
Pagi cerah kali ini Randy membulatkan tekadnya untuk menemui Nay.
"*Assalamualaikum*," ucap Randy setelah sampai di depan rumah Nay.
"*Waalaikumussalam*," jawab Nay dari dalam rumah yang sudah rapi dengan seragam mengajarnya. "Loh, Mas Randy," ucap Nay kaget saat melihat Randy di depan pintu rumahnya.
Randy hanya menjawab dengan anggukan serta senyum.
"Ada apa mas Randy pagi\-pagi berkunjung ke rumah Nay?" tanya Nay dengan ramah.
"Ehmmm... Itu Nay bolehkah aku ikut dirimu mengajar?"
"Ehh...," Nay kaget. "Maksud Mas Randy bagaimana dengan ikut mengajar?" tanya Nay.
"Aku bosan Nay, aku hanya ikut dan memperhatikan saja tidak akan mengganggu, aku janji," jawab Randy.
"Bagaimana ya mas, Mas Randy kan tahu Nay hanya pengajar disana," jawab Nay dengan nada rendah.
"Baiklah tak apa Nay, aku tak akan memaksa, kalau begitu aku permisi Nay. *Assalamualaikum*," Randy berpamitan seraya tersenyum karena ia tak ingin membuat Nay merasa tak enak hati.
"Emm, Mas Randy tunggu," seru Nay pada Randy yang hendak pergi. Randy menunggu.
"Baiklah jika Mas Randy hanya memperhatikan saja Mas Randy boleh ikut," putus Nay.
"Tidak perlu memaksa Nay, aku tak apa, aku akan kembali ke mushala," ucap Randy.
"Tak apa Mas, ayo Nay akan telat jika kita terus berdebat," sahut Nay dengan senyum secerah mentari.
"Baiklah, baiklah, aku kalah," jawab Randy sambil terkekeh. "Kita akan naik apa Nay? Aku tidak bisa meminjam sepeda Fahim kali ini," jelas Randy pada Nay.
"Pakai sepeda Nay saja Mas, ayo Mas," ajak Nay sambil mengambil sepedanya.
Randy mulai mengayuh sepeda Nay dengan dada berdebar pasalnya hanya dengan melihat senyum Nay jantungnya akan berdetak tak beraturan, apalagi sekarang Nay duduk di belakang dirinya. Sedangkan Nay tak jauh beda dengan Randy wajahnya bersemu merah bibirnya tak henti\-hentinya membentuk garis melengkung.
"Nay," ucap Randy memecah keheningan.
"Iya, Mas"
"Kau sudah lama kenal dengan Rida?" tanya Randy.
Nay terdiam, hatinya tak karuan. "Nay dan Rida berteman sejak kecil Mas," jawab Nay dengan suara rendah.
Randy mengulum senyum saat mendengar Nay menjawab dengan suara rendah. "Pantas saja saat aku diajak ke istana kemarin, ketika aku bertanya sejarahnya dia mengatakan kau yang paling tahu dan dia juga menceritakan sedikit masa kecilnya, antara kau dan Rida, kau Nay si gadis cilik baik hati,"
"Mas Randy ada\-ada saja, *tho*," jawab Nay dengan wajah tersipu. "Mas," kali ini Nay.
__ADS_1
"Iya Nay,"
"Boleh Nay bertanya?"
"Silahkan Nay,"
"Bagaimana ceritanya Mas Randy bisa sampai di kampung ini?" tanya Nay.
"Aku akan cerita Nay, tapi tidak sekarang," jawab Randy.
"Maaf, Mas, kalau pertanyaan Nay buat Mas Randy tidak nyaman," ucap Nay.
"Tak apa Nay, aku tahu kau pasti penasaran," ucap Randy.
Saat tiba di tempat tujuan Randy langsung menuju tempat parkir sesuai arahan Nay.
Randy berkeliling memulai perjalanannya. Randy melihat tembok setinggi satu meter yang melengkung membentuk setengah lingkaran. Tembok itu memuat peta dunia yang dicat dengan lima warna sesuai dengan jumlah benua. Dan yang tak kalah unik, banyak menggantung miniatur matahari lengkap dengan lukisan cahayanya yang menyala digantung.
Randy melanjutkan perjalanannya hingga ia mendengar ada keriuhan anak\-anak dalam koor "Potong Bebek Angsa".
"Sorong ke kiri... Sorong ke kanan. Lalalalalala..."
"Mas Randy," sapaan lembut dengan senyum hangat membuyarkan lamunannya.
"Kemari Mas," pinta Nay.
"*Assalamualaikum* adik\-adik," sapa Randy saat ia tiba di tempat anak\-anak kecil itu mengelilingi Nay.
"*Waalaikumussalam*," jawab mereka kompak.
"Adik\-adik kenalin ini Kak Randy, temannya Kak Nay," Nay berucap memperkenalkan Randy pada muridnya.
Randy mengambil alih karena Nay mendapat panggilan harus ke kantor.
