
Semua siswa keluar dari kelas setelah bel pulang berbunyi. Nayla, Fahmi, Amanda, Kholil dan Eka keluar bersama dan membicarakan soal latihan IPA yang mereka kerjakan di kelas tadi.
"Man, lo dapat nilai berapa latihan tadi?" Eka bertanya pada Amanda.
"Bener semua Ka, nilaiku 10," jawab Amanda dengan senang.
"Otak lo pinter juga ya Man, berarti enak dong minggu depan pas ulangan," ucap kholil memuji Amanda.
"Iya Man, kalo latihan aja nilai kamu 10, apalagi nanti kalo ulangan, kalo aku dapat 5,5 hehe," ucap Eka ikut memuji Amanda, "soalnya aku nggak terlalu faham sama rumus-rumus fisika, kalo pembahasannya biologi baru aku suka," lanjut Eka.
"Gimana nilainya nggak 10, orang dia nyontek," ucap Fahmi ikut menimpali. Amanda menatap Fahmi sinis.
"Meskipun nyontek, asalkan aku faham cara kerjainnya," Amanda membela diri.
"Ternyata lo beneran nyontek Man, pantesan. Setau gue, lo juga nggak pinter-pinter amat di Fisika," ucap Kholil pada Amanda, padahal sebelumnya dia memuji Amanda.
"Nyontek di mana Man? Kok bisa sampe dapet nilai 10?" Tanya Eka.
"Dia nyontek jawaban Nayla," Jawab Fahmi.
"Bener Nay? Amanda nyontek ke kamu?" Eka bertanya pada Nayla yang ada di belakang Fahmi.
"Iya," Fahmi langsung menjawab pertanyaan Eka.
"Tapi kalian jangan bilang nyontek dong, kedengerannya nggak enak banget tau, lagian itu tidak termasuk menyontek, karena aku juga mempelajari cara-caranya sama Nayla," Amanda protes karena dikatakan menyontek.
"Apa bedanya? Sama-sama menjawab soal bukan dari fikiran sendiri," ucap kholil.
"Tau Man, itu sudah termasuk menyontek, karena jawaban kamu dari Nayla," Eka menimpali.
"Kalian kenapa bahas masalah nyontek sih," Fahmi berdecak.
"Amanda nggak nyontek kok, tadi kita belajar cara kerjain rumus doang di kelas," Nayla membela Amanda. sebenarnya dia juga malas dengan pembicaraan teman-temannya.
"Tuh, Nayla aja bilang kita cuma belajar, jadi kalian jangan bilang nyontek lagi, dibilang nyontek itu nggak enak banget tau," Amanda kesal, dan juga senang dibela Nayla.
"Ah menurut gue sih sama aja, termasuk nyontek," ucap Kholil meledek Amanda. Amanda berdecak.
__ADS_1
"Kalo aku dapat nilai 10 pas ulangan nanti, kamu mau kasih aku apa?" tantang Amanda kepada Kholil.
"Kalo lo emang dapat nilai 10, gue akan traktir lo, sampe uang saku gue habis juga gapapa," ucap Kholil menerima tantangan Amanda.
"Oke, awas ya kalo nggak traktir," ucap Amanda.
"Kita tunggu aja sampe minggu depan, kalo bener nilai lo 10 tanpa menyontek, baru gue penuhin janji gue," ucap kholil.
"Udah ah, kok kalian malah taruhan sih," Eka menyela Amanda dan Kholil.
"Tau nih dua cecunguk, berantem mulu, nanti kalo udah pacaran pada bucin kalian," ucap Fahmi ikut menimpali.
"Idih, aku pacaran sama dia? No no no, amit-amit," ucap Amanda menunjuk wajah Kholil.
"Tangan lo, nggak sopan banget sih," Kholil menepis tangan Amanda di depan wajahnya, "gue juga ogah kalo pacaran sama lo," lanjut Kholil. Mereka kembali berdebat, Fahmi yang muak melihat itu, pamit kepada Eka, sedangkan Nayla hanya tersenyum geli melihat Amanda dan Kholil.
"Ka, kita pulang duluan ya," ucap Fahmi pada Eka, "males liat mereka," lanjut Fahmi. Eka mengangguk.
"Aku juga pulang Fah, males banget liat mereka berantem," ucap Eka menggelengkan kepala melihat kedua temannya. Fahmi menggenggam tangan Nayla dan berjalan pulang.
"Biasa lah Nay, kelakuan temen-temen kalo udah koplak banget," ucap Fahmi. Mereka tertawa.
"Fah, si cuek yang dimaksud siswi kelas IX tadi siapa ya, yang katanya pernah ceritain tentang aku?" tanya Nayla yang masih penasaran dengan orang yang disebut cuek oleh siswi-siswi kelas IXA.
"Kata kamu kan Satya, trus kenapa nanya lagi, bukannya cuma Satya yang pernah bicara sama kamu dari kelas IX?" Fahmi balik bertanya.
"Emang cuman kak Satya sih yang pernah bicara sama aku, tapi kayaknya nggak mungkin deh Fah, kata Amanda kak Satya orangnya pendiem, dia juga nggak suka kalo terlalu deket sama temen-temennya" ucap Nayla.
