
Nayla dan Fahmi menghabiskan jam istirahat mereka di bawah pohon belakang sekolah sambil menikmati snack yang dibeli oleh Fahmi. Tentunya diikuti dengan pembicaraan ringan disertai candaan. Ketika sedang asik berbicara, tiba-tiba beberapa orang siswi menghampiri mereka, raut wajah mereka diselimuti rasa penasaran. Sepertinya mereka dari kelas IX.
"Dek, bener kamu yang namanya Nayla?"tanya salah seorang siswi kepada Nayla, jumlah mereka ada lima orang, mereka mengerubungi Nayla sampai Fahmi berdecak, dia hampir terjatuh karena ulah para siswi itu.
"Iya kak, ada apa ya?" Tanya Nayla yang bingung karena dikelilingi oleh siswi-siswi kelas IX.
"Ternyata bener dia yang namanya Nayla," ucap salah satu siswi.
"Iya, orangnya cantik lagi," sahut siswa lainnya yang berada di sebelah kiri Nayla.
"Hai Nayla, kenalin nama gue Dewi," ucap salah seorang siswi dibelakangnya memperkenalkan diri.
"Gue Lilis."
"Gue Eva."
"Gue Clara."
"Aku Anggi," siswi terakhir memperkenalkan diri. Nayla hanya tersenyum canggung pada mereka. Dia bingung mengapa mereka mencarinya dan memperkenalkan diri, sangat aneh fikir Nayla.
"Tapi kamu beneran bernama Nayla?" Tanya siswi yang bernama Anggi yang ada di sebelah kanan Nayla.
"Iya kak," jawab Nayla tersenyum canggung.
"Beneran cantik nggi, pantesan si cuek seneng banget cerita tentang dia," ucap Dewi memuji Nayla.
"Kamu kelas VIIIB kan?" Tanya Anggi.
"Iya kak, ada apa ya?" Tanya Nayla pada Anggi.
"Nggak ada kok, kita cuma pengen tau aja, ternyata kamu emang beneran cantik," ucap Anggi.
"Kalian tau dari mana kalo dia bernama Nayla?" Tanya Fahmi yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan siswi-siswi itu. Mereka menoleh ke arah Fahmi, termasuk Nayla.
"Kita tau dari temen kita," jawab Dewi.
"Temen? Temen kelas kalian?" Para siswa itu saling berpandangan.
"Iya, temen satu kelas. Oh ya, nama lo siapa?" jawab Dewi mengalihkan pembicaraan
__ADS_1
"Fahmi," jawab Fahmi singkat.
"Lo temennya Nayla?" tanya Dewi
"Bukan, tapi sahabat," ucap Fahmi.
"Sama aja kali, ternyata lo lucu juga ya, ganteng lagi," ucap dewi tertawa. Siswi yang lainnya tersenyum dan berbisik-bisik melihat Fahmi.
"Nay, kita ke kelas yuk, bentar lagi bel," Fahmi menarik tangan Nayla agar tidak dikelilingi siswi-siswi kelas IX itu. Nayla hanya menurut.
"Eh Fahmi bentar, kita belum selesai ngomong sama Nayla," Dewi menarik tangan Nayla. Fahmi semula akan menarik tangan Nayla kembali, tapi Nayla memberi isyarat agar Fahmi tak melakukan itu.
"Nay, lo inget-inget nama kita ya, gue Dewi, ini Anggi, ini Lilis, Clara sama dia Eva," ucap Dewi memperjelas nama mereka satu persatu. Mereka semua tersenyum pada Nayla.
"Iya kak," jawab Nayla meskipun dia tidak mengerti kenapa mereka memperkenalkan diri mereka pada Nayla.
"Yaudah Nay, kita pergi dulu ya, kita ketemu lagi kapan-kapan," ucap Eva. Nayla hanya menanggapinya dengan tersenyum. Para siswi itu berbalik meninggalkan Nayla dan Fahmi yang masih berdiri si sana.
"Dasar aneh," ucap Fahmi setelah mereka berlalu. "mereka tau nama kamu dari mana coba, perasaan kamu selalu bareng aku ke mana-mana Nay," lanjut Fahmi.
"Aku juga nggak tau Fah," ucap Nayla, "Udah nggak usah difikirin, aku juga bingung kenapa mereka tiba-tiba nyamperin aku dan kenalin diri mereka," ucap Nayla dan berjalan mendahului Fahmi. Fahmi mengejar Nayla.
"Mereka tadi bilang si cuek yang cerita ke mereka, kayaknya kamu deket deh Nay sama si cuek yang mereka maksud," Fahmi mensejajarkan langkahnya dengan Nayla.
"Kecuali?" Tanya Fahmi.
"Kak Satya?" tanya Nayla pada dirinya sendiri.
"Maksud kamu mereka dikasih tau sama Satya gitu?" Tanya Fahmi.
