
Matahari menyembul dari rimbunan pohon nangka. Fahim mengeluarkan sepeda jengki dari belakang kamar depan mushala. Ia memompa ban depan\-belakang dan menepuk\-nepuk sadel sepeda yang pegasnya mulai ujuk gigi. Lalu kembali ke kamar mengambil tas ransel butut.
"Sebelum gelap aku sudah pulang. Kalau mau jalan\-jalan atau tiduran, silahkan saja. Bebas. Tidak lupa kan waktu zhuhur dan ashar?"
"Adzan?"
Randy mengikuti Fahim ke halaman
"Fahim terimakasih. Aku...." ucap Randy tulus walau terdengar asing ditelinganya sendiri saat mengucapkan kata aku.
Fahim menunggu
"Aku akan menjaga mushala dengan baik." janji Randy
"Jangan khawatir" sambil menunjuk ke atas "sang pemilik lebih hebat dalam manjaga rumah\-Nya. Hanya saja, Dia membutuhkan mulut manusia untuk menyerukan kita agar tidak melalaikan kewajibannya." ujar Fahim sambil menatap mushala, lalu beralih ke Randy "aku berangkat dulu."
********
Lima belas menit kemudian Fahim sudah sampai di pasar dia menuju ke aalah satu toko yang berisi penuh dengan jajanan pasar.
Fahim di kenal mereka sebagai penjual kue di Pasar Labu. Benar, tapi juga salah. Benar, sebab itu salah satu sisi kehidupan Fahim. Demi hidup di dunia yang sebentar ini. Fahim menjadi pengedar kue, sebagai tambahan untuk menyambung hidupnya.
Sisi yang lain adalah kehidupan jiwanya yang menuntut asupan untuk tumbuh menjadi besar, kokoh, teguh, luas, dan bermanfaat. Tak banyak yang tahu, namun untuk Mbah Nah ini pengecualian.
Mbah Nah, perempuan beruaia enam puluh tujuh tahun, berbadan gemuk duduk disinggasananya, dikelilingi sepasukan jajanan pasar dalam aneka warna. Berderet\-deret tiga meter panjangnya. Seorang asistennya, perempuan paruh baya tak bisa bernafas banyak untuk melayani tanga\-yangan yang mengulurkan lembaran uang.
"Lemper sepuluh, klepon tiga, pesenan loh, Yu."
Yang lain nyerobot. "Martabak, Mbah, ketan, lapis, karo risoles, *ojo lali lomboke*!"
"*Komplit telu\-telu*"
"Ealah..., Cah Bagus." suara Mbah Nah membuat para pelanggan mengalihkan pandangannya.
Wajah Fahim timbul tenggelam dibalik kepala, bahu, dan punggung orang\-orang yang mengelilingi Mbah Nah.
"Nem...!" teriakan Mbah Nah membuat aktivitas asistennya terhenti.
"Sesuai pesenan Mas Fahim kemaren." wanita yang dipanggil Nem menyerahkan bungkusan taplak meja kepada Fahim.
"Terima kasih, Yu Sinem, Mbah."
"*Wis gampang, mengko sore wae cah bagus*."
Fahim berbalik dengan wajah bersemu merah. Ia mendengar ada yang meminta pembayaran seperti dirinya langsung disembur oleh Mbah Nah, "*Enake*...!"
Satu setengah tahun lalu, Fahim bertemu dengan Mbah Nah, penjual jajanan pasar puluhan, bahkan ratusan kue pasar bisa ia bikin dengan rasa yang belum pernah ada sebelumnya. Para orang tua menganggap Mbah Nah generasi puncak bisa menyempurnakan aneka resep ajaib itu.
Mbah Nah, adalah merek, jaminan kepuasan pelanggan, asuransi kelezatan, biang ketagihan, maestro lemper kelas wahid. Pilihan Fahim tak meleset se senti pun. Cukup dengan menyebut nama Mbah Nah tak ada pedagang yang menolak untuk dititipi. Target pertama adalah kantin kampus yang selalu diserbu mahasiswa\-mahasiswa yang selali lapar sehabis mendengarkan kuliah dosen, yang lebih banyak membosankan daripada senang. Lalu menjalar ke warung\-warung pinggiran kampus. Dan merambah ke SD\-SD.
Awalnya Fahim ragu, bisakah anak\-anak menerima rasa dari jajanan pasar? Adakah dalam kamus mereka lemper sebagai jajanan mereka? Pernahkah mereka diajarkan guru atau orang tua bahwa prestasi kuliner nenek moyang kita selain tempe adalah lemper.
"*Ojo kuatir Mas*, kalau anak\-anaknya *ndak* suka, ibu\-ibunya, bapak\-bapaknya, penjemputnya? Mereka tidak akan berpaling saat mendengar lemper Mbah Nah?"
