benar-benar membuatku sangat bersalah. Suami macam apa aku ketika istrinya berjuang melahirkan, aku malah meninggalkannya keluar negeri.
“Max!” suara ibuku yang sedang berdiri di depan ruangan bayi. Aku pun segera menghampirinya dan melihat dua bayi kembar yang terhalang kaca sedang tertidur.
“Sangat cantik dan tampan,” puji Allya pada bayi kembar kami.
“Suster juga sudah memberikan lable nama anakmu, lihat!” ucap ibuku lagi menunjukkan nama Stefano dan Stefani terpasang di ranjang bayi.
Aku pun tersenyum dan tak lagi bisa menahan air mataku yang berjatuhan.
“Bagaimana dengan Elena, Bu?”
“Elena baru saja istirahat. Mungkin sekarang sedang tidur karena sangat dini hari mereka lahir.”
Aku pun menganggukkan kepalaku. Merasa senang, terharu, bahagia dan rasa lainnya yang terasa mencampuradukkan emosiku saat ini. Aku benar-benar bersyukur karena Tuhan sudah menghadirkan dua anak sekaligus dalam tahun ini dan aku sangat berterima kasih pada Elena karena jika bukan tanpanya, aku tidak akan mungkin menjadi ayah.
“Bu, aku tinggal dulu. Aku harus ke kamar melihat Elena,” ucapku pada Ibu lalu kulihat Allya membungkukkan tubuhnya sedikit ke arahku. Aku mengangguk beberapa kali dan meninggalkan mereka berdua.
Lalu kembali berjalan cepat di lorong rumah sakit menuju kamar istriku. Aku pantas dipukul karena tidak bisa menemaninya di waktu terpenting. Padahal aku sudah janji akan segera kembali cepat, tapi ternyata waktu kelahiran bayi kami lebih cepat satu hari seperti yang sudah diperkirakan.
Begitu aku sudah di depan kamar Elena. Aku lihat Elena sedang makan dibantu Eliz. Air mataku pun semakin deras merasa bersalah dengan Elena. Perlahan aku membuka pintu ruangan Elena dan melihat istriku terkejut.
“Max, kau sudah-“
Aku pun segera berjalan ke arahnya dan memeluknya. “Bodoh! Seharusnya kau marah padaku!” ucapku, tapi El malah terkekeh dan menepuk pelan punggungku.
“Mana mungkin aku marah padamu. Aku kan sudah bilang padamu kalau di rumah masih ada banyak orang.”
“Tapi aku ingin ada di sisimu. Kenapa kau tidak memberitahuku?” protesku seraya melepas pelukanku.
“Mana mungkin bisa menghubungimu? Jamkita berbeda dan saat itu aku tidak terpikirkan apapun,” kata Elena membuatku terdiam dan menyentuh wajahnya yang pucat.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyaku.
__ADS_1
Elena mengangguk pelan dan tersenyum. “Mereka sangat lucu, Max. Aku ingin cepat-cepat menggendong mereka.”
Mendengar itu aku mengacak rambut Elena. Dia masih Elenaku, wanita yang sangat aku cintai. Aku pun mengecup bibirnya sekilas lalu kembali memeluknya. “Terima kasih karena sudah melahirkan anak kita. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, Sugar. Aku sangat bahagia karena keluarga kita semakin lengkap.”
Aku rasakan Elena yang mengelus punggung belakangku. Dia juga membalas pelukanku erat. “Kalau saja dulu aku menyerah, mungkin tidak akan ada Stefano dan Stefani. Semua ini karena kau yang memberiku semangat. Terima kasih karena sudah mencintaiku.”
***
“Max! Kau membuatnya menangis!” sergah Elena ketika aku tak sengaja mencubit pelan pipi Stefani. Adik Stefano ini memang sangat sensitif. Dia juga tidak suka denganku karena hanya dengan sentuhan ringan dariku, Stefani akan menangis keras.
Dia benar-benar seperti ibunya saat pertama kali bertemu denganku. Lihat saja! Besar nanti akan aku hukum karena selalu menghindari ayahnya.
“Aku hanya mencubitnya pelan dan dia menangis,” belaku pada diri sendiri.
