Nayla

Nayla
delapan (8)


__ADS_3

Sejarah hidup Sinar adalah sejarah gosip dan bisik\-bisik tetangga. Sinar dan yang berhubungan dengan namanya adalah lubang hitam di kepala setiap orang di kampung Jalil.


Sepekan ini Siska dibingungkan dengan data yang harus ia tuliskan mengenai latar belakang subjek penelitiannya. Terlalu banyak yang ditutupi tirai. Kitab utama Siska hanya Aini yang jika bicara tentang sinar terkesan sangat berhati\-hati.


Siska sadar bidang yang ia geluti tak henti dirundung dilema. Bisakah jiwa dimatematikakan? Dapatkah perilaku manusia dirangkum dalam rumus\-rumus ala fisika? Tapi, Siska juga menolak jika segalanya datang ujug\-ujug, tiba\-tiba. Bahkan, panu di ketiak pun bisa dilacak akar asal usulnya. Alergi atau memang jarang mandi.


Dalam kasus Sinar, Siska yakin ada faktor X di belakang sana. Dan, itu yang semestinya ia pelajari. Tapi, bagaimana meneliti bila data yang didapatkannya mengerucut pada satu baris kata. Keautisan Sinar adalah kutukan. Sedikit beda. Kualat.


Siska bertahan dan mengejar. Oke, kutukan! Lalu, siapa yang mengutuk? Mengapa dia dikutuk? Apa sebabnya dikutuk? Kalau kualat, kepada siapa ia kualat? Perbuatan apa yang membuatnya kualat? Oke, hukuman Tuhan! Tapu, apa salah Sinar? Membunuh semut? Menerkam anak ayam?


Oh, Sis! Sebanyak pertanyaanmu, sejumlah itu pula kepalamu kejedot jalan buntu.


Sebulan berlalu Siska hanya tahu. Sinar sepuluh atau sebelas tahun. Anak dari pasangan Ibu Masriya dan bapak titik\-titik. Deteksi gejala umum. Gangguan kemampuan bersosialisasi, gangguan emosi, gangguan komunikasi verbal dan nonverbal. Ciri khusus. Marah tanpa alasan, membanting barang di sekitarnya. Agresif kepada diri sendiri dan orang lain.


Dalam minggu ketiga, Siska sudah mencoba lebih dari lima teknik untuk melakukan pendekatan. Hasilnya, masih sangat\-sangat jauh. Terjadi penolakan yang luar biasa. Sinar mengamuk. Biasanya, ia bebas melakukan apa saja dan kemana saja sesukanya. Diisolasi dalam kamar tertutup membuat geraknya terbatas. Pintu triplek hanya bertahan dua hari. Jebol. Dilumat kaki dan tangannya yang seakan tidak pernah kehabisan tenaga.


Kang Tedjo menggantinya dengan papan kayu. Agaknya, Sinar tahu lawan mainnya sudah berganti. Ia mengalihkan tendangannya pada dinding kamar. Kang Tedjo mendapat kesibukan baru. Melapisi dinding isolasi dengan papan.



Pagi itu, Siska berangkat dengan senyum semanis madu. Sampai rumah, Masriya membuka pintu dengan harapan baru. Sinar seperti biasa duduk setungku. Tampaknya ia baru saja makan. Siska menyapa sinar beberapa kali. Sama sekali tak beraksi. Siska jalan berjongkok dari sisi kiri. Tangannnya menjulur hendak menyentuh pundak Sinar.


Seketika, wajahnya Siska pias. Ia baru saja ingat, namun sangat terlambat.


*Praaaang! Pyaaaar*!


Piring, gelas, sendok melesat satu inci diatas kepala Siska mengahantam dinding papan, memuncratkan serpihan beling. Siska menutup mukanya. Ia selamat. Namun, menara harapan yang ia bangun berminggu\-minggu runtuh seketika.


Siska mendekam di kamar seharian. Masriya meminta maaf, lupa kalau Sinar harus dijauhkan dari benda pecah belah. Siska bersikeras bahwa ini salahnya. Abai aturan mainnya. Menyentuh Sinar dari sisi membuat Sinar terkejut dan reaksi pertamanya adalah mempertahankan diri. Dengan apa saja.


