
Di rumah Nay, esok harinya.
"Nay, aku tidak bisa, Nay."
"Kamu tinggal mengarahkan saja , Sis. Konsepnya dari kami."
"Kamu tahu, sudah setahun ink, aku tidak pernah lagi ke sanggar, apalagi terlibat dalam pementasan."
"Ya aku tahu karena kamu ingin konsentrasi menyelesaikan tugas akhir. Itu wajar, Sis. Tapi, bagaimana dengan pementasan rutin tiap tahun di depan mahasiswa baru? Bagaimana dengan pentas beberapa kota dua tahun lalu? Sekarang kamu memang tidak aktif, tapi bukan berarti pengalamanmu bermain teater hilang begitu saja, kan?"
"Aku bisa mencarikanmu orang yang tepat, Nay, yang pengalaman dan kemampuannya bisa lebih dipertanggung jawabkan."
"Aku ingin kamu, Sis. Aku percaya kamu bisa."
Siska masih juga menggeleng.
"Ini bukan lakon Anton Chekhov, Sis. Hanya drama anak\-anak desa. Kami pun tidak minta kamu mengajari kami metode akting Stanilavsky. Tidak, Sis. Ajari kamk cara bergerak, membuat bloking, vokal yang benar. Itu saja. Dan seperti kataku, kami semua akan berada disampingmu, siap dengan perintah dan suruhanmu."
Urat keras di wajah Siska mulai mengendur pelan\-pelan. Mungkin karena gempuran bujukan Nay yang entah dari mana bisa kenal dua nama nabi dalam dunia teater itu. Atau, karena ada sesuatu yang menggerakkan hati Siska untuk melihat pekerjaan ini dari sudut pandang yang lain.
"Kapan pementasannya?"
Nay menyebut hari, tanggal, dan tempatnya sekaligus. Nay tahu, Siska sedang menghitung, mengkalkulasi, dan memperkirakan segala teknik produksi drama kolosal ini.
"Kita butuh tempat latihan."
"Sudah tersedia, Sis. Jangan khawatir."
Siska membayangkan mushala atau halaman mushala. Tidak cukup representatif.
"Tempatnya harus luas karena melibatkan puluhan anak."
"Lebih dari luas. Juga ada semacam panggungnya, Sis."
"Aku tidak melihat yang seperti itu di kampung ini."
Nay tersenyum girang. Ia berhasil memancing keinginan Siska.
"Di belakang kampung ini, Sis. Di kompleks istana."
*****
Istana peninggalan sejarah.
Sore harinya.
"Ya Tuhan, mengapa kau tak bilang kalau ada tempat seindah ini, Nay? Luar biasa!"
Nay mencatat bahwa ini kalimat kekaguman kesekian kalinya yang keluar dari bibir Siska. Gerbang pertama. Gerbang kedua. Padang rumput. Kompleks taman. Dan, sekarang mereka berada di dalam pendapa, semacam panggung raksasa, dua pulis kali dua puluh meter dengan tinggi satu meter setengah.
"Aku sudah bicara dengan salah satu petugas yang ku kenal di sini. Mereka mengizinkan kita berlatih di pendapa ini."
"Kita hanya butuh pendapa ini sekali. Saat gladi bersih nanti, sebelum pentas. Aku lebih senang latihannya di padang rumput di belakang gapura kedua." Siska mengacungkan dua jempolnya.
__ADS_1
Tempat ini menggetarkan Siska. Anginnya. Rumput dan bebatuan. Air dan desainnya. Alam dan kesunyiannya. Waktu dan senjanya. Semua seperti mengabarkan pada keyakinan bahwa ia bisa melakukan sesuatu untuk anak\-anak desa ini. Duh, alangkah indahnya bila suatu ketika ia di sini melihat alam bersama Sinar, membiarkan anak itu meresapi hasil karya Tuhan yang sesempurna ini.
Di perjalanan pulang, Nay sengaja mengambil jalan memutar. Saat melintasi bangunan Matahari Indonesia, Nay menunjuk kesana. Sambil terguncang di boncengan Phoenix Merah, Siska mendengarkan cerita Nay tentang pekerjaannya, hasratnya, dan impiannya.
"Kecintaanmu pada dunia anak\-anak dengan sendirinya akan membawamu pada suatu masa ketika impianmu menjadi nyata. Memiliki taman kanak\-kanak sendiri."
