Nayla

Nayla
Part 20


__ADS_3

Nayla keluar dari kelas bersama teman-temannya. Ketika sedang asyik berbincang-bincang, pandangannya tiba-tiba tertuju ke arah seseorang yang sedang berjalan ke arah kendaraan yang terparkir. Hatinya bahagia diikuti perasaan lega yang sulit ia uraikan.


Ya, orang itu adalah Satya. Nayla melihat Satya menaiki motor hitam yang berada di antara motor-motor lainnya. Nayla ingat, bahwa ia pernah menaiki motor itu bersama Satya. Ia berharap bisa menaiki motor itu lagi berdua bersama Satya.


Satya terlihat menghidupkan motornya dan pergi dari sekolah. Nayla tiba-tiba merasa hampa, dia masih ingin melihat Satya walau dari jarak yang jauh. Ia mempercepat langkahnya menuju gerbang demi bisa melihat Satya yang semakin jauh. Hatinya benar-benar kosong melihat Satya yang semakin tak terlihat.


"Nay, liatin apa sih di sana, sampe-sampe kamu ninggalin kita 'tadi?'" tanya Fahmi yang sudah sampai di gerbang menyusul Nayla. Ia melihat ke arah sesuatu yang dilihat oleh Nayla. Nayla menoleh ke arah Fahmi.


"Itu Fah, liat kak Satya," jawab Nayla kembali melihat jalan yang dilewati oleh Satya tadi. Fahmi merasa heran.


"Mana?" tanya Fahmi. Nayla berbalik ke arah Fahmi.


"Udah jauh," jawab Nayla tersenyum. Fahmi menganggukkan kepalanya.


"Tapi, kenapa kamu liat Satya 'Nay?'" tanya Fahmi menatap Nayla intens. Nayla salah tingkah.


"Nggak ada Fah, aku cuma liat aja. Aku kasian sama kak Satya, kayaknya rumahnya jauh banget sampe dia pake motor," ucap Nayla menormalkan perasaannya yang salah tingkah. Fahmi menatap Nayla intens tanpa ekspresi.


"Trus kamu bisa apa kalo rumah dia jauh, mau 'anterin?'" tanya Fahmi masih menatap Nayla.


"Ya nggak lah, ada-ada aja deh Fah," ucap Naila, "pulang 'yuk?'" ajak Nayla yang tidak mau melanjutkan pembicaraan mereka. Fahmi menurut, dia meraih tangan Nayla dan menggenggamnya. Nayla balas menggenggam tangan Fahmi.


Di tengah perjalanan, Nayla merasakan genggaman tangan Fahmi semakin erat, ia menoleh ke arah Fahmi.


"Nggak usah pegang terlalu erat kali Fah, aku nggak akan kabur kok, aku akan terus sama kamu sampe kita pulang ke rumah," ucap Nayla bercanda. Fahmi menoleh ke arah Nayla.


"Aku pegang kamu erat, supaya kamu nggak jatuh," ucap Fahmi yang membuat Nayla kesal sekaligus cemberut.


"Aku bukan anak kecil yang baru belajar jalan kali Fah," ucap Nayla kesal.

__ADS_1


"Yang bilang kamu anak kecil 'siapa?' Aku pegang kamu karna kamu orangnya ceroboh, cepet jatuh, nginjak batu kecil aja bisa jatuh," ucap Fahmi mengejek Nayla.


"Apaan sih," Nayla memukul lengan Fahmi untuk melampiaskan rasa kesalnya.


"Aww, sakit Nay," Fahmi mengelus lengannya.


"Emang enak," ucap Nayla menjulurkan lidahnya kemudian berlari meninggalkan Fahmi.


"Ya nggak lah Nay, ya kali enak," ucap Fahmi lirih melihat Nayla yang berlari meninggalkannya, "Nay, tungguin," ucap Fahmi memanggil Nayla yang semakin jauh.


"Cepetan!" ucap Nayla berteriak. Ia berhenti dan menunggu Fahmi.


"Tadi, bilangnya nggak akan kabur, trus ini 'apa?'" tanya Fahmi kesal setelah sampai di tempat Nayla menunggu. Nayla cengir.


"Ya karena aku takut kamu balas pukul aku. Kamu kan laki-laki, pasti pukulan kamu bakalan lebih sakit dari pukulan aku," ucap Nayla tersenyum pada Fahmi.


"Aku nggak mungkin pukul kamu Nay, kamu kan sahabat aku, emangnya kamu, dikit-dikit main pukul, mana sakit lagi pukulannya," ucap Fahmi.


