
Hari-hari selanjutnya tanpa ada panggilan satu sama lain yang terlihat dari dua tempat kost yang berdampingan. Teriakan perhatian satu sama lain juga tak lagi terdengar. Hingga satu bulan lamanya. Nayla yang sudah bisa mengendalikan perasaannya dan berdamai dengan kenyataan.
" Nay." Tomy yang memanggil Nayla, namun Nayla bergegas masuk ke dalam tempat kostnya dan tak menghiraukan panggilan Tomy yang sama-sama pulang kerja.
Tomy juga langsung masuk ke dalam kostnya dengan langkah lesu tak bersemangat. Dia masih merasa bersalah terhadap apa yang di lakukan kepada Nayla. Sementara Nayla yang salah arti terhadap semua perhatian Tomy membuat dirinya berharap ditengah dua pria antara Bagas yang kekasih nyatanya dan Rama yang menjadi kekasih cadangannya tidak menunjukkan tanda-tanda kalau mereka akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai diharapkan oleh ayah Nayla sebagai syarat mempersuntingnya. Sementara Tomy yang jelas-jelas sama dengan dirinya dan seperti membawa angin segar ditengah keputusasaannya malah membuatnya harus merasakan patah hati sebelum benih-benih cinta itu benar-benar tumbuh diantara keduanya.
Tomy yang sedari tadi gelisah akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu utama Nayla.
Tok...tok..." Nay, buka dong Nay. Aku tahu kamu di dalam."
Nayla yang berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di pinggir pintu seraya menatap Tomy datar. " Ada apa?"
" Boleh aku masuk."
" Ya, silahkan."
Tomy yang duduk di sofa begitu juga Nayla. " Aku ingin kita seperti dulu lagi Nay, yang asyik seperti biasanya. Bisa kan Nay."
Nayla yang tidak menjawab apapun yang dikatakan Tomy.
" Aku tahu aku salah Nay, tapi apa tidak bisa, kita asyik seperti kemarin-kemarin."
" Kalai sudah selesai kamu bisa pergi. Nayla yang langsung menuju kamarnya meninggalkan Tomy tanpa permisi. " Jangan lupa tutup pintunya! kalau kamu keluar."
Tomy yang hanya bisa memandangi Nayla yang meninggalkannya sendiri duduk di sofa ruang tamunya.
__ADS_1
Ceklek. Suara gagang pintu yang sengaja di tutup oleh Tomy namun dia kembali ke tempat duduknya yang semula. Tomy tidak bergeming. Dia benar-benar ingin menunjukkan kalau dia benar-benar menyesal terhadap kesalahannya yang memalukan itu. Dia menyandarkan tubuh dan kepalanya di sofa ruang tamu Nayla.
Sementara Nayla yang mendengar suara gagang pintu yang menutup berpikir bahwa Tomy sudah pergi dari ruang tamunya.
" Aku benci kamu Tomy, a..a..a..a.." Tangis Nayla yang terdengar jelas hingga ke telinga Tomy.
" Nayla." Tomy yang bergegas mendekat ke arah pintu kamar Nayla dan menguping apa yang sebenarnya terjadi.
" Kamu tolol Nay, mana mungkin Tomy menyukai kamu. Kamu terlalu terobsesi karena merasa dia yang sepertinya tepat bersanding dengan mu sesuai syarat yang di berikan kepada ayah kamu." Nayla yang murka dengan dirinya sendiri di depan cermin. Tomy yang mengintip Nayla seperti sedang frustasi dan memakai dirinya sendiri dengan wajah dan rambut berantakan di depan cermin. Tomy tersentak, terkejut mendengar apa yang dikatakan Nayla. Jadi, Nayla. Gumam lirih Tomy yang mengintip di balik pintu yang tidak tertutup rapat. Tomy kemudian menaruh kepalanya bagian belakang bersandar di dinding, matanya terpejam, hatinya seperti bingung terhadap apa yang harus dia lakukan melihat Nayla yang ternyata menyukainya karena menurutnya hanya dia pria yang sepertinya masuk dalam kriteria ayahnya.
