Nayla

Nayla
satu (1)


__ADS_3

 


Malam sempurna dalam wujudnya. Ia serupa payung hitam raksasa yang ujung-ujungnya menancap dikaki cakrawala. Bulan pucat ke mengapung. Bermain petak umpet dengan mega-mega. Bintang-bintang seperti sekumpilan muda mudi yang saling mengedipkan cahaya matanya. Benda-benda langit menjadi ornamen interior yang hanya dimiliki malam. Ditambah sejumput misteri, malam adalah rumah bagi hati yang mendamba sekaligus lubang hitam bagi pemilik duka nestapa.


Angin melambaikan ujung jilbab gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut. Tangan kirinya sesekali menghapus air mata yang terus mengalir tatkala memandang sebuah foto dalam bingkai ditangan kanannya.



"Sudahlah, *nduk*" elusan lembut ia rasakan dikepalanya. Ia raih tangan yang mulai keriput tersebut lalu digenggamnya.


 


"Nay tidak apa-apa buk" sambil memaksakan senyum manisnya.


*****


 


Dilain sisi berdiri seorang pemuda melambaikan tangan kirinya pada sebuah taksi yang berjalan lirih diruas utama Kota Situbondo. Tangan kanannya memegangi tas ransel hitam yang menggantung dibahunya.


"Mau dianter ke hotel apa, mas?" pak sopir yang baik hati membuka percakapan dengan nada sehangat wedang ronde. Ia mengamati penumpangnya yang sedang temangu menatap jalan yang bermandikan sinar lampu.



Setelah agak lama tak ada jawaban, pak sopir memperdengarkan kembali suaranya dengan logat khasnya. Tanpa diminta, ia bicara soal profesinya yang sudah dua puluh tahun, asal\-usulnya, anak istrinya, umur, tempat\-tempat yang wajib dikunjungi, hotel\\-hotel murah, pantai dan pasar\-pasar.



"Sudah setengah jam kita keliling. Sudah beberapa hotel kita lewati. Lupa nama penginapannya?" kerut putus asa nampak jelas diwajahnya. Ia sudah kenyang dengan perilaku para penumpang. Tetapi saat ini ia tidak mau melihat seseorang bunuh diri didalam taksinya. Ia akan bertanya sekali lagi jika tetap tak ada jawaban, dia akan menurunkannya di halaman hotel didepan sana itu.



"Jalan ke timur"


Dia menjelaskan bahwa saat ini mereka sedang mengarah ketimur menuju daerah Arjasa dan Landangan.



"Bapak jalan saja ke timur. Gue nanti yang memberikan kapan bapak belok, pelan\-pelan, dan berhenti" jawaban pemuda itu sekaligus memberitahukan darimana ia datang.



Taksi bergambar burung rajawali itu meluncur melewati bandara, terus ketimur. Dipertigaan Pasar Labu, belok ke kanan membelah jalanan sepi. Sekitar lima kilometer, ia meminta sang sopir untuk memelankan taksinya. Didepan ada jalan ke kiri menanjak. Pemuda berjaket jeans itu menunjuk.



"Sebenarnya, *sampeyan* ini mau kemana, *tho*? Jalan didepan itu menuju kampung. Kalau masuk tanpa tujuan yang jelas bisa\-bisa kita beurusan dengan orang\-orang Kampung. Maaf, mas saya tidak mau cari masalah. Seharusnya, saya sudah dirumah sejam yang lalu"



Untuk pertama kalinya pak sopir tersebut melihat dengan jelas wajah pemuda itu. Hidungnya mancung. Matanya bulat besar. Kulitnya putih, kumis dan janggutnya sepeti sudah berhari\-hari tak dipangkas. Dalam keremangam cahaya pemuda itu dapat dikategorikan ganteng, tampang dalam bahasa orang kota. Meski wajah itu juga bicara lain. Kegundahan tergambar jelas dibalik tatapan matanya yang sayu.



"Seharian gue udah ngerepotin tiga orang sopir yang berbeda. Masing\-masing ke selatan, utara, dan barat. Sejujurnya gue juga nggak tau mau kemana. Gue belok dan berhenti karena gue pengen. Itu saja, maaf, sudah membuat bapak pulang terlambat. Jalan lagi, pak, sampek gue bilang stop"

__ADS_1



Taksi menembus jalan kampung perlahan. Di gang pertama pemuda Jakarta meminta belok. Ada rumah\-rumah sederhana dengan penghuni yang terlelap. Taksi berhenti diujung halaman yang cukup luas. Pemuda Jakarta menyerahkan uang kepada sopir dari belakang.


"sampeyan mau kencing ke mushala?"


"Setahu gue, mushala tempat shalat pak. Terima kasih"


Tak lama kemudian pemuda itu bersandar pada dinding putih. Terpaan angin malam membuat dirinya menarik dalam\-dalam lipatan kakinya. Dinginnya air masih ia rasakan saat ke kamar kecil tadi. Ia edarkan pandangannya menyapu rerimbunan pohon hitam dalam gelapnya malam.



Persis didepan teras ada sebuah kamar kecil sejajar dengan tempat wudhu. Ia melihat kedalam melalui jendela. Gelap. Sebab. Lampu didalamnya dimatikan yang terlihat hanya pantulan wajahnya saja.