"Kau menghiburku atau mendoakanku, Sis?"
"Aku mengatakan apa yang ada dalam hatimu, harapanmu, Nay."
"Sejujurnya, kau ini calon psikolog atau paranormal?"
*****
Malam harinya, Siska mempelajari dengan seksama skenario yang diberikan Nay. Konon, skenario iti hasil keroyokan tiga kepala. Fahim, Randy, dan Ustadz Reza. Yang terakhir ini merangkap pengawas agar naskah tidak keluar dari akidah. Tidak jelas siapa yang mengangkat jadi pengawas. Begitu pula yang dimaksud keluar dari akidah.
Setelah tiga\-empat kali membaca, Siska baru bisa menangkap substansi drama yang diberi tajuk Bangkitlah, Muhammad\-ku! Menyendiri di kamar, Siska mulai membuat sketsa karakter, gerak, latar, narasi, dan sebagainya. Tidak harus sempurna. Latihanlah yang akan menjadi penyempurnanya. *Practice makes perfect*. Begitu dalilnya.
Siska membagi drama ini menjadi tiga babak. Akan ada narasi untuk mengantarkan pada babak pertama yang akan menceritakan situasi *social and ethic chaos*. Di sini, Siska menginginkan satu karakter yang menjadi fokus atau titik pusat dari semua adegan. Tokoh ini adalah simbol berhala yang dipuja dan disembah masyarakat. Namun pada saat yang sama, tidak bisa mengabulkan apa yang diminta penyembahnya. Agar lebih hidup, Siska akan menyajikan sentuhan humor dari adegan tersebut.
Saat mengamati anak\-anak yang berdiri membentuk lingkaran, Siska akhirnya menemukan sosok yang sangat ia cari. Bukan hanya pas, tapi sangat berkarakter.
"Levy, maju kedepan," kata Siska.
Yang diminta langsung angkat dagu dan dada. Pesannya kepada semua yang melihat, Lihat akulah yang pertama dipilih. Hebat, kan! Belum\-belum, Levy sudah melangkah seperti aktor yang dipanggil untuk menerima piala Oscar.
"Kamu nanti berperan sebagai Latta."
Levy memainkan matanya dengan jenaka. Pipinya bergoyang gembira.
"Bagus, Kak. Latta nama yang bagus. Keren, kata Mas Randy."
Nay yang dibelakang Siska menahan tawa. Ia memberi isyarat pada Siska. *Ojo seneng sik, Ndut*.
"Levy, Latta itu nama berhala yang paling besar," kata Siska sambil mengacungkan tangan kanannya ke depan. Maksudnya, agar semua diam. Jangan ada yang tertawa lagi. Namanya juga anak\-anak, tetap saja ada yang terpingkal melihat Levy yang *mbesengut*, ngambek super berat. Kakinya dihentak\-hentakkan ke tanah.
Duk...duk...duk...!
Reputasi Siska dipertaruhkan. Segera ia jelaskan pada Levy bahwa perannya sebagai berhala sangat penting artinya. Selain karena bertubuh paling besar, Levy sangat cocok menjadi Latta karena berhala ini sangat gemar makan. Nantinya, ada adegan orang\-orang mempersembahkan makanan kepada Latta. Dan, semua makanan itu bakal jadi milik Levy
"Boleh dimakan, Kak?"
Siska mengangguk serius.
"Terus, aku nanti melakukan apa, Kak?"
Nah, ikan sudah di tangan. Tinggal mengolahnya saja, bukan? Satu peran utama di babak pertama sudah di tangan. Sekarang, memilih peran\-peran kecil jadi lebih mudah. Siapa menjadi apa dan melakukan apa. Dalam waktu singkat, semua karakter sudah terpenuhi.
Babak kedua adalah penggabungan tarian, lagu, musik dan shalawatan. Babak ini menceritakan kondisi dunia yang damai, tenang, dan tentram setelah kedatangan Muhammad. Saling menolong. Nantinya, panggung akan penuh dengan anak\-anak dengan beragam warna. Pengusaha, buruh, ulama, tukang becak, pedagang, guru, dan sebagainya. Ada juga orang\-orang dari berbagai agama, suku, dan bangsa. Semua membaur menari dalam padu irama yang penuh kedamaian. Namun, perlahan dunia mulai kacau. Terjadi peperangan, kerusuhan, pembantaian, penindasan, kekerasan, dan seterusnya. Singkatnya, dunia ini kacau balau dalam stadium kelas berat.
