Nayla

Nayla
lima (5)


__ADS_3

Bulan pucat di angkasa raya. Wajahnya seperti gadis sedang patah hati ditinggal kekasih. Atau istri yang galau menunggu suami pulang dari rantau. Angin mendesau membuat batang\-batang bambu bergesekan.


*Kretek kretek*...!


Dua sosok anak muda mematung di halaman mushala. Hening. Mereka saling mendengar dengus napas masing\-masing.



"Setiap kali aku rindu dengan orang tuaku, terutama ibu, aku akan duduk disini melihat langit, berharap bisa melihat wajah merek di atas sana. Atau, mungkin mereka yang melihatku. Bila rasa rindu itu sudah tak tertahankan....," Fahim jeda sejenak.


Seperti Randy sudah tau kelanjutannya.


"Lalu, aku seperti mendengar Ibu berbisik ditelingaku kalau ia pun juga sangat menyayangiku. Meskipun kau tahu sendiri, aku tidak pernah mendengar suara ibuku. Lalu, aku ingat bapak memelukku sambil mengusap\-usap kepalaku seperti yang beliau lakukan setiap aku pulang mengaji dari mushala. Itulah saat\-saat yang paling kurindukan, paling membahagiakanku. Aku masih ingat Ran, ingat sekali. Bapak lantas menceritakan kisah Nabi kita yang juga harus kehilangan ibunya ketika masih bocah. Kata bapak, aku harus bersyukur masih memiliki bapak dan saudara\-saudara perempuan yang menyayangi dan mengurusku layaknya seorang ibu sendiri walaupun...." Fahim menatap Randy dalam\-dalam. "Tetap tidak bisa menggantikan kasih sayang dan cinta sejati seorang ibu."



Fahim kembali memandang kejauhan. Membuang napasnya kuat\-kuat, seperti hendak membuang beban yang menggumpal dihatinya.



Duduk disamping Fahim, randy hanya terpekur menatap langit gelap. Matanya terasa panas. Sekarang ia tahu, mengapa Fahim begitu marah malam itu hingga tega mengusirnya dari mushala. Randy merasa tidak cukup hanya dengan meminta maaf kepada Fahim. Meskipun Fahim berulang kali mengatakan bahwa ia tidak ada bersalah. Setelah mendengar tangisan wanita tua itu, lalu dengan tanpa berpikir panjang langsung menuduh Randy berbohong dan menyakiti hati Bundanya.


"Dari hati yang paling dalam aku meminta maaf. Andaikan ada kata yang bisa mewakili rasa penyeselanku... Gara\-gara kebodohanku, aku telah membuatmu sedih."


Fahim menggeleng. "Harusnya aku lebih bisa menguasai emosi pribadiku, Ran. Aku yang salah. Karena sikapku yang kurang dewasa kau jadi..., terusir."



Randy tertawa ringan. Perasaannya kini lepas. Tidak seperti saat bertemu Fahim sore tadi. Randy bingung bagaimana harus memulai pembicaraan dengan Fahim. Untunglah Fahim membuka diri terlebih dahulu untuk mengajak Randy duduk di halaman mushala selepas jamaah isya'. Randy merasa tenang dengan sikap Fahim yang hangat, tenang, dan bersahabat seperti pertama kali bertemu.



Fahim lantas mencertikan tentang dirinya. Sepanjang hidupnya Fahim belum pernah melihat sosok ibunya. "Ibu meninggal setelah beberapa jam melahirkanku." Kalimat pembuka Fahim mendengung ditelinga Randy.


"Ibu menyerah pada kehendak\-Nya setelah berjuang mempertahankan hidup untuk buah hatinya yang masih merah. Satu\-satunya lelaki diantara kelima anaknya yang perempuan. Aku. Bapak kehilangan kekasih, pendamping hidup yang tak akan tergantikan selamanya. Saudara\-saudaraku kehilangan perempuan yang paling mereka cintai. Mengapa? Tidak mudah memahami takdir Tuhan, bahkan ketika iman kita bisa setegar batu karang, sekukuh gunung."


"Mungkin itu yang kemudian mengilhami bapak atas sebuah nama yang diberikan padaku. Fahim. Orang yang paham. Pahamkan aku? Yang kupahami adalah ketika seseorang berada dalam keadaan yang sebaliknya dari aku, maka jangan pernah menyakiti hati wanita yang mempertaruhkan jiwanya demi kehidupan kita. Itu sebabnya, aku tidak bisa melihat seorang ibu terluka batinnya."



Hening menyelimuti halaman mushala. Awan kelabu berarak pelan, membuat rembulan timbul tenggelam.



