Naughty Sugar

Naughty Sugar
[9] Selamat Malam, Sugar!


__ADS_3

MAX POV


Wajahnya memucat, buku-buku jarinya pun begitu. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku karena rasanya aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku takut, sungguh ketakutan. Melihatnya kesakitan dengan jarum yang menusuk lengannya.


“Dia keracunan dan sepertinya sempat memuntahkannya,” ucap Martin, sahabatku seraya melepaskan stetoskopnya.


“Aku akan berikan resep obatnya pada pelayanmu. Biarkan dia istirahat karena pasti tubuhnya sangat lemah. Jangan lupa, banyak minum air putih karena dia pasti akan dehidrasi. Dia beruntung, kau menolongnya di waktu yang tepat,” kata Martin karena sebelum aku bawa pulang ke rumah. Aku sempat membawanya ke rumah sakit terdekat.


Aku hanya mengangguk seraya menatapnya sedih. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi. Aku sudah begitu lalai menjaganya. Ini hari ke dua dia bersamaku, tapi aku sudah membuatnya menderita.


“Sepertinya keluargamu tidak begitu menyukainya. Aku rasa, ini tidak akan baik,” ucap Martin menepuk bahuku lalu pergi keluar dari kamarku.


Aku pun duduk di sisi ranjang. Menyingkirkan sebagai rambut yang menutupinya dan mencium punggung tangannya lembut. “Bagaimana bisa aku menjagamu? Apa aku salah membuatmu terlibat dengan semuanya?”


Aku tidak bisa menahan kesedihanku. Melihat Elena yang hampir mati, rasanya itu semua karenaku. Ini semua pasti sudah direncanakan. Entah Natt, Eliz atau Ronald yang melakukannya, tapi aku yakin mereka pasti menginginkan El mati.


Tok, tok, tok,


“Tuan, maaf. Bu Rain menelepon karena katanya menghubungi HP Tuan tidak diangkat, ini penting,” ucap Tina yang berada di ambang pintu.


Aku pun memperbaiki selimut yang menutupi Elena. Lalu segera menerimanya seraya berjalan menuju ruang baca.


“Bagaimana?” tanyaku tak sabar.


“Pak, itu semua ulah Natt. Dia bilang sangat senang bisa membantu balas dendam Bapak terhadap Ibu Elena. Dia juga bilang, akan membantu Bapak lagi di lain hari. Dia sama sekali tidak menyesal dan merasa sudah mengambil jalan yang benar untuk membantu Bapak. Saya bingung dengan apa yang Natt katakan. Sebenarnya ada apa, Pak? Kenapa seperti ini?” suara Rain di ujung sana nampak bergetar.


Sementara tanganku mengepal keras karena merasa sangat bodoh membiarkan Natt mencampuri urusanku. Rain memang tidak tahu apa-apa tentang ini dan Aku benar-benar muak dengan wanita sialan itu!


“Katakan padanya! Aku mengatakan hal sebenarnya bukan berarti dia berhak mencampuri urusanku! Jika dia melakukannya sekali lagi, aku tidak akan segan-segan membuatnya ikut menderita!” kataku langsung menutup telepon dan membantingnya hingga hancur lembur.

__ADS_1


Sialan! Dia kira, dia ratu bisa hidup seenaknya, melakukan apapun tanpa berpikir panjang! Lihat saja! Sekali lagi dia menyentuh gadisku, dia juga akan merasakan penderitaan apa yang Elena rasakan!


“Tuan! Nona El sudah siuman,” teriak Tina tiba-tiba membuatku langsung masuk dari pintu rahasia dan naik ke atas ranjang.


Elena nampak memegang kepalanya seraya berusaha bangun dari baringannya. “A-aku kenapa?” tanyanya khas orang sakit.


“El, apa yang kau rasakan? Aku akan segera menghubungi Martin lagi! Aku rasa dia-“ kalimatku terhenti begitu Elena mengibaskan tangannya agar aku tidak menyentuhnya.


“Tina, ada apa denganku? Kepalaku dan perutku sedikit sakit. Aku…awww!” Elena melenguh sakit begitu dia sadar di lengannya ada sebuah infusan.


“Nona keracunan, tapi dokter bilang, Nona sempat memuntahkannya. Dokter juga sudah menyuntik obat penawar dan Nona harus banyak istirahat. Saya akan menyiapkan obat dan makanan supaya Nona cepat sembuh, Nona tidak perlu khawatir.”


“Tina, siapkan susu dan sediakan air putih yang banyak di sini. Aku juga akan menjaganya nanti malam,” kataku, tapi Elena tiba-tiba memaksakan diri dari baringannya. Tina refleks langsung membantunya dan memegangi tubuh Elena yang lemas.


“El! Apa yang kau lakukan?!” teriakku.


“Aku tidak mau tidur di sini. Tina, tolong carikan kamar untukku. Aku ingin istirahat yang tenang. Aku bisa merasa lebih baik jika di kamar tidak ada siapa pun?”


“Apa kau tidak tahu keadaanmu sekarang?! Lihatlah! Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan baik!” kataku menyadarkannya bahwa saat ini Tina kesulitan untuk membantunya.


“Tina sudah cukup tua dan akan sulit membantumu! Bagaimana jika tengah malam kau ingin ke kamar mandi dan meminta tolong hal lainnya?! Tina juga ingin istirahat! Hanya aku yang bisa menjagamu!”


Elena nampak duduk kembali perlahan di ujung ranjang dibantu Tina. Wanita itu mendadak menangis membuatku semakin khawatir. Cepat, aku meminta Tina untuk keluar. Aku rasa ada yang salah di sini. Kenapa Elena menghindariku?