Tomy bergegas pergi dari depan pintu kamar Nayla dengan langkah yang sangat hati-hati dan membuka pintu ruang tamu juga sangat hati-hati dan kembali ke kostnya.
Tomy yang melamun di atas ranjangnya membuat pikiran dan hatinya kacau. Tomy gelisah tak menentu setelah mendengar apa yang dikatakan Nayla.
" Iya Bu, ada apa?"
" Bagas di rumah. Dia nangis-nangis pamit dan minta maaf sama ibu."
" Kenapa?"
" Sebaiknya kamu pulang!"
" Baik Bu." Nayla bergegas pulang tanpa pikir panjang. Sementara Tomy mengintip Nayla yang tampak terburu-buru memasuki mobilnya.
" Ada apa sama Nayla ya? tidak seperti biasanya dia buru-buru begitu."
__ADS_1
****
Nayla yang sudah sampai di depan rumahnya dan melihat mobil Bagas yang terparkir di depan rumahnya.
" Kenapa kamu tidak hubungi aku dulu kalau mau kesini." Nayla yang menatap Bagas dengan mata yang sembab seperti baru saja menangis.
" Maaf kan aku Nay, aku juga sudah berkata banyak dengan ibu kamu. Aku juga minta maaf dengan semuanya." Bagas yang menatap Nayla dengan sorot mata dalam.
" Aku masih tidak mengerti."
" Aku sudah putuskan untuk menikah dengan orang lain Nay."
Deeeer Bagaikan tersambar petir Nayla mendengar apa yang diucapkan kekasihnya. Nayla melengos dari tatapannya ke Bagas. Apa-apaan ini? Setelah Tomy yang menancapkan pedang ke ulu hatiku, sekarang Bagas yang menancapkan pedang untuk kedua kalinya di tempat yang sama. Luka dari Tomy saja masih menganga, sekarang ditambah lagi robekan yang menganga tersebut dengan air garam. Perih sekali rasanya. Aku tidak percaya ini Tuhan. Nayla yang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan perlahan membukanya dengan dada yang masih terasa sesak namun dia berusaha kuat.
" Baguslah, kalau kamu sudah ada pilihan lain. Tenang saja, aku tidak sakit hati kok." Nayla mencoba kuat biarpun rasanya sakit. Dia yang akhir-akhir ini semena-mena mempermainkan perasaan pria karena syarat yang diajukan ayahnya seperti dia yang harus menanggung batunya sendiri. " Aku yang minta maaf, karena banyak syarat dari ayahku yang membuat kamu memutuskan menikah dengan wanita lain. By the way selamat ya."
Bagas yang melongo dan bingung dengan sikap Nayla yang seperti tidak ada kesedihan sama sekali dengan jalinan cinta mereka yang harus kandas setelah berjuang selama tujuh tahun lebih. " Nay..." Bagas yang berhenti tidak melanjutkan katanya.
" Aku juga sedih kok Gas, jangan bilang kalau aku tidak sedih." Mata Nayla yang mulai berkaca-kaca. Namun sekuat tenaga dia menahannya supaya tidak jatuh. " Aku hanya tidak menyangka saja, kalau kamu memutuskan menikah dengan wanita lain secepat ini."
Tangan Bagas yang mencoba meraih tangan Nayla yang keduanya sama-sama duduk di sofa bersebelahan. " Aku juga sulit Nay, tapi aku juga realistis, aku juga punya harga diri, setelah ada penolakan dari ayah kamu yang sepertinya mempersulit jalinan cinta kita dari awal."
Nayla mulai menjatuhkan bulir-bulir bening dari kedua pelupuk matanya. Bibirnya mulai menyembik tidak bisa menahan lagi atas kesedihannya dan menoleh menatap ke arah Bagas. Namun lagi-lagi, sialnya kali ini dia tidak bisa menutupi kesedihannya. Dia menangis dan bulir-bulir bening itu jatuh dengan deras membasahi pipinya. Sekuat tenaga dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bagas yang berada di sampingnya berusaha mengelus lembut rambutnya Nayla.
Bersambung
__ADS_1