"Aku nggak tau, tapi, udahlah Fah, nggak usah dibahas," Nayla menggandeng tangan Fahmi dan berjalan lebih cepat. Fahmi hanya mengikuti langkah Nayla.
Di kelas, Nayla masih memikirkan si cuek yang di sebut oleh siswi kelas IX di belakang sekolah tadi. Untuk apa si cuek itu menceritakan tentang dirinya pada teman-temannya, dan bagaimana bisa si cuek itu tau tentangnya? Apa mungkin itu Satya, tapi itu tidak mungkin, karena Satya terkenal pendiam dan tidak peduli pada orang lain.Tapi jika iya? Tetap saja tidak mungkin, fikir Nayla.
"Nay, jelasin tentang ini dong," Amanda tiba-tiba datang dari belakang.
"Yang mana?" Nayla melihat soal yang di tunjuk Amanda. Kemudian dia menjelaskan soal latihan IPA Fisika yang dimaksud.
Sejenak dia melupakan tentang si cuek, tapi di tengah-tengah menjelaskan, Nayla mulai tidak fokus, dirinya kembali tertuju pada si cuek yang dikatakan siswi kelas IX di bawah pohon tadi. Dia berharap si cuek itu adalah Satya, jika si cuek adalah Satya, sudah pasti Nayla sangat bahagia. Karena tidak fokus, Nayla menjelaskan pada Amanda dengan acak-acak, sehingga Amanda tidak Faham dengan penjelasan Nayla.
__ADS_1
"Nay, aku nggak ngerti sama penjelasan kamu, kamu kayaknya nggak fokus deh Nay, tumben banget penjelasan kamu sulit difahami," ucap Amanda yang memperhatikan Nayla yang menjelaskan sekedar menjelaskan.
"Kayaknya aku belum terlalu faham sama soal-nya deh Man, soal-nya juga panjang banget, gimana kalo aku kerjain sendiri dulu, nanti aku kasih kamu kalo aku udah yakin sama jawabannya, tapi aku jelasinnya besok ya Man, soalnya aku juga sedikit pusing hari ini," ujar Nayla mengembalikan bukunya Amanda dan mengambil bukunya untuk mengerjakan soal yang tidak bisa ia jelaskan dengan benar.
"Kamu nggak papa kan Nay?" Tanya Amanda khawatir.
"Nggak papa kok Man, aku cuma sedikit pusing lihat soal-soal yang panjang kayak gini," ucap Nayla tersenyum meyakinkan.
"Yaudah deh, kamu jelasinnya lain kali aja, tapi jawabannya jangan lupa ya Nay," Amanda tersenyum kepada Nayla.
"Iya, tapi aku kerjain dulu ya," ucap Nayla mulai mengerjakan soal latihan itu.
"Iya Nay, semangat ya," ucap Amanda. Nayla mengangguk.
"Tapi kamu juga belajar Man, siapa tau bisa jawab soal tanpa aku jelasin," Nayla berbicara tanpa melihat Amanda.
"Kalo gitu balik ke mejaku dulu Nay, mau kerjain soal-soal ini, siapa tau aku tiba-tiba jadi jenius," ucap Amanda lalu kembali ke bangkunya, Nayla tersenyum.
Nayla fokus menjawab soal sampai Fahmi datang dan menyerahkan jawabannya pada Nayla.
"Nay jawaban aku udah sama kayak jawaban kamu kan, aku mau kumpulin nih," ucap Fahmi, Nayla menerima buku Fahmi dan melihat jawabannya satu persatu, Semua benar, tumben Fahmi bisa menjawabnya dengan benar dan mengumpulkan paling awal pikir Nayla.
"Bener semua Fah, makin pinter aja nih sahabat aku," Nayla memuji Fahmi.
"Sahabat siapa?"tanya Fahmi membusungkan dada bangga.
"Sahabat aku dong, tapi kamu jawabnya ngga curang kan Fah?"tanya Nayla.
"Nggak lah Nay, mau curang pake apa, bawa hp aja dilarang, apalagi kalo sampe ketahuan nyontek, aku nggak mau ambil resiko dijemur di lapangan sampe satu jam, apalagi kalo cuaca panas, uh kerasa banget," ucap Fahmi.
"Kerasa apanya Fah?" tanya Nayla bingung.
"Kerasa panasnya Nay, kulitku juga jadi gelap," ucap Fahmi.
"Itu kan udah resiko kalo nyontek Fah," ucap Nayla.
"Iya, tau, tapi kan aku nggak nyontek," ucap Fahmi.
"Yaudah nih, kamu kumpulin aja, in shaa Allah bener semua kok," ucap Nayla meyakinkan.
__ADS_1
"Kalo gitu aku kumpulin dulu ya Nay," Fahmi berjalan ke depan dan memberikan jawabannya pada guru di depan.
Nayla memberi Amanda jawaban dari soal yang tidak Amanda Fahami dan mereka mengumpulkannya bersama-sama. .