"Udah, udah nggak sakit lagi kok," ucap Fahmi menjauh dari Nayla, "yaudah yuk jalan," mereka kembali berjalan.


"Beneran nggak 'papa?' Tadi aku pukul kamu keras banget Fah. Nanti kulit kamu merah lagi," ucal Nayla merasa bersalah. Tadi, ia benar-benar memukul Fahmi dengan keras.


"Nggak papa Nay, aku kan laki-laki, jadi udah nggak ngerasa sakit lagi kok," ucap Fahmi menghibur Nayla.


"Yakin 'Fah?' Laki-laki bisa lebam juga kali Fah," Nayla mengangkat tangannya untuk mengelus lengan Fahmi, tapi Fahmi segera menghindar.


"Nggak papa Nay, beneran. Pukulan kamu nggak terlalu kuat buat aku, jadi aku nggak akan sampe lebam, kamu tenang aja ya," ucap Fahmi menggandeng tangan Nayla.


"Bener nggak 'papa?'" tanya Nayla memastikan.

__ADS_1


"Iya," ucap Fahmi dengan suara sedikit kesal, "Nanti malam kamu nggak sibuk 'kan?'" Fahmi mengalihkan pembicaraan.


"Nggak, emang kenapa 'Fah?'" tanya Nayla.


"Kalo gitu, nanti malam temenin aku ke pasar malam ya Nay, aku mau beli beberapa barang," ucap Fahmi.


"Nanti 'malam?'" tanya Nayla. Fahmi mengangguk, "aku nggak yakin bisa diizinin sama Ibu," lanjut Nayla.


"Nanti aku yang izinin kamu, Ibu pasti kasih kalo kamu jalan sama aku," ucap Fahmi meyakinkan Nayla.


"Yaudah, kalo gitu aku tunggu kamu di rumah ya Fah," ucap Nayla setelah mereka sampai di depan rumah Fahmi.


"Iya, kamu izin aja duluan sama Ibu Nay, biar ibu nggak kaget kalo tiba-tiba aku ajak kamu nanti malam," ucap Fahmi.


"Iya, yaudah aku pulang dulu ya Fah," pamit Nayla, Fahmi mengangguk dan masuk ke dalam rumah. Nayla melanjutkan perjalanan pulang.


Nayla melihat sekitar, ia melihat pemandangan anak-anak yang bermain dengan ceria bersama orang tua mereka membuat Nayla merasa iri. Andai Ayahnya masih hidup, ia juga pasti akan sebahagia itu dengan Ibu dan Ayahnya.


Nayla meneteskan air mata, mengingat perjuangan Ibunya dalam menghidupinya seorang diri. Bahkan pertama kali akan masuk sekolah, Ibunya bekerja tanpa henti agar bisa membiayainya dan membelikannya peralatan sekolah.


Nayla yang sudah sampai di rumah, segera masuk dan langsung membersihkan diri, ia tak mencari Ibunya karena ia tahu sang Ibu berada di rumah tetangga.


Setelah membersihkan diri dan juga makan siang, Nayla belajar sebentar dan mengerjakan PR, setelah itu ia beranjak ke arah ranjang untuk tidur siang.


Nayla masuk ke dalam selimut, tapi bukannya memejamkan mata, ia hanya berbaring melihat kosong ke arah samping. Sepertinya sesuatu telah masuk ke dalam fikirannya saat ini.


Ya, jika sudah sendiri seperti ini ia pasti ingat pada Satya. Nayla lelah akan perasaannya, tapi ia juga menikmatinya. Bahkan ia bahagia bisa merasakan perasaan ini, perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Rindu, mungkin itulah kata yang tepat untuk mengungkapkan keinginannya untuk melihat Satya, entah kenapa perasaan itu datang, tapi Nayla tak bisa membohongi diri, jika ia jauh dari Satya, ia pasti merasa hampa dan kosong. Ia ingin menangis, mengapa perasaan ini ada, padahal ia belum faham akan perasaan yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


Aku hanyalah seorang anak kecil untuk mengerti arti rasa yang kualami, aku terlalu polos, bahkan air mata hampir jatuh karena tak bisa melihatmu. Entah cinta atau tidak, tapi aku berharap aku tak akan pernah merasakan luka yang dirasakan orang jatuh cinta pada umumnya. Aku takut, jika pada akhirnya, rasa ini membuatku lupa diri sampai tak peduli pada sekitar. Aku takut merasakan patah seperti yang dialami orang yang sedang jatuh cinta.


__ADS_2