Naughty Sugar

Naughty Sugar
[5] Serigala Mencintai Putri Tidur


__ADS_3

MAX POV


Aku menutup buku besar berwarna hijau setelah menyelipkan sebuah informasi baru mengenai El. Tina bilang, wanita itu tidak menyukai ruangan besar. Dia takut tidur sendiri di ruangan besar. Aku baru mengetahui hal ini dan rasanya tidak tega jika nanti aku harus pergi ke luar negeri karena pekerjaan. Apakah aku harus membawanya saja untuk ikut pergi denganku?


“M-Max,” suara seseorang yang kukenal. Cepat aku menyembunyikan buku itu dan melihat Elena masuk ke dalam ruangan dengan baju satinnya.


“Ada apa?” tanyaku pura-pura membuka skenario drama yang sutradara Andy tawarkan untuk agensiku.


Aku masih mencoba membacanya dan mencari pemeran utama siapa yang kiranya cocok untuk memainkan drama ini. Awalnya aku ingin memberikannya pada Natalie, tapi karena hari ini dia sudah membuatku kesal, maka aku rasa, aku harus mencari artis baru supaya suasana syuting kali ini lebih fresh.


“K-kau sedang apa?” tanyanya entah hanya perasaanku saja, tapi dia nampak gugup menghampiriku. Aku lihat tangannya tak berhenti mencengkram bajunya dengan ke dua tangan lalu dia duduk di bangku besar di depanku, seolah sedang berhadapan dengan orang yang tidak bisa membayar hutangnya.


“Kenapa?” tanyaku mengernyitkan alis ke arahnya.


“Aku… aku mencari surat perjanjian kita tadi pagi. Aku benar-benar lupa menaruhnya di mana setelah menandatanganinya. Aku sudah berusaha mencarinya di manapun. Sekarang aku tidak tahu surat itu di mana,” katanya dan aku hanya mampu terkekeh setelah mendengar apa yang dia katakan.


Aku kira apa, ternyata dia khawatir surat itu hilang atau mungkin khawatir aku menipunya, lagi. Seperti yang aku lakukan pada kakaknya, tapi itu sungguh bukan kemauanku. Setelah apa yang terjadi, semua sudah sesuai dengan apa yang aku rencanakan dengan Aaron dan juga Teddy. Teddy adalah seorang detektif yang aku utus untuk mencari kebenaran yang terjadi di keluargaku. Saat itu aku masih berumur 4 tahun, aku kehilangan ibuku pada sebuah kebakaran rumah di mana aku sendiri selamat bersama Ronald.


 Ronald bilang, dia ingin menyelamatkan ibu, tapi terlambat. Ibu mempunyai riwayat penyakit jantung dan tidak tertolong. Kini setiap tahunnya aku harus menghadiri makam ibuku untuk memperingati kematiannya, tapi satu hal yang belum aku ketahui. Sebenarnya siapa ayah kandungku? Jika Ronald menginginkan kematianku, lalu siapa ayahku? Teddy masih belum menemukan kebenarannya, padahal ini sudah lewat dari 7 tahun. Ronald benar-benar pintar mengubur semua masa laluku. Bahkan dia berani-beraninya bersumpah dan mengatakan mencintai ibuku seumur hidupnya. Buktinya, dia menikah dengan Eliz dan melahirkan Sara serta Darrel Winston. Untung mereka tidak menuruni sifat keduanya. Kami sangat dekat dan mereka masih mengira aku kakak tertua mereka.


Kini aku sudah mandiri, mendirikan agensiku meski awalnya dibantu dengan dana yang Ronald serta Alfred berikan, tapi aku sudah bisa membayar semua hutangku.  Harusnya, ini menjadi awal mula pergerakanku untuk menguak semua kebusukan tua bangka itu, tapi aku tidak yakin Ronald tidak mengetahui tujuanku menikahi Elena. Sepertinya, dia hanya berpura- tidak tahu, sampai nanti aku lengah dari semua rencanaku.


