Nayla

Nayla
Batas Waktu Untuk Bagas


__ADS_3

" Buk, masih lama ini belanjanya, kapan ini kelarnya buk?" Ledek Tomy yang mengikuti Nayla yang sibuk mengedarkan pandangannya lorong demi lorong.


" Apa lagi ya Tom, yang masih kurang."


" Udah kali buk, ya nanti kalau ada yang kelewatan tinggal beli lagi."


" Kamu tahu kan, ini Pusat Perbelanjaan buat para Crazy Rich, aku minder lho sebenarnya masuk sini."


" Haha, iya sih, memang terkenalnya begitu, tapi apa rakyat jelata tidak bisa beli yang ada di supermarket nya, bisa kali Nay, tapi memang gerai-gerai pakaian kelas atas yang ada di bawah itu, memang gila sih. Buat para pecinta dan penikmat barang branded sih itu."


" Udahan kali Nay belanjanya." Tomy yang menoleh ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


" Iya, iya." Nayla yang menarik keranjang merah yang berisi penuh dengan aneka kebutuhan dan juga peralatan untuk keperluan dapur minimalisnya. Keduanya berjalan beriringan menuju kasir dan harus membayar semua kebutuhan dapur yang dibelinya.


Setelah keduanya selesai membayar barang belanjaan di kasir. Keduanya bergegas menuju tempat parkir dimana mobil mereka terparkir. Keduanya saling melambaikan tangan mereka dan masuk ke dalam mobil dan pulang menuju tempat kost mereka.


Malam itu tidak ada kelanjutan mereka makan bersama atau berbincang bersama setelah mereka sampai di tempat kost masing-masing. Nayla yang membersihkan badannya langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Begitu juga dengan Tomy yang sepertinya sudah kelelahan karena seharian bekerja.


Mata keduanya begitu cepat terpejam karena tubuh sudah tak sanggup menopang rasa kantuk yang begitu hebatnya.


Sampai keesokan harinya, alarm dari ponselnya Nayla berdering. Dia jenggirat dari tidur lelapnya dengan membuang selimutnya di atas ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan matanya supaya tidak lengket dan membelalak menatap hari ini dengan penuh semangat.


Setelah berhiasnya selesai, dia langsung bergegas ke area dapur minimalis dan membuat sarapan pagi ini dengan mie instan yang di padukan dengan sayur hijau lengkap dengan telurnya. Nayla juga membuatkan kopi susu yang pernah diberikan oleh Tomy kepadanya yang membuatnya sadar karena segelas kopi susu di pagi hari membuat mata menjadi tidak mudah mengantuk jika di tengah aktivitas kerja yang begitu padat.


Nayla tidak membuatkan sarapan untuk dirinya sendiri melainkan semuanya lengkap dengan sarapan untuk Tomy yang saat ini menjadi tetangga kostnya sekaligus teman SMAnya dulu.


Nayla mengambil ponselnya dan menghubungi Tomy. " Halo Tom."


" Halo Nay."


" Kamu baru bangun tidur ya."


" Iya nih."

__ADS_1


" Ya sudah, mandi sana! buruan! aku sudah buatkan sarapan nih."


" Alhamdulillah, akhirnya calon istriku buatkan aku sarapan. Bercanda Nay." Begitulah kekonyolan Tomy. Entah mengapa selalu bercanda yang menjurus kearah ingin memiliki Nayla. Namun Nayla sepertinya tidak menggubrisnya, karena sudah tahu kalau Tomy orangnya suka selengekan, jahil dan sedikit humoris.


Tidak butuh waktu lama untuk seorang pria mandi dan berganti pakaian, tiba-tiba terdengar teriakan suara Tomy dari balik pintu utama. " Nay...Nay."


" Masuk Tom! tidak dikunci."


Tomy kemudian masuk dan berjalan menuju area dapur yang sudah terlihat Nayla duduk dan menikmati makan paginya. " Wah enak nih Nay." wajah girang Tomy melihat semangkuk mie instan yang tertata rapi lengkap dengan telur dan kuah yang sepertinya lezat, begitu juga secangkir kopi susu yang aroma kopinya menggugah selera dan ada dessert puding buah.