“El,” panggilku seraya berlutut di depannya.


Perlahan aku mengusap pipinya lembut; merasakan rasa bersalah yang seumur hidup akan aku ingat. Ini semua terjadi karenaku. Harusnya aku menjaganya dengan baik. Memperlakukannya dengan baik dan tidak menyeretnya pada masalah yang ada.


“Max, aku ingin bahagia. Aku ingin sebuah pernikahan indah yang aku lakukan sekali seumur hidupku. Aku hanya ingin bahagia.”

__ADS_1


Deg! Apa yang dia bicarakan? Apakah dia mendengar pembicaraanku dengan Natt? Tapi aku tidak mengatakan apapun selain menutupinya terlebih dahulu. Rahasia ini semakin lama akan semakin lebar. Ini tidak akan baik jika nanti rencanaku gagal. Bahkan Teddy belum memberikan informasi lanjutan untuk membuktikan kejahatan Ronald terhadap ibuku. Aku yakin, Teddy yakin bahkan Aaron pun yakin kalau dibalik semua ini adalah Ronald.


“El, apa yang sedang kau katakan?! Sepertinya kau harus cepat istirahat. Aku akan menjagamu malam ini. Jangan khawatir, aku janji akan menjagamu,” kataku membantunya kembali berbaring di atas ranjang. Lalu menutup tubuhnya sebatas dada.


Aku pun menyusul di sisi Elena. Memberikannya kenyamanan ke dalam pelukanku dan menciumnya lembut supaya dia tahu bahwa aku sungguh mencintainya. Aku tidak main-main dengan perasaanku. Aku sungguh ingin menikahinya; membuatnya satu-satunya dalam hidupku.


“Aku minta maaf untuk hari ini. Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang terjadi. Martin hanya memberi tahu kau keracunan. Entah makanan mana yang memang sengaja dihidangkan untukmu dan membuatmu seperti ini,” bohongku tidak mau membuat El semakin membenci Natt karena aku takut dia malah datang untuk membuat perhitungan pada wanita itu. Jelas, Natt akan jadi pemenangnya. Lihat saja, dia berani membunuh Elena dalam waktu sekejap. Jadi aku memutuskan untuk merahasiakannya.


 “Tapi aku ingin kamu tahu El! Ibuku sudah meninggal sejak aku masih kecil. Eliz adalah ibu tiriku, tapi dia ibu kandung Sara dan Darrel. Aku tidak begitu suka Eliz. Makanya aku tidak memperkenalkanmu pada orang tuaku lebih dulu. Bisakah kau bertahan untukku? Sebentar saja! Aku akan membuatmu bahagia! Aku janji!”


“Aku tahu kau menyembunyikan rahasia dariku. Aku tahu pernikahan ini hanya sandiwara. Tidak bisakah, aku lepas darimu setelah semua ini selesai? Aku akan mengikuti sandiwara ini dan hutangku lunas! Aku tidak suka berpura-pura. Aku ingin bahagia. Aku tidak mau hidup denganmu. Aku tidak suka janji palsumu!”


Perasaan sakit apa yang hinggap di dadaku. Bahkan ketika di dalam dekapanku, dia berani mengatakan hal itu. Sandiwara? Ya, awalnya aku memang mengira ayah Elena adalah pembunuh ibuku. Sejauh ini, yang Ronald tahu, aku menjadikan Elena tawanan sebagai sandiwara alat untukku membalaskan dendam. Meski sebenarnya aku sungguh jatuh cinta padanya sejak lama. Hanya saja, El tidak pernah tahu. Dia tidak tahu bahwa perasaan ingin memilikinya sangat besar.


“Bahkan kau mengatakan ayahku seorang pembunuh! Ayahku memang sudah tidak ada, tapi dia bukan pembunuh! Aku yang akan menjadi tameng untuknya meski dia sudah tiada. Aku bisa bersumpah pada Tuhan bahwa ayahku orang baik, ” ucapnya entah kenapa begitu tenang di dalam pelukanku. Meski ada penekanan, tapi dia tetap mengatakan itu dengan sangat tenang.


Aku pun hanya terkekeh mendapatkan fakta ini. Calon istriku begitu tenang seperti air. Ada kalanya dia emosi, tapi dia bisa mengontrolnya dengan baik. Aku sungguh merasa bangga memilikinya. Dia sungguh tidak bisa ditebak dan cerdas.


“Aku tahu, bukan ayahmu pembunuhnya. Karena itu, aku ingin kau di sisiku. Aku ingin kau tetap aman di sisiku,” ucapku ikut tenang, tapi tidak ada jawaban sama sekali darinya.


Aku pun melihat ke arah bawah. Wajahnya tepat berada di depan dadaku. Dia memejamkan matanya, tapi aku tahu dia belum tidur. Dia hanya tidak mau menjawabnya atau memang hanya aku yang terlalu mencintainya. Sedangkan El, dia tak pernah membayangkan harus hidup dengan pria gila sepertiku.


“Selamat malam, Sugar!” sekali lagi aku mengecup keningnya, tapi kali ini cukup lama. Memeluknya erat hingga tak sadar kalau Elena membalas pelukanku dengan hangat.


Tuhan, aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku mohon! Biarkan dia berada di sisiku selamanya. Aku tidak mau kehilangannya.


****


Huft jujur aja ini salah satu karya yang aku suka banget secara suasana setelah My Idiot Wife dan sebenarnya ada dua karya lain yang paling aku suka. Tapi aku belum sempat keluarin di sini. Masih banyak revisi dan juga fokusin dua cerita yang masih on going dulu wkwkwk.

__ADS_1


 


 


__ADS_2