“Ini,” aku memberikannya padanya.


Sekarang satu lagi sifat El yang aku tahu. Ternyata, dia cukup teledor menaruh semua barang penting di manapun dia suka, tapi aku suka… entah kenapa aku semakin menyukainya.


“Ett,” aku menarik surat itu begitu dia akan menggapainya.


“Max!” teriaknya padaku. Aku lihat wajahnya yang kesal itu seraya melotot ke arahku.


“Siapa bilang kau bisa mendapatkannya secara cuma-cuma,” ucapku dan dia menggeram marah.


“Apa yang harus aku lakukan?! Surat itu penting tahu! Aku tidak akan bisa kau bohongi lagi!” amarahnya meledak-ledak, tapi aku hanya mampu menahan tawaku dengan wajah yang kubuat-buat sebagai pria dominan.

__ADS_1


“Kemarilah,” kataku dengan jari telunjukku. Lalu dia berdiri meninggalkan bangku besar di seberangku dan berjalan melewati meja besar; berdiri di sampingku.


“Well, kau ingin ini kan?” tanyaku menggerakkan surat di tanganku yang dengan cepat ingin dia ambil, tapi aku langsung menggerakkan tanganku hingga dia gusar tidak mendapatkannya.


“Cium aku!” perintahku, kali ini semakin membuat wajahnya memerah.


“Aku tidak mau!” tolaknya dan aku segera menariknya ke dalam pangkuanku.


Dia terkejut, tentunya, tapi hal itu semakin membuatku gemas ingin memakannya. Jika dia menolak memulainya duluan, maka aku yang akan memulainya. Aku memangut bibirnya pelan, aku tidak mau membuatnya merasa sangat aku hakimi. Bagaimanapun juga, ini adalah hal yang sangat aku tunggu-tunggu setelah beberapa tahun mengaguminya dari jauh.


Sugar, apakah kau sungguh tidak tahu kau adalah canduku. Kau, wanitaku. Hanya milikku dan satu-satunya kelemahan yang aku punya.


Aww! Dia menggigit bibirku setelah aku tahu dia juga masuk ke dalam pusaran hangat yang aku berikan.


Prak! Dan satu tamparan mendarat di pipiku menandakan dia marah pada dirinya sendiri karena ikut menikmatinya. Hahaha, dia kira aku tidak tahu? Aku sudah pernah melakukan hal itu dengan wanita-wanita yang menggilaiku. Aku tahu, dia terlena dengan ciumanku, tapi dia malu mengakuinya.


“Kau brengsek!”


“Akan aku kunci kau supaya tidak bisa masuk kamar! Kau pria kotor! Menjijikkan!” ucapnya menarik surat perjanjian kami dan meninggalkanku dengan bibir yang tentunya mengeluarkan darah karena ulahnya.


Sesuai dengan dugaanku, dia memang menggemaskan. Aku rasa, aku harus mempercepat tanggal pernikahan kami. Akan kubuat dia menjadi milikku seutuhnya. Tunggu saja!


***


Setelah menghabiskan pudding lezat buatan pelayan di rumahku. Aku pun segera menuju kamar. Tina bilang, dia melihat Elena mencemberutkan bibirnya setelah keluar dari ruanganku. Elena juga menolak dessert yang sudah Tina siapkan. Aku hanya terkekeh mendengar apa yang Tina katakan tentang Elena. Tina bilang, Elena seperti kelinci kecil putih yang polos. Dia mengambek seperti anak kecil dan mengunci pintu kamar. Benar-benar sesuai seperti apa yang dia katakan tadi di ruang baca. Dia kira, dia bisa mengancam serigala sepertiku?


Aku ini pemilik rumah ini! Tentu aku sudah mendesain rumah ini sebaik mungkin. Dia bodoh, tidak tahu kalau ruangan ini mempunyai dua pintu rahasia. Satu, pintu ini menyambung dengan wardrobe menuju kamar mandi dan ke dua menghubungkan dari ruang baca menuju ruang kamar depan TV. Tentu aku bisa masuk tanpa membuat keributan dengannya dulu.


