Nayla

Nayla
Part 12


__ADS_3

Nayla masih tersenyum sendiri di kelas, bibir itu masih setia membentuk senyuman indah karena memikirkan Satya. Bel berbunyi membuatnya tersadar dari lamunannya, ia segera memperbaiki cara duduknya, mengubah ekspresinya menjadi senormal mungkin, agar tidak ada yang melihatnya tersenyum sendiri.


Ketika guru menjelaskan di depan, Nayla tidak fokus, ucapan Satya di depan kelasnya masih terus terngiang di telinganya. Untungnya pelajarannya kali ini bukan menghitung rumus sulit, jadi dia tak akan terlalu pusing jika belajar di rumah. Matanya memang menghadap ke depan, tapi hatinya memikirkan ucapan Satya.


"Nay?" Ucap Fahmi mengguncang bahu Nayla yang fikirannya entah kemana. Nayla tersadar dan seketika melihat ke arah sumber suara, "pulang yuk, udah bel," lanjut Fahmi.


"Iya?" ucap Nayla pada Fahmi yang ada di depannya.


"Pulang Nay, udah bel, temen-temen udah pada bubar, tapi kamu masih duduk di sini kayak lagi mikirin sesuatu, mikirin apa sih Nay?" Tanya Fahmi.


"Nggak, aku nggak mikirin apa-apa kok, yaudah ayo pulang," ucap Nayla, ia bangkit dari bangkunya,memakai tasnya dan keluar dari kelas bersama Fahmi.


"Kalo kamu ada masalah, cerita aja Nay, kalo aku mampu, aku pasti bantu, masalah apapun itu, aku akan berusaha bantu kamu Nay," ucap Fahmi setelah mereka keluar dari kelas.


"Aku nggak ada masalah apapun Fah, aku baik-baik aja, kamu bisa liat sendiri kan kalo aku nggak papa". Ucap Nayla tersenyum kearah Fahmi.


"Tapi di kelas kamu kayak nggak fokus belajar Nay, kamu kayak lagi mikirin sesuatu gitu," ucap Fahmi, "pandangan kamu emang ke papan tulis, tapi aku perhatiin kamu seperti nggak ngeliat papan tulis, kamu terlihat melamun Nay," lanjut Fahmi.


"Aku nggak melamun Fah, aku nggak mikirin apa-apa, tadi aku emang nggak fokus belajar aja," ucap Nayla, "tapi itu karena aku nggak semangat aja kok Fah," ucap Nayla menjelaskan.


"Nggak semangat?" tanya Fahmi, "berarti kamu emang lagi mikirin sesuatu kan?" ucap Fahmi membuat Nayla salah tingkah.


"Nggak Fah, beneran," ucap Nayla.


"Aku kenal kamu Nay, bagaimanapun malasnya kamu, apapun yang kamu fikirin, kamu akan tetap belajar, apalagi ketika ada guru yang menjelaskan, aku nggak pernah liat kamu nggak fokus hanya karena nggak ada semangat, aku tau karena aku udah kenal kamu Nay," ucap Fahmi berusaha membuat Nayla jujur, "cerita aja Nay biar beban yang ada di fikiran kamu bisa berkurang," ucap Fahmi. Nayla tersenyum tipis, baginya memikikirkan ucapan Satya bukan beban, karena ia bahagia bisa merasakan perasaan ini.

__ADS_1


"Aku emang nggak fokus belajar karena lagi mikirin sesuatu," Nayla mengaku, "Tapi aku ceritain kamu nanti aja ya Fah, kalo aku udah siap," ucap Nayla melihat Fahmi.


"Kenapa nanti? Kenapa nggak sekarang aja Nay?" tanya Fahmi.


"Aku nggak bisa kasih tau kamu sekarang Fah, tapi aku janji bakalan cerita," ucap Nayla meyakinkan Fahmi.


"Pertanyaan aku, kalo bisa sekarang kenapa harus nanti Nay?" tanya Fahmi sekali lagi.


"Karena aku belum siap, tapi karena aku nggak cerita bukan berarti aku nggak percaya sama kamu Fah, aku percaya, cuma aku takut kalo cerita sekarang, aku harap kamu ngerti Fah," ucap Nayla memberi Fahmi pengertian. Fahmi mengangguk.


"It's oke, tapi kamu harus cerita sama aku, kapanpun itu, aku akan tunggu kamu cerita, karena aku nggak mau kamu terbebani sendiri Nay, aku nggak mau kamu nggak fokus kayak tadi, jadi kalo kamu udah siap, kamu ceritain semuanya sama aku, siapa tau aku bisa bantu kamu," ucap Fahmi pasrah karena Nayla tak mau cerita. Nayla tersenyum.


"Pasti Fah, pasti aku cerita sama kamu karena kamu sahabat aku," ucap Nayla. Fahmi tersenyum kaku dan mengangguk.


