Nayla

Nayla
sepuluh(10)


__ADS_3

Ustadz Reza memilih mengklik *turn off* di layar komputernya. Percuma juga. Sejam berlalu, tak menghasilkan satu paragraf pun yang bermutu. Ia kehilangan konsentrasi sejak telinganya mendengar kalimat pahit dari Nay beberapa saat lalu.



"Maaf sekali, Ustadz, sebaiknya urusan TPA kita bicarakan di mushala saja, sata harus kembali bekerja. Terima kasih. *Assalamualaikum*."



Bahasa yang santun. Kalimat yang tepat. Diksi yang pas. Hanya satu yang salah. Diucapkan pada saat tidak diharapkan. Pada saat diharapkan, justru tidak pernah terucapkan.



Buku\-buku tebal kembali ke peraduan. Tertata rapi di rak kayu jati. Segelas air putih menyegarkan organ dalamnya. Organ lahirnya ia basuh dengan wudhu. Lalu, ia mengambil al\-Qur'an kesayangan. Mendaraskan beberapa ayat dan mencermati artinya.



Hening. Lengang. Sepi. Sendiri.



Ustadz Reza memandang pantulan wajahnya sendiri di kaca meja. Tiga puluh tahun. Bekerja dan S2. Dada penuh ilmu agama. Apalagi? Ya, apalagi? Itu kata yang selalu ia dengarkan lebih sering daripada yang lainnya. Bapak dan ibu. Oh, itu dulu. Sekarang, abah dan umi.



"Apalagi, Za! Lihat adik\-adikmu! Mereka sudah menggendong buah cinta mereka."



"*Insya Allah, Abah. Insya Allah, Umi*. Doakan dapat istri seperti Khadijah dan Fatimah."


*Abah. . . ., Umi*. . . .



Ustadz Reza mendesah, beristighfar, bertahmid. Segalanya dimulai hari itu. Di mushala bernama aneh, Al\-jalil. Menurut nya. Tapi, apa daya? Ada baiknya mengikuti kata orang Inggris itu. Apalah arti sebuah nama.



"Ya Rabbi yang kuasa membolak\-balik hati, ampuni aku. Niat suci hamba adalah memakmurkan rumah\-Mu, istana\-Mu, tapi kenapa Engkau juga hadirkan mata seorang bidadari di hadapanku. Aku *haqqul* yakin, ini kehendak\-Mu. Ya Allah. Mungkin ini jawaban atas derai air mata dalam setiap doa\-doaku."



Malam itu sambil mendekap bantal, takbir cinta berkumandang di dada Ustadz Reza. Gemuruh. Riuh. Tak bisa mengajak matanya tidur. Ustadz Reza bangkit. Diambilnya kertas dan kalender meja. Kertas dibelah jadi dua dengan garis vertikal. Kolom satu berisi tanggal. Kolom dua bertajuk tahapan.


__ADS_1


Sambil memantengi angka\-angka di kalender berlogo MM UGM, Ustadz Reza merancang jalan cintanya. Prinsip utamanya, tidak boleh lama\-lama. Efektif dan efisien. Lurus dan istiqamah. *Insya Allah, mustajabah*. Begitulah. Maka, ada tahap menggali informasi. Fahim adalah target narasumber utama. Berbekal data, memasuki tahap *ta'aruf*, perkenalan yang lebih khusus. Berikutnya, khitbah. Dan, ujungnya adalah nikah. Hemm..., sempurna!



Ustadz Reza tersenyum bahagia. Entah karena bisa menyusun rencana atau yakin bisa. Kertas itu lalu ditempel di atas meja belajar. Bila semua lancar, dua bulan dari sekarang, ka sudah tidak sendiri. Kemana\-mana, akan ada bidadari yang mendampingi. Oh, surga di depan mata!



*Abah, Umi, Adik, Pakdhe, tunggu kejutan dari Reza*! Hati sang ustadz bersorak.



Tapi, tunggu! Sudah setengah bulan dari start, Ustadz Reza sudah berkali\-kali kesandung batu. Tak dinyana, Fahim yang kelihatan lugu itu punya pikiran *grand master*, bisa membaca langkah\-langkah bidak yang dimainkan Ustadz Reza. Bermodal keyakinan, Ustadz Reza langsung berhadapan dengan Nay. Hasilnya dua kali mesti mengigit jari sendiri.