"Memahami, aku rasa itu kuncinya. Masalahnya siapa yang memahami siapa? Anak yang memahami orang tua, atau sebaliknya. Orang tua yang memahami anak? Atau, saling memahami bahwa ikatan darah orang tua dan anak tidak lantas mengikat mereka dalam pikiran, kehendak, keinginan, dan perasaan yang sama pula. Fahim, aku tidak tau berada di kutub yang mana saat kuputuskan pergi dari rumah karena tidak sanggup melakukan apa yang mereka pinta."

__ADS_1


"Apakah permintaan mereka bisa kita jadikan alasan untuk menyakitinya?"


"Abah, aku selalu memanggilnya begitu. Beliau hendak menjodohkanku dengan gadis terbaik yang pernah ku kenal, putri sahabat abah, yang juga teman sepermainanku sewaktu kecil. Dia melunasi empat syarat seorang jodoh, keturunan, kekayaan, kecantikan, dan keshalihannya. Tidak ada cacat cela yang mampu dijadikan bahan gosip."



Fahim menatap Randy. Ia melihat mata Randy bercahaya seperti kunang\-kunang.


"Lalu nikmat mana lagi yang kau hindari?"


Randy menupuk dadanya. "Aku. Sebongkah batu kali tidak akan pernah bisa berubah menjadi emas meskipun bersanding di samping mutiara. Lumpur hitam akan merusak kecantikan berlian jika dijajarkan. Dia... Terlalu sempurna untukku yang kusut masai. Aku tidak sanggup menanggung beban amanah yang tak tertanggungkan. Fahim, apakah aku salah?" Sambung Randy.


"Apakah dengan menyalahkan atau membenarkan diri, masalah bisa selesai?"


"Aku sudah minta maaf pada bunda"


"Fahim mendesah. Malam tertatih melangkahi jengkal\-jengkal waktu.


" izinkan aku tinggal dan belajar di mushala ini," pinta Randy.


"Kau tau siapa aku." Jawab Fahim cepat. "Tapi, ada baiknya kita bicara pada Haji Sahrawi terlebih dahulu. Pertama beliau adalah ketua takmir, pewakaf mushala ini. Kedua, beliau sesepuh kampung merangkap ketua RT. Boleh tidaknya ada pada keputusannya."


*****


Haji Sahrawi menyambut baik kehadiran Randy di mushala. Dia tidak banyak tanya ketika Fahim mengatakan bahwa ia adalah temannya. Pada kunjungan pagi itu di rumah Haji Sahrawi, Fahim juga dikejutkan dengan fakta bahwa Rida telah mengenal Randy. Haji Sahrawi menarik kesimpulan bahwa Randy dapat dipercaya untuk memakmurkan mushala. Impian mengibadahkan Kampung Jalil semakin mendekati kenyataan. Ia teringat akan ucapan ustadz Reza yang dengan penuh semangat ingin membuat mushala ini sebagai *center of living* Kampung Jalil.


Karena belum ketemu juga ingatannya. Fahim berucap. "Randy pak haji, R A N D Y. Randy"


"Ya, Randy ikut serta diajak rapat nanti malam membahas kegiatan untuk mushala kita ustadz Reza sudah membuat proposalnya."


"Remaja yang lain diundang juga?" tanya Haji Sahrawi kepada Fahim.


"Mereka sudah diberi tahu. *Insya* Allah, datang," jawab Fahim singkat.



Mereka masih bercakap\-cakap tanpa mengetahui dari balik gorden pembatas ruang tamu dan ruang tengah rumah Haji Sahrawi ada sepasang mata penuh binar cahaya memandang wajah disisi kiri Fahim. Tangan kanannya mendekap dadanya agar bunyi gemuruh gelombang hatinya tidak terdengar.


*****


Selepas bertemu dengan pahlawan kecilnya. Siska lebih banyak diam dari pertama kali bertemu. Binar mata Izar masih terekam jelas dalam benaknya, bagaimana bahagianya Izar tau saat Sinar bisa sama dengan lainnya. "Jadi, Sinar nanti bisa sekolah lagi, kak?" Izar bersorak gembira. Susah mendapatkan jawaban apa ada ikatan yang begitu kuat antara Izar dan Sinar. Kisah pertemanan keduanya sudah menjadi legenda bagi anak\-anak sekampung.



"Kau kenapa, Sis?" tepukan lembut dibahunya membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


"Aku takut, Nay. Semua orang memandangku seperti musuh. Aku takut jika mereka membenciku, aku tak sanggup melihat pancaran kesedihan Izar" pandang Siska mulai kabur karena kabut air mata.