__ADS_1
Saat itulah, akan muncul seorang yang dengan gentar, gemetar, dan tangis membacakan puisi yang berisi kerinduan akan hadirnya kembali Muhammad. Merindukan Muhammad ada di tengah\-tengah kita untuk menebarkan *uswah hasanah*, membimbing setiap jiwa kembali kepada Tuhannya. Merindukan Muhammad yang adil, sederhana, tegas, penyayang fakir miskin, yatim, dan anak\-anak kecil, serta pelindung orang\-orang kecil. Merindukan Muhammad yang penuh cinta, penuh kasih. Muhammad yang syafaatnya dirindukan umat sejagat.
Siska menarik napas panjang. Dalam panggung batinnya, ia sudah bisa melihat semuanya. Jiwanya gentar. Ia, seorang asing baik suku dan agama, harus menyutradarai drama yang menggambarkan kerinduan pada seorang manusia yang paling dicintai umat Islam sedunia. Hatinya gemetar setiap kali mengarahkan gerak, ekspresi, dialog, dan narasi yang membungkus setiap detail pementasan ini.
"Sudah terpikirkan siapa yang akan membawakan puisi, Sis?"
Siska kembali ke layar nyata. Nay benar. Sebelum terlambat, memang harus segera diambil keputusan siapa yang akan menjadi tokoh pembawa puisi ini. Tokoh ini punya peran penting sebab menjadi penutup sekaligus pembuka dari drama ini. Penutup drama, tapi juga pembuka kesadaran setiap penonton. Siska tidak boleh main\-main dalam menentukan tokoh ini. Si tokoh harus bisa memainkan emosinya sebagai orang yang ditinggalkan, yang sangat\-sangat rindu pada seseorang.
Sejenak, keduanya berdiskusi kira\-kira siapa yang cocok untuk tokoh ini. Nay menyodorkan sejumlah nama, laki\-laki dan perempuan. Namun dari pengamatan Siska, belum ada yang memenuhi kriterianya.
Tiba\-tiba, pintu diketuk. Detik berikutnya, wajah Izar muncul. Kedua matanya yang bulat bersinggungan lurus dengan Siska dan Nay.
"Oh, sori! Menganggu, ya?" Izar menarik lehernya. Tapi baru separuh ketika telinganya mendengar Siska memanggil dan memintanya masuk lagi.
"Nay, aku sudah menemukan orangnya," ujar Siska.
"Kak Nauli ngomong *opo, tho*?" Izar bengong.
"Kau yakin, Sis?"
"Yang aku cari ada di matanya. Aku melihatnya, Nay. Tinggal perlu polesan sedikit."
Izar makin bengong. Pandangannya berpindah\-pindah. Mengikuti siapa yang bicara. Siska atau Nay.
"*Cewek\-cewek ra jelas! Memange aku cowok apaan*?" Izar berbalik. Di depan pintu, ia mendengar Nay dan Siska tertawa, disusul suara dua telapak tangan saling beradu. *Tos*!
Huh! Nasib laki\-laki di sarang penyamun.
*****
Siska membagi harinya seperti membelah semangka. Separuh untuk Sinar yang sejak peristiwa piring terbang mulai menunjukkan kerja sama yang relatif baik. Separuh lagi untuk dirinya yang memulai karier baru. Sutradara pementasan teater anak\-anak desa. Latihannya setiap bakda ashar hingga para kutilang kembali ke sarang.
Seperti janji Nay, para punggawa mushala selalu hadir menyertai. Kadang Haji Sahrawi menyempatkan melihat anak\-anaknya. Begitu yang selalu ia katakan. Walau tidak tahu persis maksud setiap adegan, Haji Sahrawi selalu memberikan tepuk tangan.
Di anak tangga gerbang utama pertama, Izar berdiri menantang matahari yang terus melorot ke cakrawala sambil berteriak\-teriak melafalkan setiap kata dalam lembar yang dipegangnya. Sejatinya, ia malu bila ingat kejadian di kamar itu perempuan memang pandai bersandiwara. Itu sebabnya lebih banyak perempuan di televisi daripada laki\-laki.
Izar kembali berlatih vokal dan intonasi.
*Muhammad*
*Muham...mad
Mu...ham...mad
Mu...ham...mm...ad* {}
__ADS_1