Yu Ningsih, penjaga kantin, bukan hanya sekedar memamerkan keyakinannya, tetapi hakikatnya sedang mendereskan dalil pertama dalam kitab marketing klasik kepada Fahim. Jangan menjual sesuatu bila tidak yakin produkmu laku.
Kini, kantin\-kantin beberapa SD menyumbang omzet terbesar, mengalahkan TPL\-TPL lain. Dalam sebulan sekali pasti ada pesanan dalam jumlah besar dari orang tua murid, guru, dan warga sekitar. Seperti saat ini Fahim baru saja selesai mengantarkan pesanan lemper kepada salah satu orang tua murid.
*******
Semenit setelah punggung Fahim menghilang dibalik pagar beluntas yang membatasi halaman mushala dengan jalan, Randy masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya dikasur tipis.
__ADS_1
Dipojok, ada lemari setinggi setengah badan orang dewasa. Disampingnya, berderet\-deret rak buku hingga menyentuh ujung tembok yang lain. Randy mendekat. Mungkin bisa menemukan buku yang cocok untuknya. Tapi, tak lama, Randy menggeleng, bahkan sebagian besar ia tak dapat membaca judulnya yabg disusun dalam huruf yang meliuk\-liuk. Ia miringkan kepalanya ke kanan, sebagaimana cara membaca huruf\-huruf itu. Tetap saja, ia buta.
Karena tak mendapat bacaan yang gue banget, Randy beralih mengambil tasnya. Ia memeriksa apa saja yang sempat dibawa. Telepon seluler yang off dari kemarin siang, kamera DSLR keluaran tahun lalu, sepotong kaus. Ah, cuma ini saja bekal untuk pelariannya. Saat ini, tak apalah, namanya juga kabur kalau bawa koper namanya belibur. Kalau, dipikirkan lagi, ia seperti mimpi berada di kampunh antah berantah yang....
*Tok... Tok... Tok*...
Pintu diketuk, sebelum Randy berdiri dengan sempurna, ia menangkap siluet seorang gadis berdiri kaku di mulut kamar.
"Oh... Maaf"
Mata Randy menangkap rambut panjang setengah basah terurai indah sebahunya, ditambah dengan lengkungan tipis dibibirnya.
"Mas Fahimnya ada?".
Di beranda mushala akhirnya mereka bercakap\-cakap saling menukar nama.
"Nanti akan saya sampaikan" kata Randy seresmi suara sekretaris.
Rida melihat ke arah Randy sedang memegang kamera, ada obrolan nih.
Randy mulai tertarik dengan kepolosan dan sikap riang yang Rida hadirkan.
"Bukan, hanya sekedar hobby saja, saya suka mengabadikan objek\-objek yang bagus" jawab Randy.
"Maksudnya pemandangan ya, mas? Disini banyak pemandangan yang bagus\-bagus" sambung Rida
"Oh ya" mata Randy berbinar kala melihat Rida manggut\-manggut menanggapi pertanyaan Randy.
"Boleh kita *hunting* ke sana?"
"Opo mas gunting? Kok gunting, tho?"
"Oh bukan, maksudnya. Hunting. Kita ke tempat yang bagus tadi" sambil mengangkat kamera setinggi dadanya.
"Tunggu sebentar. Sek, sebentar aja kok".
Lalu Rida beranjak dari duduknya dan berlari. Dalam radius lima belas meter, Randy melihat Rida menoleh ke belakang dua kali. Gadis itu memasuki rumah besar pintu samping. Rumah disebelah mushala yang tumbuhi pohon\-pohon rindang disampingnya.
Tak selang berapa lama Rida keluar dari rumah itu dengan tampilan yang berbeda, secarik kain berwarna hijau muda menutupi kepalanya. Tersenyum cantik mengajak Randy untuk memulai perjalanannya. Rida membawa Randy menyusuri jalan tanah selebar orang, di tritisan rumah\-rumah penduduk, dan bila berjumpa dengan penduduk Rida lebih sering disapa daripada menyapa. Yang menyapa rata\-rata sambil menganggukkan kepala dan badan.
Mereka melintas pekarangan, menyebrangi selokan, melewati kandang\-kandang ternak, memotong gang, menaiki tangga batu, dan menapaki daun\-daun kering.
Rida memutar badannya tiga ratus enam puluh derajat dengan merentangkan kedua tangannya. Sambil menghirup udara segar dalam\-dalam.
"*Poto lagi mas*, indah kan" ucap Rida pada Randy.