“El,” bisikku memanggilnya seraya naik ke atas ranjang perlahan supaya tidak membangunkannya.


“Dia sudah tidur,” kekehku pelan menyingkirkan rambutnya yang menutupi wajah.


Dia lupa tidak menutupi tubuhnya dengan selimut dan membohongiku tidak bisa tidur di ruangan besar. Nyatanya dia tidur dengan lelap, padahal sepanjang jalan tadi dia menghabiskan waktunya untuk tidur. Sepertinya calon istriku benar-benar kebo!

__ADS_1


“Pa! Papa, jangan tinggalin El!” igaunya tiba-tiba, lalu aku melihat setetes air mata keluar dari ujung matanya.


“El, kau baik-baik saja,” bisikku. Namun dia tidak merespon.


Aku pun mengambil posisiku berada di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukanku. Entah perasaan hangat apa ini? Aku sungguh merasa tenang karena akhirnya dia berada di sampingku. Malam ini dan seterusnya, aku berjanji akan melindungimu! Aku sungguh berjanji tidak akan membiarkan tua bangka itu melukaimu!


“Pa! Papa!” teriak Elena tiba-tiba bangun dari tidurnya.


Aku pun ikut bangun dan memegang punggungnya. “El, kau bermimpi buruk?” tanyaku menyeka air matanya dan keringatnya yang menetes.


“Max, Papa!” Elena langsung menghambur memelukku.


Tuhan! Rasa sakit apa yang kau hadirkan dalam hidup kami? Aku dan Elena hanyalah seorang anak yatim piatu yang tidak tahu arah pulang. Namun beruntungnya Elena bisa mengingat wajah ke dua orang tuanya. Aku? Ayah dan ibuku, aku tidak pernah mengingat wajah mereka dengan baik. Aku hanya punya satu foto ibuku dan tidak pernah ingat memiliki kenangan yang bagus. Aku mulai merasa bahwa ini takdir. Aku dan Elena dipersatukan dalam takdir yang sama.


“Sudah tidak apa-apa,” ucapku berusaha menenangkan. “Ayo kembali tidur,” kataku menarik selimut sebatas dada dan menyalakan AC.


“Max, kenapa kau bisa masuk?” tanyanya tiba-tiba di dalam pelukanku, entah kenapa membuatku kesal dengan pertanyaan tidak sopan itu. Tentu saja karena aku pemilik kamar ini. Memangnya dia kira kenapa?


“Apakah itu pertanyaan yang penting? Sudah! Ayo tidur! Besok aku akan membawamu ke suatu tempat.”


El memukul dadaku lalu membelakangiku menandakan dia benar-benar tidak suka kalau aku bergabung dengannya di satu ranjang yang sama. Padahal baru beberapa detik yang lalu dia membagi kesedihannya padaku. “Apakah kau takut serigala ini akan memakanmu!” bisikku di telinganya dengan tangan yang tentunya tidak akan diam saja.


“Singkirkan tangan kotormu! Jangan berani-beraninya menyentuhku!” katanya lagi menyisipkan kata manis yang sudah aku dengar sebelum tidur.


Aku hanya bisa mengembangkan senyumku di belakang tubuhnya. Dia tidak tahu, kalau aku ini pria yang keras kepala. Aku akan mendapatkan apapun yang aku mau! Malam ini aku ingin dia berada di pelukanku. Maka aku akan memaksanya untuk tetap diam saat aku memeluknya.


“Lepaskan aku! Aku tidak mau kau peluk!” sergahnya, tapi aku terus memeluknya keras hingga dia kelelahan; tidak berdaya; tertidur di dalam pelukan serigala yang mencintai putri tidur.


unchhhh wkwkwkwk, jangan lupa like dan komennya ya~


 


 

__ADS_1


__ADS_2