"Kalo gitu aku juga nggak tau Nay, aku nggak pernah liat kamu bicara sama orang lain selain sama temen-temen kelas VIIIB aja," ucap Fahmi, "masa kamu nggak tau sih Nay?" tanya Fahmi.
"Aku nggak tau,"Nayla menggeleng.
"Yaudah lah Nay, jangan bahas si cuek itu lagi, mungkin aja dia fans tersembunyi kamu," ucap Fahmi.
"Tapi aku terus kefikiran," ucap Nayla lirih.
"kefikiran kenapa sih Nay?"tanya Fahmi.
__ADS_1
"Aku mikir, gimana kalo dia kak Satya?" ucap Nayla membayangkan wajah Satya.
"Emang kenapa kalo dia Satya? Kamu seneng?" tanya Fahmi dengan wajah menginterogasi.
"Biasa aja Fah, cuma aneh aja kalo si cuek itu kak Satya," ucap Nayla, "lagian kan dia cuma deket sama wakilnya aja, jadi jelas nggak mungkin dia deh," lanjut Nayla.
"Iya juga sih, nggak mungkin si Satya itu cerita sembarangan, apalagi sampe ceritain tentang perempuan ke banyak orang," ucap Fahmi.
"Iya makanya itu, tapi, kak Satya pernah suka sama perempuan nggak ya sebelumnya?" Tanya Nayla.
"Mana kutau Nay, aku nggak tau siapa dia, lagian emang kenapa sih kalo dia suka sama perempuan, itu kan kodrat laki-laki buat suka sama lawan jenis, kalo suka sesama jenis ya beda lagi namanya," ucap Fahmi.
"Aku cuma nanya kak Satya pernah suka sama perempuan atau nggaknya aja Fah," ucap Nayla kesal, "kok malah bicarain suka sesama jenis sih," lanjut Nayla.
"Kamu nggak berhak nanya tentang dia, karena kamu bukan siapa-siapanya dia, keluarga bukan, temen bukan, jadi nggak usah jepo tentang dia deh," ucap Fahmi dengan nada suara kesal.
"Aku nggak kepo Fah, aku cuma nanya, emang salah kalo aku nanya? Dan kalo kamu nggak tau mending diem," ucap Nayla menunjukkan jari telunjuknya.
"Emang kenapa kalo dia pernah suka sama perempuan?" tanya Fahmi.
"Ya nggak ada, aku cuma pengen tau aja," ucap Nayla sedikit salah tingkah. Fahmi melihat Nayla dengan aneh.
Layaknya saudara kandung, sahabat yang telah dekat denganmu akan mengerti segala yang kamu rasakan, dia akan peka tentang perasaanmu, meskipun dia adalah orang yang paling bodoh sekalipun dia akan tau bagaimana biasanya kamu mengekspresikan isi hatimu melalui raut wajahmu.~
Nayla mengalihkan topik pembicaraan agar dia tidak merasa salah tingkah lagi dengan pertanyaan Fahmi tentang Satya.
...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...
Nayla duduk melamun di meja belajarnya, buku-bukunya ia biarkan terbuka tanpa ia baca sepatah katapun. Pandangannya entah ke mana, hatinya rindu, membuat ia merasakan beban yang tidak bisa ia atasi, fikirannya hanya tertuju pada Satya. Dan perasaan ini baru pertama kali ia rasakan seumur hidupnya.
Seharian ini Nayla merasakan kekosongan, ia kesepian, dan seperti ada yang kurang selama seharian ini. Mungkinkah karena dirinya tak bertemu Satya?Terakhir mereka bertemu ketika dia diantar pulang ketika mengembalikan bukunya Satya. Ah, yang benar saja, tidak mungkin hanya karena itu ia merasa hampa dan kurang, mungkin ia hanya tidak menikmati hari ini saja.
Nayla masih setia melamun dengan buku yang terbuka di depannya, ia masih tak mampu menghilangkan perasaan hampa itu, betapa menyakitkan perasaan ini, padahal ia sehat-sehat saja, dia tak merasa sakit sama sekali, hanya saja hatinya yang gelisah tak tau kenapa, tapi ia benar-benar tak mampu mengendalikan hatinya.
"Ayo belajar Nay, kamu nggak pernah begini sebelumnya," Nayla berusaha melawan hatinya, ia mengambil buku dan membacanya, ia mencoba memahami buku-buku itu, tapi mengapa terasa sulit, kepalanya mulai terasa sakit, ia memijat pelan pelipisnya supaya rasa sakitnya hilang.
setelah merasa sedikit reda, Nayla kembali melanjutkan membaca dan mengerjakan PR yang diberikan tadi siang, mempelajari buku-buku yang akan dia bawa besok meskipun tak sepenuhnya ia mampu memahaminya, setelah itu ia merapikan buku-buku yang berantakan dan langsung menuju tempat tidur. Ia mencoba terlelap dengan perasaan yang ia sendiri tak mengerti kenapa.
__ADS_1