*****


Beberapa hari berikutnya, rumah Aini menjadi ruang meeting yang sangat penting. Siska diapit dua sahabatnya, Nay dan Rida. Diseberang meja, ada Fahim dan Randy. Di ujung sana, ada Aini. Izar disisinya. Perempuan setengah baya itu masih melihat wajah pasrah Masriya sore kemarin. Dengan kata terbata, Masriya minta maaf karena hampir saja Siska terluka. Bila akhirnya Siska memutuskan untuk berhenti, Masriya setuju saja.


"*Wis takdire anakku, Yu*," ujar Masriya dengan mata berkaca\-kaca.


Aini tidak bisa berkata apa\-apa. Kepasrahan Masriya memang menyayat hatinya. Seandainya ia dalam posisi Masriya. Mungkin Aini juga akan mengatakan hal yang sama. Putus sudahkah semua harapan? Dan, selamanya Sinar akan seperti itu? Sampai tangan takdir mengubahnya sendiri?


Gelembung kesedihan memenuhi dada Aini. Ia rangkul Masriya, tak peduli kotor sambil membisikkan secuil harapan.


"*Sabar, Yu. Gusti Allah ora sare*. Dia pasti menolong hamba\-Nya yang membutuhkan. *Dedungo sing akeh, Yu*."

__ADS_1


Aini memendam harapannya sendiri meski Nay menyampaikan kabar kalau Siska sempat mengatakan keinginannya untuk berhenti. Tidak jelas apakah sementara atau selamanya. Untuk itu, Siska ingin membahasnya dengaj yang lain.


Naluri Nay mengatakan ia kecewa. Sebelumnya, ia menaruh harapan yang begitu besar pada Siska untuk Sinar. Bertahun\-tahun memendam harapan, Nay tidak siap mendengar keputusan Siska yang begitu mendadak. Keinginan melihat Sinar seperti layaknya anak\-anak lain melakukan fakta bahwa Sinar bisa sangat berbahaya bagi Siska yang justru ingin menjadi penolongnya.


Fahim mencoba melihat semua ini secara lebih *fair*. Sinar anak berkebutuhan khusus sehingga perlu orang khusus pula untuk mendampinginya. Siska membutuhkn Sinar. Sinar membutuhkan Siska. Bertahun\-tahun terkurung dalam kotak autisme membuat Sinar tidak mengenali siapapun, bahkan dirinya sendiri.


Kekerasan jelas tindakan salah bila pelakunya sadar. Fahim tidak mau mengalahkan siapapun. Pun, seandainya Siska benar\-benar mundur , ia masih berterima kasih dan berutang budi pada gadis Nauli itu. Sinar butuh proses. Demikian juga Siska. Dan, itu pula yang Fahim katakan didepan mereka semua.


"Sekarang, kita dengar apa kata Siska sendiri. Sekali lagi, jangan berpikir salah atau benar. Kalau mundur, jangan karena merasa bersalah. Bila maju, jangan karena terpaksa. Bagi saya pribadi, Siska, kamu sudah memberikan yang terbaik pada Sinar." Randy memecah keheningan.


Aini mengangguk setuju.


Semua menunggu Siska bicara. Sementara, yang ditunggu masih saja meremas\-remas jemarinya seperti gadis di depan calon mertua. Lalu menatap ke luar pada lambaian daun\-daunan ketapang. Pelan sekali. Siska menarik napas panjang.


Sejauh ini, ia memang belum berhasil membuka pintu pertahanan Sinar. *Tapi, benar kata Fahim*, kata batin Siska, *Sinar sudah terlalu lama dalam dunia sendiri*. Pastilah pintu itu sudah demikian tebal dan engselnya berkarat sehingga sangat susah untuk dibuka. Sisi lain, Siska bekerja seperti sales yang memasang target harian, mingguan, dan bulanan. Minggu ini, Sinar harus begini. Bulan ini, mesti sampai tahap ini. Ketika semua target itu tidak terpenuhi, pikiran dibanduli beban ganda. Peristiwa tempo hari seharusnya tidak perlu terjadi jika ia tidak terburu\-buru mengambil langkah. Siska akui ia seperti dikejar dua bayangan sekaligus. Dirinya dan Sinar.


"Aku ingin keluar sebentar." Siska berdiri dan berjalan ke teras. Langkah Siska diikuti Izar yang langsung menempel di sisi Siska yang memandangi kebun bunnga Nay.


Lima pasang mata memandang ke titik yang sama. Siska dan Izar seperti sedang membicarakan sesuatu. Nay hendak bangkit, tapi Aini memberi isyarat tegas agar ia duduk kembali. Nay patuh.