Di luar gedung, langit masih menurunkan gerimis, Fahmi yang sudah mengambil payungnya langsung menghampiri Nayla dan mengajaknya pulang.


"Kayaknya kamu kedinginan Nay," ucap Fahmi. Ia merapatkan tubuhnya pada Nayla dan memeluknya untuk memberikan kehangatan.


"Nggak terlalu dingin Fah, cuma tangan aku dingin banget," ucap Nayla menggenggam tangannya sendiri.


"Sini tangan kamu," Fahmi menggengam tangan Nayla sambil memeluknya, dan tangan satunya memegang payung.


"Hangat?" tanya Fahmi yang memeluk Nayla. Nayla mengangguk.


"Makasih Fah," ucap Nayla.

__ADS_1


"Iya," jawab Fahmi. Mereka berjalan seperti itu sepanjang jalan. Setelah tiba di depan rumah Fahmi, Fahmi melepas pelukannya.


"Fah, makasih jaketnya," ucao Nayla melepas jaket merah dari tubuhnya dan memberikannya pada Fahmi, rasa dingin langsung menusuk tulangnya ketika melepas jaket itu.


"Nggak usah Nay, jaket itu emang buat kamu, biar kita bisa kapelan, kamu juga bisa bawa kemanapun pas kamu butuh," ucap Fahmi.


"Tapi Fah, aku masih punya jaket di rumah, lagian ini pasti mahal banget kan?" ucao Nayla tak ingin menerimanya.


"Berapapun harganya, aku nggak peduli, jaket itu sengaja aku beli supaya bisa kapelan aja kok, lagian jaket kamu masih basah kan? Kamu terima ya Nay, setidaknya untuk menghargai aku, kamu nggak boleh balikin apapun alasannya," ucp Fahmi memaksa Nayla menerimanya.


"Tapi Fah, ini bagus banget, harganya pasti mahal banget," Nayla tak enak menerima jaket itu.


"Terima ya Nay please, aku nggak mau denger alasan kamu lagi, sekarang kamu pulang, bawa payung ini, biar kamu nggak basah sampe rumah, besok kamu bawa pas jalan ke sekolah, mungkin aja kan besok pagi hujan lagi. Dan jaketnya kamu pake lagi biar kamu nggak kedinginan," ucap Fahmi melihat Nayla yang mengusap lengannya karena kedinginan, ia menyerahkan payungnya pada Nayla dan memasangkan jaket merah itu di tubuh Nayla. Nayla hanya pasrah.


"Sekarang kamu pulang, jangan hujan-hujanan, nanti kamu sakit," ucap Fahmi perhatian.


"Makasih Fah, kalo gitu aku pulang dulu," Nayla pamit kepada Fahmi, Fahmi tersenyum pada Nayla dan segera berlari ke dalam rumah, sedangkan Nayla melanjutkan perjalanan pulang.


...☆☆☆☆☆☆☆☆☆...


Malam ini cuacanya mendung, mungkin besok pagi akan hujan lagi fikir Nayla. Nayla mengeringkan jaket yang diberikan Fahmi padanya, dia akan memakainya besok jika memang ternyata besok hujan lagi. Setelah menggantung jaketnya, Nayla masuk ke dalam kamar dan mengahmpiri meja untuk belajar. Setelah belajar dan merapikan buku-bukunya, Nayla beralih mengambil buku yang dipinjamkan Satya pagi tadi dan mulai membacanya.


Baru membuka halaman pertama, Nayla tersenyum sendiri mengingat bagaimana buku di hadapannya ini diberikan oleh Satya pagi tadi.


"Apa aku menyukai kak Satya," Nayla bertanya-tanya. Mungkin saja ia memang menyukai Satya, ia berdebar memikirkan Satya, rindu kala jauh darinya, dan berbunga-bunga ketika bisa berbicara langsung dengannya.

__ADS_1


Tapi suka atau tidak, apa pedulinya, ia tak ingin memikirkan hal-hal seperti ini di usianya yang masih terlalu kecil, Ibunya saja belum ia buat bahagia, lalu dia akan memikirkan hal sepeti ini? Tapi apa dayanya Nayla, karena usianya yang masih belum mencapai dewasa, ia sering tak mampu mengendalikan emosinya, terutama ketika ia sedang memikirkan Satya seperti saat ini.


Nayla membuka buku itu dan membacanya, ia berusaha untuk tidak memikirkan Satya walaupun terasa sulit, ia terus membaca sampai rasa ngantuk menghampirinya. Nayla menutup buku itu dan mengahampiri ranjang, ia berbaring dan menutup matanya. Tapi sebelum tidur pun, Satya ada di fikirannya. Nayla membiarkan fikiran itu sampai ia tertidur dengan sendirinya.


__ADS_2