Naughty Sugar

Naughty Sugar
[35] Hukum Tabur Tuai


__ADS_3

MAX POV


“Kau gila! Apa yang kau lakukan pada ibuku?!”


“Kau pikir untuk apa?!”


Aku sungguh geram ingin melawannya! Namun kemudian Aaron mendekat ke arahku membuatku semakin melangkah mundur dan menggerakkan tubuh Ronald untuk tetap menjadi sanderaku.


“Jika kau berani macam-macam denganku. Akan aku tembak kepalanya lebih dulu,” ancamku, sungguh ini pertama kalinya seorang pembinis sepertiku harus melakukan hal seperti ini. Kakiku rasanya bergetar tidak keruan dan tanganku rasanya sudah mati rasa. Apakah ini akhir dari hidupku?


Aaron masih tersenyum remeh, dia masih terus mengikuti langkahku hingga tubuhku membentur dinding. “Ah ayolah, ini bukan taman kanak-kanak! Cepat bunuh dia, sialan!” teriak Ronald dan tiba-tiba Aaron mencengkram dagu Ronald membuatku terkejut.


“Siapa yang kau bilang sialan?! Kau yang harusnya cukup bermain-main! Aku bukan lagi bidak caturmu!”


“Aaron!” bentak Ronald.


PRAK!


Aaron menampar Ronald membuat bola mataku membulat. Lalu tangan Aaron bergerak seperti memberi perintah. Aku lihat semua orang yang aku kira, anak buah Ronald mengambi alih sanderaanku. “Hei sialan! Apa yang kau lakukan?!” teriak Ronald menggila.


“Tentu saja menghukummu dari semua yang kau lakukan! Kau sudah membunuh adikku! Ayahnya dan bahkan membunuh mertuamu sendiri, ibu kandung Eliz.”


“Aku sudah membayarmu dengan mahal! Kau gila!”


PRAK!


“Kau yang gila! Kau kira nyawa adikku bisa kau beli dengan uang?! Kau memperkosanya dan membayarku dengan uangmu supaya tutup mulut, heuh? Bahkan kau bisa merekayasa semua bukti-bukti pengadilan. Cihh, bahkan kau tak pantas menjadi ayah!” Aaron meludahi Ronald tepat di wajahnya.


Aku tak menyangka hari ini akan berpihak padaku dan aku tidak tahu kalau Aaron pun punya kenangan kelam. Selama ini dia tidak banyak bicara. Dia juga tidak pernah menceritakan keluarganya. Ternyata selama ini aku tidak sendiri menyimpan dendam ini.


“Pak, istri dan ibu Anda aman dengan penjagaanku. Teddy sebentar lagi akan datang dan membantumu mencari bukti-bukti yang ada,” ucap Aaron membungkukkan tubuhnya ke arahku membuatku terharu.

__ADS_1


“Amankan dia! Tapi sebelumnya…”


DOR! DOR!


Aaron menembak kedua kaki Ronald membuat pria itu langsung bersimpuh di atas lantai. “Itu hukuman ringan dariku atas semua yang kau lakukan sampai saat ini. Kau pantas mendapatkannya, jadi jangan pernah berpikir untuk kabur!” ucap Aaron dan semua anak buahnya berusaha menyeret Ronald.


***


Semua terjadi begitu cepat sampai rasanya seperti mimpi. Semua bukti-bukti kejahatan Ronald semuanya sudah dikumpulkan menjadi satu. Kasus pemerkosaan, pembunuhan berencana dan tidak terencana, bahkan penggelapan uang, semua dia lakukan tanpa malu. Sayang, semua kasusnya masih harus diselidiki dan kami masih menunggu keputusan dari hakim. Kami juga sudah menyewa pengacara handal yang aku jamin di persidangan ini kami akan menang.


Dan malam itu… Eliz tiba-tiba datang. Dia memberitahuku di mana Ronald menyimpan kunci rahasianya. Ternyata semua yang terjadi sudah Eliz atur. Mulai dari Aaron yang bekerja denganku, Teddy yang kerjanya lamban, bahkan Jon yang mau bergabung denganku. Eliz mengaturnya dengan baik dan aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya karena bertemu dengan ibuku adalah hal yang paling membuatku bahagia.


“Ibumu sedang istirahat. Dia lelah bicara dengan Ryan dan istrimu,” ucap Eliz padaku.


Aku pun menganggukkan kepala menatap ibuku yang tertidur di atas ranjang rumahku.


“Lalu bagaimana dengan Darrel?” tanyaku.


Aku pun terdiam, melihat mata Eliz yang sayu dan juga ada kantung hitam di bawah matanya. “Jika mengingat itu… aku akan menangis sepanjang malam. Aku menyesal, aku menyesal melakukan perjanjian dengannya,” ucap Eliz hampir tumbang sebelum aku menahannya.


“Tuan, ada apa dengan Nyonya?” tanya Tina yang aku lihat membawa segelas teh hangat di tangannya.


“Ah maaf, aku tidak apa-apa. Aku akan istirahat juga malam ini di rumahmu. Apakah tidak apa-apa?” tanya Eliz padaku dan aku mengangguk.


“Aku akan istirahat bersama ibumu,” ucapnya membuatku langsung membantunya masuk ke dalam kamar. Bergabung bersama ibuku dan dia memeluknya erat, tapi sebelumnya dia mengusap rambut ibuku perlahan. Lalu mengecupnya lama seperti yang aku lakukan pada Elena sebelum tidur.