Angin siang mengirim tawa keduanya sampai ke telinga Nay, langsung menegakkan tanda tanya dalam hatinya.


"Teman\-teman...," kata Siska lebih ringan dari hari\-harinya kemarin. Wajahnya juga rileks dan tenang.


Oh, Siska, kau membuat segalanya tampak mudah.


"Mas Fahim betul," sambung Siska lagi. "Aku melupakan proses."


Semuanya tersenyum senang dengan keputusan yang diambil Siska. Kecuali, Randy, dia diam tanpa ekspresi menatap Nay. Semua gerak\-gerik Nay tak luput dari perhatiannya. Hingga dia menunduk saat beradu pandang dengan Nay. Pikirannya berkecamuk. Jantungnya berdebar saat melihat senyum Nay.


*****


Kadang keberhasilan dan kegagalan hanya dibatasi garis tipis bernama kesabaran. Waktu bisa menjadi mesin pencacah kesabaran yang bisa menggilas semua harapan dan kekuatan positif. Namun, di sisi lain adalah peredam gejolak, penenang amarah, dan penyejuk hati yang panas. Tinggal mau pakai yang mana. Dan, Siska memilih yang kedua.


Siang itu pula, Randy mengatakan apa yang menjadi pikirannya. Menurutnya, Sinar bukan tanggung jawab Siska semata, tapi tanggung jawab bersama. Ia meminta pada Siska untuk melibatkan semua dalam proses pendampingan Sinar.


"Siska, ajak kami untuk berpartisipasi apa pun bentuknya. Kami tidak tahu, maka beri tahu apa yang dapat kami lakukan untuk membantumu."


Izar langsung unjuk jari.


"Katakan apa yang Kak Nauli butuhkan. Nanti akan Izar siapkan," kata Izar dengan semangat empat lima. Kadang, ia memanggil Siska dengan nama marganya.

__ADS_1


"Iya, Sis. Aku dan Rida siap menjadi asistenmu," sambung Nay yang diiyakan Rida.


Siska terharu. Semangat mereka membuat Siska ingin segera bertindak.


Aini tidak mau dibilang tak membantu. Ia hanya memilih waktu yang tepat untuk memberikan sesuatu yang dibutuhkan Siska. Maka, suatu sore ketika Nay dan Izar di mushala, Aini menghampiri Siska di beranda.


"Kau masih ingin mengetahui latar belakang Sinar?"


Pertanyaan Aini mengalihkan perhatian Siska dari dua ekor kutilang di dahan ketapang.


"Ibu tahu?"


"Mudah\-mudahan, Ibu sedang tidak menyebarkan aib orang lain, Sis."


"Kalau Ibu merasa ragu, tidak usah memberi tahu. Latar belakang Sinar memang penting. Tapi, bukan yang terpenting saat ini."


Aini diam sejenak, sementara Siska menunggu tabir Sinar dibuka perlahan.


"Sinar bukan anak pertama Masriya. Sinar terlahir nomor tiga. Yang pertama, lahir sebelum waktunya. Tiga atau empat bulan. Setahun berikutnya, Masriya hamil dan melahirkan bayi, tapi tak seperti bayi. Ibu tidak bisa menjelaskan Sis, tak sanggup. Bayi itu hanya mampir sehari di dunia. Tapi, bayi itu sudah kadung menjadi bahan pembicaraan orang sekampung. Beritanya bertambah jahat setiap saat dan membuat Masriya dan suaminya kian tersudut. Suami Masriya laki\-laki bermental aspal. Asli tapi palsu. Ia sering bepergian meninggalkan Masriya sendirian. Sehari pulang, sebulan tak kelihatan."


"Hingga akhirnya, kampung ini geger lagi. Masriya hamil. Tidak ada yang aneh sebab ia masih punya suami meski jarang pulang. Tapi, fitnah sudah membakar semua isi kepala orang sini. Masriya berselingkuh dengan setan, genderuwo, atau apa saja yang membuat mulut warga puas mencacinya. Suami Masriya percaya kata warga. Masriya bersumpah. Pria Aspal itu pergi dan tak kembali."


"Masriya melahirkan normal. Meski sebelumnya sangat sakit karena ditinggal suami, begitu melihat bayi laki\-laki yang putih bersih dan tampan, Masriya menangis bahagia. Bayi yang sehat, gemuk, dan menggemaskan. Dan, kau tahu, Sis, wajah Sinar seperti tulisan difotokopi. Sangat mirip bapaknya. Sinar lahir dua minggu lebih dulu dari Izar. Masriya mulai berani keluar rumah meski satu\-satunya rumah yang berani ia masuki cuma rumah ini."