Nay sangat memahami jika di luar rumahnya, dedaunan pun seolah menyenandungkan penolakan kehadiran Siska di kampung ini sebab satu alasan. Keyakinan yang berbeda. Maka, Nay meneduhkan hatinya dulu sebelum merangkul kecemasan dan ketakutan Siska. Nay tidak merasa kadar imannya berkurang meski tidur satu bantal dengan Siska. Nay tidak perlu mencuci piring bekas makan Siska dengan tujuh kali basuh dan salah satunya dicampur tanah, seolah keyakinan yang berbeda itu sama dengan najis. Nay tidak merasa menghianati agamanya saat membaca al\-Qur'an atau shalat didepan Siska.


"Selama kamu di rumah ini, tak ada yang bisa menyakitimu. Kak Fahim sedang berusaha menjelaskan kepada mereka. Kita doakan semoga berhasil."



Beda urusannya bila sudah menyangkut keyakinan, semua orang akan berbicara seolah dia orang yang paling shalih, membela agama, mujahid, rela mati untuk sesuatu yang sebenarnya dia tidak mengetahui. Orang pertama yang didatangi Fahim adalah Haji Sahrawi di rumahnya. Mengubah pandangan masyarakat tradisional harus dimulai dengan mempengaruhi pikiran pemimpin mereka.


"Saya sudah mendengar kekhawatiran masyarakat tentang hal itu."


Fahim masih merasakan nada\-nada bijak dari Haji Sahrawi meski sinar penolakannya lebih kuat.



Apa yang sebenarnya mereka khawatirkan? Sehebat apakah siska sampai mengubah iman yang turun temurun bercokol di kehidupan orang Kampung Jalil? Sekuat apakah gadis itu sampai bisa menjadi ancaman ketentraman warga? Dia memang mahasiswa cerdas, namun Fahim tidak yakin ia juga pintar mengkonversi iman seseorang. Apakah dimata masyarakat, Siska berupa noda yang bisa mencemari pakaian keimanan mereka?



Bertahun\-tahun keluarga Masriya berkubang penderitaan. Tak satupun warga peduli. Kini, saat ada tangan tulus mengulurkan bantuan tanpa pamrih apa pun, malah dicurigai, dimata\-matai, dituduh macam\-macam. Fahim merasa gagal setelah semua yang ia lakukan untuk memenuhi keinginan Haji Sahrawi dua tahun lalu. Masyarakat, bahkan Haji Sahrawi sendiri, tidak beranjak dari lapis terbawah kesadaran beragama. Fanatisme buta.



"Saya jadi jaminannya, Pak. Saya orang pertama yang akan mengusir Siska dari kampung ini bila kekhawatiran Haji Sahrawi dan masyarakat terbukti. Fahim sengaja menekan suaranya pada Haji Sahrawi. "Kalau itu dirasa belum cukup. Saya juga siap keluar dari mushala."


Haji Sahrawi bisa merasakan ketegasan dalam kalimat Fahim. Meski hanya beberapa mili, Fahim melihat bibir Haji Sahrawi ditarik keluar, diikuti kedua matanya yang melebar. Tangan kirinya mengusap rambut diatas telinganya. Air muka Haji Sahrawi melunak.


"Baiklah." Haji Sahrawi melihat kesungguhan dimata Fahim. Meski kadang bersilang pendapat dengan Fahim, sejauh ini Haji Sahrawi dalam kapasitas ketua takmir mushala tidak pernah dikecewakan.



Seharusnya, pro\-kontra ini memang tidak perlu terjadi. Pengalaman, kekuasaan, dan kebijaksanaan yang dimilikinya sudah bisa menilai bahwa Siska yang ditemuinya tempo hari bersama Nay dan ibunya adalah gadis lugu yang tak punya power apapun selain semangat dan ketulusan membantu. Seluruh argumen dan penjelasan Fahim benar.



Tiba\-tiba, ada sedikit sesal mengapa ia harus meyakini dan menyebarkan omongan Ustadz Reza beberapa waktu lalu.



"Haji Sahrawi harus hati\-hati. Sekarang, banyak yang menjalankan misi dengan dalih membantu atau macam\-macam. Ana mengingatkan agar haji lebih waspada, tidak mudah menerima orang asing di lingkungan kita."


__ADS_1


Haji Sahrawi menyulut rokoknya. Menghembuskan asap pelan\-pelan. Ia ingin menunjukkan penyeselannya dengan caranya sendiri.


__ADS_2