Aku keluar dari kamar dan menghela napasku perlahan. Mengingat kembali cerita Eliz yang menyedihkan. Aku kira selama ini dia membenciku, tapi ternyata apa yang dia lakukan sebenarnya adalah melindungiku. Dia menjaga jarak denganku agar Ronald tidak mengira bahwa dia ada berada dipihakku. Dia bilang, ayah kandungku bernama Reynald. Ayahku adalah anak sulung dari keluarga Winston. Saat itu Eliz adalah anak dari pembantu rumah tangga keluargaku. Dia mengenal Reynald dengan baik, dan Ronald dia sudah lama terpisah dari keluargaku karena nenekku; istri Winston membawanya pergi setelah bercerai.


Nenekku ketahuan selingkuh, dan memutuskan untuk hidup bersama selingkuhannya. Namun setelah itu kehidupan nenekku pun tidak baik-baik saja. Pria itu meninggalkan nenekku dan membuat hidup nenekku berantakan. Dia sering mabuk-mabukkan hingga akhirnya meninggal dan membiarkan Ronald sendiri. Ronald hidup dalam dendam yang tiada akhir pada kakekku karena Ronald pikir kakekku yang selingkuh.


Saat itu Ronald tahu di mana ayahnya tinggal. Dia mendengar perusahaan Winston semakin jaya dan memutuskan untuk pulang, tapi nyatanya dia melakukan hal kotor-kotor untuk mendapatkan perusahaan karena waktu itu ayahku yang akan memimpin. Dia membuat kecelakaan yang sudah dia rencanakan hingga ayah dan kakekku meninggal. Ronald mulai menghilangkan identitas ayahku dari akte keluarga. Dia juga mengganti seluruh pelayan di rumah serta orang yang pernah bekerja dengan ayahku. Ronald membungkam semua orang dengan uang untuk menjadi pengikutnya dan siapapun yang mengkhianatinya, dia akan membunuhnya.

__ADS_1


Setelah itu, dia menyuruh Eliz (anak seorang pembantu) membunuh ibuku yang sudah memilikiku. Eliz awalnya tidak mau, tapi Ronald mengancam akan membunuh ibunya dan dia berjanji akan menikahi Eliz untuk menggantikan posisi ibuku saat itu. Eliz menandatangani perjanjian itu, tapi dia minta syarat agar aku aman. Eliz ingin tetap mengasuhku meski orang tuaku tidak ada. Setelah Eliz dan Ronald melakukan perjanjian. Eliz pun melakukan yang Ronald mau, tapi ternyata Eliz menyembunyikan kematian ibuku. Dia merekayasa semuanya dari Ronald dan mengirim Eliz ke Eropa. Dia membayar mahal setiap tahunnya dan berusaha menyembunyikannya bertahun-tahun hingga akhirnya Ronald tahu bahwa uang yang Eliz habiskan selama ini untuk ibuku.


 Setelah dia tahu pun akhirnya Ronald membunuh ibu Eliz. Eliz sangat terpukul, tapi dia berusaha untuk tetap bertahan karena Ronald mengancam akan membunuhku, bahkan akan membunuh darah dagingnya sendiri; Sara juga Darrel. Sejauh itu tentu Ronald tidak melakukannya sendiri, dia sudah bekerja sama dengan Alfred sejak lama. Saat ini aku bersyukur semuanya berlalu.


“Max, apa yang sedang kau lakukan?” suara Elena membuatku membalikkan tubuhku.


El nampak lucu dengan wajahnya yang berantakan dengan tepung. Aku pun terkekeh dan mengacak rambutnya pelan. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan?” tanyaku.


“Cobalah, aku sedang shooting di bawah,” ucapnya dan memberikanku kue buatannya.


Aku pun mengangguk lalu mencium bibirnya yang terasa jauh lebih manis. “Max! Kunyah dulu sampai selesai!” protesnya mendorong tubuhku.


“Sekarang istriku semakin pandai protes ya!” kataku seraya mencubit pipinya yang terlihat semakin berisi. Aku berharap Elena cepat hamil dan kami bisa bermain bersama.


“Ish! Lagian kamu suka main nyium tiba-tiba. Kalau orang lain lihat bagaimana?!” Elena memukul dadaku memanja, sungguh kode supaya aku menariknya ke kamar, tapi aku tidak bisa karena aku juga harus bergabung dengan program ini.


Setelah apa yang terjadi, ibuku pun menjadi sorotan media, tapi aku membatasinya karena ibuku masih perlu pengobatan yang ketat untuk memulihkan kesehatannya. Dia nampak tidak bisa mengingatku, tapi lama kelamaan dengan foto-foto yang kami temukan, ibu bisa mengingatnya sedikit demi sedikit.


“Memangnya siapa orang lainnya? Ryan? Jon? Atau Almero?” ledekku menyebut kucing anggora kesayangannya.


“Dasar menyebalkan!” Elena menyentuh titik kelemahanku, benar-benar menggodaku membuatku melotot ke arahnya.


Namun wanita itu langsung berlari ke anak tangga dan menjulurkan lidahnya. “Kau rasakan itu!” katanya membuatku berteriak dan mengejarnya.


“El, kau sengaja melakukannya! Kau harus bertanggung jawab!” aku mengejarnya seraya menuruni tangga. Tentu moment manis  ini tidak akan sutradara sia-siakan.


“El! Jangan lari!” kataku dan Elena masih terus berlari menuju dapur. Dia tertawa dan menjulurkan lidahnya seperti anak kecil.


“Lihat saja nanti malam. Tidak ada ampun untukmu!”


“Aku akan menguncimu, wle!” Elena masih saja meledekku, tapi aku suka. Aku selalu menyukai apapun yang ada pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2