
" Dulu kamu sangat memperjuangkan cinta kita, apapun keadaannya Nay."
" Gas, sulitkah kalau kamu belajar lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab lagi akan hidupmu."
" Sulit untuk aku cerna Nay, aku sudah punya usaha, tetapi disuruh mencari pekerjaan tetap. Dan mungkin kerja kantoran juga bukan passion aku, apa salah menikahi mu dengan memiliki usaha sendiri. Apa harus kerja kantoran atau kerja seperti ayah kamu?Bingung aja." Bagas yang protes dengan persyaratan dari ayahnya Nayla namun juga terlihat pasrah dengan keputusan ayahnya Nayla. Nayla yang dilihatnya juga terlihat berubah tidak seperti dulu lagi. Suasana hening di dalam mobil. Keduanya seperti tidak ada jalan keluar lagi selain Bagas harus benar-benar mencari pekerjaan tetap dan berpenghasilan seperti apa yang diminta oleh ayahnya Nayla.
" Kita makan yuk."
" Tidak usah, sudah larut malam, kamu juga harus pulang dan perjalanannya sendiri dua jam."
Bagas kembali menatap Nayla yang seperti cuek dan tidak peduli lagi dengan dirinya. Nayla yang duduk bersandar dengan melihat ke arah depan tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. Bagas menghela nafas, bingung terhadap semua yang terjadi. Antara harus berjuang melanjutkan jalinan cintanya dengan Nayla atau harus berhenti di tengah jalan.
Bagas tetap fokus menyetir dan mengantar Nayla pulang. Sepertinya dia juga tahu kalau mood Nayla kurang bagus.
" Bye." Nayla yang turun dari mobil Bagas dengan acuh.
" Nay." Bahkan Nayla tak menjawab panggilan Bagas. Bagas yang melihat Nayla langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Bagas di depan pagar seperti yang biasa dia lakukan.
Kamu kenapa sih Nay . Bagas yang mengepalkan tangannya dan memukul bagian klakson mobil. Kemudian dia sadar bahwa dia sedang menyetir mobil dan mengendalikan perasaannya.
" Sudah pulang Nay?"
" Sudah Bu."
" Terus Bagas mana?"
__ADS_1
" Sudah pulang Bu."
" Biasanya mampir dulu."
" Aku besok juga harus bekerja Bu."
" Wajah kamu kenapa cemberut seperti itu? Habis bertengkar dengan Bagas."
" Aku hanya bingung saja Bu, dengan Bagas. Antara aku harus putus atau terus. Ayah itu sudah jelas-jelas seperti tidak akan pernah menyetujui aku dan Bagas untuk menikah."
" Apa kata ayah kamu."
" Kayak ibu tidak tahu ayah saja. Ayah maunya Bagas punya pekerjaan tetap. Bagas itu sudah pesimis dan bilang kalau kerja kantoran itu bukan passionnya. Apalagi Bagas sudah terbiasa hidup enak Bu, mana mau dia kerja ikut orang."
" Salahnya Bagas itu selalu mengandalkan uang papanya Bu, itu yang tidak aku setuju. Dia akan sulit mandiri, begitu juga dengan papanya yang selalu memanjakannya."
" Terus Rama?"
" Dia juga lagi mencari pekerjaan Bu. Dan usiaku sebentar lagi 27. Aku kasih batas waktu satu tahun semuanya, biar semangat mencari pekerjaannya. Biar kita bisa mendapat restu dari ayah dan aku menikah."
" Ayah kamu juga egois Nay. Tidak semua standartnya harus sama persis seperti dirinya. Siapa tahu Bagas dengan memiliki usaha sendiri, kelak juga bisa sukses."
" Tapi Bu, ayah ada benarnya. Biaya kesehatan, pendidikan anak yang semuanya semakin mahal, akan sulit mengandalkan Bagas yang baru saja membuka usaha dan belum jelas usahanya ke depan."
" Bu, sepertinya aku harus balik ke Surabaya."
__ADS_1
" Makan dulu Nay."
" Iya Bu." Nayla yang duduk di meja makan berhadapan dengan ibunya.