Elena pun yang baru saja menyelesaikan mandinya keluar dengan handuk di atas kepalanya. “Aku hanya menitipkan sebentar saja sudah kau buat dia menangis. Apalagi jika aku menitipkan lama? Kau benar-benar payah!” kata Elena seraya mengangkat Stefani dari atas ranjang dan berbicara pada Stefani kalau ayahnya memang nakal.
“Papa nakal ya, nanti biar Mama cubit balik ya! Duh, duhh udah jangan nangis,” kata Elena seraya memberikan ASI-nya, sementara aku perlahan mengangkat Stefano yang begitu tenang. Ah tidak, mungkin besar nanti Stefano akan menjadi pria yang dingin. Dia sungguh jarang sekali menangis dan asyik bermain sendiri dengan kakinya.
“Besok kita jadi kan ke rumah sakit?” tanyaku pada Elena.
“Baiklah, aku juga akan mengosongkan waktuku,” kataku seraya memainkan perut Stefano dan bayi laki-lakiku ini asyik menarik rambutku.
“Terima kasih, Sayang.” Elena menciumku dan tersenyum lebar.
“Kau! Jangan lupa, jika sudah bersih katakana padaku,” ancamku padanya membuat Elena terkekeh.
“Iya, iya, kau benar-benar menyebalkan! Hanya mengingat hal seperti itu saja!”
“Memangnya ada hal lain yang harus aku ingat?”
Elena mencemberutkan bibirnya kepadaku. Dari matanya aku tahu, aku melupakan sesuatu yang penting, tapi aku benar-benar tidak mengingatnya. Tidak mungkin kan aku melupakan hari ulang tahunnya karena aku sangat ingat kalau itu sudah lewat.
“Besok hari anniversary kita,” ucap Elena membuatku terdiam lalu berjalan ke arah meja dan melihat kalender dengan pelan.
“Ya Tuhan, kau benar, Sugar!” kataku dan lagi-lagi merasa bersalah.
__ADS_1
“Memang hanya aku yang mencintaimu,” kata Elena sungguh tidak benar.
“Aku lupa karena kau tahu sendiri di hari pernikahan kita ada banyak hal yang kita lalui. Maafkan aku!” ucapku padanya, dan seperti biasanya, Elena adalah wanita yang berbeda. Dia tidak mudah murah dengan hal-hal kecil.
“Aku maafkan tapi kadonya harus berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.”
Well, satu ini tidak bisa dilupakan karena Elena pun pernah menjadi seorang putri di keluarganya. Benar-benar keluarga Gilbert tahu barang mahal meski mereka pernah bangkrut.
“Dan tidak ada baju tipis lagi!” kata Elena membuatku tertawa pelan.
“Baiklah cincin keluaran baru dari koleksi George?”
“Hemmm aku yang akan menentukan sendiri,” ucapnya seraya berbaring di atas ranjang dengan Stefani yang masih sibuk dengan ASI.
“Ah baiklah, aku tidak bisa melawanmu. Lagipula kau memang pantas mendapatkannya. Aku juga belum memberikan apapun setelah kamu melahirkan,” kataku membuat Elena terdiam dan menatapku lembut.
“Max, aku kan sudah bilang itu bukan hal yang besar. Kenapa kau terus mengingatnya?”
“Karena aku ingin ada di sisimu saatkau melahirkan, Sugar. Aku sangat merasa bersalah,” kataku lagi mengingat hari penting kami.
“Aku tahu, tapi melihatmu di sini bersamaku dan anak-anak kita rasanya sudah jauh lebih cukup. Aku bahagia karena kau selalu ada di sampingku. Kau tidak perlu membahas hal itu lagi. Aku juga tidak keberatan karena ada banyak orang yang peduli padaku.”
Aku pun mencium Elena lembut. “Terima kasih.”
“Tidak ada terima kasih untuk cinta, Pa!”
Aku terkekeh mendengar panggilan itu. Papa dan Mama, kami memang harus membiasakannya.
** Hola!!! Jangan lupa like dan komennya hayo^^ Makasih sudah baca karyaku!! Jangan lupa baca karyaku yang lainnya ya!!**
__ADS_1