*****
Sebuah mobil sedan berhenti di sisi seberang jalan di depan gerbang TK Matahari Indonesia. Yang pertama tampak adalah warna putih dia atas kepala pemuda yang keluar dari pintu depan. Tengok kiri kanan sebentar, lantas melangkah setengah berlari. Ada derap ketidaksabaran untuk segera tiba di tujuan. Ia bicara sebentar dengan petugas keamanan. Lalu, pemuda itu duduk di sebuah ruang tunggu. Mungkin semenit lamanya, hingga muncul seorang perempuan muda menghampiri dan berhenti kaku pada jarak yang kurang nyaman. Keduanya terlibat pembicaraan. Si pemuda menggerakkan tangan. Si perempuan diam tak berkesan. Menit berikutnya, si perempuan mengangguk sopan dan berbalik meninggalkan tamunya yang menguarkan aroma kecewa. Ujung kerudungnya bergoyang melambai dan berbisik, *Selamat tinggal*.
Tanpa tengok kiri kanan, pemuda itu kembali dengan langkah gontai
*****
"Cepat sekali Nay, si Jakarta lagi?"
Nay menggeleng, wajahnya sedikit keruh. "Mas Randy bersama anak\-anak di belakang,"
"Serius Nay?"
Nay mengangguk.
__ADS_1
"Lalu tadi?"
"Ustadz Reza. Ada kabar penting untuk TPA katanya," sahut Nay tanpa minat.
"Penting banget ya sampai menemui kamu di sini."
Nay mengedikkan bahunya.
"Urusan TPA ya di mushala, bukan di sini tempatnya."
"Kamu bilang begitu?"
Nay menaikkan alisnya. Maksudnya kurang lebih begitu.
"Biarpun ustadz, boleh dong kecewa"
Nay hanya menyumbang senyuman ketika rekan\-rekan kerjanya tertawa. Tawanya para perempuan sedikit dari rahasia\-rahasia Tuhan.
*****
"Boleh aku tahu mengapa TK itu bernama Matahari Indonesia? Kulihat banyak sekali lukisan dan gambar\-gambar matahari di sana."
Sambil terguncang di boncengan Phoenix Merahnya Nay menjawab. "Aku hanya pengajar di sana. Jadi tidak tahu persis mengapa pemilik dan pendirinya menamai TK itu begitu. Penjelasanku ini berasal dari pemahamanku saja. Matahari adalah lambang kehidupan, sumber penghidupan, dibutuhkan umat sejagat raya. Matahari juga simbol harapan, semangat juang yang menyala\-nyala. Pantang menyerah dalam kondisi apa pun."
"Bila digabungkan dengan Indonesia. Kira\-kira maknanya adalah anak\-anak yang belajar di sana kelak bisa menjadi matahari bagi bangsa ini, pemangku amanah masa depan dengan harapan baru, semangat, kerja keras demi kejayaan Indonesia. Kedengarannya klise, sama seperti kita kecil ditanya apa cita\-cita kita. Menjadi dokter, pilot, atau polisi. Bukan profesinya yang penting, tetapi bagaimana cara menggapainya, bagaimana mengahadapi kendala dan hambatan. Oleh karena itu, setiap anak yang baru masuk akan kami kenalkan pada dinding impian."
"Dinding impian? Apa itu?"
"Setiap anak menggambar apa yang paling ia impikan. Gambar tersebut lalu ditempelkan di tembok dan diperlihatkan kepada teman\-temannya yang lain. Begitu salah satu cara kami menanamkan kesadaran bahwa hidup ini akan indah dan bermafaat bila kita memulainya dengan membangun impian\-impian yang besar. Bukankah bangsa kita lahir juga karena impian para tokoh masa itu untuk memiliki bangsa yang merdeka dan berdaulat? Bukankah juga agama kita terlahir dari impian seorang yang bernama Muhammad yang mendambakan kehidupan. Bermoral, penuh akhlak mulia, tidak saling bunuh, dengki, serakah, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam? Setiap anak memiliki impian. Hanya kadang, mereka tidak berani mengungkapkannya. Jika pun diungkapkan, tidak ada yang mau mendengarkannya dengan sepenuh hati, termasuk orang tua kita sendiri. Lama\-lama, impian itu mati dan kering."
"Nay rasa cukup penjelasannya. Semakin panjang malah semakin banyak salahnya."
"Pemahamanmu luar biasa, Nay,"
"Mas Randy terlalu memuji," ucap Nay dengan pipi memerah.
Sepanjang sisa perjalanan pulang, perasaan Randy seperti di aduk\-aduk dalam tungku batu bara. Tidak hanya bermata cahaya, bersenyum pelangi, Nay memiliki otak yang secantik parasnya. Pesona Nay mengantarkan Randy pada kesadaran baru yang belum pernah ia pikirkan sebelumnya.
"Setiap anak memiliki impian. Hanya kadang, mereka tidak berani mengungkapkannya. Jika pun diungkapkan, tidak ada yang mau mendengarkannya dengan sepenuh hati, termasuk orang tua kita sendiri. Lama\-lama, impian itu mati dan kering."
Ingatan Randy menembus dimensi ruang dan waktu. Hadir di pelupuk matanya, Randy remaja yang punya mimpi, Randy remaja yang penuh impian. Namun, semua iyu harus kandas di tangan orang tuanya sendiri.
"Kau benar, Nay. Benar sekali. Impian itu kering dan mati." {}
__ADS_1