Siska membuka mulutnya.


"Iya, Izar dan Sinar bersahabat sebelum mereka bisa menyebut nama masing\-masing. Meski tanpa suami, Masriya sangat bahagia dan bertekad membesarkan Sinar seorang diri. Pekerjaan apa pun, ia jalani untuk sang buah hati. Hingga malapetaka itu datang. Dua minggu sesudah Sinar ulang tahun ketiga, anak itu demam sangat\-sangat tinggi. Sore menjelang maghrib, Masriya menggendong anaknya dan berlari ke bidan desa. Entah kenapa ia lewat jalan pinggir kuburan. Kata Masriya, begitu melintas disana, Sinar seketika diam. Padahal, badannya masih sangat panas. Bidan desa memberinya obat penurun panas walaupun agak heran dengan diamnya Sinar."


"Sinar tak pernah menelan obat. Malam itu, suhu tubuhnya normal kembali. Seperti tak ada apa\-apa. Satu yang membuat Masriya takut. Sinar tak lagi bersuara, padahal sebelumnya. Ia *partner* Izar berteriak. Fitnah kembali mengepung rumah Masriya. Anak\-anak balita dilarang bermain dengan Sinar. Sehari sebelumnya, Sinar mendorong seorang temannya masuk ke dalam parit yang cukup dalam. Perilaku Sinar berubah. Dari anak yang gemar bermain, menjadi penyendiri. Masriya semakin tak mengerti perilaki anaknya. Ia hanya bisa menangis setiap kalo anaknya diolok\-olok anak setan, anak genderuwo, dan sebagainya. Apa yang dapat ia lakukan seorang diri? Dibilang sakit, sinar sejak saat itu tidak pernah demam, flu, atau batuk. Tapi, Masriya juga sadar, terjadi sesuatu pada anaknya."


"Kami hanya bisa prihatin. Ibu sendiri waktu itu baru menjalani hari\-hari berat setelah ditinggalkan ayahnya Izar untuk selamanya. Seperti lingkaran yang terus membesar, Sinar menjadi semakin jauh dari kami. Atau, kami yang menjauhi Sinar? Entahlah, Sis. Kami orang desa dengan pikiran sederhana yang bersenjatakan doa."


Aini memandang Siska penuh arti "Sis, kamulah jawaban dari doa\-doa panjang kami."


Semua terekam sempurna dalam memori Siska yang memang baru saja di\-refresh. Benang putus itu kini nyambung. Cerita sepotong itu kini bersambung. Apa yang menimpa Sinar, bukan hanya dia seorang. Gejala Sinar banyak ditemui dalam mata rantai sejarah autisme seorang anak. Dan lihatlah, betapa bejibun mitos\-mitos yang menaungi Sinar. Anak setan. Anak genderuwo. Dan sebaginya. Bahkan, Siska melihat bahwa dirinya pun berpotansi menjadi mitos baru, sepeti kata Aini terakhir.


Tidak! Dia bukan jawaban. Dia kesini justru hendak bertanya dan mencari jawaban. Tentu kalimat itu tidak perlu di dengar Aini sekarang. Mungkin lain waktu. Maka yang keluar dari mulit Siska adalah ucapan terima kasih yang tulus.


*Kring...kring...kring*...!


Aini dan Siska menoleh bebarengan. Dari jauh, Izar melambai di belakang Nay. Mereka pulang dari mushala. Sesaat kemudian, sepeda mini berhenti di kaki ketapang. Siska berdiri dan untuk kesekian kalianya, ia kagum melihat Nay. Busana yang sederhana, kerudung hijau muda, wajah yang tanpa riasan. Kedua mata yang cemerlang. Senyuman menawan. Tatapan menyenangkan. Nay bagi Siska adalah pesan bahwa kecantikan bukan sebuah ramuan, alih\-alih polesan, tapi impian dan pencarian.

__ADS_1


Seperti tetes hujan terakhir yang membasahi hatinya. Siska merasa ada benih kecil yang tiba\-tiba mendesak keluar dari tanah, meminta hak menerima cahaya hangat matahari. Bagi jiwa yang terbuka, sekeping biji semangka yang tumbuh dan menghasilkan buah sebesar kelapa adalah keajaiban. Tapi, siapa yang bisa menolak ketika Dia sudah berkehendak.{}


__ADS_2