Tak habis pikir, ia kenapa berhenti disini? Batinnya mulai mendungungkan percakapan. *Dasar \*\*\*\* lu Ran! Emang enak kedinginan ditempat asing kayak gini. Dasar \*\*\*\*\*\*! Kenapa gak lu turutin aja kemauan orang tua lu! Lu gak bakalan hidup susah kayak gini yang ada lu bakal hidup nikmat selama\-lamanya.


Tidak, terlalu banyak yang diambil bunda sama abah dari kehidupan gue. Gue menerimanya walaupun terpaksa. Tapi, kali ini gue gak bisa melakukannya, gue gak mau menghancurkan kehidupan orang lain. Dia*...



"Sebaiknya didalam saja"



Pemuda itu mendongak demi suara lembut yang membuyarkan lamunannya. Ia berdiri dan menyambut uluran tangan didepannya. Seulas senyum hangat ia dapatkan dari pemuda yang menyanyapanya. Ia menaksir usia pemuda ini sama dengan dirinya. Dua puluh dua atau dua puluh tiga. Tingginya pun sama meski tubuhnya kelihatan kurus.



"Gue..., eh..., namaku Randy, pake Y bukan I"


"Jadi, aku harus panggil bagaiman? Randy dengan Y atau I"



Seperti ada tangan yang menarik otot bibir Randy sehingga membuat garis melengkung. Ia lupa kapan terakhir kali ia tersenyum apalagi tertawa. Apalagi, dengan sikap bersahabat Fahim yang menggandeng Randy masuk kedalam mushala.



Setelah mengajak Randy kedalam Fahim keluar. Randy melihatnya masuk ke dalam kamar kecil didepan itu. Tak lama kemudian, kembali lagi. Fahim meletakkan gelas yang masih mengepulkan asap beraroma teh, juga kantong plastik berisi donat dan pisang goreng.



"Teh tubruk, mas, monggo"


"Gue jadi kagak enak"


"Mushala ini rumah Tuhan. Siapa pun boleh bertamu kapan saja, termasuk yang tidak mempunyai tuhan. Cuma repotnya, kalau *ndak* punya tuhan, kesini mau apa, wong keberadaan Tuan Rumah saja tidak diakui. Omong\-omong *sampeyan* bukan golongan mereka, kan?"



Meski baru kenal beberapa menit. Randy sudah bisa menebak intonasi yang mengarah ke dalam keakraban. Dengan senang hati Randy masuk kedalamnya. Membiarkan dirinya bicara melepaskan gumpalan\-gumpalan yang memenuhi rongga\-rongga pikirannya. Akan tetapi, saat ingin membuka tabir yang menutupi motif yang sebenarnya Randy ragu, lalu memilih diam dan mengalihkan pembicaraan.


__ADS_1


Pemuda bernama Fahim yang mengaku penjaga mushala ini bisa membuatnya menarik napas segar setelah lama paru\-parunya hanya mengisap udara masalah, debu tekanan, dan asap penderitaan. Seperti saat memutuskan untuk berhenti dan mengambil jeda sesaat ditempat ini. Bagaimana bila tak diizinkan? Randy menunda keinginannya sampai esok pagi. Fahim meyuruhnya tidur. Masih ada tiga jam sebelum subuh menjelang. Fahim memberikan bantalnya kepada Randy.



"Kamu sendiri?"



Fahim melipat sajadah dan meletakkan dibawah kepalanya, lalu memiringkan badannya menghadap tembok. Randy menatap lagit\-langit mushala itu. Ia meraba tasnya dan meletakkan sejajar dengan kepalanya sambil memejamkan matanya. Ia kehilangan nafsu tidurnya. Ia buka kembali matanya. Melihat kesamping memastikan Fahim masih ada.



Sejam berlalu, Randy tetap terjaga. Sedang, Fahim menggeliat bangun.



"Tidak bisa tidur?"



Randy ikutan duduk.


"Masalah kadang luar biasa jahatnya sampai-sampai merampas hak badan tubuh untuk beristirahat" lanjut Fahim.


Randy mengangguk seraya menjelaskan bahwa beberapa hari terakhir dilanda insomnia.


"Aku punya obatnya. Beberapa kali kucoba ternyata manjur juga"



Randy menyimak dengan saksama. "Shalat?"



"Shalat tidak bisa mendatangkan uang, tetapi dengan shalat kita bisa memilih cara yang halal untuk mendapatkan rezeki. Shalat tidak bisa membuat mahasiswa dapat nilai A misalnya, namun dengan sholat dapat menenangkan pikiran supaya bisa konsentrasi belajar. Intinya, shalat seperti memandikan batin kita. Segar. Asal, dilakukan dengan ikhlas dan yakin."


Penjelasan Fahim terdengar asing bagi Randy, namun masih bisa diterima oleh nalar Randy. Ia seperti menemukan teman yang dapat memcahkan masalah melalui penjelasannya.


Berikutnya Randy melakukan apa yang disarankan oleh Fahim. Ia mengambil wudhu dan menyusul Fahim yang sudah shalat terlebih dahulu. Usai shalat, Randy hanya memanjatkan satu doa.


"Ya Allah buat saya tertidur"


Setelah itu ia rebahan.


 


*****


 


Randy terbangun ketika lampu menyala terang.


"Benar, gue tertidur"


Randy menambah jumlah jamaah sekaligus menjadi anak muda ke dua setelah Fahim, muadzin sekaligus imam.

__ADS_1


 


__ADS_2