" Buruan makan! terus berangkat kerja."


" Siap chef Nayla." Tomy yang langsung menyantap mie instan dengan penuh semangat dan tidak butuh waktu lama semangkuk mie instan itu habis tidak tersisa. " Kenyang banget Nay, enak juga mie instan buatanmu Nay."


Nayla tersenyum nyengir.


" Kita berangkat yuk." Tomy yang beranjak dari tempat duduknya.


" Thanks ya Nay sarapan pagi ini." Tomy yang berjalan menuju mobilnya dan melajukan mobilnya keluar dari pagar tinggi yang menjulang menuju arah kantornya. Begitu juga dengan Nayla. Hari-hari Nayla berubah setelah bertemu dengan Tomy. Dunianya yang dulu hanya ada kata Bagas dan dipenuhi dengan obsesi ingin menikah seperti yang Bagas inginkan seketika berubah.


Satu Minggu kemudian Nayla yang mengunjungi Bagas di tempat usahanya sayuran hidroponik di daerah Batu, Malang.


" Apa?" Bagas yang terkejut dengan perubahan sikap Nayla.


" Aku harus realistis kan. Kamu lho uang selalu dari papa kamu. Apa iya setelah kita menikah aku akan kamu biayai dengan uang dari papa kamu tanpa kamu punya pekerjaan tetap."


" Nay, ini seperti bukan kamu lho."


" Bagas, aku sudah dewasa. Harusnya kamu juga dong pemikirannya. Harus lebih dewasa dari pada aku."


" Maksud aku, kamu itu biasanya tidak seperti ini."


" Maksud kamu."

__ADS_1


" Iya kamu itu dulu, iya iya aja kalau diajak menikah dan setuju setuju saja dengan aku memiliki sebuah usaha. Kenapa sekarang berubah dan berbelok. Kamu lupa perjuangan cinta kita melawan restu dari ayah kamu waktu kita kuliah."


Nayla hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun.


" O, mungkin kamu memang lupa masa-masa sulit kamu. Ayah dan ibu kamu yang baru saja bercerai dan kamu yang hancur tidak punya siapa-siapa. Terus..." Bagas yang berhenti tanpa melanjutkan kata meski dengan perasaan yang penuh emosi.


" Terus apa? Terus kamu yang membantu aku dalam hal keuangan untuk biaya awal kuliah aku, karena uang dari ayahku yang seharusnya untuk membayar biaya kuliah malah dipinjam oleh ibuku. Itukan." Nayla yang juga ngotot karena Bagas sepertinya tidak mengerti juga apa maksud Nayla.


" Nay." Bagas yang mencoba meraih jemari Nayla namun Nayla berusaha melepaskannya dengan wajah penuh amarah.


" Kamu sekarang mulai ungkit-ungkit ya Gas."


" Nay, bukan maksud aku begitu."


" Lalu apa?"


" Aku harus menuruti keegoisanmu dengan mengiyakan kamu mengajak aku kawin lari. Atau aku harus kamu hamili dulu biar direstui oleh ayahku." Nayla yang marah memuncak dengan menatap wajah Bagas dengan dalam.


" Nay." Bagas yang mencoba meraih kembali dengan menyentuh pundak Nayla namun Nayla tersenggut dan menghindar.


" Apa kurang jelas? apa sulit juga? hanya dengan mencari pekerjaan tetap supaya ayah aku melupakan kesalahan lampau kamu, siapa tahu ayah aku bisa merestui kita melenggang di pernikahan. Dan kamu juga harus belajar mandiri supaya kamu tidak bergantung uang terus kepada papa kamu."


" Okay fine. Aku akan cari kerja." Bagas yang terlihat memendam amarah namun dia harus terlihat pasrah dengan apa yang diinginkan oleh ayah kekasihnya.


" Aku beri waktu satu tahun."


" Apa? Mengapa harus ada batas waktunya?"


" Biar kamu juga lebih bersemangat dalam mencari dan mendapatkan pekerjaan."


Huft Hembusan nafas panjang Bagas yang berserak keluar tak beraturan dengan penuh kepasrahan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2