Nay. Gadis itu, berada jauh, jauh sekali dari bayangan awal Ustadz Reza yang mengira Nay adalah gadis pemalu dan sedikit penurut. Pengalaman siang tadi memberi Ustadz Reza pelajaran baru. Nay tidak sekadar Nay.



Jadi, kesimpulannya, Ustadz Reza akan merevisi rancangan jalan cintanya. Mengubah strategi dan menambah durasi.


Tapi, tunggu!


*Ya Rabbi, alhamdulillah. Kau berikan aku jalan baru*.


Satu perjuangan, dan dua tujuan tercapai Ustadz Reza menancapkan paku keyakinannya.


*****


Sebentar saja, seisi mushala membicarakan topik ini. Gemuruh. Riuh, tapi bingung. Festival Anak Shalih. Demi mendengarnya saja, anak\-anak TPA bengong melompong. Yang sering mereka dengar festival kembang api yang mereka saksikan setiap pergantian tahun masehi. Itu pun lewat layar TV. Meski belum jelas benar, mereka sudah berjingkrak\-jingkrak kegirangan. Di mata mereka, sudah ada gambar kembang api meletus di langit malam, memercikkan bunga api aneka warna dan formasi.



Izar menyenggol Levy, santri TPA yang paling berbobot.


"Memang *kowe* pernah lihat, Lev, Festival Anak Shalih?"


"*Ndak*," Levy menggeleng. Pipinya yang bakpau super ikut bergoyang. Termasuk lengannya yang seukuran paha orang dewasa. "Kamu nanti bisa jualan donat, *mesti payune*, Zar!"


"Dasar donat! Dengarkan *kae* Ustadz Reza mau bicara," Izar susah payah mendorong tubuh Levy yang jumbo agar bisa duduk dengan nyaman.



Ustadz Reza berdiri. Tangan kirinya memberi isyarat agar tenang dan diam. Sambil membelai jenggotnya, ia mengedarkan pandangan. Dan, berhenti sesaat di belakang sana, di barisan ustadz perempuan. Sayang, yang jadi fokusnya terhalang Rida yang mendongak ke depan.

__ADS_1



"Festival Anak Shalih adalah agenda tahunan seluruh santri TPA sekabupaten Situbondo yang menggabungkan ilmu pengetahuan, kesenian, ketangkasan, dan juga akhlak mulia. Tujuan dari Festival Anak Shalih sangatlah mulia, yaitu...."



Suara besar Ustadz Reza mulai tenggelam dalam dengung anak\-anak. Mereka saling pandang dan bertanya. Sebuah pensil melayang dan mengenai kepala salah satu anak. Provokasi pertama. Dan, gayung pun bersambut. Buku, kertas, kopiah, dan pena berterbangan di udara senja.



Fahim mengambil alih kendali. Yang dibutuhkan anak\-anak adalah penjelasan sederhana sesuai dengan otak mereka. Selanjutnya, biar mereka mencerna sendiri.



"Festival Anak Shalih itu mirip acara *pitulasan* di kampung kita ini. Pastinya ramai dan meriah. Dan, akan banyak sekali perlombaannya."



Anak\-anak tenang dengan sendirinya. Muka\-muka antusias berdesakan, tak sabar menunggu kelanjutan Fahim.



"Nah, siapa yang mau ikut lomba?" Fahim memancing semangat mereka. Semua unjuk tangan.



"Karena kalian anak shalih, maka lombanya juga harus disesuaikan. Seperti hafalan, membaca dengan tartil, qiraah...."



Anak\-anak lebah mulai berdengung. Sebelum muncul provokasi, Fahim langsung memukul gong.



"Tapi juga, ada lomba menggambar, mewarnai, pentas kesenian, olahraga, dan lain\-lain."


Dan, langsung meledak.


"Kak Fahim, *aku melu*!"


"*Aku yo melu*!"



Suasana jadi seperti penggemar yang berebut tanda tangan artis. Ustadz Reza terpaksa menyingkir kalau tidak mau dilindas Levy.

__ADS_1



Fahim meredakan gairah anak\-anak. Semua keinginan mereka akan diakomodasi. Namun karena Festival Anak Shalih levelnya kabupaten. Maka bagi yang ingin ikut lomba, harus giat berlatih dan berlatih. Pun, tidak semua ikut satu lomba saja, perlu dibagi dan diklasifikasi sesuai dengan potensi dan bakat.


__ADS_2