Nayla menikmati makan malam bersama ibunya dan langsung berpamitan untuk kembali ke tempat kostnya. Sesampainya di kost. Nayla mendapati mobil Tomy tidak terparkir di depan teras kostnya. Tomy kemana? sudah malam begini, mobilnya tidak ada. Nayla yang keluar dari mobil dan masuk ke dalam kostnya.
Kamu dimana? Kok mobilmu tidak ada. Pesan singkat Nayla kepada Tomy.
Aku lagi nongkrong Nay sama teman-teman kantor. Aku lagi di Klub. Gabung yuk! Tidak jauh kok dari tempat kost.
Tidak Tom, terimakasih.
Nayla kemudian masuk ke kamar dan berusaha memejamkan mata namun entah mengapa malam itu dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pertama kalinya dia acuh kepada kekasihnya yang sudah menjalin cinta selama lebih dari tujuh tahun. Nayla termenung, mondar-mandir keluar masuk dari kamar menuju dapur minimalisnya untuk mengambil minuman kaleng dari kulkasnya. Nayla duduk sambil melamun. Sesekali membenahi rambutnya yang tergerai dengan memegangi keningnya yang terasa pusing karena terlalu memikirkan jalinan cintanya. Malam sudah larut namun tiba-tiba terdengar suara mobil Tomy. Nayla berlari kecil dan mengintipnya dari jendela kostnya. Ternyata Tomy diantar oleh salah seorang laki-laki dan masuk ke dalam kostnya. Nayla keluar dan berlari menghampiri mereka.
" Mas, kenapa sama Tomy."
" Mabuk berat si Tomy. Tolong ya mbak urus dia, kita cabut dulu." Salah satu rekan Tomy yang menunggu di mobil memberi isyarat kepada rekan yang sedang berdiri setelah mengantar Tomy masuk dengan sempoyongan karena alkohol untuk segera masuk mobil dan pergi meninggalkan tempat kost Tomy. " Terimakasih ya mbak."
" Eh, mas..." Nayla yang berusaha mencegah pria tersebut untuk buru-buru pulang namun gagal karena pria tersebut sudah masuk mobil dan tidak memperdulikan Nayla.
Nayla berbalik badan dan melihat Tomy tergelatak di sofa tak berdaya. Nayla ingin meninggalkan Tomy namun dia tidak tega. " Tom, Tomy." Nayla berusaha membangunkan Tomy. Tolol kamu Nay, mana ada orang mabuk akan bangun kalau sudah berat seperti ini. Nayla sangat kewalahan berusaha menyeret Tomy ke kamar mandi untuk di guyur oleh shower supaya Tomy sadar. Nafasnya terengah-engah tidak karuan, sebentar-sebentar dia harus berhenti dan menggeletak kan tubuh Tomy sembarangan di lantai. " Ampun kamu Tom, berat banget sih." Nayla yang sekuat tenaga menyeret tangan Tomy. " Hah...hah...hah..." Nayla yang menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menyalakan air shower. Nafasnya tersengal keluar berantakan gara-gara Tomy. Tidak sadar air shower juga ikut membasahi tubuhnya yang bersandar di dinding. " Aw." Teriak Nayla yang terkejut karena guyuran air shower yang seharusnya membasahi tubuh Tomy. Nayla berusaha menghindar namun sayang, dirinya sudah terlanjur basah kuyup. " Tom...Tomy..." Telapak tangan Nayla yang berusaha menepuk berulang kali pipi kanan Tomy. Namun Tomy tak kunjung membuka matanya. Nayla yang terdiam sejenak mencari cara walaupun menahan rasa dingin akibat guyuran shower. Bibirnya yang berusaha menahan dingin tidak bisa dia tahan lagi. Selain lebih keras dia menepuk dan menggerakkan wajah Tomy supaya Tomy segera sadar dari mabuknya. " Tom...Tomy...bangun Tom." Upaya Nayla pun berhasil, Tomy perlahan membuka matanya dan sedikit demi sedikit matanya terbuka lebar. Meskipun Tomy sudah berusaha duduk, dia memegangi kepalanya karena pusing. Sayangnya Tomy melihat Nayla seperti Widia mantan kekasihnya yang sulit dia lupakan. " Widia." Tomy menatap ke arah Nayla dengan tajam.
Nayla tersentak kaget dengan Tomy memanggilnya Widia.
Bersambung
__ADS_1