Randy seperti kerasukan jin orang\-orangan sawah yang menjepret puluhan kali dengan satu objek yang sama. Bukit\-bukit, hamparan sawah dengan gubuk\-gubuk kecil bertebaran tak beraturan. Randy merasakan dirinya kembali seperti anak\-anak, berlarian di pematang sawah berlari\-lari mengejar capung atau burung emprit yang kekenyangan bulir padi. Ia pernah merasakannya lama. Lama. Lama sekali rasa itu hilang. Randy termangu bahkan takjub dengan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Rida, ada apa dibalik bukit itu?"
Rida mengikuti arah telunjuk teman barunya itu.
"Istana peninggalan sejarah yang sangat megah!" matanya tersenyum riang.
"Kening Randy berkerut. Matanya penuh tanya. Mana ada istana di atas bukit?
"Kenapa? Tidak percaya? *Ketok nek ra percoyo*" Rida mendengus kecil.
"Oh tidak" Randy mengibaskan tangannya. "Bisa kita kesana!" Rida menjawab dengan gelengan kepala kepala membuat wajah Randy berubah menjadi lesu.
"Tidak sekarang maksudku" ucapnya "nanti siang aku ada kuliah"
Entah kenapa, kalimat Rida barusan seolah menyulut syaraf Randy untuk meledakkan tawa secara lepas dan spontan. Sesaat lamanya.
"Apanya yang lucu? Aku serius!" Rida *membesengut*. Karena sikap riang dan kepolosan Rida membuat siapa saja yang melihatnya tak percaya bahwa Rida seorang mahasiswi.
"Sikap periang bukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan anak kecil, Rida percayalah!"
"*Kok mau guyu ngakak, hayo*?"
"Kamu bukan hanya pintar, tapi juga pintar membuat orang senang" lanjut Randy.
Ada lilin kecil di mata Rida. Randy menunggu, tapi cahaya itu sepertinya ragu untuk menyala lebih terang. "Benarkah. Tapi, kenapa orang tuaku tidak pernah mau mendengar pendapatku?"
"Kamu bahkan baru menyadarkan aku untuk melihat dunia ini dari cara pandang anak\-anak yang polos dan murni. Orang dewasa terlalu cepat menjadi tua sebab tidak tahu caranya menikmati hidup ini. Orang tua merasa paling pandai sebab ia lupa betapa indahnya masa kecil."
"Ra dong aku, Mas" tukas Rida.
Sebelum matahari zhuhur mengibarkan bendera tanda kedatangannya masih ada sedikit waktu mengajak Randy menuju tempat berpasir, Pantai Indah namanya.
Angin langsung menyapa wajah Randy ketika ia sampai disana. Pantai berpasir putih dengan alam yang masih terjaga dengan apiknya sekali lagi membuat pikirannya fresh.
"Dulu sewaktu masih kecil, setiap sore aku dan teman\-teman selalu kesini. Oh ya, biasanya kami mengadakan lomba lari. Mulainya dari sini sampai gapura depan sana. Siapa yang paling cepat sampai disana, pulangnya akan kami gendong sampai rumahnya secara bergantian. Dan, yang paling sering menang adalah Nay" Rida seperti sedang melihat masa lalunya. "Tapi, kami selalu senang jika Nay menang dan sebisa mungkin dia yang menang."
"Pasti dia anak yang paling dominan diantara kalian."
"Bila Nay menang itu artinya, kita bebas dari hukuman. Dia tidak pernah mau digendong."
"Oh... Pasti dia anak yang paling baik hati diantara kalian." Randy mengucapkannya seolah sedang meminta maaf atas ucapannya yang pertama.
"Besok, kita akan pergi melihat sesuatu dibalik bukit itu" tunjuk Rida ke arah bukit.
Rida tidak menunggu jawaban Randy. Ia mengucapkan salam dan berlalu. Langkahnya ringan berirama riang, seperti hatinya yang melayang-layang.
Matahari meninggi, Randy mempercepat langkah mematuhi peta abstrak yang diberikan Rida. Lurus, kiri, pertigaan kanan, lurus lagi, sampai. Di tikungan, kakinya terpaku ke bumi. Dadanya bergemuruh. Tangannya sigap meraih kamera.
Tepat ketika gadis itu membelok, wajahnya yang lurus kedepan dilahap sempurna oleh mata kamera dalam format close up. Lewat seperempat detik, Randy kehilangan momen indahnya. Ia bahkan bisa mendengar degup jantungnya. Randy merunduk mengencangkan tali sepatunya, sekaligus mengempit kameranya agar tidak kelihatan. *Bagaimana jika ia melihatku tadi? Lalu, ia melapor ke orang\-orang Kampung ini? Habislah riwayatku*! Katanya dalam hati. Tapi hingga menit ketiga, ia tidak melihat gadis itu lewat disampingnya dengan sepeda mini merahnya. Randy berdiri cepat. Lali ia menarik napas lega. Ia bisa melihat lambaian jilbab biru muda dikejauhan milik wajah yang kini abadi dalam dekapannya.
__ADS_1